
Mata Harsa lalu langsung melihat layar ponsel cerdas Edi. Formskitter pria itu berada tepat di bawah mereka. Tanpa berkata apa-apa, Harsa melancarkan serangan laser ke bawah sana. Tanah tempat mereka berpijak langsung meledak. Harsa kasihan melihat Kriya terlempar, namun Harsa tidak bisa menghiraukan kesempatan ini. Begitu juga Kriya.
Selagi terlempar, Kriya menggigit udara kosong, dia menahan sakit di perutnya. Tangan kirinya menahan agar darah tidak bocor keluar dari perut kanannya sementara tangan kanannya membuat tombak yang ujungnya terbuat dari berlian. Dia memasukkan banyak physis ke sana, lalu melemparnya dengan sekuat tenaga tepat ke pundak belakang formskitter itu.
Terdorong oleh tombak berlian yang dipenuhi oleh physis, pelindung inti formskitter itu hancur berkeping-keping. Harsa tak ragu untuk meluncurkan serangan laser kedua. Sebagai usaha terakhirnya, formskitter itu berubah menjadi satu ekor kupu-kupu, sehingga serangan Harsa meleset. Ledakkan dari serangan laser itu meledakkan tanah di sekelilingnya. Kupu-kupu formskitter itu hancur terkena serangan batu, tapi Harsa tahu setelah beberapa detik form skitter itu akan terbentuk kembali.
“SIAL!!” Teriak Harsa kesal. Dia meledak putus asa.
“Sa! Tetap konsentrasi!” Seru Kriya. Entah bagaimana, dia masih dapat berdiri, meski terluka parah.
Harsa langsung tersadar. Dia kembali melihat dimana letak formskitter itu melalui ponsel canggih Edi. Tanpa terlalu memikirkan dampaknya, Harsa membakar sekitarnya. Untunglah Rucira bertindak cepat. Dia membuat tanaman berjalar dan mengangkat Kriya keluar jangkauan bakaran Harsa. Dia juga meliputi Edi, dirinya, dan Lisa dengan benteng tumbuhan. Benteng itu mudah sekali hangus terbakar oleh api Harsa, namun setiap kali hangus Rucira selalu membuat tanaman yang lebih berair sehingga api itu tidak pernah menyentuh mereka.
Setelah satu menit reruntuhan bangunan itu Harsa bakar dengan api yang berputar-putar hingga ke bawah tanah, terdengar teriakan kesakitan dari formskitter itu. Harsa barulah melepas sihirnya. Sambil terengah-engah, dia meluncurkan satu laser ke tempat formskitter itu berada.
Ketika asap-asap bekas pertarungan itu sudah mulai hilang, tubuh formskitter itu tinggal tersisa intinya saja. Tanpa ragu, Harsa dan Kriya meluncurkan serangannya masing-masing. Harsa meluncurkan lasernya, sementara Kriya melemparkan tombak berliannya. Akhirnya, kedua serangan itu tepat mengenai inti formskitter pria. Pikiran Harsa kosong sementara matanya menyaksikan sendiri inti dari formskitter itu hancur menjadi abu.
Suasana menjadi hening ketika mereka sama-sama tidak percaya kalau formskitter itu akhirnya terkalahkan.
“Apa dia sudah benar-benar hilang?” tanya Harsa ragu.
“Iya… seharusnya....” Kriya ingin berteriak, tapi dia sudah tak ada tenaga. “Kalau tidak...”
“Aku setuju menganggap dia sudah tidak ada.” Kata Lisa cepat. “Aku akan segera ke rumah sakit sekarang juga.” lalu dia menatap Kriya ragu. “Apa kau akan ikut?”
__ADS_1
"Apa?! Ke rumah sakit manusia?!"
"Sudah, tinggalkan saja dia." Kata Harsa, dingin dan kesal.
Lisa pergi meninggalkan mereka bertiga tanpa ragu. Seperti Adi, luka Kriya cepat sembuh. Kemampuan fisiknya memang jauh di atas manusia biasa. Meskipun begitu, dia tidak tampak baik-baik saja. Wajahnya tetap pucat bagai hantu.
Harsa sendiri lemas. Ketika adrenalin pertarungan sudah hilang dari dirinya, rasa sakit di kakinya yang terkena serangan formskitter mulai ngilu. Ditambah lagi, vasalnya sudah mulai lelah membuka gerbang Kai lebar-lebar. Di antara mereka, hanya Rucira yang masih terlihat bersih. Dia sedang membuat dedaunan obat-obatan dan memberikan pertolongan pertama pada Kriya.
"Sini." Panggil Rucira setelah selesai dengan Kriya. "Kamu juga perlu pengobatan."
Harsa ragu-ragu, tapi Rucira segera berjongkok dan mulai mengobati kaki Harsa yang terluka. Tak disangka, Kasarewang bangsawan itu berinisiatif berlutut dan merawatnya tanpa panjang pikir. Dia mengikat kaki Harsa dengan perban.
"Semua sudah beres." Kata Rucira senang ketika melihat hasil kerjanya sendiri. "Tapi kakimu lambat sekali sembuh? Apa kamu kena racun?" Tanya Rucira khawatir.
Tapi hati Harsa merasa khawatir. Walaupun formskitter itu telah terkalahkan, kenapa dia tak juga merasa tenang? Apakah ada sesuatu yang dia lupakan?
Setelah itu, seolah-olah mengikuti perasaan Harsa, tiba-tiba langit di atas mereka menjadi gelap. Petir menyambar tanah di sebelah Harsa dengan cepatnya, tak terduga. Mereka bertiga terjungkal ke belakang karena kekuatan petir itu. Tak berhenti sampai di situ, petir-petir lain menyambar tak berhenti dengan suara Duarrrr yang memekakkan telinga. Meskipun langit sudah mendung dan petir-petir menyambar tanpa henti, tak setitik air hujan pun yang turun.
Kriya segera berinisiatif membuatkan mereka tenda dari kayu untuk melindungi mereka dari sambaran petir. Di dalam sana, mereka tak bisa terhindar dari kengerian cuaca yang mendadak berubah. Dinding-dinding tanah yang Kriya bentuk bergetar karena tergoncang kerasnya petir. Harsa menyalakan suluh api kecil di atas jarinya, memberi mereka sedikit penerangan dalam tenda yang gelap dan lembab itu.
“Cuaca ini nggak natural sama sekali.” Kata Rucira ketakutan.
“Kakakmu!” Seru Kriya langsung teringat Adi. “Dia bisa menghasilkan petir bukan? Apakah ini sihirnya?”
__ADS_1
“Ya ampun!! Bagaimana aku bisa melupakan Adi! Dia masih bertarung dengan formskitter yang satunya lagi! Ayo kita Tepi Dunia Roh untuk membantunya!”
“Apa kau yakin?” tanya Kriya penuh dengan keraguan. Ketika Harsa hanya mengerutkan dahi, dia bertanya lagi “Apa kamu yakin nggak akan cuma jadi beban buat kakakmu?”
“...” Kata-kata Kriya sangat menusuk ke hati Harsa. Namun, dia tak dapat membantahnya. Hati Harsa galau seribu rupa. Dia tidak ingin diam saja. Dia khawatir dengan Adi, tapi dia tidak bisa takut akan mati. Dia tahu jelas serangan formskitter satu itu sangat mematikan.
“Kita juga harus melakukan sesuatu untuk menangani cuaca ini.” usul Rucira. "Aku takut akan makin buruk."
JEDAAARRRR!!! Seolah-olah mengaminkan kata-kata Rucira, satu petir menyambar tepat di dekat mereka, menghanguskan satu dinding tembok ciptaan Kriya yang langsung dia bangun lagi.
"Kita bisa 'melakukan sesuatu' pada cuaca ini dengan membantu kak Adi!" Kata Harsa, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Apa?! Nggak! Kamu bisa Dekrit Abstrak bukan! Kendalikan elemen petir itu!!" Suruh Kriya.
"Tapi aku nggak bisa elemen petir!" Bantah Harsa. "Kamu sendiri punya Dekrit Material! Kamu bisa mengubah awan-awan itu jadi physis kan?"
"Aku juga cuma bisa elemen yang bentuknya padat!" Kriya balik membentak.
"Sudah! Sudah berhenti!" Teriak Rucira meleraikan. Di saat yang sama, suasana di luar seperti mengikuti kata-kata Rucira. Badai yang begitu mengerikan tampaknya telat mulai surut.
"Apa itu?" Bisik Harsa mengikuti suasana sunyi. Dia baru menyadari bahwa dia tidak memperhatikan auranya.
Ketika berkonsentrasi, Harsa mendapati kehadiran dua orang. Satu sangat sulit dideteksi physisnya, satu lagi seorang yang sangat dia kenal. Matanya melebar menyadari siapa itu.
__ADS_1
"Aster!!" Teriaknya penuh kejutan.