Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Sang Kakak (3)


__ADS_3

Mereka sampai  di Pangandaran tepat pada jam makan siang. Sebelum ke hotel, mereka memarkir mobil di tempat makan seafood. Perut Harsa dan Darma sudah keroncongan, tapi seperti biasa, Adi tidak tertarik.


“Aku makan nanti saja, di laut.” Kata Adi hendak menyelonong ke pantai.


Erik menggeleng. “Jangan. Kamu nggak punya ponsel. Sulit menghubungimu kalau terpisah.”


“Ck.”


“Kalau kamu nggak mau makan, aku pesankan minum saja.” Kata Darma memotong. “Kamu suka air mineral kan?”


“Makasih, Darma.” Kata Adi.


Jadilah ketika mereka sedang lahap makan enak, Adi hanya meminum air putih. Harsa melihat kakaknya dengan penuh keheranan. Dari dulu dia sudah tahu bahwa fisik Kasarewang berbeda, namun dia tetap bingung melihat bagaimana Adi bisa bertahan hanya dengan minum air. Selama ini, ayahnya selalu makan tiga kali hari sekali seperti manusia biasa,- kecuali ketika dia sedang makan api.


Seusai makan dan check-in, mereka satu keluarga langsung ke pantai. Waktu menuju sore ini cocok untuk berenang-renang di pantai. Panas mataharinya tak terlalu terik. Harsa yang sudah lama tak bermain ke pantai tampak gembira. Kekesalannya akan Adi sudah terbawa oleh semilir angin pantai dan suara deburan ombak. Bahkan, sedikit semangat terpecik pada wajah Adi yang biasanya tanpa ekspresi.


Berganti ke celana renang, Harsa tidak bisa tidak menyadari bekas luka yang menghiasi badan Adi, tetapi Harsa tidak bertanya. Dia tidak ingin berbicara dengan Adi. Dia tidak akan merusak ketenangan ini dengan bertanya hal-hal yang tak perlu.


Waktu itu juga Harsa menyadari kenapa kakaknya tidak membawa barang. Dia bisa mengambil baju renangnya dengan kembali membuka pintu mozaik warna-warni. Pantas saja, papa menyebut cincinnya apartemen portabel. Pikir Harsa dalam hati. Dengan cincin itu, Adi bisa membawa apartemennya kemana pun yang dia mau.


Sampai di pantai, Adi langsung berenang sendiri sementara Erik mengamankan tempat berjemur untuk menjaga barang-barang mereka.


“Pa, yakin takkan berenang?” tanya Harsa memastikan. “Sayang, loh.”


Erik melambaikan tangannya. “Sudah pergi main sana. Aku jaga barang saja.” Katanya baik pada Harsa dan Darma.


“Apa papa takut air?” tanya Harsa pada ibunya saat mereka mulai mencelupkan kaki dalam ombak yang dingin, kontras dengan terik matahari.


Darma menggeleng pelan. “Kayaknya dia nggak suka laut. Dari dulu juga paling malas liburan ke pantai.”


Benar juga. Pikir Harsa. Ini pertama kalinya keluarga mereka liburan ke pantai. “Kalau begitu kenapa papa ngajak ke pantai?”


Darma melihat ke arah sosok Adi yang cukup jauh dari mereka berdua. “Katanya kakakmu nggak mau ikut liburan kalau bukan ke laut.”


“Eish.”


“Sudah. Jangan kesal terus. Percuma papamu ke sini kalau kamu malah bertengkar terus dengan Adi.” Nasihat Darma sambil menikmati rayuan ombak laut.


“Aku nggak suka bagaimana dia meremehkanku. Dia juga manggil mama pakai nama depan. Aku tahu mama bukan ibu kandungnya, tapi tetap saja.”


“Aku nggak masalah, kok.” Sahut Darma tanpa pikir panjang.


Harsa terdiam tak bisa membalas kata-kata ibunya. Cipratt!! Darma mencipratkan air ke muka Harsa. “Sudah ah, ayo enjoy ombak aja. Kamu suka kan?”


“Iya.” Harsa langsung lebih cerah mengingat mereka sedang liburan.


Selagi mereka bermain-main ombak, Harsa memperhatikan ibunya yang bersantai-santai menikmati ombak. Tak seperti biasanya, ekspresi ibunya jauh lebih damai. Dia benar-benar terlepas dari kejenuhan sehari-hari. Darma memang banyak bekerja di rumah. Selain bekerja sepanjang hari sebagai ibu rumah tangga, di sore hari Darma juga bekerja sebagai dokter keluarga. Mulai dari jam enam malam hingga jam sepuluh malam, rumah mereka bertransformasi menjadi klinik pribadi. Harsa sudah sering mendengar cerita bagaimana ibunya dulu merupakan seorang dokter handal di rumah sakit, namun sejak melahirkan Harsa, dia lebih memilih untuk membuka klinik di rumah. Tujuannya agar bisa mengurus Harsa lebih baik. Mendengar cerita itu, Harsa selalu merasa disayang oleh Darma. Tak terasa senyum terbentuk di wajah Harsa.

__ADS_1


Mereka bermain-main ombak, menikmati dinginnya air laut yang kontras dengan panas terik matahari. Tak lama, Darma memperhatikan Erik, yang sedang berbaring santai di pantai. Sosok Erik sudah semakin kecil dan jauh, tapi mata sehat Darma masih menangkap batok kelapa terbuka di dekat suaminya. Dia menelan ludah dan rasa ingin ingin.


“Nggak kerasa arus bawa kita makin jauh.” Kata Harsa tanpa menangkap keinginan Darma.


“Kamu nggak haus?” tanya Darma.


“Eh, belum sih.”


“Hm, aku mau kembali ke papamu sebentar. Kamu nggak apa-apa sendiri?”


Harsa memperhatikan sosok ayahnya dengan memincingkan mata. “Ya, dong! Mama bareng papa aja gih.” Pasti mama kasihan melihat papa sendirian begitu. Pikir Harsa dalam hati, meski kenyataannya Darma hanya ingin ikut menikmati air kelapa segar.


“Oke deh.”


Ditinggal sendiri, tak lama Harsa merasa bosan. Matanya berkeliling mencari Adi. Harsa menemukan kakak tirinya itu jauh di tengah laut. Dia sedang berenang-renang dengan kepala mendongak ke atas, melihat langit hingga satu gelombang besar menutupi sosoknya. Mata Harsa melotot lebar melihat Adi hilang dari pandangan.


Badan Harsa tegang mendapati sosok Adi tidak terlihat di mana-mana. Dia menunggu satu menit, dua menit… Sosok Adi tak juga muncul ke permukaan. Tidak, tidak, dia tidak mungkin tenggelam bukan? Harsa menengok ke arah pantai, berpikir bahwa Adi mungkin terbawa ombak besar tadi.


Tidak ada. Sosoknya tak nampak di mana-mana. Tenang, tenang, Harsa. Katanya pada diri sendiri. Adi pasti muncul tak lama lagi. Tunggu saja dulu. Harsa memaksa tubuhnya rileks, percaya bahwa Adi akan segera muncul ke permukaan. Lima menit…. Bukankah orang bisa tenggelam dalam dua puluh detik?


Harsa tidak bisa tetap tenang. Dia mencari Adi ke perairan dalam tempatnya menghilang. “Kak Adi?” panggilnya dengan suara keras. “KAK ADI?!!!”


Sial, mungkin Harsa salah perhitungan. Panik mulai menyergapnya bagai polisi terlatih. Mungkin lebih baik dia kembali ke pantai untuk meminta pertolongan, bukan mencari Adi sendirian. Tenaga Harsa terkuras dengan cepat.  Berenang tetap di tengah laut dengan tinggi ombak setidaknya satu meter lebih melelahkan dari yang dia kira. Dia harus terus menggerakan kakinya agar tidak terbawa arus laut dan mendongak untuk tetap bernafas.


Putus asa, dia memanggil sekali lagi sekencang-kencangnya. “KAK ADIII?!!!”


“Uaahh?!” Teriak Harsa kaget. “Aku khawatir kak Adi tenggelam!”


Tak bereaksi, Adi malah bertanya. “Kamu tidak takut?”


“Aku jago berenang! Aku juga suka laut” Teriak Harsa, mengingat liburannya tahun lalu, snorkling bersama teman-teman klub basket di SMP. “Jangan terlalu jauh berenangnya. Di sini orang-orang biasa main di pantai saja. Bukan tempat snorkling. Bahaya berenang kalau terlalu ke tengah. Tuh, ada batasnya!” Tegur Harsa, hendak membawa kakak tirinya kembali ke sebelah dalam daerah yang ditandai oleh bola apung.


Adi mengangkat satu alisnya. “Tapi di bagian dalam banyak satwa laut dan koral yang indah. Bukannya kamu juga suka laut?”


Harsa mengingat liburannya tahun lalu dimana dia ikut ke Belitung bersama teman-temannya di SMP. Ribuan ikan berwarna-warni, air jernih seperti kristal, rasanya seperti masuk ke dunia lain. “Memangnya-”


Belum sempat Harsa menyelesaikan pertanyaannya, Adi menarik tangan Harsa untuk ikut menyelam. Harsa menutup mata dan menahan nafasnya agar tidak tersedak air laut, tapi… dia bisa bernafas seperti biasa?


Membuka mata, Harsa mendapati mukanya diselimuti oleh gelombang udara sementara tubuhnya ditarik oleh Adi yang berenang melawan arus dengan mudahnya seolah-olah sedang berlari di udara. Tubuhnya menekuk sembilan puluh derajat. Harsa, bisa merasakan tekanan air yang mencegah badannya tenggelam ke bawah, namun Adi dengan mudahnya menariknya ke bawah membawanya ke kedalaman dua meter, lima meter, tujuh meter, hingga Harsa tak tahu lagi apakah mereka sudah berada di kedalaman berapa. Sepuluh meter, lima belas meter?


Cahaya sinar matahari masih meliak-liuk di dasar laut dari permukaan air, menampilkan banyaknya organisme di dasar laut.Koral warna-warni tak terhitung banyaknya, mulai dari warna kuning, oranye, biru, dan ungu terhampar di dasar lautan. Berbagai macam satwa laut berenang-renang di air. Mulai dari ikan-ikan hias berloreng hitam-kuning-putih, biru menyala, hitam, dan berbagai macam corak warna lainnya. Bukan hanya macam-macam corak warna, tapi juga berbagai macam ukuran dan bentuk. Mulai dari ikan berbentuk segitiga pipih, panjang seperti ular, maupun ikan bersirip kuning mencolok seperti sayap. Satu kelompok ikan putih kecil lewat di depan mata Harsa dengan kecepatan tinggi. Di dasar laut, Harsa menangkap satwa-satwa yang lebih unik lagi.


“Wah itu ada bintang laut, Kak! Bintang laut warna biru!” Kata Harsa menunjuk bersemangat, tidak tahu bahwa suaranya sulit terdengar oleh Adi yang tidak memakai gelembung udara.


Adi membawa adiknya ke dekat bintang laut mengikuti arah dari telunjuk Harsa. Mendekati dasar laut, Harsa menangkap sosok teripang dan kepiting dalam berbagai macam ukuran. Rasanya seperti masuk ke dunia baru yang fantastis, melihat berbagai macam satwa yang tidak bisa dilihat di daratan tempatnya tinggal lima belas tahun ke belakang. Setiap kali Harsa menemukan sesuatu yang baru, semangatnya kembali meluap-luap. Sepanjang jalan-jalan mereka di dasar laut, Adi tersenyum melihat semangat Harsa, tanpa berkata apa-apa.


Sementara itu, Harsa heran akan kakak tirinya. Pria itu sudah seperti seorang penyelam bebas professional. Hanya dengan celana renang, dia menyelam begitu dalam, bahkan membawa Harsa bersamanya. Tanpa tabung oksigen, apakah Adi bisa menahan nafas begitu lama? Apakah dia perlu bernafas dalam air? Di balik semua semangat Harsa, dia tidak bisa tidak tegang. Kalau Adi melepaskan tangannya sekarang, dia bisa tertarik arus entah ke mana dan kalau sampai gelembung udara ini pecah…

__ADS_1


Pikiran Harsa diputus oleh seekor hiu yang melesat ke arah mereka. Sangking cepatnya hingga dia tidak bisa mengidentifikasi jenis hiu itu. Sebelum dia berteriak ketakutan, Adi menepak hiu besar itu dengan sebelah tangan. Ketika hiu itu belum puas dan berbalik kembali menyerang mereka, Adi kembali melepas sihir yang selama ini dia sembunyikan. Matanya berubah lagi menjadi putih susu dan rambutnya menjadi biru terang. Aura di sekitar Adi kembali menekan. Bukan hanya Harsa, hiu yang tadi ingin menyerang mereka lagi pun berbalik lari ketakutan, tahu akan posisi mereka yang bisa mati jika menantang Adi.


Mereka menikmati dunia bawah laut hingga oksigen di gelembung udara Harsa hampir habis. Walaupun tak berenang, Harsa merasa lelah juga ditarik-tarik oleh Adi. Di permukaan, Harsa menyadari bahwa mereka sudah jauh sekali dari pantai, dekat ke tempat dimana nelayan biasa mencari ikan. Adi menarik Harsa yang tak berenergi kembali ke pantai, ke tempat dimana Darma dan Erik sedang bersantai minum air kelapa. Keluar dari air, penampilan Adi sudah berubah kembali menjadi seperti manusia biasa.


“Ya ampun. Kalian berenang kemana?” tanya Darma cemas karena tidak melihat mereka selama dua puluh menit.


Terenggah-enggah, Harsa mencoba menjawab. “Kak Adi… bawa aku…. ke bawah laut….. Di sana lihat ikan hias banyak banget, lalu ada koral juga!” ceritanya antusias.


“Seru?” tanya Erik.


“Banget!!”


“Kalau kamu suka, nanti ayo menyelam lagi di Samudera Pasifik. Kalau berani, aku bawa kamu sampai Palung Mariana.” Ajak Adi dengan senyum kecil.


“Hm, bagaimana kalau di Bunaken dulu saja, Kak?” tanya Harsa ragu. Bukankah Palung Mariana adalah palung terdalam di dunia?


“Boleh.” Terima Adi sedikit kecewa.


Mata Darma melebar heran mendengar kata-kata Adi. “Nggak apa-apa?”


Menghiraukan Harsa dan Darma, Adi menyeringai pada ayahnya. “Dia pikir aku akan tenggelam di laut.”


Di luar dugaan, Erik tertawa lepas. “Hahaha. Adi tenggelam.”


Dahi Harsa berkerut mendengar tawa ayahnya. “Memangnya kenapa?”


“Nak, Adi punya afinitas pada physis air dan api. Anak ini tidak akan tenggelam kalau ditaruh dalam air, dia hanya akan makin kuat.” Jelas Erik, tapi Harsa tidak mengerti.


“Afinitas? Physis?”


Erik dia mencoba mencari penjelasan yang lebih pas. “Intinya Adi punya menguasai elemen air dan api. Sama seperti kamu cenderung menghasilkan api, Adi punya kecenderungan untuk menguasai air.” Jelas Erik.


Harsa memalingkan kepalanya, mencoba mencerna penjelasan Erik.


“Sama seperti kamu akan makin kuat kalau makan api, aku akan makin kuat kalau ditenggelamkan.” Tambah Adi tanpa ekspektasi bahwa Harsa akan mengerti. “Tapi aku kagum kamu tidak panik di air, meski physis air menegasikan physis api.”


“Nih minum dulu biar lebih jernih pikirannya.” Darma menyodorkan batok kelapa yang mereka beli untuk Harsa dan Adi. “Kamu juga.”


Tanpa ragu Harsa yang kehausan meneguk air kelapa sementara Adi menggeleng. “Aku sudah kenyang.”


“Coba saja untuk mencicipi rasanya. Unik tahu.” Suruh Erik.


Ragu-ragu, Adi mencicipi air kelapa itu. Alisnya menaik ketika pertama kali merasakan air kelapa. “Rasanya… beda dari air biasa.”


“Ya, kan? Selama ini kamu biasa makan energi murni, tapi sebenarnya Kasarewang pun punya indra perasa di lidah, meski  jarang dipakai.” Jelas Erik.


Adi hanya mengangguk-angguk sambil terus mencicipi air kelapa itu. Walaupun suka, dia tidak mau mengakui keunikan rasanya keras-keras...

__ADS_1


__ADS_2