
“Keseimbagan elemen di daerah ini hancur sudah.” Kata Adi pada dirinya sendiri. “Aku harus memperbaikinya, tapi sebelum itu…” Meskipun dia telah menang, dia belum juga lega karena tidak tahu bagaimana keselamatan Harsa dan teman-temannya.
Adi kembali membuka tudung transparan untuk kembali ke Dunia Material. Keluar di jalanan sepi di tengah malam, Adi bisa merasakan adiknya berada dalam ruang penginapan di lantai dua itu. Tanpa mengatakan apa-apa, Adi memanjat penginapan itu untuk masuk dari jendelanya di lantai dua.
“Nggak mungkin kakakmu kalah, Sa. Dia kuat bukan?” Kata Barasa menenangkan. Adi menghela nafas, kalau Harsa tidak bisa merasakannya di saat seperti ini, bukankah anak itu benar-benar mengecilkan jangkauan auranya?
Tapi keluhan Adi berubah menjadi kekhawatiran ketika dia melihat wajah pucat Harsa. Meski berkeras baik-baik saja, kaki Harsa sudah oleng karena dia merasa pusing setelah kehilangan begitu banyak darah. Pedang putih Harsa menghilang ketika mata Harsa mulai tertutup dan tubuhnya terjatuh ke samping. Manusia yang sudah tercemar dengan formskitter itu mencuri kesempatan, dia menyihir satu pedang tulang lagi dan mengincar Barasa yang bergerak untuk menangkap tubuh Harsa. Aster yang menyadarinya, menarik Barasa ke belakang, sementara dirinya sendiri terpaksa maju ke tempat Barasa.
Adi melompat dengan mengalirkan seluruh sisa physis ke kedua kakinya dari pinggir jendela. Lengan kanannya mengapit pinggang Aster dan menariknya untuk menghindari tusukan pedang itu sementara tangan kirinya menangkap kepalan tangan Adit. Bilah pedang itu menembus telapak tangan Adi, namun Adi tak juga meringis. Dia membanting Adit ke lantai, dan membuat borgol dari es yang langsung mengikat kedua tangan dan kakinya. Benturan yang terkena kepala Adit membuat tak sadarkan diri.
Sementara itu, Aster menengok untuk melihat siapa yang menyelamatkannya. Matanya langsung beradu dengan mata putih Adi yang menyala bagaikan bulan purnama. Tanpa sadar, muka Aster memerah saat darah langsung naik ke mukanya. Dia tak pernah dekat dengan laki-laki seperti itu sebelumnya. Tangannya meronta untuk terbebas dari cengkraman kuat Adi.
Barasa, tidak memperhatikan itu semua. “Harsa!” Katanya panik dan langsung berlutut di sebelah Harsa yang sudah tak sadarkan diri.
“Sa!!!” Teriak Aster juga, langsung melupakan Adi. Dengan mengandalkan physis terakhirnya, Aster memperkuat lengannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Adi.
Adi sudah membuka cincinnya untuk menyembuhkan Harsa, tapi Aster lebih cepat. Aster memegang tangan kanan Harsa yang memakai cincin penyimpan physis dari Adi. Dia menggunakan physis yang ada dalam cincin itu untuk memperbaiki sel-sel dalam tubuh Harsa.
“Wow, Aster! Ini apa?” Barasa menggeleng-geleng kepala dan mengucek-ucek matanya. “Apa aku lagi beradai dunia novel?”
“Dekrit hidup.” Jawab Adi heran. Kali ini dia baru pertama kali memperhatikan Aster baik-baik, mulai dari fisiknya dan cadangan physis yang di dalamnya. “Aneh sekali. Aku pernah dengar dari Harsa kalau kamu bisa menguasai elemen-elemen di bawah dekrit abstrak dan material…. Tapi sekarang kamu juga menguasai dekrit hidup. Selain itu, kamu benar-benar manusia yang punya cadangan physis...” Adi bergumam pada dirinya sendiri. Dia mencoba memahami keberadaan Aster. Dalam hati kecilnya, dia yakin bahwa kondisi Aster pun tidak akan bisa dijelaskan oleh temannya yang mengambil Studi Manusia.
Aster menghiraukan kata-kata Adi sampai dia selesai menutup luka Harsa. Dia mengelap keringatnya setelah berkonsentrasi penuh selama setengah jam untuk menyembuhkan luka Harsa. Jika ada satu hal yang dia syukuri dari kejadian ini, yaitu sekarang Aster dapat mulai menguasai dekrit hidup.
__ADS_1
“Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Barasa khawatir.
“Semestinya dia akan baik-baik saja.” Adi yang menjawab pertanyaan Barasa. “Biarkan saja dia beristirahat dulu.”
“Bagaimana dengan dia?” tanya Barasa sambil menunjuk Adit yang masih terikat lemah.
“Dia nggak akan bisa melakukan apa-apa untuk sementara ini.” Kata Adi tetap waspada. “Mungkin kalau aku membawanya kepada ahil dekrit hidup, jiwanya bisa kembali seperti semula sebelum menyatu dengan formskitter.”
Setelah kondisi mereka semua lebih tenang, Aster mulai bertanya bagaimana mereka bisa tahu kalau dia diculik dan posisinya.
“Habis seram saja, kamu hilang nggak ada kabar. Kamu nggak ke sekolah, di rumah nggak ada yang tahukabarmu. Jadi kami khawatir kamu kenapa-napa dan meminta bantuan kakaknya Harsa untuk menemukan keberadaanmu. Setelah tahu kamu di Garut, aku memesan tiket kereta api dan kita ke sini deh.” Cerita Barasa. “Oh iya. Sekarang bagaimana pulangnya? Pasti sudah tidak ada kereta pulang, udah di atas tengah malam.”
“Mungkin lebih baik kita tinggal di sini dulu? Penginapannya sudah dibayar oleh Adit dan aku ingin mencoba memperbaiki jendela yang rusak itu.”
Dahi Barasa berkerut tidak yakin, namun lagi-lagi dia dikejutkan oleh Aster. Remaja perempuan itu memanggil elemen kaca dan kayu dari jendela itu, dan memperbaiki pecahan kaca itu langsung dari partikel-partikelnya. “Wow….”
Pipi Aster kembali memerah malu. Selama ini, tidak pernah ada seorangpun yang memuji kemampuan sihirnya. Harsa pun tidak pernah memujinya. Aster tidak bisa menahan rasa senang yang membungkah dalam hatinya. “Terima kasih.”
“Aku setuju dengan Aster. Akan lebih baik kalau kita bisa tinggal di kamar ini untuk beristirahat. Harsa belum juga bangun, dan ada yang harus aku lakukan.” Kata Adi sambil kembali membuka tudung ke Tepi Dunia Roh.
“Tunggu!” Kata Aster.
Adi berbalik dengan satu alis menaik.
__ADS_1
“Kamu ini peri, bukan?” tanya Aster memperhatikan bagaimana physis di sekitar mereka tersedot ke dalam tubuh Adi.
“Peri?” Adi terdiam sebentar sebelum menjawab lagi. “Ya. Kurasa kamu boleh bilang aku peri.”
“Kalau begitu, ada beberapa yang ingiin kutanyakan.” Aster mengambil nafas dalam-dalam, menguatkan dirinya. “Apa benar peri bisa dan suka menyebabkan bencana alam?!”
Dahi Aster semakin berkerut. “Huh? Mungkin maksudku efek samping dari sihir yang sangat besar? Kadang ketika kita melawan formskitter yang sangat kuat, elemen-elemen di lingkungan bisa menjadi tidak seimbang dan itu memang bisa menyebabkan bencana alam. Tapi, apakah suka? Tentu tidak. Kami selalu berusaha untuk menyeimbangkan elemen-elemen itu kembali. Itulah yang akan aku lakukan sekarang. Aku akan mengubah elemen es dan api yang tadi kukeluarkan untuk bertarung menjadi physis. Kalau tidak…” Angin kencang berhembus membanting jendela yang baru saja Aster betulkan. “Mungkin di sini akan segera turun hujan es.” Jelas Adi sambil mengingat bagaimana dia mengubah begitu banyak physisnya menjadi elemen air dan es.
“Kalau gitu! Apa kamu tahu apa tsunami sepuluh tahun lalu terjadi karena para peri juga?” Dada Aster berdetak kencang pada saat bertanya. Mungkin bagi Barasa, atau Harsa, atau siapapun juga, pertanyaan itu tak penting. Namun, bagi Aster, jawaban Adi akan sangat berarti. Dia perlu tahu penyebab pasti dari kematian orangtuanya.
Adi melihat Aster tepat di mata. “Aku tidak ingat detail semua bencana alam yang pernah terjadi di Dunia Material. Tapi kalau bencana itu memang disebabkan oleh kami, maka seharusnya aku tahu karena pertarungan besar seperti itu pasti menjadi berita besar. Kegagalan tim anti sihir untuk menangani efek dari pertarungan biasanya menjadi masalah besar untuk pemerintah kami.”
Mendengar penjelasan Adi, hati Aster menjadi jauh lebih lega. Mereka membiarkan Adi pergi sambil mewaspadai gerakan Adit.
“Makasih sudah mencari aku.” Ucap Aster pada Barasa setelah Adi pergi.
Barasa tersenyum. “Sama-sama. Aku sendiri merasa, pengalaman ini luar biasa banget. Sejujurnya, aku sampai sekarang gak mau percaya tentang bagaimana Kak Adi itu peri….” Barsa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bolehkah aku menganggap kalau percakapan itu tidak ada? Maksudku aku lihat dengan kepala sendiri bagaimana tadi kakaknya Harsa hilang seperti hantu dan membuat awan kinton seperti di anime-anime, tapi sejujurnya aku merasa nggak mau… bukannya nggak mau menerima kenyataan. Hanya saja kepalaku pusing kalau memikirkan apa yang terjadi hari ini, jadi aku ingin melupakannya saja. Malam ini benar-benar seperti mimpi tahu. Itu… buatku nggak nyaman.”
Aster ikut tersenyum. “Menurutku nggak apa-apa. Kamu bisa memikirkannya pelan-pelan saja. Kalau semua informasi itu masuk ke kepalaku dalam satu malam, aku juga pasti merasa kalau semua yang aku ketahui tentang dunia ini kebohongan.”
Barasa tertawa kecil. “Ya, seperti itu rasanya. Persis banget.”
Akhirnya, setelah tiga hari, Aster mulai merasa lega setelah seolah berada di ujung bahaya selama dua puluh empat jam. Dia pikir, pada akhirnya, malam itu akan segera berakhir setelah Barasa menawarkan untuk berjaga duluan agar Aster dapat mendapat sedikit istirahat. Namun, baru sepuluh menit Aster menutup mata, suara gaduh terdengar dari pintu kamar mereka yang dibuka paksa.
__ADS_1
“Polisi!! Buka pintunya!!” Suara teriakkan terdengar dari luar pintu yang dipukul berkali-kali.
Aster langsung bangun dan pikirannya seperti baru diguyur air. “Polisi?!”