
Barasa menampar pensilnya ke meja setelah akhirnya selesai menjawab soal uts PKN terakhir sebelum akhirnya terburu-buru pergi mengumpulkan kertas jawabannnya ke depan kelas. Akhirnya setelah satu minggu bergulat kembali dengan minggu UTS, Barasa dapat bernafas panjang dan lega.
“Nice work.” Kata Harsa dengan tos yang bersahabat.
“Rasanya energiku habis.”
“Aku juga.“
“Besok kamu bisa datang kan?” tanya Barasa. Dia merujuk pada hari h pertandingan final dari turnamen bela diri yang sedang Barasa ikuti. Sabtu besok, Harsa dan Elis sudah berjanji untuk datang dan mendukung Barasa.
“Iya, datang, kok. Janji.”
“Makasih.” Katanya sambil menghela nafas panjang dan meremas tangannya.
***
Acara turnamen bela diri itu jauh lebih ramai daripada yang Harsa kira. Acara itu diadakan di sebuah GOR bola basket. Harsa, Elis, dan Aya duduk di jejeran tempat duduk yang menaik di pinggir lapangan. Dari sana, mereka bisa melihat tim pelatih lawan mendekati Barasa dan berbicara dengan teman mereka itu. Barasa tampak bingung mendengarkan kata-kata si pelatih tim lawan. Harsa merasa kasihan melihat Barasa yang terpojok oleh pelatih tim lawan. Dari tempatnya duduk dia berteriak mengatasi suara obrolan sebelum pertandingan dimulai.
“BARASA!! SEMANGATT!! KAMU PASTI MENANG!!!”
Aya tertawa dan mengikuti Harsa. “KAK BARASA MEMANG YANG PALING KUAT!!”
Anak remaja itu malang itu terperanjat kaget. Dia langsung berbalik melihat Harsa dengan wajah memerah. Beberapa orang juga melihat Harsa karena kaget mendengar suara teriakkan itu. Di luar dugaan, Barasa malah mendatangi Harsa.
“Ya, ampun, Sa! Aku malu banget.”
“Hehe.” Harsa malah tertawa tak jelas.
“Tapi makasih. Aku tadi udah gak nyaman ngobrol sama pak pelatihku dulu.” Katanya tulus.
“Mantan pelatihmu?” tanya Harsa dengan alis menaik.
“Iya. Dulu dia pelatih bela diri di sekolahku waktu SMP. Tadi dia ingin mengajakku kembali untuk bergabung dengan timnya, dan dia menawarkan akan merekomendasikan aku ke timnas, kalau aku… mau mengalah dalam tim ini.”
__ADS_1
“Hah?! Itu sih omong kosong! Kamu jangan mau, dong!”
“Apaan sih? Pokoknya kak Barasa harus menang, ya! Aku nggak mau tahu.” Putus Aya begitu saja.
“Semangat Barasa!” Elis menambahkan dengan senyum manisnya. “Kamu pasti bisa.”
Barasa tersenyum karena merasa diyakinkan oleh teman-teman dan adiknya. “Iya, tenang saja. Tidak mungkin aku mengalah.”
Dua pertandingan berjalan sekaligus di lapangan bola basket itu. Kedua pertandingan berlangsung dalam lingkaran lebar. Barasa sangat tenang. Wajahnya tak berekspresi ketika dia memojokkan lawannya. Pertandingan mereka berakhir dengan cepat. Barasa berhasil lolos pertandingan semi-final dengan mudah.
Setelah pertandingan, Barasa beristirahat sendirian di ruang peserta. Satu jam kemudian, Barasa kembali lagi ke lapangan bola basket. Pertandingan kali ini untuk menentukan juara satu dan dua.
Baik Harsa maupun Elis tidak paham jelasnya peraturan turnamen itu, jadi mereka selalu berseru tak peduli apakah Barasa sedang berada dalam posisi yang terhimpit atau tidak. Elis juga sibuk mengambil foto-foto untuk akun bela diri Barasa. Satu hal yang dapat Harsa perhatikan, Barasa menggunakan physisnya dalam jumlah yang sangat kecil, berbeda dengan pada saat melawan formskitter. Lawan Barasa tidak menggunakan formskitter sama sekali. Oleh karena itu, Harsa yakin bahwa Barasa akan menang. Dia tak habis pikir, apa yang terjadi ketika juri mengangkat tangan lawan Barasa.
"Apa?! Kok bisa?" Harsa tak percaya.
"Jangan-jangan dia benar-benar mengalah?" Pertanyaan Elis tak bisa Harsa jawab.
“Tapi…” Harsa tidak percaya kalau Barasa mengalah.
Mereka bertiga langsung mendatangi Barasa seusai pembagian hadiah dan piala.
“Selamat, Sa!” Kata Elis sebelum yang lain sempat memborbardir Barasa dengan pertanyaan.
“Thank you, Lis.” Kata Barasa yang masih banjir keringat
“Iya, Kak. Selamat, yah. Tapi aku awalnya berharap kakak bisa juara satu! Juara dua juga oke sih. No pressure.” Kata Aya, meski sebenarnya kata-katanya sangat menekan.
“Hahahaha.” Barasa tertawa kering. “Tadi lawannya jago sih. Mau gimana lagi? Sudahlah, juara dua aja aku udah bersyukur.”
“Tapi kamu nggak sengaja mengalah kan?” tanya Harsa khawatir.
Barasa menggeleng. “Nggak, kok. Aku benar-benar berusaha sebisa mungkin. Suer.”
__ADS_1
Dahi Hasa berkerut. “Tapi lawanmu… Dua-duanya nggak bisa pakai physis, e, maksudku tenaga dalam. Aku bingung kenapa kamu bisa kalah. Kamu juga sih menahan penggunaan tenaga dalammu. Padahal, aku yakin kamu lebih kuat dari mereka, tapi kenapa…? Kamu seperti menahan diri.”
“Ya, iyalah, Sa. Aku harus menahan diri. Kalau pakai kekuatan saja, aku yakin pasti bisa menghajar mereka sampai babak belur. Cuma ini kan bukan perkelahian. Ini lomba. Yang dinilai bukan siapa menang, tapi juga teknik-teknik yang dipakainya. Aku juga harus menahan diri agar mereka tidak cedera. Kalau mereka sampai masuk rumah sakit, aku juga pasti yang disalahkan. Lagian, kalau aku pakai tenaga dalam sementara aku tahu mereka gak bisa… rasanya seperti curang.”
Pipi Harsa jadi memerah malu. “Iya, benar juga. Aku tak terpikirkan ke sana.” Aku Harsa. Dia teringat kejadian dimana dia diskors karena menghajar kakak-kakak kelasnya. Harsa juga teringat betapa tidak serunya pertandingan basket ketika dia sudah menguasai physis. “Baguslah. Selama kamu memang juara dua bukan karena kata-kata mantan pelatihmu, aku tenang. Selamat ya, Sa.”
“Hehe, makasih, Sa.” Kata Barasa tersenyum.
“Iya, benar juga. Juara dua keren banget malah.” Kata Elis. “Lihat aku dapat foto kamu pas lagi terima piala. Keren banget, lho!” Katanya sambil menunjukkan hasil foto itu pada Barasa. Harsa hanya bisa menelan ludah.
“Hehe, nanti pasti aku post. Makasih, Elis. Makasih juga sudah datang, ya!” Katanya pada Elis dan Harsa. “Aku senang, kok!”
“Iya, nih. Nanti kita rayakan, ya! Harus, lho! Cuma kalau sekarang, aku sama Harsa masih ada lomba cerdas cermat. Doakan juga kami menang, ya!”
“Iya! Aku juga pasti datang menonton.” Barasa berjanji.
“Nggak usah. Nanti kamu tidur.” Kata Elis jahil.
“Nggak, kok! Nggak akan! Apa lagi kalau nonton kamu! Maksudku, kalian berdua!” Untunglah wajah Barasa sudah memerah dari awal karena baru bertanding.
“Hehe, ya udah. Siap, ya. Janji. Doakan kita menang juga biar kita bisa senang-senang bareng.” Pinta Elis.
“Siapp!! Lumayan ada uang senang-senang sedikit.” Kata Barasa sambil menunjukkan cek yang baru dia dapat. “Sisanya bisa buat bantu ibuku. Kita bisa makan enak nanti malam, Ya!”
Air liur langsung mengalir membanjiri mulut Aya mendengar kata makanan enak. “Beneran, kak? Aku boleh minta makan apa aja, nggak?”
“Iya, apa aja yang di bawah lima puluh ribu ya!”
“YEAY!! MAKASIH, KAK!!” Kata Aya senang sambil memeluk Barasa. “Ihh, bau keringat.” Katanya langsung melepas Barasa.
Barasa tertawa. “Salah kamu sendiri main peluk. Aku memang harus mandi dulu nih kayaknya sebelum pulang.”
Elis juga tertawa. “Nggak begitu kecium kok.”
__ADS_1
“Ih, kak Elis kalau dari deket gak enak banget.” Bantah Aya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Sudah, aku tahu aku bau. Kamu tunggu bentar, Ya! Aku mandi dulu!” Kata Barasa, lalu menitipkan Aya pada kedua temannya sementara dia berlari menuju ruang mandi dan ganti baju.