Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Sang Kakak (2)


__ADS_3

“Sa!! Harsa!”


Mata Harsa terbuka pelan. Wajah Darma berada dekat di atasnya. Untuk pertama kalinya, Harsa menyadari kerut yang ada di ujung kedua mata ibunya. “Eng??”


“Bangun! Udah jam tujuh!”


Harsa langsung terduduk tegak. Otaknya mengingat seluruh acara liburan yang sudah mereka buat minggu lalu. “Makasih, Ma. Aku nggak dengar alarm.”


Tanpa menunggu waktu lagi, Harsa bersiap-siap. Keluar dari kamar, ayahnya sudah terbangun dan tengah menikmati satu cangkir kopi. “Pagi. Bangunkan kakakmu, tuh.” Suruhnya.


Dahi Harsa berkerut. Ah, iya. Teringat percakapan kemarin malam, Harsa mengangguk tanpa banyak mengeluh, tapi langkahnya terhenti di depan pintu mozaik warna-warni.


“Ehmm?” Harsa berpaling dengan ekspresi penuh tanda tanya pada Erik. “Gimana caranya?”


“Masuk saja. Kotak mozaik tetap berada di situ berarti pintu apartemen portabel-nya tidak ditutup.”


Harsa agak ragu dengan instruksi ‘masuk saja’. Bagaimana itu masuk saja? Ini pertama kalinya dia melihat pintu mozaik yang entah akan membawanya ke mana. Namun, Harsa menampik pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Dia mencoba saja memasukkan tangannya ke pintu mozaik warna-warni itu, kemudian kakinya, dan kepalanya.


Rasanya seperti memasukkan kepala dalam permukaan air lalu langsung keluar lagi. Tentu saja, badannya tidak basah. Ketika dia membuka matanya, Harsa mendapati dirinya berada di sebuah apartemen tipe studio. Ruangan yang jelas-jelas bukan bagian dari rumahnya.


Di bagian kiri, ada perapian yang sedang tidak menyala. Di kanannya, ada satu ruangan kecil yang sepertinya merupakan toilet. Masuk lebih dalam, Harsa menemukan kakaknya sedang terbaring di tempat tidur yang ada di ujung ruangan luas itu.


Mulut Harsa terbuka, kemudian tertutup lagi. Bagaimana bisa ada ruangan ini di rumahku? “Bangun, Kak Adi. Sudah mau berangkat.”


Lengan Adi yang menutup matanya terjatuh. Dia bangun tanpa semangat. “Ayo, kamu mau terkunci di sini?” Panggil Adi agar Harsa segera keluar. Badannya sudah setengah keluar melewati pintu mozaik warna-warni itu.


“Barang-barangmu gimana?” tanya Harsa bingung karena Adi tidak membawa satu taspun.


Adi menunjuk lemari yang terletak di depan kasurnya. “Bercakap apa kamu? Semua barangku di situ. Cepat keluar.”


Harsa tidak mengeti, tapi dia tidak mau berdebat, jadi dia mengikuti keinginan Adi. Keluar melalui pintu mozaik warna-warni, Harsa berada kembali di ruang makan rumahnya. Adi mengambil cincin batu akik yang kemarin dia letakan di atas meja pajangan, melambaikan tangannya, kemudian pintu mozaik warna-warni itu hilang lenyap dari pandangan.

__ADS_1


“Yo, sudah siap?” tanya Erik melihat Adi, tapi dia tampak tak puas. “Matamu. Biasanya di pantai orang-orang tak pakai kontak lens.”


Benar juga, kalau warna rambut Adi bisa diterima sebagai rambut yang dicat mengikuti gaya punk, tapi tidak ada orang yang punya mata asli berwarna putih susu.


Kali ini Adi yang menghela nafas. Perlahan, warna matanya berubah dari putih susu menjadi coklat terang seperti mata ayah. Warna rambutnya pun berubah menjadi hitam gelap.  Bukan hanya penampilannya yang berubah, tekanan mental yang biasa menyertai kehadiran Adi pun meredup. “Bagaimana?”


Dengan baju Adi yang sekarang sudah berupa kaos putih dan celana pendek selutut, dia tampak seperti orang biasa. Erik memberikan jempol tanda persetujuan.  “Bagus. Ayo, semua keluar rumah."


Harsa tak bisa menahan wajah terkejutnya. “Gimana caranya?”


Adi melirik Harsa dengan tanda tanya. “Kamu tak dapat?”


Ayah yang menjawab pertanyaan Harsa. “Kita bisa merubah penampilan asli menjadi seperti manusia dengan menarik seluruh sihir kita ke dalam. Kamu belum bisa melakukannya karena Kai-mu  masih tersegel.”


Harsa mengangguk. “Begitu.” Harsa melihat tangannya sendiri dengan takjub. Dia masih tidak bisa membayangkan dirinya menggunakan sihir lagi. “Terakhir kali sihirku muncul, aku hampir membakar seluruh kamarku.”


“Ya.” Kata Erik sambil memasukkan barang-barang mereka ke bagasi mobil. Dia menatap Harsa dengan pengertian sejenak. “Itu bukan salahmu.”


“Nah, ayo semua masuk mobil. Kita berangkat.” Ajak Darma setelah memastikan semua barang bawaan mereka lengkap.


Sedikit-sedikit Harsa mengingat nyanyian ini. Saat dia masih kecil, Erik berusaha mengajarinya beberapa kata dan nada yang berbaur menjadi satu bahasa asing. Ya, bahasa para peri, atau tepatnya, bahasa Kasarewang. Bahasa yang sungguh rumit karena menggabungkan nada dan pelafalan untuk dapat memakainya. Setelah satu tahun tak ada kemajuan, Harsa menyerah belajar bahasa para Kasarewang. Sisa-sisa usaha ayahnya dalam mengajari Harsa bahasa Kasarewang sedikit membuahkan hasil kali ini. Semakin fokus dan sadar, Harsa mampu menangkap beberapa kata dalam percakapan ayahnya dan Adi.


“-----tidak bisa, ------ begini -----” Senandung Adi.


“----Harsa------bantu------bisa-----” balas Erik. “-----------------------------------------------------------------.”


“Harsa--------.”


“Hm? Harsa kamu sudah selesai tidurnya?” tanya Erik canggung. “Mau sarapan dulu?”


Adi menyodorkannya roti yang kemarin pagi dibeli Darma. Tampaknya roti itu bagian Adi, namun laki-laki penuh rasa bangga itu menolak makan makanan manusia.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan Adi atau pun Erik, Harsa bertanya. “Tadi lagi ngomong apa?” Dia yakin Adi dan Erik sedang membicarakan dirinya.


“Kamu… tidak paham?” tanya Adi, wajahnya sungguh terkejut.


“Aku nggak begitu paham Bahasa Kasarewang.” Jawab Harsa jujur.


Adi tertawa. Bukan, bukan tertawa bahagia atau tawa lepas. Jenis tawa ini merupakan tawa sindiran yang membakar emosi. “Pa-----------------------------?----------------------------------!!!” Adi kembali bersenandung pada Erik.


Erik menghela nafas. “Tidak masalah kalau dia nggak bisa, Adi. Dia sudah berusaha sebisa mungkin.”


Harsa merengut roti coklat yang dipegang oleh Adi. Mungkin memasukkan sesuatu ke perutnya akan membantu meredakan emosi. “Apa’ sih? Lagian bahasa Indonesia kamu juga nggak bagus-bagus amat!” Serang Harsa penuh pembelaan. Bahasa Indonesia Adi memang kaku dan kadang terdengar aneh karena Adi tidak bisa berbicara datar tanpa nada.


“Bah. Aku lebih baik daripada kamu.” Adi tersinggung. “Kamu sama sekali tak paham bahasa kaummu sendiri.”


“Aku bisa membaca bahasa Kasarewang dengan baik!” Harsa tidak berbohong. Membaca dalam bahasa Kasarewang jauh lebih mudah daripada mendengarkan atau berbicara. Bahasa Kasarewang didasarkan pada seratus kata dasar yang dapat berubah-ubah bentuk sesuai dengan nada, ritme, dan kunci nada dimana kata itu dinyanyikan. Mudah untuk meghafal kata-kata dasarnya dan perubahan maknanya dalam bentuk tertulis, tapi dalam bentuk lisan… Lupakan saja. “Lagipula bahasa Kasarewang itu mustahil dipakai kalau nggak punya perfect pitch!”


“Ya, kalau tidak dapat, kembangkanlah. Semua Kasarewang berumur satu dekade dapat, kok. Kamu?” Adi mengangkat bahunya. “Melafalkan nama saja aku percaya tidak dapat.”


“Aku bisa!” Kata Harsa hampir meledak. Harsa tidak pandai bernyanyi, tapi dia berkonsentrasi penuh mengingat bagaimana ayahnya melafalkan nama ‘Harsa’ dalam bahasa Kasarewang.


Satu suara keluar dari mulut Harsa, tapi seketika, Adi tertawa lepas. “Benar-benar lelucon.”


“Ada apa ‘sih?” Darma yang sejak tadi tidur dengan tenang di kursi depan mobil, terbangun karena suara ribut mereka.


“Namamu, ‘Harsa’, yang diterjemahkan dalam bahasa Kasarewang punya arti ‘Kebahagiaan’, tapi kalau kamu menyanyikannya dengan nada yang tidak tepat begitu, jadinya ‘Lelucon’.” Jelas Adi penuh kepuasaan.


Wajah Harsa memerah dan darahnya naik hingga ke ubun-ubun. Dia ingin membalas tapi tak bisa. Apalah nasib seorang adik?


“Sudah, sudah. Mau liburan kok malah bertengkar?” Kata Erik mulai ikut kesal.


“Suruh makan, gih biar gak pada ngomong.” Usul Darma. “Mungkin laper jadi pada ngambek.”

__ADS_1


“Yah, Harsa, makan rotimu.” Kata Erik tegas. “Dan Adi, makan air mineralmu."


Harsa menguyah rotinya dengan kesal. Tadinya dia berpikir bahwa punya kakak yang tak acuh sampai tak pulang ke rumah selama tujuh tahun itu menyedihkan, tapi ternyata sekarang dia sadar. Lebih baik kalau dia nggak pulang sama sekali. Kata Harsa kesal dalam hati. Bagaimana dia bisa menikmati liburan ini?


__ADS_2