
Keesokan harinya, Barasa menjemput Harsa di rumahnya sore hari. Dia berhasil mendapatkan alamat rumah Aster dari para guru di sekolah. Rumah Aster berada di kompleks yang cukup terkenal dan termasuk dalam perumahan menengah ke atas.
“Wow.” Barasa berkomentar ketika mereka harus menitipkan kartu pelajar di kantor satpam yang terletak di depan pintu masuk kompleks perumahan. “Aku nggak pernah ke sini sebelumnya.”
“Ehm, aku juga sih. Aku gak kenal siapa-siapa di sini, sebelumnya.”
Mereka menemukan rumah Aster dengan cukup cepat, sebab nomornya sudah berjejer dengan rapi. Di depan rumah berpagar tinggi itu, satu mobil keluarga diparkir dengan rapi. Dari luar, rumah Aster tampak mengintimidasi. Rumah itu berlantai dua. Dinding luarnya dicat abu-abu dan ditambahkan aksen bebatuan alami. Dari teras rumahnya, ada satu pohon manga yang dahan-dahannya keluar menaungi tempat parkir mobil.
Turun dari motor, Barasa mengetuk pagar rumah Aster dengan kunci mobilnya.
“Barasa!” Teriak Harsa panik dan menggenggam tangan Barasa, menghentikan ketukannya.
“Kenapa?”
“Pakai bel, dong! Nanti disangkanya kita ngerusak pager rumah.” Kata Harsa sambil memencet bel rumah yang tergapai dari luar pagar.
Wajah Barasa memerah. “Oh.”
Mereka menunggu beberapa menit hingga ada satu anak laki-laki yang tampaknya masih duduk di bangku sekolah dasar membukakan pagar untuk mereka.
Anak laki-laki itu melihat mereka berdua dengan bingung. “Cari siapa?”
“Ehm, ini rumah Aster kan? Kami teman-teman Aster dari sekolah lagi cari Aster.” Jawab Harsa.
Dahi anak laki-laki itu berkerut dalam. “Hah? Kak Aster punya teman?”
Harsa kaget mendengar pertanyaan anak itu. “Ya, kami temannya kok.”
“Bentar,ya.” Tanpa mengizinkan mereka masuk, anak laki-laki itu kembali ke dalam rumah.
Hati Harsa sudah lumayan lega mendengar jawaban anak laki-laki itu. Dia kira akan segera bertemu dengan Aster, namun anak laki-laki itu kembali sendirian.
“Kak Aster belum pulang. Mau tunggu dulu di kamarnya?”
__ADS_1
Harsa memandang Barasa dengan tatapan heran. “Tadi Aster nggak ke sekolah, bukan?”
Barasa menggeleng. “Nggak kok.” Menatap anak laki-laki itu, Barasa mengangguk. “Boleh. Nanti dia pulang kan?”
“Nggak tahu.” Katanya sambil memberikan gestur agar Harsa dan Barasa mengikutinya. Tak lama, mereka sudah berada dalam kamar Aster yang kecil, padat, dan rapi. Harsa agak tidak enak karena masuk kamar perempuan, tapi Barasa tampak tak terganggu. Jadi, Harsa ikut masuk dalam kamar Aster yang tidak dikunci.
Di dalam kamar Aster terdapat satu meja belajar, satu tempat tidur single, dan satu buah lemari kecil yang tertutup. Benda-benda di atas meja belajarlah yang menarik perhatian Harsa. Di sana, alat-alat perawatan kulit, tempat kacamata, beberapa gelang, karet rambut, kalung, dan bingkai foto yang menunjukkan satu pasangan muda bersama Aster kecil. Yang paling mencolok merupakan satu batu yang di dalamnya terdapat banyak tersimpan physis Aster. Harsa otomatis langsung merasakan keberadaan batu itu melalui auranya dan mempelajari batu itu baik-baik.
“Apa itu?” tanya Barasa.
“Nggak tahu. Melihat batu ini, aku jadi ingat barang-barang kakakku.” Harsa merujuk pada cincin-cincin batu akik yang selalu dipakai Adi. “Mungkin kayaknya karena memang ini batu akik yang belum dipoles.” Komentar Harsa setelah memperhatikan batu-batu itu dengan seksama.
Mereka menunggu dalam kamar Aster hingga mulai terdengar suara orang masuk ke rumah. Setelah satu jam, Harsa kembali merasa khawatir. Dia menggelengkan kepala pada Barasa.
“Barasa, kayaknya ada yang salah.”
“Kenapa?”
“Aku sudah heran kenapa kita dibiarkan masuk ke kamarnya Aster kalau orangnya nggak sedang di rumah. Aku bisa mengerti kalau dia pergi ke depan sebentar untuk jajan, tapi sekarang sudah satu jam dia belum balik juga.” Kata Harsa cemas melihat langit yang semakin menggelap. Jika sudah malam, tanpa kompromi Adi akan datang untuk mengajarinya sihir.
Harsa mengangguk setuju. Mereka berdua keluar ke ruang tamu dimana ada seorang perempuan setengah baya sedang menyiapkan makan malam. Melihat Harsa dan Barasa muncul dari lantai dua, perempuan itu terkesiap.
“Jon!! JONI!!” Teriaknya.
Tak lama, anak laki-laki yang mempersilakan mereka masuk datang. “Kenapa ma?”
“Ini siapa??”
“Um, halo, tante. Maaf telat memperkenalkan diri, Aku Harsa dan ini Barasa. Kami teman-temannya Aster.” Harsa dengan sigap langsung menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dia membayangkan betapa paniknya perempuan itu mendapati tiba-tiba di rumahnya ada dua orang remaja laki-laki yang masuk tanpa sepengetahuannya.
“Iya, ma. Tadi katanya temannya Kak Aster jadi aku izinkan masuk.” Jawab Joni, meski dia tampaknya lebih tertarik dengan makan malam yang sudah dijejerkan di atas meja makan.
“Aduh, anak itu!” Kekesalan si tante tidak juga kunjung hilang. “Kalau ada teman mau datang bilang dong!! Aster! Aster!”
__ADS_1
“Ma, Kak Aster kan belum pulang. Dia lagi nggak ada di rumah.” Joni mengingatkan.
“Masa?” tanya ibu Joni tak percaya.
“Ehm, tante. Aster biasanya ke rumah pulang sendiri?” Tanya Harsa, detak jantungnya semakin berdebar penuh kecemasan menunggu jawaban dari wali Aster itu.
“Iya. Dia memang selalu pulang sendiri, kok! Memangnya kenapa?”
Hati Harsa langsung jatuh mendengar jawaban wali Aster itu. Perlahan, menahan agar cara bicara tak terbata-bata, Harsa menceritakan bagaimana terakhir dia melihat Aster di depan gerbang sekolah malam-malam sendirian. Dia juga menceritakan mereka datang ke rumah Aster karena merasa khawatir Aster tidak masuk sekolah tanpa penjelasan. Seiring mendengar penjelasan Harsa, muka dari tante Aster itu semakin pucat. “Jadi maksudmu, Aster belum pulang sejak tiga hari yang lalu?”
“Ummm. Kita ke sini untuk cari tahu itu, tante.” Jawab Barasa dengan nada sepelan mungkin. Harsa dan Barasa berpandangan bingung dengan situasi ini.
Harasa sendiri kebingungan. Bagaimana mungkin keluarganya sendiri bisa tidak tahu dimana Aster berada?
Tante Aster duduk di atas meja makan sambil memijat-mijat dahinya. “Duh! Anak itu!” Lalu dengan mata berkaca-kaca dia menelepon suaminya. Setelah pembicaraan singkat di telepon, tante Aster membawa mereka keluar rumah. “Sudah! Kalian pulang dulu. Aku akan telepon kantor polisi untuk cari Aster!”
“Tante, jadi benar Aster nggak pulang?”
“Ya!”
Harsa dan Barasa kemudian ditinggal di luar rumah. Mereka berdua kebingungan. “Jadi gimana?” tanya Barasa.
Harsa menghela nafas panjang. Dia merasa buruk sekali. Rasa bersalah mulai menghimpitnya. Ah, seandainya dia memilih membantu Aster di perunjukkan klub sulap, seandainya dia tidak meninggalkan Aster sendirian di depan gerbang sekolah malam-malam, seandainya dia tidak bertengkar dengan anak kelas dua jadi dia bisa mencari Aster lebih awal…
“Sa. Jadi gimana?” Tanya Barasa ulang karena temannya itu tidak menjawab.
Kata-kata Barasa mengangkat Harsa dari tumpukan pemikiran ‘seandainya’. “Ini bahaya nggak sih? Dari tadi aku belum bilang, tapi waktu acara pentas seni, Aster minta bantuan temannya kan untuk pertunjukkan klub sulap.”
“Jadi, kita harus tanya temannya Aster itu?”
“Ya, masalahnya aku nggak kenal dan nggak punya nomornya.”
“Bagaimana ini? Dia benar-benar gak ada lho.”
__ADS_1
Harsa merogoh kantung celananya. Di dalam sana, ada batu akik dari kamar Aster yang tak sengaja terbawa hingga sekarang karena mereka keluar dari rumah Aster dengan terburu-buru. “Mungkin… bisa ada jalan. Mungkin kita bisa minta tolong kakakku untuk cari tahu dimana Aster, tapi kamu harus antar aku pulang dulu.”