
“Hah?”
“Apa kamu benar manusia?” Aster mengulangi pertanyaannya sekali lagi. Kali ini lebih keras, lebih tegas.
“Hah?” Harsa masih tidak paham dengan pertanyaan Aster.
“Aku tanya, apa kamu manusia atau bukan?” Ulang Aster mulai putus asa.
“Iya, aku dengar. Tapi maksud kamu apa? Aku bukan hantu, kok. Aku bukan hantu sekolah. Apa kamu berpikir aku hantu karena malam-malam begini? Apa kamu mau balas dendam setelah tadi aku bilang aku kira kamu hantu?”
Aster menggeleng keras-keras. “Bukan, bukan. Aku tahu kamu bukan hantu. Aku cuma penasaran gimana kamu bisa punya Kai?”
Sangking lelahnya, Harsa baru menyadari pertanyaan Aster setelah beberapa menit. “Kai? Ohhh!!!” Aster bertanya apakah aku manusia atau Kasarewang.
Alis Aster menaik menanggapi reaksi Harsa. “Terus?”
“Memangnya kenapa dengan Kai?” tanya Harsa balik, menghindari pertanyaan Aster.
“Aku dengar dari temanku kalau nggak ada manusia yang punya Kai.” Kata Aster langsung pada intinya. “Dan Kai berbeda dengan kumpulan physis yang aku buat.”
“Memangnya ada apa selain manusia? Kamu pikir aku goblin?” Harsa terus menghindari pertanyaan Aster.
“Yaaa…” Aster memutar otaknya. “Mahkluk hitam yang kemarin? Mahkluk hitam kemarin kan bisa sihir.”
“Formskitter? Bukanlah!” Bantah Harsa.
“Jadi apa dong?”
“Manusia, kok! Aku manusia!!” Kata Harsa dengan nada lumayan tinggi. Dia terlalu lelah untuk membahas hal ini. Pada akhirnya dia menjawab manusia. Toh, Harsa tidak berbohong. Dia lahir dari Darma, yang merupakan seorang manusia.
Aster masih melihatnya dengan tidak yakin.
“Lagian kamu dengar dari mana sih? Temanmu itu bisa sihir?” Tanya Harsa balik menyelidik.
“Iya! Dia sudah jago sihir dan sudah belajar dari lama.” Kata Aster. “Dia tuh yang bantu aku di pertunjukkan sihir tadi.”
“Ohhh.” Seperti alarm yang menandakan bahaya, nasihat Erik terlintas di kepala Harsa. Tidak semua manusia yang bisa sihir baik. Beberapa ada yang menggunakan untuk keuntungan sendiri, bahkan hingga untuk melakukan kejahatan. Beberapa di antara mereka sangat menginginkan kekuasaan dengan kemampuan sihir yang lebih tinggi dan salah satu cara untuk mendapatkannya adalah menyelidiki Kasarewang. “Kamu kenal orang ini dari mana?”
“Memangnya kenapa aku kenal orang ini darimana?” Entah kenapa, wajah Aster memerah.
“Pentinglah untuk tahu apa kamu bisa percaya sama dia atau nggak.”
Aster menghela nafas panjang. “Aku memang kenal dia dari sosial media. Kamu pikir memangnya gampang cari orang yang bisa sihir?! Meskipun aku kenal dia dari internet, aku bicara dengannya dan apa yang dia bilang masuk akal.” Kata Aster.
__ADS_1
“Memangnya dia bilang apa?”
“Hm. Waktu aku cerita soal kamu, dia bilang tentang bagaimana ada legenda tentang peri, orang-orang abadi yang bisa sihir. Dia bilang orang-orang seperti itu sajalah yang bisa sihir. Masuk akal karena selama ini, aku tidak pernah ketemu teman yang bisa sesantai itu bicara soal sihir. Barasa saja, awalnya nggak percaya dulu.”
“Itu karena keluargaku sudah bisa sihir sejak dulu.”
Aster melihat Harsa dengan tatapan tidak percaya. “Lalu keluargamu bisa sihir karena?”
“….” Harsa tidak bisa menjawab kata-kata Aster.
"Sa! Ayolah, kamu sudah janji untuk kasih bagi semua pengetahuanmu soal sihir sebagai ganti aku tutup mulut dengan sihirmu!"
Lidah Harsa kaku. Meski ingin, dia tidak bisa bohong. Dia tidak ingin menceritakan tentang Kai karena Aster pasti bisa menebak bahwa dirinya adalah Kasarewang, atau peri. Sebaliknya, kalau dia diam seperti ini terus, Harsa akan kehilangan kepercayaan Aster. Untunglah di saat itu, terdengar suara klakson dari belakang Harsa.
Erik menurunkan jendela mobilnya. “Sa, masih lama?” Tak bisa dipungkiri, Erik sudah lelah dan ingin segera tidur.
“Ha, nggak kok, Pa. Udah beres. Aster, sudah ya. Aku pulang dulu. Dah kemaleman.” Tanpa menunggu jawaban Aster, Harsa masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Aster sendirian di depan gerbang sekolah di tengah malam. Tanpa Harsa berpikir bahwa bagaimana nasib Aster ditinggal sendirian pada hampir jam sebelas malam.
***
Dua hari yang lalu.
Aster akhirnya pulang ke rumah setelah lelah mempersiapkan pertunjukkan untuk pentas seni. Sampai di rumahnya, dia langsung ke dapur. Di sana dia menemukan piring kotor bekas makan malam, namun tampaknya, tidak terdapat jatah makan malam untuknya. Tanpa bertanya, Aster mengambil stok indomie dan memasaknya untuk dirinya sendiri. Pikirannya dipenuhi oleh percakapannya dengan Adit, teman yang baru dia temui di media sosial.
Adit juga sudah lama menguasai sihir. Dia bisa melakukan sihir yang tidak pernah dibayangkan oleh Aster. Namun, berbeda dari Aster, Adit sama sekali tidak punya cadangan physis. Ketika Aster menyinggung Kai, mata Adit menyipit karena curiga.
“Hah? Bukan manusia kali, mungkin dia peri.” Katanya ketika mereka bertemu di taman dekat rumah, dimana Aster biasa melatih sihirnya karena sepi.
“Peri?!” Aster berhenti bermain ayunan.
“Peri. Mereka punya kekuatan sihir sejak lahir dan mereka jago sekali sihir karena sudah terbiasa dengan sihir sejak dulu.” Cerita Adit. “Rupanya seperti manusia biasa, tapi kalau sudah mengeluarkan kekuatan sihirnya, mereka baru tampak mencolok.”
“Kenapa kamu bisa tahu hal ini?” Tanya Aster bingung.
“Hm. Aku pernah bertemu dengan seorang peri.” Kata Adit. “Mereka kuat sekali, sampai-sampai sihir mereka bisa mengganggu keseimbangan alam dan menimbulkan bencana.”
Dahi Aster berkerut. Hatinya terganggu karena dia mengingat pengalaman buruk. “Bencana alam? Termasuk tsunami?” Aster tidak bisa melindungi dirinya dari pikiran buruk. Bagaimana kalau tsunami yang melanda keluarganya sepuluh tahun lalu adalah hasil kekuatan peri? Bagaimana jika orang yang memakai sihir untuk menyelamatkannya dari tsunami ada di sana karena dialah yang menyebabkan tsunami itu terjadi?
“Ya.” Jawab Adit yang tanpa keraguan memutus rantai pikiran Aster. “Mereka sekuat itu.”
“Wow.” Kata Aster. “Mereka tahu dan bisa sihir yang lebih kompleks lagi?”
“Ya, tentu saja.”
__ADS_1
Kata-kata dari Adit membangkitkan rasa lapar Aster untuk mengetahui sihir jauh lebih dalam lagi. Rasa haus dan laparnya akan pengetahuan sihir takkan hilang oleh satu mangkuk indomie kuah. Selesai makan dan mencuci semua piring kotor, Aster naik ke kamarnya di lantai dua tanpa berbicara sepatah katapun pada keluarganya yang sedang tertawa menonton film komedi bersama. Tentu mereka menyadari keberadaan Aster, namun mereka tidak juga bertanya darimana Aster dan apa yang anak perempuan itu lakukan hingga baru pulang di jam sepuluh malam.
Masuk ke kamarnya yang kecil di lantai dua, Aster duduk di meja belajarnya. Dia melihat foto orangtua kandung yang dia pajang di sana. Setelah sepuluh tahun, rasa rindunya terus menumpuk. Aster mendekap foto itu erat-erat sementara tawa keluarga tantenya menggelegar di ruang tamu di lantai satu. Semakin besar suara tawa itu, semakin besar rasa terasing Aster di rumah ini. Beberapa kata menyakitkan terlintas di kepalanya ketika dia belum paham bagaimana cara menghilangkan diri dari pandangan orang-orang dalam rumah ini.
Satu tahun lagi. Kata Aster pada dirinya sendiri. Setelah lulus dari SMA, dia berjanji untuk pergi kuliah ke kota lain. Tempat dimana tantenya takkan pernah melemparkan tatapan jijik padanya lagi. Bahkan, tak perlu melihatnya lagi. Meskipun sudah setiap hari dia pulang ke rumah yang menyambutnya dengan hawa dingin tak bersahabat, dua butir air mata mengalir juga di pipinya selagi hatinya nyeri karena kehilangan dan penolakan yang walaupun halus, tak pernah hilang dari kehidupannya.
Tanpa sadar, dia memanggil elemen air yang ada di butiran air matanya, memainkan mereka di depan mukanya untuk mengalihkan perhatiannya dari pikiran dan ingatan yang menusuk.
“Maa. Aku selamat dari tsunami itu dengan sihir dan selama ini sihir selalu membantuku melupakan rasa sedihku karena kehilanganmu.” Bisik Aster pada foto ibunya. “Karena itu aku mau tahu dan belajar lebih dalam lagi soal sihir.”
Aster bahkan tak tahu kenapa dia belajar sihir, tapi baginya itu tidak penting. Selama dia bisa mendalami apa yang dia suka, selama dia bisa meningkatkan kemampuannya lagi dan lagi, selama dia bisa melupakan kesedihannya setelah kehilangan kedua orangtuanya, maka tujuannya menguasai sihir bukanlah masalah. Jika melalui sihir dia bisa melakukan itu semua, Aster tidak peduli apakah dia akan dibilang ‘terkutuk’ oleh keluarga tantenya, atau dimusuhi teman-teman karena dianggap eksentrik.
Percakapan dengan Adit mengingatkannya tentang bagaimana Harsa begitu kesulitan menjelaskan tentang Kai dan sihirnya. Sejak saat itu, Aster sudah curiga akan bagaimana Harsa bisa memakai sihir. Dari keluarga? Tampaknya itu mustahil, kecuali…. Kecuali jika Harsa memang mendapat sihir karena dia merupakan keturunan peri. Harsa tidak pernah mengatakan apa-apa tentang peri sebelumnya, tapi semakin lama Aster merenung, semakin yakin bahwa Harsa menyembunyikan sesuatu. Kecurigaan Aster semakin meningkat ketika Harsa menyembunyikan kegiatannya di akhir pekan. Aster membulatkan tekad untuk memojokkan Harsa tentang darimana dia belajar sihir sesungguhnya.
Memerintahkan agar kedua air matanya menghilang menjadi uap air, Aster mengumpulkan tekadnya. Sebelum dia akan menanyai Harsa tentang peri dan sihir, masih ada yang harus dia lakukan. Dia harus mempertahankan klub sulap dengan memberikan pertunjukkan yang spektakuler. Aster akan kembali membuat topeng untuk pertunjukkan ketika Adit kembali meneleponnya.
“Sudah sampai rumah?” tanya Adit ramah.
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Nggak, aku khawatir aja kalau kamu pulang ke rumah sendirian malam-malam.” Jawaban Adi membuat muka Aster memerah.
“Te, terima kasih.” Balas Aster gugup.
“Eng… meski jujur, aku punya satu hal lagi sih untuk dibicarakan dengan kamu.”
“Ya?”
“Aku mau mengajak kamu masuk satu organisasi yang sama denganku.” Nada Adit berubah serius.
“Organisasi apa?”
“Maaf, sebelum kamu join aku nggak bisa bilang, soalnya kegiatan kita rahasia banget, tapi aku bisa janjiin satu hal. Kamu pasti bisa belajar sihir sepuasnya di sini. Aku juga belajar sihir yang kamu lihat tadi itu dari organisasi ini.” Kata Adit percaya diri.
“Uh, harus masuk dulu, nih?” tanya Aster curiga. Dia mulai takut kalau harus bergabung dengan organisasi yang macam-macam. “Kenapa rahasia, memangnya melanggar hukum?” tanya Aster bercanda.
“Gimana?” Adit menhiraukan pertanyaan Aster.
“Eee, aku pikirkan dulu ya.” Jawab Aster kebingungan. Dia teringat Harsa. Aster merasa masih banyak juga ilmu tentang sihir yang bisa ditawarkan oleh Harsa.
“Oke. Jangan lama-lama, ya.” Tanpa menunggu balasan Aster, Adit menutup teleponnya.
Aster tertegun bingung. Organisasi macam apa yang Adit maksud?
__ADS_1