Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Lomba (1)


__ADS_3

Wajah Barasa pagi ini terlihat mengerikan. Kantung matanya hitam seperti panda, kulitnya putih pucat, dan bibirnya pecah-pecah. Begitu meletakkan tasnya di pinggir meja, Barasa duduk di kursinya dengan lemas. Barasa tidak mengatakan apa-apa, tapi Harsa sudah menangkap sinyal-sinyal negatif dari Barasa,


Dahi Harsa berkerut. DIa menepuk punggung temannya yang lesu. “Wei. Minggu kemarin, kita baru main sekarang kenapa lemes banget?”


Bahkan gerakan menengok Barasa juga lesu. “Jelas banget ya aku lagi bete?”


“Hm? Iya. Kamu biasanya pendiam, tapi hari ini sih parah banget nggak ada tenaganya.” Aku Harsa mengangguk-angguk. “Memangnya ada apa?”


“Minggu depan udah mulai uts ya?” tanya Barasa sedih.


“I, iya? Ya, kamu khawatir uts kah?” tanya Harsa bersimpati. “Nggak apa-apa, bisa kok. Tahun kemarin juga bisa kan?”


Barasa menggeleng-geleng. “Masalahnya waktu minggu ujian itu aku mau ikut turnamen.”


“Turnamen?”


“Turnamen bela diri.”


“Apa? Jangan bilang kamu dipaksa ikut lomba seperti Elis!”  Harsa menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir kenapa semua orang di sekitarnya sedang harus ikut lomba.


“Nggak. Nggak dipaksa, kok. Ini kemauanku sendiri.” Barasa menggeleng. “Kemarin murid bela diri terakhir kakekku keluar. Kita sudah nggak ada murid baru sejak setengah tahun ke belakang. Mungkin kalau aku menang turnamen bela diri, aku bisa promosiin klub kami. Sebenarnya aku khawatir karena karena takut bertubrukan sama uts.”


“Kalau kamu nggak ikut lomba, apa yang bakal terjadi?” tanya Harsa.


Barasa menggeleng. “Kalau aku nggak melakukan apa-apa, klub bela diri kakekku pasti ditutup.” Kata Harsa dengan tatapan lurus, dahi berkerut, dan bibir yang melengkung ke bawah.


“Oh, tapi aku pikir kamu nggak apa-apa kalau nggak mewarisi klub kakekmu?” tanya Harsa dengan nada netral


“Ya…., tapi sedih melihat kakek seperti itu tahu. Maksudku sih, kalau begini bukannya nggak mewarsisi, tapi gak ada yang diwarisi dari awal. Aku sudah banyak mengecewakan kakek karena kemarin ini aku nggak mau ikut tim nasional bela diri.”


Mata Harsa melebar. “Wah, kalau kamu sampai diajak masuk tim nasional kenapa gak dikejar? Bukankah itu prestasi banget?” Harsa sudah mengakui kekuatan Barasa, apalagi setelah melihatnya bertarung melawan formskitter dua kali. Dia tidak membayangkan bahwa bakat Barasa sampai diakui hingga diajak untuk berkompetisi secara internasional.


Barasa menggeleng. “Ya, jujur aku bingung, Sa. Kedengarannya keren kan. Kalau masuk timnas dan sampai berlomba di acara-acara besar seperti Asean Games atau SEA games. Hadiahnya juga besar, dan bisa jadi terkenal… tapi aku takut. Aku tidak mau jadi seperti orangtuaku.”


Harsa melemparkan pandangan bertanya. “Memangnya orangtuamu kenapa?”


“Papaku, terutama. Dulu mereka atlet bela diri, lalu cedera sampai gak bisa bekerja lagi. Dia jadi juara juga tidak, bekerja juga tidak. Aku selalu berpikir, sampai sekarang ini keluargaku hidup susah terus karena ayahku memilih karir yang salah. Pada akhirnya dia hanya diam di rumah dan ribut dengan ibu soal uang. Bela diri memang menyenangkan, tapi rasanya stress kalau ingat ayahku. Kalaupun aku bodoh di sekolah, tapi selama aku lulus dan bisa dapat pekerjaan stabil, bukankah aku nggaka kan berakhur seperti itu?”

__ADS_1


Hasra tidak bisa menjawab Barasa. Dalam hatinya dia bersyukur kalau keluarganya tdiak pernah bermasalah dengan keuangan. Kadang, dia sering lupa bersyukur tentang itu. “Ya, semoga seperti itu. Tapi tak ada yang bisa jamin juga akan dapat pekerjaan stabil. Tak ada juga yang bisa jamin kamu akan cedera ketika bertanding.”


Barasa menghela nafas panjang. “Aku tahu. Karena itu, aku bingung.”


“Ya ampun. Kamu pasti frustasi banget di rumah. Jujur aku bingung gimana menanggepinya. Kalau ada yang kira-kira bisa aku bantu bilang saja. Aku akan coba bantu.”


“Makasih, Sa.” Barasa terdiam sebentar. “Yaah… Sebenarnya kalau kamu bisa ikut klub bela diri kami, akan sangat bantu banget. Kakekku pasti senang.”


“Um, maaf, tapi aku nggak tertarik buat belajar bela diri.” Pinta Harsa sambil menggaruk-garuk kepalanya. Bertarung melawan formskitter aja sudah cukup.


Barasa mengangguk penuh pengertian. “Ya, aku paham, kok. Kamu sudah cukup kuat.”


“Maksudmu sihir?”


Barasa mengangkat tangannya, “Ya. Jangan libatkan lagi aku dengan sihir, plis. Melawan tengkorak-tengkorak itu saja sudah cukup mengerikan.”


“Ya, tenang saja.” Dia sudah mendengar dari Aster bagaimana shocknya Barasa setelah mereka bertarung melawan Adit.


“Aku tak mau lagi terlibat dengan hal-hal seperti itu.” Putus Barasa. “Maaf, ya Sa. Aku bantu Ater dengan jadi anggota bayangan klub sihir saja.”


“Iya, aku mengerti, kok.” Kata Harsa. Dia bisa membayangkan bagaimana takutnya orang setelah menghadapi formskitter. Dia sendiri, termasuk cukup paranoid kalau terus membayangkan kapan akan diserang oleh formskitter.


“Gimana kalau buat akun Instagram atau media sosial lain untuk mengiklankan klub kakekmu? Nanti aku akan bantu like dan sebarkan.” Usul Harsa.


“Boleh tuh.”


Pembicaraan mereka dipotong pendek oleh bel sekolah yang berdering keras. Harsa dan Barasa kembali ditarik untuk fokus pada pelajaran, pada ujian dan kenyataan yang harus mereka hadapi. Memasuki jam istirahat, Elis juga segera mendengar kabar ini. Berbeda dengan Harsa, dia sangat senang dan mendukung Barasa untk kembali ikut turnamen.


“Bagus, akhirnya kamu mau ikut lomba lagi. Soal nilaimu sekolah jangan khawatir. Tiap hari kamu juga fokus mendengarkan guru di kelas’kan? Pasti bisa.”


Barasa memaksakan senyumnya. “Makasih, Lis.”


“Lalu, ide bagus, Sa. Ayo kita buat akun itu sekarang juga pulang sekolah.” Putus Elis. “Kalian berdua gak ada kegiatan lain kan?”


“Nggak sih, kalau hari ini.” Jawab Harsa.


“Bagus, kamu belum pernah ke rumah Barasa, bukan?” Ajak Elis seolah ke rumahnya sendiri.

__ADS_1


Jadilah mereka pergi ke rumah Barasa siang hari itu. Rumah Barasa ada di pinggir gang kecil dan terlihat seperti biasa dari luar. Ternyata ketika mereka masuk ke garasi, ada sebuah lapangan luas yang bawahnya terbuat dari kayu. Dindingnya dilapisi kaca satu badan. Ruangan itu bersih. Di salah satu pojoknya, ada lemari kecil yang memuat beberapa piala berdebu.


Di tengah-tengah lapangan itu, duduk seorang kakek tua dengan baju pencak silat. Rambut putihnya diikat satu ke belakang dan jenggotnya jatuh hingga ke dadanya yang sudah terlihat kurus. Ketika Harsa memasuki ruangan, dia menegok dan memandang Harsa dengan heran. “Siapa kamu?” tanyanya dengan suara pelan.


“Oh, halo, kek. Aku temannya Barasa. Hehe, mau main ke rumah.” Jawab Harsa canggung.


“Bukan, bukan itu maksudku. Sebelum masuk ruangan ini, kamu sudah terasa berbeda. Aku pernah bertemu orang-orang seperti kamu dulu, waktu aku ikut bergerilya dalam hutan. Orang-orang yang datang dan pergi seperti kabut. Orang-orang itu menolongku melawan hantu yang bisa berubah bentuk. Jadi, Nak. Sekali lagi, siapa kamu?”


Elis melihat Harsa dan Barasa bingung.


Harsa menghela nafas panjang. “Namaku Harsa, Kek.” Kata Harsa sambil menarik semua auranya dan menutup Kainya rapat-rapat. Dia berharap dengan begitu, kakek ini akan berhenti mempermasalahkan auranya. “Aku orang biasa, kok.” Harsa tidak berbohong. Dia merasa benar-benar seperti orang biasa.


Kakek itu tersenyum dan Harsa berusaha membalasnya sebisa mungkin. Mereka melanjutkan rencana mereka membuat akun klub bela diri dengan memotret Gedung klub dan fasilitas yang mereka punya. Harsa juga sampai memakai seragam klub mereka untuk kamera. Saat mereka sedang fokus mencari foto-foto bagus, seorang gadis kecil menggunakan seragam bela diri berlari ke arah mereka dan memeluk Barasa.


“Kakak akhirnya berlatih lagi!” Serunya senang.


“Haha, iya. Demi kamu sama kakek. Makannya belajar dengan benar.” Berbalik pada Harsa, dia memperkenalkan. “Ini, Aya, adikku yang masih SD.”


“Halo, Aya.” Kata Harsa dan Elis berbarengan.


Aya memandangi Harsa dengan penasaran dari balik punggung Barasa. “Kata kakek kakak spesial!”


Muka Harsa memerah. “Nggak, biasa saja.” Katanya tanpa pikir panjang.


“Kak Bara! Apa kak Harsa kuat?” tanya Aya dengan wajah polos.


“Ya, kuat banget kok.” Kata Barasa jujur.


Aya melemparkan tatapan, apa-kata-ku pada Harsa, sebelum akhirnya ikut membantu mereka mengambil foto.


“Siap! Nih, Barasa. Kamu tinggal upload aja nanti.” Kata Elis memilihkan foto-foto yang bagus untuk diunggah.


“Yup, thank you.”


“Kak, Barasa! Nanti turnamen harus menang ya! Bawa piala supaya yah heppi lagi.” Pinta Aya mengerenyit.


“I, iya.”

__ADS_1


“Harus sampai internasional.”


Barasa tidak menjawab. Harsa jelas dapat menangkap sinyal kegalauan di mata Barasa. Sayang, kali ini Harsa tidak punya jawaban yang tepat untuk memberikan konsolidasi pada perasaan Barasa. Pulang dari rumah Barasa, dia sendiri merasa galau.


__ADS_2