
Pulang dari festival sekolah, walaupun Harsa khawatir dengan rasa penasaran Aster, anak itu langsung tertidur nyenyak di kamarnya setelah sampai ke rumah. Dia terlalu lelah untuk memikirkan apapun tentang Aster karena sangking lelahnya.
Esok paginya, dia baru bercerita pada Erik tentang kecurigaan Aster. Seperti yang ditakutkan oleh Harsa, Erik mulai kehilangan kesabaran. “Harsa, aku kagum dengan kejujuranmu, tapi kalau begini terus kamu bisa mengumumkan ke seluruh sekolah kalau kamu ini setengah Kasarewang!”
“Ya, nggak akan lah, Pa.” Bantah Harsa cemberut. “Jadi bagaimana menghadapi Aster. Kayaknya dia curiga sejak aku keceplosan bicara soal Kai.”
“Tapi pertama, sebelum aku lanjut, apa kamu yakin temanmu ini anak baik-baik yang nggak pernah terlibat dengan organisasi macam-macam bukan?”
“Ya, ampun, Pa! Nggaklah! Aster itu cuma peduli soal sihir. Dia bahkan nggak ikut OSIS. Dia juga belajar sihir secara otodidak.” Bela Harsa. “Lagipula aku tahu papa peduli soal hubungan antara Kasarewang dan manusia, nggak seperti Kak Adi, tapi kalau Kasarewang nggak pernah menunjukkan dirinya pada manusia, gimana bisa membangun hubungan antara manusia dan Kasarewang?”
“….” Erik terdiam sebentar. Sejenak, kenangan buruk akan bagaimana dia dipecat hingga harus bekerja di perusahaan biasa dengan berpura-pura menjadi manusia terulang di kepalanya. “Darimana kamu tahu itu?”
“Kak Adi cerita ke aku kalau dulu sebelum vasal papa rusak, papa kerja buat Kerajaan Kasarewang sebagai duta untuk pemerintahan Indonesia.” Jawab Harsa jujur.
Erik menghela nafas panjang. Dia memang peduli, namun sejak vasalnya rusak, dia terpaksa melepaskan jabatan itu. “Baiklah. Sebebenarnya bagus kalau Aster mau berhubungan baik dengan Kasarewang, nggak masalah kamu kasih tahu dia tentang Kasarewang, asal dia nggak menyebarkan informasi itu kemana-mana.”
Harsa tersenyum lega. “Tentu Aster bukan mulut ember.”
Darma mengangkat piring yang mereka pakai untuk sarapan. Dia melirik suami lalu anak laki-lakinya. Dengan tegas dia mengingatkan, “Hei, buruan! Nanti telat!”
***
__ADS_1
Dengan hati girang dan ringan, pada jam istirahat, Harsa pergi ke lantai tiga dimana kelas anak-anak kelas dua berada. Sebelumnya, dengan tegas dia meyakinkan Elis bahwa dirinya akan menemui Aster untuk membicarakan tentang pertunjukkan klub sulap kemarin hari, bukan untuk hal yang lain. Kemarin, sejujurnya Harsa merasa tidak enak pada Aster karena pulang begitu saja, meninggalkan anak perempuan itu sendirian, tanpa sedikit pun menjawab pertanyaannya. Oleh karena itu, dia ingin segera menjelaskan semuanya pada Aster, setelah dia mendapat izin dari Erik. Dia mencari letak kelas Aster sampai ketemu.
Dalam kelas itu, beberapa kakak kelasnya sedang makan bersama, tapi sosok Aster tidak ada di mana-mana.
“Cari apa?” Tanya seorang murid laki-laki bongsor yang sedang duduk di depan kelas.
“Hm, aku cari anak kelas dua yang Namanya Aster.” Jawab Harsa.
“Aster?” Pertanyaan Harsa malah dijawab oleh kakak kelas perempuan yang sedang mengerjakan tugas dengan rajin. “Hari ini dia nggak masuk.”
Harsa menghela nafas panjang. Apa dia kelelahan karena pentas seni kemaren? Tanya Harsa dalam hati.
“Aneh?” Kata-kata itu mematuk hati Harsa lebih keras dari biasanya.
“Ya? Si penyindiri yang suka mengkhayal soal sihir dan kerjanya cuma cari anggota klub sulap?” Ejek anak kelas dua itu. “Buat apa kamu cari anak aneh itu?”
“Punya hobi berbeda dengan kebanyakan orang nggak semata-mata buat orang jadi aneh.” Jawab Harsa agak kesal.
“Ooohhh. Anak kelas satu berani jawab, ya.” Anak laki-laki bongsor itu mulai berdiri.
“Hei, bukankah itu anak kelas satu yang waktu itu nantangin klub bela diri?” tanya temannya yang ikut juga berdiri.
__ADS_1
Sial. Kutuk Harsa dalam hati. Mereka anak kelas dua yang waktu itu.
“Bener juga. Ya ampun. Udah ngajak ribut di MOS, sekarang ngajak ribut lagi? Kamu kira gara-gara kita nggak ganggu kamu lagi setelah kejadian di MOS itu, berarti kamu bisa songong gitu?!” Dua orang anak itu langsung mendatangi Harsa.
“Heeii!!” Senior perempuan yang dari tadi belajar berteriak mengancam. “Aku panggil guru lho!”
Harsa tidak ingin membuat keributan, namun kali ini dia siap. Sekarang, dia punya kemampuan untuk mengendalikan kekuatannya. Harsa tidak akan secara tidak sengaja membakar senior itu. Dia pun bisa mengendalikan seberapa banyak physis yang akan dia gunakan untuk memperkuat dirinya. “Siapa sih, yang sebenarnya songong?” tanya Harsa balik tanpa rasa takut. “Nanti minta maaf pada Aster nanti.”
Kata-kata Harsa meledakkan emosi kakak-kakak kelasnya. “KAMU!!” Mereka berteriak sambil berlari menerjang Harsa. Tangan kanan anak bongsor sudah teracung untuk menonjokknya, sementara temannya menyerang Harsa dari kanan. Harsa menggelak ke kiri, menghentikan serangan teman si senior sembari menghindari serangan senior si bongsor. Harsa meningkatkan kualitas auranya dan mengalirkan sedikit physis ke seluruh tubuhnya dengan merata. Melepas auranya mengubah seluruh indra Harsa. Benturan antara physis dari tubuhnya dan physis di tubuh lawan memberinya akses informasi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dibandingkan dengan gerakan formskitter, kecepatan gerakan kakak kelasnya seperti kecepatan kura-kura.
Berbalik menghadapi Harsa, si senior bongsor itu kembali menonjok dengan tangan kanan. Harsa menangkap tonjokan itu dengan mudahnya, kemudian melemparkan tubuhnya ke samping. Teman senior itu yang di belakangnya sekarang mengincar Harsa, tapi dengan mudahnya Harsa menghindar ke samping, dan menendang perut seniornya yang terbuka dengan lututnya. Senior itu terjungkir ke belakang.
“Argghhh!!” Teriak mereka berdua kesakitan.
Harsa seperti terbangun dari mimpi buruk. Perasaan bersalah sudah menyelimuti hatinya. Apakah dia menendang dan melempar terlalu keras? Apakah dia terlalu banyak menaruh physis?
“Duh, ma-”
Kata-kata Harsa dipotong oleh teriakan murid-murid lain.“Oii!! Guru datang!! Guru datang!!”
Tak tanggung-tanggung, yang datang adalah wakil kepala sekolah. Kedua seniornya masih tersungkur di lantai sambil meringis kesakitan sementara Harsa melihat mereka berdua dengan tatapan tak enak. Cukup dalam sekali pandang, wakil kepala sekolah itu menghela nafas panjang, kemudian Harsa tahu dirinya berada dalam masalah.
__ADS_1