
Barasa membuka matanya saat mendengar guru-guru panik. Salah satu guru mereka sedang menyuruh anak-nak laki-laki yang terbangun untuk tidur lagi. Barasa tidak bisa ketika melihat seorang anak perempuan sedang berdarah di depan pintu aula. Dia tidak bisa tidur kembali ketika dia sadar bahwa anak perempuan itu adalah Elis.
Guru-guru panik dan segera menolong Elis yang tidak sadarkan diri. Mereka menutup luka Elis dengan kain dan baju, agar pendarahan di lehernya berhenti. Salah satu guru langsung menelepon ambulans.
“Apa yang terjadi?!” katanya berlari menerobos sejumlah guru. Wajahnya berubah pucat dan hatinya terbakar ketika melihat wajah pucat Elis.
“Sudah, Barasa. Ini biar kita yang urus. Kamu tidur lagi.”
Barasa menghiraukan gurunya. Dia menangkap sosok Edi yang membawa Elis masuk ke dalam aula. “Edi!” Panggil Barasa. “Ini kasus Harsa?! Biarin aku bantu!” Dia tidak bisa diam sama di tengah semua kejadian ini.
“Nggak.” Tolak Edi langsung.
“Aku pernah bertarung melawan formskitter sebelumnya.” Kata Barasa sebelum Edi pergi.
Edi berbalik lagi melihat Barasa, tapi dia terus maju. Kali ini dia terlihat ragu. “Yakin?”
“Aku cukup kuat tahu.” Kata Barasa percaya diri. Dia mengikuti langkah Edi ke bandara . Dia mengabaikan guru-guru yang mencoba menahannya tetap di aula.
“Apakah kamu pernah bertarung di Tepi Dunia Roh?” tanya Edi tanpa melihat ke belakang.
“Apa itu Tepi Dunia Roh?” Dahi Barasa berkerut.
“Di sana kamu tidak biasa berdiri tanpa physis.” Kata Edi kecewa.
“Maksudmu tenaga dalam?” tanya Barasa. Tanpa menunggu jawaban Edi, dia menjawab dirinya sendiri. “Aku tahu physis itu tenaga dalam. Jangan khawatir, aku menguasainya.”
Edi ragu karena dia merasa butuh tenaga lebih untuk melawan formskitter ini. Namun, pada akhirnya Edi menggeleng. “Nggak. Aku nggak bisa bertanggung jawab atas nyawamu.”
__ADS_1
Barasa merasa gertakkan itu efektif, karena dia takut. “Aku janji pada Harsa kalau aku akan membantunya.”
Edi menggeleng. Dia membuka tudung ke Tepi Dunia Roh dan langsung menuju ke sana. “Kembali dan tidurlah.”
Barasa tidak menuruti Edi. Dia ikut masuk ke Tepi Dunia Roh sebelum Edi dapat menutup tudung transparan menuju Tepi Dunia Roh. Edi melihatnya dengan tatapan terkejut.
“Apa kamu gila?!” Teriak Edi panik. Dia mengambil tombak yang mengandung cadangan physisnya. Dia mengendalikan physis itu untuk menyelimuti tubuhnya. Barasa langsung menyadari ada yang berbeda dengan Tepi Dunia Roh. Bukan hanya pemandangannya, tapi tekanan yang ada di dalam dimensi itu. Dia mengikuti Edi dan menyelimuti dirinya sendiri dengan tenaga dalam, sehingga dia tidak jatuh tengkurap ketika mendarat di tengah lautan belalang sembah yang semua mengejar kawan baiknya, Harsa Wijaya.
Barasa benar-benar meremehkan skala pertarungan yang akan dia hadapi. Pertarungan ini tidak seperti waktu dia dan Harsa melawan tengkorak-tengkorak hidup. Baik menurut jumlah maupun kekuatan seragan dari belalang mantis itu.
“Mungkin aku memang gila.” Kata Barasa menyesali tindakannya.
“Kalau ada apa-apa denganmu, aku nggak berani untuk melaporkannya pada orangtuamu.” Kata Edi.
“Aku akan tanggung jawab sendiri.” Barasa menenangkan Edi.
“Woahh!!” Harsa tersenyum senang karena kedatangan dua orang itu. “Edi?! Barasa?!”
“Bantu aku untuk ke tengah-tengah akar pohon. Di sana, seratus persen aku kan membunuh formskitter itu.” Kata Harsa penuh percaya diri sekarang, dengan kedua orang temannya di sisinya. “Kita harus melakukannya cepat sebelum Lisa kehilangan tenaganya.”
“Baiklah.” Kata Edi, langsung pergi membelah belalang-belalang mantis di depannya menjadi belalang dua bagian bagai badai menghancurkan rumah. Barasa menonjok belalang sembah yang terlewat oleh Edi hingga terpental ke belakang. Harsa berlari di belakang mereka, mencegah belalang sembah yang bangkit di belakang mereka menyerang balik. Dalam hitungan menit mereka sudah sampai di bawah naungan pohon raksasa itu.
Harsa melompati Edi dan Barasa untuk maju ke depan. Dia mengupulkan setengah dari sisa physisnya. Harsa mengubah physis itu menjadi laser yang meledakkan tengah-tengah akar pohon raksasa itu. Batang pohon itu runtuh ke belakang dan satu buah kawah raksasa sekarang ada menggantikan akar-akar itu. Harsa begitu fokus untuk menghancurkan formskitter sampai dia lupa bahwa formskitter itu telah bergabung dengan manusia. Harsa tidak tahu apa yang terjadi dengan manusia yang telah bergabung dengan formskitter itu. Rasa bersalah menghantuinya ketika terpikir kalau dia telah menghancurkannya juga bersama dengan formskitter itu.
Badan pohon raksasa itu hancur menjadi debu bersama dengan ratusan, bahkan ribuan belalang sembah yang ada di lembah itu semua berubah menjadi abu lalu hilang berterbangan ke udara. Dia telah menang. Tidak, mereka telah menang. Lisa terjatuh karena kelelahan dan tidak memiliki physis lebih banyak lagi.
Harsa tidak ingin membayangkan dirinya menghancurkan manusia itu. Dia tidak ingin membunuh, namun tak ada tanda-tanda sisa kehidupan di kawah besar itu. Edi menepuk punggung Harsa, dan menatapnya dengan pandangan penuh perhatian.
__ADS_1
“Mungkin kamu bahkan tidak bisa menyelamatkannya kalaupun dia lolos dari sini. Kami tidak bisa menyelamatkan Adit dari merusak dirinya sendiri untuk lepas dari tahanan dan kembali menyerang formskitter.”
Harsa tidak berani mengangguk. Untunglah perhatian mereka teralihkan oleh Barasa. Anak laki-laki itu lelah dan tegang. Namun dia masih punya energi untuk berdiri.
“Apa dia yang telah melukai Elis?” tanya Barasa memastikan.
“Yah…” Kata Harsa merasa bersalah. “Bagaimana dengan Elis?”
“Guru-guru akan membawanya ke rumah sakit dengan ambulans.” Jawab Barasa, lalu melanjutkan. “Kita menang. Ayo keluar dari tempat mengerikan ini.” Katanya sambil melihat hutan dan lembah di sekeliling mereka. “Bagaimana kalau datang mahkluk seperti itu lagi?”
“Tunggu Barasa! Gilda! Bagaimana dengan Gilda? Apa kamu bisa merasakannya dengan auramu?” tanya Edi.
Harsa berkonsentrasi memperluas auranya. Jauh ke utara, Harsa merasakan aura tipis dari Gilda, tapi dia tidak bisa menemukan formskitter pertama yang datang menyerang mereka. “Dia ada, tapi aku tak paham apa yang dia lakukan.”
“Aku akan memeriksa Lisa, lalu kita ke sana.” Kata Edi berlari pada Lisa.
“Ini belum berakhir?” Tanya Barasa kecewa.
Harsa menggeleng. “Aku harap, iya.”
Ternyata mereka tidak perlu mengejar Gilda. Kasarewang itu mendatangi mereka dengan kecepatan tinggi. Wajahnya terlihat pucat. Rambutnya yang diikat satu acak-acakan. Keringat membasahi wajahnya, tapi fokus tak juga hilang dari matanya. Pertanyaan pertama yang ditanyakannya membuat Harsa tersentak.
“Apa kamu sudah panggil Adi?”
__ADS_1