
Ketika kesadarannya kembali, hal pertama yang Harsa rasakan adalah ikatan di lengan dan pergelangan tangannya. Membuka mata, Harsa masih berada di hutan Drestha. Di sekitarnya, rumput dan pepohonan hangus terbakar menjadi arang dan abu karena terkena ledakan api Harsa. Di depannya, dua orang Kasarewang berseragam sedang bercakap satu sama lain.
Kedua Kasarewang itu berambut cepak pendek. Salah satunya memiliki rambut pirang terang dengan mata kuning menyala, sementara satu lagi berambut hitam legam dan mata coklat muda berkilau seperti madu. Mereka berdua mengenakan seragam yang mirip seperti seragam Adi, namun dengan warna berbeda. Warna jaket mereka putih dengan aksen biru langit. Masing-masing mengenakan aksesoris yang tak kalah mencoloknya dari Adi. Baik cincin batu akik, gelang, dan kalung. Yang paling mengerikan, Harsa bisa merasakan aura mereka yang menyelimuti seluruh gunung itu. Orang-orang ini, jika tidak lebih kuat, maka sama kuatnya seperti Adi.
Tak lama setelah Harsa bangun, salah satu dari mereka, laki-laki yang bermata coklat madu menyadari bahwa Harsa sudah bangun. “Heii! Apa yang ----- kau lakukan di ------?!!” Bentaknya dengan bahasa Kasarewang.
“Eehhh.” Harsa kebingungan. Dia berusaha mengatakan, “Apa yang terjadi?” dalam Bahasa Kasarewang, namun kedua tentara itu memiringkan kepalanya karena tidak dapat memahami kata-kata Harsa.
“Apa yang --------------?” tanya si mata kuning pada temannya.
Tentara bermata madu itu menggelengkan kepala.
Harsa mendesah. Dia menunduk untuk menulis di tanah dengan tangannya yang terikat di depan. ‘Aku sedang berburu rusa sihir, apakah itu melanggar hukum?’
“Tidak,----------------------------------------------------.” Jawaban tentara berambut hitam itu sia-sia, karena Harsa menggeleng tak mengerti.
Tentara Kasarewang itu menghela nafas panjang, kemudian mengusap-usap batang hidungnya. “------------------------!!!”
Bentakkan tentara berambut hitam itu keras sekali sampai Harsa tidak menangkap artinya satu patah katapun. Aneh sekali mendengar bentakan dalam bentuk nyanyian.
Tentara berambut pirang itu menepuk bahu temannya dan menarik dirinya ke belakang. Dia lalu membalas Harsa dengan juga menulis di tanah. ‘Berburu rusa boleh, tapi kerusakan yang kamu timbulkan terlalu besar. Lagipula apa, anak di bawah umur tidak boleh sembarang masuk sini. Kenapa kamu bisa menulis pakai Bahasa Kasarewang tapi tidak bisa bicara?’
Urgh, kak Adi. Batin Harsa.
‘Aku setengah manusia.’ Jawab Harsa tanpa pikir panjang. ‘Aku masih belajar bicara karena sulit bernyanyi.’
Tak bisa dipungkiri, Harsa menangkap ekspresi wajah mereka berubah ketika membaca bahwa dirinya merupakan manusia.
“-----------!” Kata Kasarewang berambut hitam itu mengeluh dengan wajah mencibir.
“Apa?” tanya Harsa tak tahan. Dahinya berkerut karena kesal.
__ADS_1
Tanpa memedulikan temannya, Kasarewang dengan mata kuning itu kembali menulis di tanah. ‘Untuk masuk ke hutan ini, anak di bawah umur sepertimu harus masuk dengan ditemani perwakilan.’
Harsa menghela nafas dalam hatinya. Padahal aku sudah enam belas tahun… Menjawab tentara bermata kuning itu, Harsa menulis di tanah. ‘Aku datang bersama dengan kakakku ke sini…’
Baru saja dibicarakan, orang yang dimaksud datang. Adi muncul dari balik dahan-dahan pepohonan hutan. Dengan dramatis dia turun tepat ke depan tentara Kasarewang berambut hitam itu. “Apa yang kau ------------------ adik-----?!”
“-------, kau-----kakaknya?!” Tentara berambut hitam itu balik membentak. “-------------------------!”
Wajah Adi memerah karena kesal, namun sebelum balik membentak, dia melirik Harsa sebentar sebelum terlihat lega. “Anak itu-----------------------. -----------------------!”
Mereka berdua bertatapan dan emosi kedua orang itu terasa dari physis yang mulai keluar dari masing-masing tubuh mereka. Kedua physis mereka saling bertabrakan hingga suasana di sekitar mereka mulai semakin muram.
Tentara bermata kuning itu menghela nafas sebelum melerai mereka berdua. “----------!---------------,--------------kamu--------------------------lagi.” Barulah ketegangan mulai mencair. Setelah mereka berdua mngambil satu langkah ke belakang, tentara berambut pirang itu membebaskan ikatan di lengan Harsa.
“Jangan buat ribut lagi di sini.” Kata tentara itu dengan jelas dan pelan, agar Harsa mengerti.
Harsa menatapnya tanpa ekspresi dan mengangguk, sebelum akhirnya pergi ke tempat kakaknya. Kedua tentara itu akhirnya meninggalkan mereka sendirian. Si tentara berambut hitam menatap Adi terus sembari meloncat tinggi. Setelah mereka pergi, dari belakang pepohonan Aster keluar pelan.
“Tadi mereka memangnya ngomong apa?” tanya Harsa.
“Tidak. Mereka mengeluh padaku karena tidak bisa mengawasimu dengan baik.” Jawab Adi tanpa melihat Harsa di mata.
“Duh, kak. Kenapa sih mereka menganggapku masih anak-anak? Padahal aku sudah umur enam belas tahu!” Seru Harsa tetap kesal.
Salah satu alis Adi menaik. “Kamu masih satu setengah decade! Tentu kamu masih anak-anak!”
“Lalu memangnya aku harus berapa decade untuk dianggap dewasa?! Sepuluh?! Kalau di Indoensia, tahun depan aku sudah dapat KTP.”
Adi menggeleng-gelengkan kepala. “KTP? Kartu yang perlu untuk naik kereta itu?”
“Ya, punya KTP berarti sudah dianggap dewasa. Kartu Tanda Penduduk.”
__ADS_1
“Ohh!! Tanda kewarganegaraan begitu ya? Kerajaan Kasarewang juga punya yang seperti itu. Kamu butuh lulus ujian standard untuk dapat ini." Adi mengalirkan physis ke salah satu cincinnya, kemudian dari udara kosong keluar satu buah cap kecil. "Ini seperti tanda kalau kamu bisa membuat keputusan legal. Dengan menerima physis yang dihasilkan oleh tubuh pemiliknya, hanya dari physis pemiliknya, cap ini baru bisa mengeluarkan tinta. Keren, bukan? Hanya Raja Kasarewang yang tahu cara membuatnya.”
“Woow.” Aku Harsa, tapi kemudian dia menatap Adi curiga. “Kakak jadi lebih banyak bicara dari sebelumnya. Kenapa? Kak Adi mau menyembunyikan sesuatu? Apa karena omongan tentara tadi?”
Adi tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Dia tahu Harsa merupakan orang yang perasa, namun tidak menyangka Harsa akan perhatian seperti itu. “Yahh… Aku tidak enak karena dia ngomong yang tidak enak tentang kamu, tapi itu sebenarnya mungkin karena dari sejak di universitas dia tak suka padaku saja.”
“Memangnya dia bilang apa? Aku mengacau karena aku manusia?”
Adi menghela nafas panjang sambil menutup matanya karena siap menerima ledakan kemarahan Harsa. “Ya, kurang lebih seperti itu.”
“Apa semua Kasarewang seperti itu?” tanya Harsa lelah.
“Hah? Apa tentu tidak! Kalau begitu tidak akan Studi Manusia! Sudahlah, apa tadi kamu berhasil menangkap rusa sihir itu?”
Harsa melihat ke sekelilingnya, dan menemukan bangkai rusa sihir hasil buruannya masih terbaring hangus di daerah yang hancur terbakar. “Ya, ini. Aku bingung sekali waktu mau menangkapnya. Begitu didekati pergi, tapi begitu putus asa, datang.”
“Rusa sihir memang begitu. Setiap binatang sihir punya ciri khas yang berbeda. Rusa sihir terkenal sangat waspada, tpai mereka suka sekali mencium bau hasrat yang sesuai dengan diri mereka. Rusa sihir akan mendatangi mereka. Mereka cukup sulit dilawan, namun kalau berhasil akan jadi hadiah yang baik untuk hadiah ulang tahunmu.”
Akhirnya ada sesuatu yang bisa membuat mood Harsa lebih baik. “Benarkah? Apa yang mereka akan jadi iphone 12?”
Dahi Adi berkerut. “Apa lagi itu? Sudahlah, sini serahkan bangkai rusanya!”
“Tapi benar ini bisa jadi sesuatu yang aku inginkan?” Kata Harsa ragu sambil menyerahkan rusa itu pada Adi, yang langsung menyimpannya di salah satu cincinnya.
“Ya, berikan saja padaku. Nanti kalau sudah selesai, akan kuberikan padamu.”
“Nanti itu kapan?”
“Nanti ya nanti kalau sudah selesai!” kata Adi yang langsung berbalik untuk menghentikan pembicaraan mereka.
Harsa membuang nafas dan menyerah. “Terserah. Jadi tadi bagaimana dengan pertemuan dengan Adipati Aakil?” tanyanya.
__ADS_1
Kali ini Aster yang menghela nafas panjang. “Jadi….”