
“Nggak kerasa ya. Minggu depan sudah pentas seni lagi.” Ucap Elis sambil merenggangkan tangannya ke atas.
“Ya, tapi sebelum itu ujian dulu.” Kata Barasa tanpa mengalihkan pandangannya dari buku pelajaran Biologi yang dari tadi tak juga berganti halaman.
Mereka bertiga, Elis, Harsa, dan Barasa sedang berada di meja makan rumah Harsa, dengan buku pelajaran masing-masing di depannya. Satu loyang pizza berserta camilannya tergeletak dengan manis di tengah meja. Darma, yang mendengar bahwa Harsa dan teman-temannya akan belajar bersama, berinisiatif memesan pizza dan embel-embelnya untuk mereka nikmati saat belajar.
“Serius amat, Bar.” Omel Elis. “Sa, minta ya.” Kata Elis mengambil kentang goreng tanpa menunggu jawaban Harsa.
“Ambil aja.” Kata Harsa, masih sempat melirik Elis ketika dia sibuk membuat rangkuman.
“Mamamu baik banget, Sa, beliin kita pizza.” Kata Elis.
Barasa menggenggam batang pensilnya dengan lebih keras. “Sudah, jangan ngobrol. Fokus belajar. Beda sama kalian berdua tahu, aku kalau nggak belajar serius, nggak dapat rapot hitam.” Keluh Barasa.
“Hah? Nggak kok. Aku juga kalau nggak belajar, dapat nilai jelek.” Bantah Harsa.
“Lagian nggak masalah, toh. Kakekmu juga nggak akan marah.” Komentar Elis. “Kadang aku iri sama kamu tahu.”
“Bukan soal kakekku marah atau nggak, Lis. Ya, kalau aku mau masuk perguruan tinggi bagus, aku harus dapat nilai bagus.” Barasa berasionalisasi.
__ADS_1
Elis menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itu kan masih dua tahun lagi.”
Harsa tertegun mendengar pembicaraan dua orang temannya. Semenjak dia latihan dengan Adi, dia fokus belajar bagaimana membuka dan menutup Kai untuk meningkatkan kemampuan sihirnya. Di kepalanya, tak terpikirkan soal bahwa dia harus masuk kuliah. Belajar bersama dengan teman-teman seperti ini, tanpa membicarakan sihir sama sekali, rasanya seperti kembali ke dunia nyata. Ya, bagaimana pun juga dia harus lulus dari SMA dan masuk kuliah untuk mendapatkan pekerjaan, bukan? Harsa tidak boleh terlalu fokus untuk mengembangkan sihirnya saja.
“Aku baru terpikir soal kuliah. Memangnya kamu punya jurusan tertentu yang ingin kamu tekuni?” tanya Harsa.
“Nggak, sih. Tapi masuk universitas itu sulit kan? Makanya harus belajar dari sekarang.” Kata Barasa membela dirinya.
“Ooohh. Iya, aku setuju soal itu.” Kata Harsa tanpa pikir panjang.
“Memangnya orangtuamu peduli soal nilai?” tanya Elis pada Harsa.
Elis menghembuskan nafas panjang. “Orangtuaku tegas banget. Mereka selalu berharap aku dapat juara satu setiap tahunnya. Padahal aku capek banget belajar. Mereka nggak pernah mengizinkanku melakukan apa yang aku mau. Ibuku dokter dan pernah sekolah di luar negeri karena dapat beasiswa, jadi dia mengharapkanku untuk melakukan hal yang sama. Padahal aku nggak suka biologi.”
Harsa mengangguk-angguk penuh pemahaman, meski dia tidak terbayang rasanya bagaimana. Darma memang cukup ketat dengan nilainya, namun tidak pernah sampai menekannya. Harsa juga tidak pernah dipaksa untuk mengambil pilihan karir tertentu.
“Itu untuk keba-“ Kata-kata Barasa terputus ketika Elis melemparkan tatapan mengerikan padanya.
“Kamu juga. Dulu kamu suka sekali bela diri dan ingin mewarisi perguruan bela diri kakekmu, kan? Tapi sekarang kenapa kamu nggak pernah ngomongin soal itu lagi?” Tanpa terasa, nada Elis berubah emosional.
__ADS_1
“Duh, jaman gini siapa sih yang belajar bela diri?! Aku hadapi kenyataannya saja. Aku masih mau melanjutkan perguruan bela diri kakek, kok!” Seru Barasa. “Tapi aku nggak mau itu jadi satu-satunya rencanaku. Aku mesti punya karir yang lain juga kalau ingin menunjang impianku yang itu!”
Harsa menegang. “Ehm, guys. Aku ambil cola lagi yah. Mungkin minum yang dingin dulu.” Katanya segera menuangkan sisa cola di meja makan mereka dan mengambil satu botol lagi di kulkas. Sadar bahwa mereka berdua sedang bertamu ke rumah orang, wajah Elis dan Barasa memerah. Elis menghela nafas dan menyeruput colanya. “Sudah tenang?” tanya Harsa setelah keduanya diam, masih melihat satu sama lain dengan tatapan mengancam.
Urgh, kenapa pertentangan antara mereka berdua bisa menengangkan seperti pada saat melawan formskitter? Keluh Harsa dalam hati.
“Iya, Sa.” Kata Barasa pada akhirnya, memalingkan pandangnya dari Elis. “Makasih.”
“Kalau gitu, ayo belajar lagi. Besok ujian Biologi sepuluh bab.” Harsa mengingatkan.
“Duh, sudah jangan gitu. Aku belum maju dari bab 2.” Kata Barasa mengeluh.
“Tapi bab 2 itu bab pertama yang masuk bahan ujian.” Komentar Elis semakin melemahkan semangat Barasa.
“Iya, aku tahu!” teriak Barasa putus asa.
“Yok, bisa yok.” Kata Harsa tanpa ampun.
“SA! Benar, ya. Kalau ini bukan rumahmu, sudah kugampar kau!”
__ADS_1
Tanpa ampun, Elis dan Harsa menertawakan keputusasaan Barasa.