
Tanpa disadari wajah Harsa tersenyum lebar melihat satu gerombolan teman-temannya itu. Dia seperti disiram oleh tenaga baru. Dari langit-langit ruangan, Harsa tidak bisa bergerak.
“Kak Lisa!!!” Seru Harsa. “Tolong sihirmu!”
“Ah, ya. Maaf.” Kata Lisa sambil melepas sihirnya. Dia tidak sadar terus menerus menahan Harsa dengan sihir gaya gravitasinya. Begitu gaya gravitasi yang menekannya ke atas hilang, Harsa kembali melayang-layang di udara. Dia turun dan membaringkan Edi di sebelah Rucira.
“Dimana musuhnya?” tanya Kriya dengan dahi berkerut.
“Di… tem...” Bisik Edi mencoba berbicara.
“Kak! Sudah istirahat dulu!” Seru Harsa yang langsung berpaling ke Rucira. “Tolong bantu sembuhkan Edi dengan Dekrit Hidup kamu.“
Rucira menggelengkan kepalanya dengan panik. Matanya memandang darah Edi yang berceceran di mana-mana. “Nggak mungkin! Aku hanya bisa membuat tumbuh-tumbuhan saja!”
Mulut Harsa terbuka lebar karena kecewa. Dalam kepalanya kekuatan Aster yang menyembuhkan dirinya dengan handal terlewat. Namun, dia segera sadar bahwa dia tidak bisa membandingkan Aster dengan Rucira. Sampai sekarang, walaupun Harsa menguasai dekrit abstrak, dia juga tidak bisa mengubah physis menjadi elemen petir seperti Adi.
Diskusi mereka terpotong ketika bebatuan tajam menyerbu mereka semua. Di kanan, Lisa membalikkan batu-batu tajam itu dengan memutar arah gravitasi di sekitar mereka. Sementara itu, di kiri Kriya menangkis seluruh batu-batu tajam itu dengan tombak besinya yang baru terbentuk. Melihat kedua orang yang tangkas itu, Harsa merasa lega.
“Kita harus membawa kak Edi ke rumah sakit.” Kata Harsa, penuh dengan kekhawatiran.
Di luar dugaan Harsa, Edi menggeleng pelan.
Rucira menciptakan tanaman babadotan dari physisnya. “Gunakan ini! Mungkin tidak banyak membantu, tapi ini satu-satunya tanaman untuk luka yang aku tahu!”
Harsa bingung, tapi dia tetap menaruh dedaunan itu ke perut Edi yang terluka parah. “Lisa! Apa kamu bisa-”
Harsa dipotong oleh tangan Edi yang menepuk punggung Harsa. “Ki, kiri samping...” Kata Edi lemas.
Dahi Harsa berkerut. Edi menjawab dengan mengangkat telepon genggamnya. Di sana, di bagian layar masih belum terkena darah, ada satu titik merah yang menyala. Harsa segera mengerti, tapi dia menahan mulutnya. Dalam hatinya, dia berseru.
__ADS_1
‘GPS!’
Kalaupun mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan formskitter itu dengan aura, mereka dapat melacak formskitter itu denga GPS. Harsa langsung bersemangat dan kesal. Kenapa dia bisa tak terpikkirkan metode ini sebelumnya.
Harsa mengangguk dan mengambil handphone itu dari tangan Edi. Matanya langsung terarah ke dinding sebelah kirinya. Jika mengikuti formskitter itu berada dalam dinding sebelah kirinya. Dia menyembunyikan dirinya di balik elemen-elemen tanah. Sebuah teknik Dekrit Material yang sangat rumit sehingga Harsa tak mengerti. Tanpa ragu, dia melempar satu buah laser tinggi ke sana. Dinding itu langsung hancur berkeping-keping, membawa setengah langit-langit ikut runtuh.
“Wow, sans, Sa.” Kata Lisa dengan mata terbelalak.
“Di sana dia!” Teriak Kriya. Dia melunjak menuju formskittter yang terlempar karena serangan laser Harsa. Dia naik ke sana dengan mengandalkan batu-batu tajam yang dilempar formskitter itu pada mereka.
“Serang lehernya!!” Teriak Harsa memberitahu.
Kriya mengarahkan tombaknya tepat ke leher formskitter itu, tapi sama seperti Harsa, tombak Kriya terpantul ke belakang. Formskitter itu masuk ke salah satu dinding yang sudah hancur. Dia hilang kembali dari pandangan mereka.
“Sial!” Gerutu Kriya. Dia tak punya ide dimana formskitter itu berada.
“Nggak! Dia berlari ke bawah!” Teriak Harsa sambil melihat layar ponsel Edi.
“Dia bersembunyi dalam dinding dan tanah!” Kata Harsa, tanpa ragu dia melompat dari lantai empat. Sambil turun, Harsa melemparkan beberapa laser ke dinding-dinding tempat formskitter itu bersembunyi. Formskitter itu dengan lincah menghindar. Dalam dinding, dia dapat bergerak dengan cepat, lebih cepat dari kemampuan Harsa untuk menembak dengan tepat.
“Dia ke kiri! Dinding atas!” Teriak Harsa memberi arah.
Kriya juga melesat mengikuti petunjuk Harsa. Dia merubah bentuk senjatanya menjadi palu besi.Kriya memenuhi palu besi itu dengan physis yang siap berubah menjadi elemen tanah. Dengan physi sebanyak itu, Kriya merebut pengendalian elemen tanah dari formskitter itu, lalu menghancurkan dinding bangunan dengan mudahnya. Sosok formskitter itu tampak sesaat sebelum kembali menghilang karena kabur.
Harsa terus memberi petunjuk sambil mencoba untuk turut memojokkan formskitter itu dengan tembakkan lasernya. Harsa dapat merasakan getaran suara dari dinding bangunan yang hancur karena serangan mereka berdua. Getaran itu membuat hati Harsa tidak enak.
“Kriya!” Panggil Harsa berteriak. “Berhenti!!”
“Ada apa?!” sahutnya tak sabar.
__ADS_1
“Ada yang salah!” Jawab Harsa berhenti menembakkan laser. Dia tetap mengejar formskitter itu dengan gelombang elektromagnetiknya.
Kriya tak punya waktu dan sisa kapastias mental untuk mendengarkan celotehan tanpa dasar dari Harsa. Dia tetap mencoba mengenai formskitter itu dengan serangannya.
Harsa mendecakkan lidah sambil berpikir mencari apa yang salah. Apa yang terlewat dari pikirannya, namun mengganggu hatinya. Dahi Harsa berkerut ketika berpikir keras.
“Sa! Kemana dia?!” tanya Kriya bingung karena Harsa berhenti mengarahkan.
“Tunggu dulu!”
“Kamu pikir kamu punya waktu?!” Suara mengerikan dari suara formskitter yang tinggi itu membuat bulu kuduk Harsa bergidik. Wajah pucat formskitter itu muncul dari salah satu dinding luar bangunan. Bibir hitamnya tersenyum lebar mengerikan, lalu dinding di sekitarnya meledak berkeping-keping selagi formskitter itu terjun bebas dan tenggelam ke dalam tanah.
Badan dan pikiran Harsa seperti terkena kejutan listrik. Harsa dengan tak berdayanya melihat bangunan tua itu rubuh. Ternyata, dari tadi formskitter itu selalu berlari ke rangka-rangka penting dari bangunan itu. Hati Harsa mencelos ketika dia merasakan ada physis yang hilang ketika bangunan itu hancur lebur. Apakah manusia yang tertimpa bangunan itu bagian dari organisasi ini? Kalau bukan…
Harsa tidak bisa menahan rasa bersalah di pundaknya.
Pikiran seperti itu tidak muncul di kepala Kriya. "Rucira!"
"Dia aman." Kata Harsa merasakan physis Rucira masih terasa di balik reruntuhan itu.
Kriya mendecak kesal. Dia berlari ke arah reruntuhan itu, melupakan soal formskitter itu sama sekali. Seperti yang Harsa perkirakan, salah satu reruntuhan kolum yang terbuat dari besi dan beton terangkat ke atas oleh satu pohon jati raksasa. Beton itu bisa terangkat karena dibantu oleh sihir Lisa yang sedang
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kriya khawatir.
"Aku pikir aku akan mati tadi… untunglah ada Lisa…" Kata Rucira sambil tersenyum pada Lisa.
Entah kenapa, muka Kriya memerah marah. Harsa hanya bisa berspekulasi saja. Mungkin karena dia justru membahayakan Rucira, dan Rucira malah diselamatkan oleh Lisa.
Sesaat, Harsa juga lupa akan formskitter itu, sampai tiba-tiba dia melihat tanah di depannya meruncing naik dan menembus punggung belakang Kriya. Kasarewang muda itu batuk darah, lalu tawa formskitter mengerikan itu terdengar dengan jelas.
__ADS_1