
Ketika pada akhirnya mata Harsa kembali terbuka, dia melihat langit-langit kamarnya. Dari luar kamar, dia bisa mendengar suara nyanyian antara Adi dan Erik yang saling menyahut ketika mereka berbicara dalam bahasa Kasarewang.
“Aster! Barasa!” kata Harsa panik begitu mengingat kejadian yang menimpanya sore tadi. Namun, perhatiannya teralih ketika melihat sosoknya di cermin. Tak ada lagi warna rambut hitam dan warna coklat di pupil matanya hilang sudah. Harsa baru menyadari penampilannya berubah.Warna rambutnya menjadi merah terang benderang seperti api yang terbakar. Sementara itu, pupil matanya kuning menyala seperti lampu neon kuning yang bersinar di kegelapan. Sekarang, penampilannya mencolok sekali, hampir menyaingi penampilan Adi. “Astaga, gimana aku mau ke sekolah dengan rambut begini?”
Keluar dari kamar, Adi dan Erik berhenti berbicara, perhatian mereka tertuju pada Harsa. “Kamu baik?” tanya Adi terlebih dahulu.
Harsa memegang dadanya, dimana tadi terasa sakit. Sekarang, tak ada satupun badannya yang terluka. “Ya, entah kenapa, aku merasa baik-baik saja. Tapi, gimana sama Barasa dan Aster?”
“Barasa? Aster?” Tanya Adi dengan alis menaik.
“Mereka temen-temen yang membantu melindungiku melawan formskitter. Aster perempuan dan Barasa yang laki-laki.”
“Oh? Manusia-manusia itu? Jangan khawatir, luka mereka kusembuhkan pakai mantra penyembuh yang ada di cincinku.” Jawab Adi sambil menunjukkan cincinnya.
Harsa menghela nafas lega. “Jadi, mereka tidak apa-apa? Aku benar-benar kaget. Tiba-tiba ada formskitter yang menyerang… Padahal aku nggak di Tepi Dunia Roh… dan teman-teman yang lain juga bisa melihat formskitternya.”
__ADS_1
“Mereka bisa ke Dunia Material untuk memburu Kasarewang. Biasanya aku memilih menghadapi mereka di Tepi Dunia Roh karena di sana lebih padat dengan physis. Kalau formskitter pergi ke Dunia Material, tentu manusia bisa melihat mereka.” Jelas Adi.
“Lalu kenapa dia datang ke sekolah?”
“Mereka mengincarmu, tentu saja.” Jawab Adi tanpa pikir panjang.
“Aku rasa mereka mulai mendeteksi sihirmu karena segelmu sudah rusak sekali. Ehm, bahkan sekarang segel itu sudah hilang tanpa sisa.” Tambah Erik, baru benar-benar menjelaskan apa yang ingin Harsa ketahui.
“Aku terpaksa merusak segelnya untuk bisa menghadapi formskitter.”
Adi menggeleng tak setuju. “Menyegel ulangnya ulang hanya akan berakhir seperti bom waktu. Semakin kamu besar, semakin kuat sihirmu, semakin cepat segelnya rusak. Ayah, Harsa harus benar-benar belajar sihir.”
“Ya, aku setuju.” Kata Harsa kemudian menceritakan bagaimana Aster mencurigai kalau dia dapat menguasai sihir, bagaimana dia kehilangan kendali lalu menyebabkan MOS mereka harus berhenti mendadak.
Muka Erik memerah marah dan dia hendak memarahi Harsa, namun semua kekesalannya keluar dalam satu tarikan nafas panjang. “Ya sudah. Semua sudah terjadi. Sekarang, kamu paham maksud aku bukan?”
__ADS_1
“Iya, Pa.” Jawab Harsa lemah. “Maafkan aku. Aku akan lebih berhati-hati. Menurut papa kenapa, kakak kelas itu-”
“Berhati-hati saja tidak cukup.” Potong Adi cemberut. “Sepertinya benar aku harus sering pulang sekarang.”
“Aku sudah bicara dengan Darma. Kamar tamu sementara ini jadi kamar Adi selama dia mengajarimu cara mengontrol sihirmu sendiri.” Cerita Erik dengan suara rendah, tanpa ada ruang untuk diskusi. “Lebih nyaman juga buat Darma, daripada Adi menggunakan apartemen portabelnya terus menerus.”
“Eh, kenapa harus sama kak Adi? Papa kan juga bisa mengajariku sihir.” Kata Harsa panik.
“Jangan rewel. Aku juga lelah harus bulak-balik dari Kota Drestha ke sini.” Gerutu Adi.
“Mungkin aku bisa mengajarimu teori-teorinya. Masalahnya, kamu tidak akan mengerti kalau nggak dicontohkan, tapi aku tidak akan bisa mempraktekannya di depanmu karena aku sudah tak bisa sihir lagi. Jadi, Harsa. Lebih penting kamu bisa mengusai sihirmu dengan baik.” Tambah Erik menasehati. “Kalau Adi bisa mengajarimu dengan lebih baik, maka Adi saja yang mengajari. Lebih baik juga bukan cuma buat kamu, tapi buat teman-temanmu.”
Ingatan bagaimana wajah Aster dan Barasa yang tidak sadarkan diri yang masih jelas di kepalanya kembali terulang. Ada juga masalah dimana dia harus menyembunyikan sihirnya dari teman-teman yang lain, dan bagaimana dia tidak mungkin ke sekolah dengan penampilan barunya seperti ini. Harsa menyadari, dia tidak berada di posisi untuk memilih. Dia harus menguasai dengan cara apapun yang ditawarkan padanya, atau siapapun yang akan mengajarkannya.
“Iya, Pa. Benar juga.” Ungkap Harsa pada akhirnya. Harsa kemudian berpaling pada Adi. Walau beserta dengan hembusan nafas panjang, Harsa berkata pada Adi. “Kalau begitu, tolong ajari aku.”
__ADS_1
Malam itu merupakan momen langka dimana Adi tersenyum tulus, meski Harsa salah menangkapnya sebagai seringai. “Jangan khawatir, aku mengajarmu dengan benar, tapi jangan pikir akan mudah.”