
Selama berlatih di Tepi Dunia Roh, Harsa bisa merasakan letak physis-physis di lingkungannya, tapi Adi tidak juga merasa puas karena katanya auranya tidak rata, lebar dan efesien. Adi tidak puas karena aura yang Harsa keluarkan terlalu tebal dan tidak rata, sehingga menghambur-hamburkan physisnya. Itulah juga salah satu faktor yang menyebabkan Harsa mudah sekali kelelahan.
“Kalau terus begini,” Kata Adi. “Kamu akan kelelahan duluan sebelum melawan formskitter. Gerakan kamu juga terlalu kaku dan gak tonjokkan kamu nggak punya kekuatan.”
“Sekali lagi.” Harsa menarik auranya, kemudian melepaskannya kembali. Auranya kali ini jauh lebih tipis, tapi belum rata.
Adi menghela nafas. “Membaik, tapi belum sempurna. Ya, kurasa sudah cukup sampai saat ini. Sudah malam, kalau kita lanjut, merepotkan kalau ada macan sihir yang menyerang ke lembah ini.” Kata Adi sambil melihat ke arah pegunungan.
Walaupun Harsa berjanji dan bertekad untuk belajar sihir dengan serius, tetap saja tidak mengurangi rasa lelahnya. Sampai saat ini, dia belum terbiasa mengalirkan physis ke seluruh tubuhnya setiap saat hanya untuk bisa berdiri di Tepi Dunia Roh. Singkatnya, hal itu menyebabkan dirinya merasa lelah hanya untuk berfungsi seperti biasa di Tepi Dunia Roh. Oleh karena itu, ketika Adi akhirnya menepuk tangannya, Harsa bersorak gembira.
“Yey! Akhirnya istirahat juga.”
“Haahh. Padahal banyak yang mesti kau pelajari.” Ujar Adi sambil memasukkan physis ke salah satu cincinnya. Batu akik di jari tengahnya menyala, kemudian pintu mozaik warna-warni menuju apartemen portabelnya terbuka. “Ayo, masuk.”
Harsa berlari masuk ke apartemen Adi. Di sana, dia tidak perlu sihir hanya untuk berdiri. Sudah beberapa kali Harsa menginap di apartemen Adi, namun dia tidak juga terbiasa dengan ruangan itu. Tak ada satupun jendela dan tentu saja, tak ada sinyal dan internet dalam ruangan itu. Juga tak ada televisi. Yang Harsa bisa lakukan dalam apartemen Adi hanya mandi dan tidur. Untunglah itu sudah cukup. Seharian berlatih dengan Adi, Harsa tidak punya tenaga untuk melakukan yang lain.
Ketika Harsa selesai mandi, Adi membakar perapian di apartemennya. “Nih, makan.” Kata Adi menyerahkan satu obor besar padanya dan mengambil satu untuk dirinya sendiri.
“Makasih, kak.” Kata Harsa menikmati rasa manis dari api itu.
Mereka makan dalam diam, sampai Adi, yang baru saja menghabiskan api di obornya, menarik api dari perapian untuk membakar obornya lagi. Mata Harsa langsung menyipit curiga. “Hah, kak! Coba ulang, ulang yang tadi!” Seru Harsa.
__ADS_1
“Apa sih? Kamu mau tambah?” tanya Adi sambil, kali ini, mengarahkan api di perapian menuju kayu obor Harsa.
“Woow.” Kata Harsa merenungi apa yang baru dia lihat. “Tadi kakak, pas mengarahkan api itu, nggak pakai physis sama sekali kan?” tanya Harsa.
“Uuhh ya? Aku cuma mengendalikan elemen api saja. Jadi, gak perlu pakai physis.” Adi mengafirmasi. “Kamu bingung caranya gimana?”
Harsa mengangguk.
“Pakai aura. Kalau sudah bisa, mengendalikan elemen itu rasanya seperti bernafas.” Jelas Adi.
“Tapi kan untuk mengendalikan elemen gak perlu physis, lalu apa hubungannya dengan aura?” Apa yang Adi jelaskan sepertinya bertentangan.”
Harsa mengangguk. “Aura yang mengandung physis yang tipis, rata, dan khamir.” Kata Harsa mengulang ajaran Adi akan seperti apa aura yang baik itu. Kalau dalam jarak dekat, Harsa bisa mengeluarkan aura yang cukup baik. Masalahnya adalah, dalam jarak jauh, aura Harsa menjadi tidak stabil. Adi bersikukuh agar Harsa memperbaiki kekurangannya, karena dalam bertarung melawan formskitter, aura yang lebih lebar akan memungkinkannya untuk lebih fleksibel dalam mengendalikan baik physis maupun elemen yang ada di sekitarnya. Aura yang baik juga akan membuatnya semakin sensitif dengan semua serangan musuf.
Harsa mengeluarkan auranya dan berbagai macam informasi langsung masuk dalam pikirannya. Rasanya seperti punya indra keenam, yang memungkinkannya untuk merasakan physis dan elemen-elemen yang ada di sekitarnya. Tidak semua elemen itu Harsa kenali, tapi menurut Adi, elemen yang dia persepsi pastilah di bawah Dekrit Abstrak.
Ketika aura Harsa menyentuh perapian, dia bisa melihat- bukan melihat, mungkin lebih tepatnya mempersepsi, elemen api. Bukan hanya lidah-lidah api, tapi juga seperti rangkaian partikel yang menyusunnya.
Harsa tahu jelas apa itu partikel-partikel itu, mereka adalah elemen api. Elemen-elemen itu bergerak-gerak menyesuaikan gerak-gerik lidah api. Bahkan tanpa berpikir, Harsa menyentuh elemen-elemen itu dengan pikirannya. Keinginannya tersampaikan tanpa ada hambatan, tanpa perlu bahasa. Elemen-elemen itu menjawabnya, mengikuti keinginan Harsa.
Satu buah bola api melayang masuk ke dalam mulut Harsa. “Hap.” Bola itu tertelan ke tenggorokan Harsa. Rasa manis dan hangat menjalar dari lidah hingga ke tenggorokannya. Seperti biasa, api itu enak.
__ADS_1
“Ternyata begitu.” Kata Harsa pada Adi. Sekarang benar-benar memahami cara mengendalikan elemen. “Tidak sesulit yang aku kira.”
Adi tersenyum kecil. “Tentu saja. Elemen api kan afinitasmu.”
“Memangnya, kalau bukan afinitas, mengendalikan elemen akan sulit?”
“Akan sulit karena kamu sulit mendeteksinya. Coba saja, tadi, pada saat kamu mengeluarkan auramu, apa kamu mendeteksi elemen lain selain elemen api?”
Harsa tertegun, kemudian dia menggeleng. “Nggak, kak. Tapi, salah satu temanku bisa mengendalikan elemen api, air, angin, dan tanah.” Kata Harsa menceritakan soal Aster pada Adi.
Dahi Adi berkerut heran. “Aku pikir kamu nggak punya teman Kasarewang.”
“Nggak dia manusia, kok. Aku bahkan mengecek apakah temanku punya Kai, terus ternyata nggak.” Kata Harsa yakin. “Tapi dia nggak bisa mengubah physis menjadi elemen.”
Kerutan di dahi Adi semakin dalam. “Em, aku akan tanya temanku yang mengambil mata kuliah Studi Manusia.”
Harsa tertawa. “Kakak selalu bilang begitu kalau sudah bahas manusia.”
Adi menghela nafas. “Dulu aku tidak tahu kalau aku akan mendapat begitu banyak pertanyaan soal manusia. Jadi, aku tidak mengambil mata kuliah itu. Sudahlah. Jangan kritik aku lagi sampai auramu bagus.”
“Iya, Kak.” Kata Harsa cuek, lebih memilih untuk menikmati rasa manis dari apinya.
__ADS_1