
Pemandangan sekitarnya berubah dari perkotaan menjadi lembah berumput ketika mereka masuk ke dalam Tepi Dunia Roh. Fokus Adi tidak terganggu sedikitpun. Meski physis dalam vasalnya masih banyak, dia langsung menyerap physis untuk terus merotasi penggunaan physisnya. Dia mengalirkan listrik dari pedangnya ke formskitter itu, namun dia membentuk daging busuk untuk membuat jarak di antaranya dan Adi. Daging itu langsung gosong hingga menjadi abu terkena serangan listrik Adi.
Mereka berdua mendarat di atas lembah dengan suara ‘bam’ yang sangat keras. Tanah di bawah kedua kaki mereka meremuk karena pijakan kaki mereka penuh physis. Sejenak mereka bertatapan satu sama lain, masing-masing waspada akan gerakan satu sama lain. Adi berhati-hati pada sedikit pun pergerakan physis yang bisa dia rasakan dari auranya.
“Kamu menakutkan.” Kata formskitter itu sambil tersenyum. “Kamu bahkan gak ragu menyerangku walaupun aku sudah tampil seperti kalian.”
“Dan kamu nggak akan ragu membunuh kalau ada kesempatan.” Kata Adi dengan mata memicing. Tak terasa, dia juga ikut tersenyum miring. Satu keringat dingin mengalir dari dahinya. “Sepertinya, aku harus mengeluarkan semua yang aku bisa untuk mengalahkanmu.”
Dia berlari ke depan dengan kecepatan yang tak terkira. Pedangnya membela formskitter itu menjadi dua bahkan sebelum dia sempat bereaksi dengan gerakan Adi. Namun, masing-masing bagian tubuhnya melakang ke belakang Adi dan kembali menyatu di belakang Adi. Dia berbaik dan membuat tombak tanduk rusa dari physis di sekitar mereka. Dengan satu kali tebasan, Adi menghancurkan tombak itu, namun tombak itu tumbuh semakin kuat dan kuat. Sementara mereka beradu senjata, Adi mulai memerintahkan physis di sekitarnya. Tanpa terasa, udara di sekitar mereka semakin dingin. Dari atas mereka, salju beserta angin kencang mulai turun deras ketika Adi mengubah udara di sekitar mereka menjadi es. Semakin dingin, gerakan formskitter itu semakin melambat seiring dengan badan formskitter itu mulai membeku.
Ketika Adi mau menebas formskitter itu lagi, dari antara mereka terbentuk seekor naga besar yang melayang ke udara. Naga itu seperti ular berkaki delapan pasang yang memiliki gigi-gigi tajam. Adi refleks untuk lompat ke belakang untuk menghindari sisiknya yang tajam dan keras seperti pisau baja. Naga raksasa itu melayang ke atas dan menghembuskan api di langit ke udara. Cuaca dingin yang susah-susah dibangun Adi menghilang sudah.
“Cih.”
Setelah satu kali meliuk di udara, naga itu menerjang ke arah Adi sambil menyemburkan api kuning yang panasnya hingga terlihat di udara. Adi menguatkan kuda-kudanya dan menyelimuti dirinya dengan api birunya sendiri. Bola api itu menerjang Adi tanpa memberikan satu luka pun. Sementara naga itu menghamburi Adi dengan bola-bola api, formskitter itu melemparkan taring macam pada Adi. Untunglah aliran listrik masih meningkatkan refleks Adi. Dengan lincah Adi menghindari semua serangan itu.
Adi menaiki badan naga itu sambil menghindari serangan taring-taring dari formskitter itu. Bahkan ketika formskitter itu melemparkan taring dari poin buta, Adi tetap mendeteksi serangan itu melalui auranya. Tidak satu pun serangan formskitter itu yang menyentuh tubuh Adi.
__ADS_1
Adi menguatkan pedangnya dengan physis dan elemen api hingga pedangnya merah membara. Otot-otot lengan Adi menegang ketika dia menebas dengan kekuatan penuh. Jangakuan tebasannya melebar ketika dia den memotong-memotong naga raksasa itu menjadi beberapa bagian.
“Seram ya.” Komentar formskitter itu sambil mundur jauh ke belakang karena naga yang dia ciptakan perlu waktu untuk beregenerasi kembali.
Adi mengejarnya tanpa ragu. ”Kalau aku nggak bisa mengalahkanmu, aku nggak mungkin menghadapi formskitter yang membunuh ibuku.”
“Sayang, aku nggak tahu wajahnya.” Bersamaan dengan kata-kata formskitter itu, satu orang berwajah Harsa muncul di depan Adi. Mata Adi membelalak kaget sementara otaknya memproses apa yang terjadi. Kenapa Harsa ada di-
Pikiran Adi terputus karena tangan Harsa yang bergerak menonjokknya berubah menjadi pedang tulang yang menusuk Adi. Dalam sepersekian detik, Adi mengandalkan relfleksnya untuk menghindar agar tusukan itu tidak mengenai organ vitalnya.
“Sial!” Kata Adi sambil menarik pedang itu keluar dari perutnya dengan paksa. Kali ini, tanpa ragu dia menebas dan membakar Harsa palsu itu hingga habis menjadi abu.
“Sekarang! Tunjukkan dimana intimu itu berada!”
Tebasan tangan, kaki, perut, dan leher formskiter itu, tapi dia tak juga mati. Potongan tubuhnya menyatu kembali dengan sendirinya.
“Jadi, di kepalamu, yah!” gertak Adi yang langsung jatuh ke hadapan formskitter.
__ADS_1
“Tsk!” Kali ini senyum formskitter itu menghilang. “Berapa banyak formskitter yang sudah kau bunuh?” tanyanya pada Adi.
“Bagaimana aku bisa ingat? Kamu pikir berapa ratus formskitter yang menyerang Drestha setiap harinya?!”
“Tidakkah kamu merasa jahat?” Kata formskitter itu sambil menunduk ke samping menghindari serangan Adi yang mengincar tengkorak kepalanya.
“Nggak sama sekali. Mencoba berdamai dengan kalian sama saja seperti memohon agar harimau yang sedang lapar untuk tidak menerkam.”
“Kalau begitu, bersiaplah untuk dimakan!”
Bulu kuduk Adi merinding ketika dia merasakan elemen api dalam jumlah besar datang dari belakangnya. Dia berhenti menyerang dan kembali mengambil kuda-kuda pertahanan. Dengan pengendalikan elemen api, Adi mengalihkan serangan api dari naga yang sekarang sudah bangkit kembali. Selagi Adi sibuk mengubah arah serangan api itu, si formskitter mengarahkan tombaknya yang baru ke arah dada Adi, tempat dimana jantungnya berada.
Dengan sigap, Adi melangkah ke samping, dengan tangan kirinya dia mengcengkram pergelangan tangan formskitter itu dan dengan tangan kanannya dia mengalihkan serangan naga itu. “Hanguslah dengan seranganmu sendiri.” Kata Adi menarik formskitter itu ke arah semburan si naga. Formskitter menatap api dengan ngeri sebelum masuk dalam api yang menyengat panas itu. Sebelum sempat mengontrol naga itu, tubuhnya telah terbakar hangus.
“Arghhhhh!!!” Terik si formskitter itu kesakitan. Kulitnya yang beregenerasi segera terbakar kembali oleh semburan api.
Dengan posisi seperti itu, Adi menusuk kepalanya tanpa rasa kasihan. Bunyi ‘krak’ terdengar ketika Adi menghancurkan inti dari formskitter itu. Baik naga maupun seluruh tulang yang diciptakan oleh formskitter itu hilang lenyap ketika berhenti dialiri physis. Seperti biasa, tubuh formskitter itu juga berubah menjadi abu ketika intinya hancur menjadi berkeping-keping. Tinggalah Adi sendirian di Tepi Dunia Roh itu. Dia melihat sekitarnya dengan khawatir. Dia telah menang, walau kemenangannya sangatlah tipis.
__ADS_1
Adi merasa lelah. Entah sudah sekian lama dia bertarung dengan mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuannya. Meksipun dia terus menerus menyerap physis selama bertarung, namun physisnya tinggal sedikit lagi. Jika pertarungan itu berlangsung lebih lama lagi, Adi akan kalah karena tidak sanggup mempertahakan Kainya tetap terbuka untuk menggantikan physis yang dia gunakan. Baik badan dan mentalnya mengeluh kelelahan. Adi menarik pedangnya masuk dalam kantung dimensi melalui mantra yang terpatri dalam cincinnya.
“Aku harus menjadi semakin kuat.” Kata Adi sembari mengelap keringat yang di dahinya."Untuk mengalahkan formskitter yang itu, aku juga harus berlatih menjadi lebih kuat."