
Sesuai dengan janjinya, Aster sudah menunggunya di ruang klub. Berada di lantai empat, ruang klub itu hampir tak tersentuh kecuali oleh kegiatan klub sulap. Kursi-kursi dan meja-meja kelas itu dipinggirkan ke belakang kelas, menyisakan dua meja dan beberapa kursi di tengah-tengah. Di atas meja tersebut, terdapat beberapa gelas kimia dan cawan porselen. Di dalam gelas kimia itu, ada beberapa cairan, mulai dari yang bening hingga yang keruh. Beberapa batu dan material lain juga ditaruh dalam cawan poselen itu. Ada juga lamp burner yang berisi spiritus, korek api, dan cawan petri yang kosong.
“Ini lebih terlihat seperti laboratorium gak terawat daripada ruang klub sulap.” Decak Harsa.
“Hehe, aku dapat ini pas klub kimia mau memanfaatkan alokasi uang klub mereka untuk ganti peralatan yang sudah lama.” Kata Aster bangga. “Tapi jujur sih. Lagian kebanyakan kegiatan kita melibatkan sihir sungguhan.”
“Wow… Apa semua anggota klub sulap bisa sihir?”
“Hah? Oh, nggak. Sekarang ini, anggota aktif klub sihir cuma aku dan kamu. Sisanya anak kelas tiga yang ikut klub hanya terdaftar di nama saja. Mereka suka soalnya aku sebagai ketua klub gak pernah mengharuskan mereka ikut kegiatan. Dengan begitu, aku jadi punya tempat untuk berlatih sihir sih.”
“Tapi kalau gitu, kita harus cari anggota klub lain sebelum anak-anak kelas tiga lulus.” Komentar Harsa. “Kalau nggak, tahun depan klub ini bisa bubar.”
Wajah Aster murung, mengingat fakta itu. “Aku akan rekrut teman-teman satu angkatan yang gak mau banyak kegiatan klub juga di kelas tiga.” Kata Aster. “Tentu aku seneng banget kalau kamu mau ajak teman-teman, tapi kalau aku inginnya tetap bisa latihan sihir di tiap kegiatan klub.”
“Ohh, jadi bagaimana latihan sihir itu?” Harsa penasaran akan bagaimana Aster menyihir.
“Aku biasanya melatih kontrolku waktu menyihir, sehingga aku bisa menyihir lebih lama.” Katanya sambil mulai mengangkat tangannya. Wajah Aster penuh konsentrasi saat dia mulai menggerakkan salah satu batu dalam cawan porcelain. Batu itu terangkat hingga tingginya sejajar dengan mata Aster. Tak berhenti hingga sana, batu yang awalnya berbentuk trapesium itu berubah menjadi bulat sempurna, sebelum akhirnya mekar menjadi bintang dan jatuh kembali ke tanah.
“Haahhh. Sekarang segitu batasku kalau mau mengubah bentuk tanah. Rasanya beda sekali dengan hanya sekadar menggerakkan tanah dalam jumlah besar.” Kata Aster lelah. Dia seperti baru saja menyelesaikan ujian matematika yang sulit.
“Wow. Kamu menguasai dekrit materi, ya?” tanya Harsa kagum. “Kemarin aku melihatmu menyihir elemen air, sekarang elemen tanah.”
Dahi Aster malah berkerut. “Apa itu dekrit materi?”
“Kamu nggak tahu?” Seharusnya Harsa tidak kaget, pengetahuan tentang physis dan dekrit umumnya hanya diketahui oleh Kasarewang.
Ketika Aster menggeleng, Harsa menjelaskan ulang apa yang Adi ajari padanya.
“Aku baru tahu ada pembagian seperti itu, tapi aneh juga.” Katanya kemudian menyalakan pembakar spiritus. “Aku juga bisa kendalikan elemen api kok.” Kemudian, dia mengangkat lidah-lidah api itu menjadi satu bola api sebesar apel yang melayang-layang di atas telapak tangannya. “Bahkan aku lebih mudah mengendalikan api daripada tanah.” Katanya.
“Woow…” Harsa tak bisa berkata-kata sangking kagumnya. Apa Aster seperti Adi, bisa menguasai dua dekrit sihir?
Aster mengepalkan tangannya dan bola api itu padam. “Tapi aku tidak bisa melakukan seperti yang kamu lakukan.”
__ADS_1
“Maksudmu?”
“Aku nggak bisa membuat api, aku cuma bisa ngendaliin api aja.” Jawab Aster dengan penuh tekad. “Itu yang aku ingin kamu ajarkan sama aku.”
“Tapi kemarin kamu bisa buat air kok.”
Aster menggeleng. “Itu aku bukan membuat air, aku mengubah air dalam bentuk gas di udara jadi bentuk cairnya.”
“Oooh, wow. Kamu benar-benar menerapkan prinsip kimia ke sihir ya.” Komentar Harsa sambil merenungkan sihirnya sendiri.
“Hmm? Iya kah? Aku berpikir begitu karena belajar kimia bantu banget sih untuk mengembangkan sihirku. Sudah, cukup soal sihirku. Kalau kamu gimana? Apa jangan-jangan kamu membakar gesekan pada oksigen? Aku pernah terpikir membuat api dengan cara begitu sih, tapi aku takut membuat ledakan. Jadi gak kulakukan.”
Harsa menggeleng. Kali ini dia mengangkat tangannya sambil mengalirkan physisnya ke lengannya. Dengan sengaja, ketika physis itu keluar dari tubuhnya, Harsa mengarahkan agar physisnya berubah menjadi elemen api. “Aku mengubah physis yang ada di dalam diriku menjadi elemen api.”
“Physis?”
Harsa menjelaskan lagi apa yang Adi jelaskan padanya tentang physis dan sihir. Aster mendengarkan dengan serius. “Wow. Aku nggak tahu tentang semua itu.”
“Lalu, bagaimana kamu mengendalikan api, air, dan tanah itu?” tanya Harsa.
Harsa menatapnya dengan mata memicing. Jawaban Aster mirip sekali dengan Adi.
“Dulu aku pernah melihat sihir sekali. Waktu itu, aku dilindungi oleh gelombang tsunami. Aku ingat melihat ada orang yang menahan gelombang air dalam satu bola udara kecil yang menampung aku dan dirinya. Sejak saat itu, air seperti memanggilku. Awalnya aku kira hanya imajinasiku saja, tapi waktu aku delapan tahun, ketika aku bosan dan iseng menanggapi panggilan itu, air di sekitarku mulai bergerak sesuai dengan kehendakku. Lalu hal yang sama terjadi pada angin, tanah, dan api. Sekarang, aku mulai bereksperimen dengan benda-benda lain. TAPI, aku tidak pernah bisa membuat sesuatu seperti kamu, aku selalu menggerakkan dan mengubah wujud benda saja.”
“Memanggil?” Harsa tidak pernah mengalami apa yang diceritakan oleh Aster.
“Ya. Begitu kamu mempersepsi elemen-elemen itu ada dan menjadi bagian dari duniamu, kamu bisa menggerakkan mereka.”
“Hmmmm.” Harsa menggeleng. “Kayaknya kita menyihir dengan cara yang beda sekali. Sebentar.”
Harsa mengingat pelajaran dari kakaknya kemarin tentang aura. Berkonsentrasi penuh, Harsa mengeluarkan auranya. Meski auranya tidak luas, pekat, maupun menekan seperti aura Adi, aura Harsa sudah cukup untuk mempersepsi physis yang ada di sekitar kelas ini.
“Ka. Kamu nggak punya Kai…” Gumam Harsa tanpa sengaja pada dirinya sendiri ketika menyadari bahwa dia tidak menemukan kumpulan physis yang terkonsentrasi di daerah perut Aster.
__ADS_1
“Apa? Aku nggak punya apa?” tanya Aster bingung.
“Eng.” Bodoh, batin Harsa. Tentu saja Aster tidak punya Kai, Aster kan manusia! “Soal physis. Aku menciptakan api dari physis yang ada dalam diriku.”
“Hm, jadi aku nggak bisa mencipta dengan sihir karena aku nggak punya physis dalam diriku?”
“Bukan, kamu punya kok physis. Tadi aku merasakannya.” Kata Harsa jujur. “Cuma, physismu gak terkonsentrasi. Physismu tersebar di seluruh bagian tubuhmu. Tapi, kamu-” Kamu gak punya Kai, sehingga gak ada ada physis dari Dunia Roh yang bisa dipakai untuk sihir… Namun, Harsa menahan dirinya dari membicarakan Kai. Dia tidak mau kalau Aster curiga ada perbedaan fisiologis antara dirinya dan manusia biasa.
Barasa juga sama seperti Aster. Remaja laki-laki itu tidak punya Kai dalam dirinya, namun bedanya, Barasa bisa menggerakkan physis yang ada dalam tubuhnya hingga terkonsentrasi beberapa bagian tubuhnya seperti di tangan, kaki, atau dadanya. Harsa tahu karena dia mengamati pergerakan physis pada Barasa ketika dia memamerkan teknik bela dirinya kemarin untuk membuktikan bahwa caranya melawan formskitter adalah bela diri, bukan sihir. Yah, pada akhirnya mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan.
“Hm, Tapi??” Desak Aster penasaran.
“Mungkin kamu belum bisa merasakannya saja.” Kata Harsa buru-buru.
“Begitu. Physis ini, bagaimana kamu mempersepsinya?”
Nggak tahu, ada saja di tubuhku semenjak aku lahir. Jawaban Harsa tertahan di mulutnya. Dia mengingat-ingat bagaimana persisnya perasaan physis yang mengalir dalam tubuhnya. “Seperti ada tenaga yang keluar dari tubuhmu. Seperti ketika kamu merasa otot di bagian tertentu di tubuhmu lebih kuat dari yang lain.”
Kali ini, Aster yang menatapnya kebingungan.
“Lebih baik kucontohkan.” Kata Harsa kemudian mendorong physisnya dengan perlahan pada Aster seperti angin pagi yang lembut. “Aku baru saja menabrakkan physisku ke badanmu.”
“Aku merasa…. Seperti ada sesuatu yang menembus badanku untuk sesaat.” Kata Aster bergidik. “Rasanya….”
“Nggak enak’kan?” Harsa mengingat bagaimana Adi memasukkan physisnya ke dalam tubuh Harsa.
“Ya, tapi memang mencerahkan. Aku rasa aku tahu apa yang kamu maksudkan soal physis sekarang.” Kata Aster dengan lebih percaya diri. “Mungkin aku bisa membentuknya. Gerakan physis dalam diriku, lalu keluarkan?”
Harsa mengangguk yakin. “Tapi, Aster, soal ini-“
Aster tersenyum puas. “Tenang, soal sihirmu itu, takkan kusebarkan.”
“Janji?”
__ADS_1
“Janji.” Jawab Aster sambil mengacungkan jari kelingkingnya. "Selama kamu mau terdaftar ikut klub sulap dan ajarkan aku semua tentang sihir yang kamu tahu!"
Harsa menghela nafas, tapi dia tidak bisa mengelak. "Iya! Iya!"