Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa Wijaya dan Physis


__ADS_3

Malam pulang dari belajar bersama Elis sudah lelah secara fisik dan mental tidur dalam sekejap setelah menyentuh kasur. Beberapa jam kemudian, mata Harsa terbuka lebar. Matahari sudah mulai menyinsing. Kalaupun hari ini adalah hari Sabtu pertamanya tanpa acara, Harsa tidak bisa kembali tidur karena sudah terbiasa bangun pagi hari.


Harsa ingin tidur lagi, namun usahanya sia-sia.


“Sa? Mau sarapan apa?” tanya ibunya dari luar kamar.


“Apa aja yang ada, Ma!” Kata Harsa masih tidak ingin bergerak dari kasurnya.


Mau, tak mau, Harsa beranjak keluar dari kasurnya. Harsa sengaja mengosongkan hari ini karena dia harus menyelesaikan PR pelajaran Fisika dan Kinia yang menumpuk. Sejak pagi, setelah sarapan, Harsa bergulat dengan modul sepanjang hari. Pikirannya masih bercampur dengan pelajaran biologi kemarin, sehingga mengerjakan tugas fisika dan kimia terasa semakin sulit.


“Haaaahhhhh!” Teriak Harsa frustasi karena dia tidak suka mengendap dalam kamar seharian. “Kenapa gak selesai-selesaii?!! Katanya masa-masa SMA menyenangkan!”


Saat itu pintu kamar Harsa diketuk. Tanpa menunggu jawaban Harsa, Darma masuk dalam kamarnya. “Kalau stress ya udahan dulu. Ini minum jus jeruk dulu.” Darma menyerahkan satu buah gelas jus jeruuk di atas meja belajar Harsa.


“Capek, Ma. Capek sekolah.” Keluh Harsa.


“Udah, jangan ngeluh. Nanti kuliah sama kerja lebih capek lagi lho.”


Harsa menghela nafas karena kata-kata Darma tidak menghibur. Harsa mengingat percakapannya dengan Elis kemarin malam. “Aku bingung tapi ma. Apakah aku harus masuk kuliah atau universitas sihir di Kota Drestha. Kalau menurut mama gimana?”

__ADS_1


Mata Darma mengerjap-ngerjap. Harsa baru pertama kali menanyakan hal ini pada dirinya. “Kamu maunya gimana? Aku bakalan dukung kamu, kok.  Baik mau tetap di sini atau di Drestha.”


Entah kenapa, Harsa merasa lega. “Makasih, Ma. Tapi justru sebenarnya aku bingung dengan apa yang aku mau. Aku masih ingin tinggal di Bandung, di sini. Aku masih ingin merasakan kuliah dan kerja. Ngomong pakai bahasa Indonesia, makan batagor, dan nasi goreng. Di saat yang sama aku juga ingin ke Drestha untuk belajar lebih banyak lagi soal sihir. Aku ingin punya tempat tinggal juga di Drestha, apalagi untuk masa depan…. Tapi, aku juga ingin… yah, yang tadi.”


Dahi Darma mulai berkerut mendengar curhatan Harsa. “Aku mengerti perasaan bingungmu, tapi bukan berarti aku punya solusi. Memangnya kapan kamu harus masuk universitas di Drestha?”


“Ehh. Aku juga belum tanya Adi.”


“Tanya dulu gih. Sementara ini, kalau menurutku, kamu fokus saja belajar di SMA. Bentar, istirahat dulu sebentar deh, daripada kamu ngeluh kayak tadi.”


Harsa mengangguk, lalu Darma meninggalkannya sendirian di kamar. Dia mengambil jus jeruknya sambil meminum perlahan. DIa mengambil ponsel cerdasnya dan melihat-lihat konten Youtube. Dia iseng saja mencari video yang kira-kira bisa menghiburnya. Dari sekian banyak video itu, dia menemukan satu video yanag menceritakan fun fact gelombang dan materi. Dia tidak mengerti dan tidak berniat mengerti gelombang sejauh itu, namun di balik pikirannya dia seperti akan mengerti sesuatu hal.


Elektron merupakan sebuah materi, tapi di saat yang sama dia juga bertindak seperti gelombang dalam percobaan mekanika kuantum…


Api merupakan materi yang dipanaskan, tapi cahaya yang muncul dari api adalah gelombang… Api paling tepat disebut sebagai plasma, yaitu materi yang berada dalam kondisi panas. Contoh lain dari plasma adalah listrik….


Plasma… Pikir Harsa. Dia meletakkan ponsel cerdasnya dan kemudian mengangkat telapak tangannya. Dengan berhati-hati, Harsa menyalakan lidah api kecil di atas telapak tangannya. Dia memperhatikannya baik-baik.


“Ini plasma.” Kata Harsa pada dirinya sendiri. “Listrik yang kak Adi ciptakan juga plasma. Lalu, aku dari api yang aku ciptakan, ada gelombang panas dan cahaya. Aku juga bisa membuat gelombang laser, dan gelombang elektromagnetik. Kata Kak Adi, aku bisa menguasai gelombang-gelombang lainnya kalau mau berusaha belajar. Kak Adi menguasai baik Dekrit Materi dan Dekrit Abstrak. Aster juga bisa menguasai tiga buah dekrit. Apakah sebenarnya ketiga dekrit itu berhubungan, bukan batasan?”

__ADS_1


Harsa merasa dia akan sampai pada sebuah konklusi tertentu, tapi pemahamannya masih kurang. Dia teringat pelajaran biologi kemarin tentang berbagai macam sel hidup di lingkungan. Aster tampaknya, dapat membuat berbagai macam sel hidup seperti itu dari physis.


“Tampaknya dekrit abstrak itu seperti plasma dan gelombang. Elemen-elemen kecil yang bisa kulihat melalui aura, tampak seperti partikel subatomic... Dekrit material itu merupakan materi kimia yang bisa dijelaskan dengan tabel periodik, lalu Dekrit hidup itu seperti pelajaran biologi. Yah, aku nggak paham gimana physis bisa memberi ‘hidup’, tapi kalau hidup bisa dijelaskan dari sel telomere… Mungkin bisa. Orang-orang yang punya beberapa dekrit seperti kak Adi mungkin bisa menembus batasan antara gelombang dan material karena bisa memanipulasi physis hingga ke elektron-elektronnya. Meski aku juga tak mengerti kenapa elektron bisa seperti materi dan gelombang sekaligus.”


Harsa terus menonton videografis mengenai fisika karena dia masih merasa kurang dalam pengetahuannya untuk merasa tenang dan mendapatkan satu pengertian yang utuh. Hingga akhirnya dia menemukan, satu istilah… the theory of everything.


Teori dari semua hal?


Teori ini berusaha menemukan satu kerangka berpikir yang dapat menjelaskan seluruh hal fisik di dunia ini. Sampai sekarang, keberadaan satu kerangka berpikir seperti ini belum ditemukan. String Theory bisa menjadi Theory of Everything, tapi tampaknya perdebatan masih terjadi di mana-mana antar peneliti. Namun, tampaknya Theory of Everything tidak asing di telinga Harsa.


Dia langsung teringat dengan physis. Hal yang bisa menjadi apapun. Lalu, saat itu juga, Harsa seperti ada koneksi dalam pikiran Harsa.


“Aahhhh!”


Rasa bingung dan tak nyamannya karena harus hidup di antara dunia sihir dan dunia normal manusia biasa terjawab sudah. Sihir yang Adi ajarkan dan sains yang dia pelajari di sekolah tampaknya tak lagi bertolak belakang, melainkan merupakan dua sisi yang berbeda dari satu koin yang sama.


Adi selalu mengajarkanku untuk melakukan sihir dengan kata-kata seperti, ‘kamu bisa rasakan saja!’ ‘Kamu tidak perlu banyak berpikir bagaimana, perintah saja! Kemampuan itu ada dalam diri kamu!’. Harsa selalu bingung. Sekarang, setelah berkali-kali gagal, dia paham. Untuk dapat melakukan sihir, dia harus bisa mempersepsi sihir sebagai bagian dari realitasnya. Ketika dia sudah bisa memikirkan satu sihir ke suatu hal yang ‘mungkin’ dari ‘tidak mungkin’, dia selalu bisa menguasai pelajaran dari Adi dengan mudah.


Harsa mematikan api yang ada di atas telapak tangannya. Dia berkonsentrasi untuk memerintahkan physis yang keluar dari Kainya untuk menjadi sebuah aliran listrik.

__ADS_1


“Blizzzttt!” Aliran listrik statis kecil mengalir dari dua jari Harsa, dan Harsa tersenyum puas. Bayangkan kalau physis bisa menjadi satu sumber pembangkit listrik tersendiri.


Dada Harsa seperti terbakar dan bergetar penuh gairah. “Aku rasa aku tahu apa yang aku mau lakukan.” Kata dengan senang hati. “Aku akan menemukan ekuasi dari physis.”


__ADS_2