Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Penyergapan (2)


__ADS_3

Keringat dingin mengaliri di dahi Harsa Wijaya. Dia sangat terfokus pada auranya. Terpaksa. Kalau tidak, dia badannya dapat langsung hancur seperti Edi. Dadanya berdebar kencang, namun dia tidak mendengar debaran dadanya.


"Apa kamu tidak apa-apa?"  tanya Harsa khawatir.


"Fokus saja pada lawan." Kata Edi lemas. "Jangan sampai kamu terluka juga."


Harsa mengangguk setuju. Dia memasukkan banyak physisnya ke cincin yang memiliki mantra untuk membuka tudung menuju Tepi Dunia Roh. Forrmskitter itu tidak menunggu Harsa siap dulu, sebelum maju menyerangnya. Harsa langsung membuka tudung menuju Tepi Dunia Roh. Formskitter itu terjebak masuk ke Tepi Dunia Roh. Harsa berlari ikut masuk ke dalam Tepi Dunia Roh.


“Bertahan, kak Edi!!!”


Harsa langsung masuk ke Tepi Dunia Roh tanpa menunggu jawaban Edi. Di balik tudung transparan, Harsa langsung jatuh ke bawah dari lantai empat karena bangungan setengah jadi itu hilang sudah. Harsa jatuh semakin cepat. Dengan keberuntungan dia berhasil mendarat dengan selamat. Harsa meledakkan physisnya sesaat sebelum bertabrakan dengan tanah, sehingga momentum jatuhnya terhenti dan tubuhnya tak remuk.


Sayangnya, bukan hanya dia yang selamat. Formskitter itu membuat tentakel-tentakel gurita yang menjadi bantalan untuk melindunginya dari hantaman itu. Formskitter itu lalu memotong tentakel itu dari kakinya, sehingga tentakel itu menghilang.


Harsa menelan ludah. Jujur, dalam hatinya dia takut setengah mati. Dia takut dia tidak bisa mendeteksi physis dari formskitter bertudung itu dan tubuhnya hancur seperti Edi ataupun Kainya rusak seperti Gilda. Harsa tidak berani mengambil langkah pertama.


Untunglah Harsa tidak perlu melakukannya. Dari belakang Harsa, Adi melesat cepat menuju formskitter bertudung dan bertopeng hitam itu tanpa keraguan. Atau lebih tepatnya, dengan penuh kebencian.


“Kamu hadapi saja si pengecut itu!” Teriak Adi.


Harsa mengangguk, tapi dia membatu. Dia tidak bisa merasakan dimana formskitter lawannya berada. Formskitter ini memiliki kemampuan khusus untuk menyembunyikan phyisisnya. Bagaimana aku bisa melawannya? Tanya Harsa kebingungan dengan dirinya sendiri. Bagaimana mendeteksi formskitter itu?


Belum sempat Harsa berpikir, tanah di depannya menaik tajam, mengincar dagunya. Harsa tidak bisa merasakan pergerakan elemen lain selain api. Untunglah matanya jeli dan refleksnya baik. Harsa menghindar ke belakang. Ujung tajam dari tanah yang menaik itu berada di depan mata Harsa.


Fokus pada physis! Pikir Harsa  mengarahkan pikirannya. Jika dia bisa mengenali physis lingkungan dan physis lawan seperti pada saat ujian, dia pasti bisa mengalahkan formskitter itu. Atau… Jika ada Edi…


Harsa menggelengkan kepalanya. Dia berfokus menghindari serangan-serangan batu tajam dari atas tanah. Harsa melompat-lompat dengan awas. Keadaan gelap di malam hari tidak membantunya. Turun dari lompatan tinggi itu, formskitter lawannya meruncingkan seluruh tanah di bawah Harsa.

__ADS_1


“Cih. Jadi gitu cara mainmu.” Harsa mengumpulkan physisnya lalu merubahnya menjadi satu laser yang meratakan tanah di bawahnya. Satu ide terkumpul di kepala Harsa. Kenapa dia tidak menggunakan cara yang sama?


Harsa mengalirkan gelombang elektromagnetik ke seluruh auranya. Berbeda dengan gelombang elektromagnetik biasanya, gelombang ini menyetrum semua yang ada dalam jangkauannya. Tak jauh dari Harsa, di sebelah tenggara, dari dalam tanah sebuah gumpalan keluar dari sana. Gumpalan itu tak lain tak bukan adalah formskitter yang bersembunyi dalam tanah. Rupanya cukup berantakan dan karena serangan Harsa.


“Cukup mirip dengan serangan listrik.” Kata Harsa pada dirinya sendiri, meski dia belum puas. Sekali terlihat sosoknya, Harsa tidak menahan diri lagi. Dia mengambil kedua pedang kembarnya, dan langsung melesat ke depan formskitter pria itu untuk menghajarnya.


Harsa mengalirkan elemen elektromagnetik ke kedua bilah pedang kembarnya. Tanpa ragu dia menebas formskitter itu dengan kedua belah pedangnya berturut-turut. Setiap tebasan pedang Harsa memberikan tambahan kejutan pada forrmskitter itu, menyebabkan tubuh formskitter itu terjungkal ke belakang berkali-kali tanpa kesempatan untuk balik menyerang. Sebelum formskitter itu selesai berdiri, Harsa telah menebasnya lagi. Namun, meskipun dia berhasil memojokkan formskitter itu, pertarungan ini tidak akan menang jika dia tidak bisa menemukan inti dari formskitter pria itu.


Akhirnya inti formskitter mulai terlihat ketika Harsa menyerang leher formskitter itu. Akan tetapi, leher formskitter itu terlindungi oleh batu berlian yang sangat keras. Pedang Harsa yang hanya diperkuat oleh elemen elektromagnetik terlempar ke belakang. Untunglah Harsa dapat segera menariknya pedangnya dengan magnet di kembaran pedangnya.


Sedikit saja Harsa tak menyerang, formskitter itu membuka tudung transparan menuju Dunia Material. Harsa terbelalak terkejut karena bertarung di Dunia Material adalah hal terakhir yang dia inginkan. Pergerakannya jadi jauh lebih terhambat di sana. Tapi Harsa harus mengejarnya. Dia takut formskitter itu akan menyerang Edi yang sedang terluka parah.


Kembali ke Dunia Material, Harsa berada di lantai dasar dari gedung terbengkalai itu. Dari sana, seperti kecurigaanya, formskitter itu mengarah ke lantai atas. Dia sudah membuat tangga batu sendiri menuju tempat Edi berada.


Harsa melesat ke atas dengan gelombang elektromagnetiknya. Hatinya lega ketika melihat Edi masih duduk di tempat yang tadi sambil mengikat tangannya yang sudah buntung untuk menghentikan peredaran darahnya. Keadaan Edi memang tidak bisa dibilang baik, namun setidaknya formskitter itu tidak sempat menyerang Edi.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Edi bingung.


“Apa?!” Edi tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.”Nggak, aku nggak lihat.”


Dada Harsa berdegup kencang. Lagi-lagi dia tidak tahu posisi formskitter itu. Di sekitar mereka memang tidak ada tanda-tanda adanya formskitter. Tidak ada aura ganas yang biasanya dipakai oleh formskitter untuk membuat semua lawannya takut.Sekarang, ketika Harsa sudah terbiasa dengan aura itu. Harsa jadi lebih panik ketika formskitter itu tidak bisa dia rasakan. Dari mana dia akan menyerang? Di mana dia bersembunyi? Kemana Harsa harus menyerang?


 


 


Di saat dia berpikir keras seperti itu, langkah Harsa terhenti. Muka Edi yang sudah pucat semakin pucat lagi, sementara darah merah mengalir keluar dari mulutnya. Semen yang menjadi lantai belum jadi dari bangunan terbengkalai itu menaik dan menusuk perut Edi hingga menembus punggungnya.

__ADS_1


Edi terbatuk dan memuntahkan satu gumpal darah ke tanah. Seakan belum cukup, formskitter itu menarik semen yang dia kendalikan kembali ke tanah, meninggalkan luka Edi terbuka menganga. Tawanya yang mengerikan terdengar dari seluruh dinding gedung itu.


“Kak Edi!” Harsa berteriak dan menopang tubuh Edi yang hampir jatuh terjelembab. Tanpa ragu, Harsa melemparkan gelombang api tanda untuk kelompok kedua mereka. Gelombang apinya terbang ke atas menembus langit-langit gedung. “Bertahan kak! Kalau Rucira datang dia mungkin bisa menyembuhkanmu lewat Dekrit Hidup.”


“Ba.. ba...kar…, Sa...” Kata Edi terbata-bata karena sudah lemas.


Harsa awalnya bngung, hingga Edi menunjuk lukanya. Harsa melihat Edi ragu-ragu.


“Ce, ce, pat.”


Harsa membuat bola api di telapak tangannya dan membakar luka Edi,  Pria malang itu berteriak pelan, lebih karena dia tidak punya tenaga daripada karena rasa sakitnya. Edi akan berteriak-teriak keras jika dia punya tenaga.


Formskitter itu tidak berdiam diri begitu saja menunggu Harsa menutup luka Edi. DIa menaikkan semen itu lagi. Untunglah Harsa merasakan sedikit pergerakan di bawah pijakannya. Dia memapah Edi di ‘punggungnya dan meloncat ke udara. Lebih lambat sedikit lagi, bukan kaki Harsa yang terluka, namun dadanya yang tertusuk.


Setiap kali Harsa akan berpijak, formskitter itu melunjakkan dinding-dinding dan lantai-lantai gedung menjadi duri-duri yang tidak bisa Harsa injak. Lama-kelamaan dia hanya mempertahankan pijakan kakinya di udara dengan gelombang elektrogmagnetiknya.Tak lama, bukan hanya tidak bisa berpijak, formskitter itu menghujami Harsa dengan batu-batu tajam. Harsa menghindari mereka sebisanya. Satu kali, dia memanfaatkan batu tajam itu sebagai pijakan kaki. Namun, dia tidak bisa menghindari semuanya.


Mata Harsa menangkap satu batu tajam akan menghantam kepalanya. Harsa mengumpulkan physisnya untuk melindungi dirinya. Harsa siap menerima serangan itu.


Akan tetapi, tiba-tiba badannya tertarik ke atas sementara seluruh batu-batu tajam itu tertarik ke bawah. Dinding di kiri Harsa tiba-tiba hancur berkeping-keping, menyisakan satu buah bolong lebar. Di sana, Lisa, Kriya, dan Rucira masuk dihantar oleh satu buah mahkluk yang terbuat dari alur-alur tanaman merambat.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2