
Singkatnya, melalui grup chat mereka, Aster menyampaikan bahwa dia ingin mempertunjukkan sihir mereka sebagai sulap sebagai pertunjukkan seni. Aster juga merencanakan jalur cerita tertentu yang akan dihebohkan oleh sihir. Membayangkan rencana Aster, Harsa bisa membayangkan ‘sulap’ mereka akan terasa memikat para penonton. Masalahnya hanya satu, kalau sampai ada yang masuk klub sulap setelah pertunjukkan itu, maka belum tentu mereka bisa mengajarkan para anggota baru cara memerintahkan physis dan elemen. Erik jelas-jelas mengungkapkan bahwa penguasaan sihir manusia sangat bergantung pada bakat, perspektif, dan pengalaman individu tersebut terhadap sihir.
Tanpa mengungkapkan kekhawatirannya, Harsa ikut rencana Aster karena dia tidak punya ide yang lebih baik daripada Aster. Harsa berusaha membantu membuat alur ceritanya dari rumah, namun pada akhirnya dia tidak bisa ikut Aster berlatih menunjukkan sihirnya untuk pentas seni sama sekali. Besok pun, pada saat jadwal kegiatan klub mereka, Harsa akan membantu klub teater.
“Sa, tapi kamu bisa ikut tampil di hari-H nya kan?” tanya Aster di grup chat mereka.
Harsa yang sedang terbaring di kasurnya melihat ponsel cerdasnya dengan perasaan galau. Sudah beberapa kali dia menyusun kalimat untuk membalas pertanyaan Aster, namun dia belum juga menemukan jawaban yang pas.
“Hmm, maaf, aku nggak janji. Jadwal pertunjukkan klub sulap tepat sekali sebelum acara musikal grup teater dan musik…” Kata Harsa ke grup chat mereka. “Ceritanya nggak bisa jalan dengan monolog ya?”
“Ooohh, gitu. Hahaha, nggak mungkin lah.” Jawaban Aster cepat. “Ya, sudah jangan khawatir. Aku akan ngajak temenku dari luar sekolah. Setelah debat sama ketua OSIS tadi, akhirnya dia mengizinkan. Hehe.”
Harsa tersenyum lega. Ternyata Aster juga punya teman di luar sekolah. Pikiran itu melintas di kepalanya tanpa bisa ditahan. “Baguslah.” Jawab Harsa di grup. “Aku jadi tenang. Semoga berhasil ya.”
“Oh, iya, Sa. Kamu akhir pekan bisa lihat dan komentarin latihan kita?” tanya Aster. “Sama buat properti?”
“Duh, sorry. Akhir pekan aku benar-benar gak bisa.”
“Kenapa? Kamu latihan bareng klub musik juga akhir pekan?”
“Nggak sih. Aku ada acara lain kalau weekend. Nggak bisa diganggu-gugat.” Jawab Harsa.
“Ohh, gitu. Acara apa?”
“Adalah sama kakakku.” Kata Harsa, ragu memberitahkan latihan sihirnya pada Aster. Terbayang bagaimana Aster akan memaksa ikut latihan sihir kalau dia tahu Harsa latihan dengan Adi. Di sisi lain, dia tak terbayang bagaimana Adi akan memprotes kalau ada satu manusia yang ikut latihan sihir mereka.
“Oohh. Okay.” Aster tidak bertanya lebih jauh karena merasakan keengganan Harsa.
__ADS_1
Harsa tidak menjawab lagi. Dia menutup matanya dan terjun ke dunia mimpi. Besok, dia akan menghabiskan harinya membantu Elis dengan mengangkat-angkat barang…
***
Harsa tidak bisa habis pikir, bagaimana seseorang bisa terlihat jauh lebih cantik dan manis sepuluh kali lipat hanya dengan memainkan piano. Di sela-sela adegan, Harsa dan Barasa punya kesempatan menonton latihan pertunjukan musikal itu. Di atas panggung, adegan klimaks dimana Dayang Sumbi memberitahu Sangkuriang bahwa dia adalah ibunya sedang berlangsung. Namun, mata kedua remaja laki-laki berkaos hitam itu terpaku pada permainan piano salah seorang anak perempuan dari klub musik. Permainannya begitu lembut dan menyayat hati. Nada-nadanya yang mengiringi adegan dramatis itu sungguh pas untuk menggambarkan perasaan kecewa dari pasangan yang tidak ditakdirkan bersama.
Elis terlarut dalam permainan pianonya sendiri. Dia tidak terlihat tegang ataupun cemas. Jari-jarinya tidak sekalipun menekan tuts yang salah. Permainannya sudah bisa dibilang sempurna. Setelah selesai, dia tersenyum puas. Senyum yang seolah memekarkan kembali wajahnya yang bersinar. Matanya yang coklat muda tampak sempurna dengan bulu mata yang melengkung cantik.
“Heii!” Salah satu senior dari klub teater memanggil mereka. “Sudah waktunya ganti adegan!”
Harsa dan Barasa terbangun dari pikiran mereka. “Oh, iya! Ya! Ganti properti!” Mereka langsung bergegas untuk mengganti properti di panggung.
“Heh, kamu sih jangan bengong ngelihatan Elis begitu.” Barasa menyalahkan Harsa.
Muka Harsa memerah. “Lah! Kamu juga samanya!”
“Amin!!” Kata Harsa dan Barasa berbarengan.
***
Hari-H pentas seni datang seperti kilat, cepat, singkat, tapi menggelegar. Hari itu, Harsa bangun penuh tenaga. Dia pergi ke sekolah pagi-pagi dengan kaos hitam dan senyum lebar. Acara teater musikal berlangsung pada jam lima sore ini. Namun, seluruh anggotanya telah sibuk sejak pagi hari. Mereka berlatih sekali lagi di lorong belakang sekolah. Setelah itu, setiap anggota yang akan tampil di panggung didandani terlebih dahulu. Mulai dari yang cantik hingga yang sosoknya sebagai manusia jadi dipertanyakan. Harsa dan Barasa sendiri, selain menikmati sosok Elis yang berlatih piano dengan elegannya, sibuk membantu tim properti untuk melengkapi dan memperbaiki properti yang tiba-tiba rusak.
Waktu seolah berlalu cepat seperti aliran air terjun. Jam sembilan berubah menjadi jam dua belas, dan jam dua belas berubah menjadi jam tiga tanpa terasa ketika mereka sibuk mempersiapkan acara terbesar dalam pentas seni tahun ini. Di jam setengah lima sore, Harsa meminta izin untuk pergi menonton pertunjukkan klubnya sendiri sebentar.
Harsa menonton dari samping belakang panggung. Pertunjukkan sihir sesuai dengan cerita yang sudah mereka buat. Tokoh-tokohnya yang terdiri dari tiga orang, masing-masing dengan elemen khususnya masing-masing. Harsa agak kaget melihat bagaimana ternyata Aster dapat mengumpulkan tiga orang teman untuk memenuhi setiap perannya, sementara Aster mengendalikan elemen dari belakang panggung. Setiap tokohnya memakai topeng dan jubah hitam, sehingga aura mereka semakin misterius.
“Woow!” Para penonton berseru kagum melihat Aster mengerakan air dan tanah di atas panggung. “Bagaimana mereka melakukan itu?”
__ADS_1
Harsa tersenyum mendengar pujian-pujian dari kiri kanan mengenai pertunjukkan klub sulap. Di akhir pertunjukkan klub sulap, tepuk tangan meriah terdengar dari aula tempat pentas seni sedang berlangsung. Harsa juga bertepuk tangan keras-keras sambil bersorak mendukung Aster. Hatinya begitu lega pertunjukkan klub sulap berlangsung lancar. Setelah itu, waktu yang ditunggu-tunggu oleh Elis tiba.
Penampilan drama musikal dari klub teater dan klub musik berjalan dengan spektakuler. Tepuk tangan yang diberikan untuk mereka tidak kalah meriah dengan klub sulap. Kerja keras mereka selama satu minggu ke belakang terbayar sudah. Terutama untuk Harsa, ketika dia melihat wajah ceria Elis karena dia sangat puas akan penampilan mereka hari itu, terbayar sudah rasa lelah dan pengorbanannya membantu klub musik dan klub teater. Setelah selesai evaluasi, mereka merayakan keberhasilan penampilan mereka sampai malam. Harsa sudah tak punya energi ketika pada akhirnya dia meminta Erik menjemput malam itu.
“Bye, Harsa. Bye, Barasa!” Elis melambai ke arah mereka ketika sudah dijemput duluan.
“Bye!” Kata mereka berdua berbarengan.
“Sa, sorry, yah. Aku nggak nungguin kamu dijemput. Aku pulang duluan karena udah capek banget.” Kata Barasa, sambil mengambil tas dan helemnya.
“Iya, nggak apa-apa. Hati-hati, ya di jalan.”
“Yok.” Lalu, dia pergi dari pandangan Harsa.
Sendirian menunggu di depan gerbang sekolah, Harsa tidak menyangka akan ada yang mendatanginya dari belakang. Dia pikir Harsa tinggal sendirian dengan satpam sekolah. Dia menyesali tidak mengeluarkan auranya meski sudah lelah setengah mati.
Jadi, ketika Aster menepuk punggungnya dari belakang, Harsa berteriak kaget. “Uahhh!!! Aster?!”
“Sorry.” Katanya tanpa rasa bersalah. “Aku nggak bermaksud ngagetin kamu.”
“Aku kira kamu hantu!” Kata Harsa tanpa simpati akan bagaimana rasanya seorang perempuan dikira hantu. “Kamu ngapain jam segini belum pulang?”
“Hm, aku nunggu kamu.” Jawab Aster jujur. Wajahnya terlihat lelah dan dahinya bekerut dalam, meski acara pentas dari klub sulap tadi berhasil. “Ada yang mau aku tanyakan ke kamu.”
Ingatan tentang bagaimana Elis mengira Aster akan mengakui perasaannya terulang di dalam kepada Harsa. Mukanya memerah karena malu akan ingatan itu. “Hm? Ada apa ya?”
Namun, Aster tidak bertanya soal perasaan Harsa apalagi tentang percintaan. Pertanyaannya hanya satu dan menusuk. “Apa kamu benar manusia?”
__ADS_1