
Pulang dari kafe tempat Adi, Harsa, dan Aster berlatih bahasa Kasarewang, Harsa sudah menyiapkan seribu satu pertanyaan. Namun, dengan lihainya Adi menghindari pertanyaan-pertanyaan Harsa.
“Kak Adi buat apa beliin Aster cincin yang kayak hp itu?” Harsa memulai interogasinya.
“Habis tidak enak kalau hanya bisa menghubungi Aster lewat kamu. Lagipula, aku sudah belikan kamu cincin untuk ke Tepi Dunia Roh.”
“Oohh, gitu.” Kata Harsa masih tak yakin. “Jadi gak ada maksud lain?”
“Habis aku kasihan saja. DIa manusia dan mau ikut ujian standarisasi Kerajaan Kasarewang. Kalau bukan dari aku, darimana dia bisa tanya-tanya kalau ada yang tidak paham? Kalau kamu kan, dapat tanya ayah!”
Harsa mengangguk-angguk. Dia tidak ingin terlalu mendesak Adi juga. “Kalau buku?”
“Ya, aku memberikan buku-buku baru pada Aster karena tidak enak kalau memberikan buku bekas ke orang lain. Kalau kamu, aku rasa tidak apa-apa. Sia-sia juga kan kalau aku beli dua pak buku pelajaran baru.” Bela Adi.
“Lalu, ketemu duaan?” tanya Harsa.
“Ya, habis kemarin kamu sudah bilangnya mau belajar sendiri saja. Aku pikir kamu tidak akan mau kalau aku ajak belajar bersama juga.”
“Ya, kalau soal itu ada benarnya juga sih. Cuma kalau nggak ada janji lain, aku pasti ikut kok.” kata Harsa.
“Ya sudah! Nanti kalau mau belajar bareng lagi, aku akan tanya kamu juga.” Putus Adi.
“Nggak usah. Aku nggak mau jadi orang ketiga.” Kata Harsa dengan nada menggoda.
Muka Adi memerah. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
***
Meskipun Harsa puas menggoda Adi, dia sendiri punya masalah percintaannya sendiri.
__ADS_1
Dari piano yang sedang Elis mainkan, terdengar nada suara yang mendayu. Hari ini merupakan hari pertama Elis dan Harsa memulai sesi latihan perfect pitch mereka setelah liburan panjang kenaikan kelas. Sebelum memulai membantu Harsa melatih perfect pitchnya, Elis memainkan satu buah lagu klasik. Harsa tidak berani menyela atau menghentikan permainan piano Elis. Dia bahagia menyaksikan Elis bermain. Dalam hatinya, dia mulai merasa galau. Harsa tidak punya keinginan untuk menghentikan latihan rutinnya dengan Elis, walaupun dia sudah menemukan trik untuk meningkatkan sensivitas telinganya. Waktu berduaan dengan Elis seperti ini terasa terlalu berharga untuk dilepas.
Tanpa terasa bibir Harsa tersenyum lebar hanya dengan melihat permainan Elis. “Kamu makin bagus mainnya.” Puji Harsa ketika Elis selesai bermain.
“Makasih!” Kata Elis dengan senyum lebar sambil melihat Harsa. “Kamu sudah siap, latihannya?”
Harsa menghela nafas panjang. “Ya.” Katanya pada akhirnya. Dia masih memperkirakan apakah dia harus mengatakan hal yang sebenarnya atau terus berlatih dengan Elis.
Elis memulai latihannya dengan menekan satu kunci nada. ‘Teng!’ “Nada apa itu?”
“D mayor?” Kali Harsa tidak menebak, dia sudah tahu jelas kalau nada itu merupakan D mayor. Physis sudah terkonsentrasi di kupingnya,
Alis Elis mengangguk-angguk penuh persetujuan. “Lumayan, sepertinya kamu ada kemajuan.” Dia belum curiga, karena sekali-kali Harsa sudah berhasil menebak dengan benar.
Harsa terus menebak dengan benar. Setelah lima kali benar berturut-turut. Elis berdiri dari bangku pianonya. “Wow, Sa! Kamu benar lima kali berturut-turut lho! Ini sih sudah bisa dibilang perfect pitch! Aku benar-benar nggak nyangka kamu berhasil bisa menguasai perfect pitch ini.” Seru Elis bersemangat.
Harsa tersenyum lebar. “Hehe, makasih.”
Harsa salah besar kalau merasa dirinya sanggup berbohong. “Nggak latihan gimana, kok. Kemarin akhirnya aku menemukan trik turun-temurun keluargaku.” Physis dan sihir. Batin Harsa.
“Woaw.” Elis menggeleng-geleng tak percaya. “Ada triknya? Bisa kamu ajarkan? Dulu aku bilang aku tidak masalah nggak punya perfect pitch, tapi sejujurnya kalau memang ada trik yang bisa bikin punya perfect pitch dengan mudah, aku juga mau. Siapa tahu benar-benar membantuku memainkan piano.”
“Sayangnya, nggak.” Kata Harsa sambil menggeleng-geleng. Ternyata bukan hanya Adit, orang biasa seperti Elis juga pasti tertarik tentang kegunaan sihir.
“Kenapa? Rahasia keluarga ya?” tanya Elis agak kecewa.
“Iya, tapi bukan begitu.” Jawab Harsa gelagapan. “Lebih ke tidak bisa diajarkan.” Harsa pasti bingung kalau harus mulai mengajarkan physis pada orang yang tidak pernah punya pengalaman tentang sihir sama sekali. Aster saja sudah cukup sulit belajar merasakan physis. Aster baru bisa mulai merasakan physis sejak diajari beberapa gerakan bela diri oleh Barasa. Menurut Barasa sendiri, tidak semua orang bisa mengenali ‘tenaga dalam’ walaupun sudah belajar bela diri itu bertahun-tahun. Lalu, untuk mengendalikan physis dengan sempurna, Aster berlatih selama berbulan-bulan bersama Adi dan dirinya. Dia tidak terbayang bagaimana caranya mengajarkan Elis yang tidak bahkan tidak percaya keberadaan sihir untuk bisa menguasai physis.
“Ohh, seperti bakat ya?” Elis masih tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
__ADS_1
“Ya, bakat dan lingkungan juga sih, tapi akan sulit mengajarkannya. Mungkin lebih sulit dari pakai aplikasi kalau tidak terbiasa dari dulu.” Harsa mencoba menjelaskan tanpa mengucapkan kata ‘sihir’.
“Oohhh.” Elis masih mengangguk-ngangguk. Dia terdiam sebentar ketika mencoba menerima fakta bahwa Harsa tidak akan membeberkan apa-apa tentang trik keluarganya.
“Maaf, ya.” Pinta Harsa sungguh-sungguh. Dia memecahkan lamunan Elis.
“Haha, nggak apa-apa, kok. Santai aja.” Kata Elis. “Yah, kalau begini, latihan kita cukup sampai di sini saja ya? Sayang banget, padahal aku masih mau minta bantuanmu mungkin, kalau ada pertunjukkan klub kami.”
“Eh, bilang saja. Aku pasti mengusahakan bantu, kok. Soalnya selama ini kamu sudah banyak membantu.” Ya, Harsa ingin mengikuti banyak kegiatan dengan Elis.
“Siap!!” Elis mulai membereskan barang-barang mereka. Harsa juga mengikutinya. Sayang sekali, kali ini latihan mereka selesai begitu cepat, tapi mau bagaimana lagi? Harsa merasa tidak enak kalau harus terus menerus memakan waktu Elis dengan melatih hal yang sudah dia bisa lakukan sendiri.
Sebelum mereka keluar dari aula, Elis memanggil Harsa. “Eh, sebenarnya, ada satu hal. Sa. Hal yang aku ingin minta tolong, tapi bukan soal klub musik sih.”
“Memangnya ada apa?”
“Itu, kemarin aku diikutsertakan sama mamaku untuk ikut lomba cerdas cermat biologi. Katanya bagus buat modal mendaftar ke jurusan kedokteran di perguruan tinggi. Aku nggak bisa menolak karena sudah dia bayarkan segala macem. Jujur aku juga tertarik dengan hadiahnya karena bisa jadi tabungan untuk kuliah sendiri nanti. Masalahnya! Lomba cerdas cermat itu butuh tiga orang satu kelompok. Aku sudah minta tolong Gina, tapi masih kurang satu orang lagi.”
“Mau! Aku mau kok!” Seru Harsa lega. Dia akan ikut lomba apapun kalau itu bersama Elis.
“Beneran?” Mata Aster melebar karena kaget. “Aku pikir kamu nggak akan mau karena belakangan ini sepertinya kamu banyak kegiatan.””
“Iya, aku mau ikut kok.” Sejujurnya pelajaran biologi bukan pelajaran kesukaan Harsa. Harsa tidak terlalu suka menghafal detail. Walaupun begitu, nilai pelajran biologinya tidak terlalu buruk. “Aku nggak tahu bisa bantu banyak kalau Biologi, tapi aku bakal berusaha!”
Elis terus menjelaskan sembari berjalan dengan langkah-langkah gembira. “Nanti kalau menang, hadiahnya dibagi tiga. Nanti bakal ditutor oleh Pak Yono juga, jadi gak perlu khawatir.” Pak Yono adalah guru Biologi mereka.
“Siap!!”
“YEAY! Thank you, Sa!” Ucap Elis mengangkat tangannya untuk tos. Tentu saja, Harsa menyambutnya tanpa keraguan.
__ADS_1