
Harsa menahan gigitan formskitter itu dengan lengannya. Physis yang dia pakai untuk melindungi dirinya terkuras terkena racun itu, kemudian menghancurkan jaket dan menyengat kulitnya. Harsa meledakkan physisnya sendiri menjadi elemen api. Dengan lincah formskitter itu terbang menghindari ledakan api dari tubuh Harsa. Dia mengitari langit mencari celah dimana dia bisa melukai Harsa.
Harsa tersenyum lebar. Kali ini, di punya teknik lain selain menyeliputi dirinya dengan api. Dia menonjok ke atas, melemparkan beberapa bola api sebesar bola basket ke arah formskitter itu. Kelelawar hitam itu terbang menghindari serangan bola-bola api, namun tidak bisa selamat dari satu buah bola api yang mebakar sebelah sayapnya. Formskitter itu jatuh ke bawah. Hasa sudah siap meluncurkan pukulan berapinya dengan sekuat tenaga, namun formskitter itu berubah bentuk menjadi seekor orang utan. Tonjokan Harsa tepat mengenai udara kosong di sebelah wajahnya. Semburan api panas berwarna kuning terang menyebur dari tangannya, membuat kawah besar seratus meter di depan, namun tidak melukai formskitter itu sama sekali.
“Ahh, sayang sekali.” Komentar Adi di belakang.
Harsa bisa merasakan physis di dalam dirinya berkurang hingga setengah. Formskitter itu salto ke belakang, kemudian mulai meninju Harsa berkali-kali. Harsa terdorong ke belakang. Dia melindungi badannya physis dan menahan tonjokan yang bertubi-tubi. Kecepatan formskitter itu tidak terlihat oleh Harsa, namun tubuhnya mengingat gerakan-gerakan defensif dari bela diri yang diajarkan oleh Barasa. Setiap pukulan dari monyet hitam berselimut physis juga, sehingga Harsa harus menyelimuti badannya dengan physis lagi dan lagi. Kalau tidak, badannya bisa hancur terkena physis.
Cadangan physis dalam dirinya berkurang drastis, sementara vasalnya masih kelelahan karena membuka Kainya lebar-lebar barusan. Keringat dingin mulai membanjiri ketika dia membayangkan apa yang akan terjadi kalau tidak ada physis lagi dalam tubuhnya untuk melindunginya dari serangan formskitter itu. Sekarang, Harsa paham mengapa Adi mengharuskannya untuk belajar menyerap physis. Jika dia tidak bisa menyerap physis, ketika physisnya habis dia akan mati terkena serangan formskitter yang mematikan.
Harsa menyerap physis dengan panik. Konsentrasinya yang terbagi antara menyerap physis dan menahan serangan formskitter, ditambah dengan kemampuannya yang masih setengah-setengah, penyerapan physis Harsa sama sekali tidak efektif.
Menghindar ke kiri, lalu lindungi bagian perut kanan. Tubuhnya bergerak didorong oleh insting untuk bertahan hidup. Seluruh adrenalin Harsa keluar ketika detik demi detik dia terus berhadapan dengan garis kematian.
“Hei?! Kamu tidak apa?” tanya Adi mulai khawatir.
“Argghh!” Harsa berteriak untuk melepaskan adrenalinnya. Dia melompat ke belakang sejauh mungkin dari formskiter itu. Tangan dan kakinya terasa panas karena bergerak begitu cepat. Tanah menyisakan dua garis saat kedua kakinya terseret ke belakang ketika dia tetap mencoba berdiri dengan kedua kakinya.
Formskitter itu tidak memberikan kesempatan untuk Harsa mengumpulkan physis. Dengan physis yang tersisa, Harsa mengerahkannya untuk menjadi pedang api panas yang mencuat dari tangannya. Dia berkonsentrasi meningkatkan suhu apinya, seperti yang dia diam-diam eksperimentasikan di klub sihir. Warna pedang api itu berubah menjadi putih, dengan lidah-lidah api biru yang di pinggirnya. Pedang itu sekarang tampak seperti laser putih yang mengeluarkan api biru di setiap tebasannya. Harsa menyisakan physis untuk kedua kakinya melompat ke depan dengan kecepatan tinggi.
Titik tengah formskitter. Harsa berkonsentrasi mencari dimana titik lemah formskitter, alias inti mereka. Dengan satu kelas tebas, dia menyayat tubuh formskitter itu hingga ke tengahnya. Pedang apinya merasakan tubrukan dengan sebuah krital keras. Meski berat, tangannya berhasil meretakkan inti itu. Melepaskan seluruh physis yang ditahannya dalam pedang itu, dia meledakkan tubuh formskitter itu dengan api, hingga menghancurkan intinya menjadi berkeping-keping. Sisa tubuh formskitter itu terbakar habis, tanpa kembali beregenerasi.
Harsa terbatuk-batuk oleh asap apinya sendiri yang membakar rumput-rumput lembah. Tanpa melindungi tubuhnya dengan physis, lengan kanan Harsa terkena luka bakar, juga seragam sekolahnya bolong-bolong terbakar lidah api.
“Ohok! Haahh, haahh Ohok!” Seluruh tubuh Harsa menjerit kelelahan seperti baru berlari lapangan bola sepuluh putaran. Dia jatuh berlutut menahan badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Dia kesulitan mengatur nafasnya yang terengah-engah sambil menghirup asap dari apinya yang terbakar. Seluruh physisnya habis sudah. Sekarang, dia tak lagi bisa berdiri di Tepi Dunia Roh.
Adi datang dan memadamkan sisa-sisa api yang kini di luar kontrol Harsa. Dia menyalakan cincinnya lagi, lalu pedang rampingnya hilang. “Kerja bagus.”
__ADS_1
Harsa berbalik dengan senyum percaya diri. “Tentu saja.”
Alis Adi menaik. Dia benar-benar terkejut. Dia tak menyangka Harsa akan membalasnya dengan bahasa Kasarewang. “Kamu ---------------------.”
Senyum Harsa hilang. “Aku belum sejago itu.”
“Kamu boleh juga, tapi sepertinya harus belajar banyak lagi. Khususnya pendengaranmu.” Kata Adi sambil mengulurkan tangannya.
Harsa menggeleng. “Nggak bisa. Aku bahkan nggak punya physis untuk berdiri.”
“Yang kamu lakukan itu bahaya sekali. Mengeluarkan physismu hingga tidak ada yang tersisa untuk melindungi diri. Kalau saja inti formskitter itu tidak hancur dalam satu kali serangan, kamu bisa mati di serangan selanjutnya.” Nasihat Adi. “Kamu harus belajar menyerap physis sambil bertarung. Aku tegang sekali melihat bagaimana kamu bertarung, atau kamu harus belajar membuka Kai berkali-kali dalam waktu dekat.”
“Maaf.” Kata Harsa tanpa rasa bersalah. “Yang penting aku berhasil mengalahkan formskitter bukan?”
Adi menggelengkan kepalanya penuh dengan kekhawatiran. “Untuk kali ini.” Namun, dia segera tersenyum lagi. “Tapi, harus aku akui, kemajuanmu pesat untuk ukuran satu bulan.”
Harsa balik tersenyum puas. Semua pelajarannya tentang sihir terpakai dalam pertarungan ini. Seperti kata Adi, dirinya telah mengalami banyak kemajuan dan Harsa sadar penuh akan hal itu. Rasa puas membayar seluruh kerja kerasnya selama satu bulan ini. “Hehe.” Dia tertawa senang.
“Maaf. Bahkan sekarang aku nggak punya physis untuk menyalakan auraku.” Kata Harsa. “Mungkin butuh beberapa menit lagi agar aku bisa berdiri.”
Adi menghela nafas dan menggendong Harsa di punggungnya. Dia membuka tudung ke Dunia Material dan Adi meletakkan Harsa di sofa rumah. Darma, yang baru saja mau menerima pasien, berbalik karena melihat Harsa terluka.
“Aduh, Sa!! Ya, ampun. Kamu kenapa, sampai luka gini.” Darma dengan sigap membawa peralatan P3K. Dia menghentikan konsultasinya dan segera menolong Harsa.
“Aaahh.” Harsa berteriak kesakitan ketika Darma mulai membersihkan luka-lukanya dengan alkohol.
Adi tidak bisa menahan tawanya. “Baru saja tergores sedikit.”
__ADS_1
“Sakit!!” Protes Harsa. “Kak Adi nggak bisa sembuhkan aku?”
Adi mengangkat cincinnya. “Jangan. Mantra di cincinku fungsinya untuk mempercepat penyembuhan tubuh yang dapat menurunkan lama hidup. Buat Kasawerang tidak masalah karena kami yaaa, abadi, tapi kalau kamu, lebih baik buat keadaan darurat saja.”
“Tadi bagaimana?” tanya Erik pada Adi.
“Ya, lumayan. Dia bisa menghadapinya sendiri tapi butuh latihan sampai aku tidak perlu khawatir lagi.” Lapor Adi. “Oh, iya. Aku baru tahu kamu bisa membuat pedang api seperti itu.” Ungkap Adi.
Meskipun sedang kesakitan, Harsa masih sanggup tersenyum. “Hehe. Aku berlatih itu di sekolah dengan teman yang bisa sihir.”
“Teman yang kamu bilang bisa mengubah elemen itu?” Adi memastikan.
“Ya. Sekarang dia bisa memerintahkan physis juga.” Kemudian menceritakan demonstrasi yang Aster tunjukkan padanya.
Mata Adi kembali melebar karena terkejut. Harsa mengira hanya Adi yang kaget, tapi ternyata, Erik juga terkejut. “Wow. Aku dengar dari temanku yang mengambil mata kuliah Studi Manusia, segelintir manusia bisa menguasai sihir jika mereka punya pengalaman yang erat dengan sihir, tapi mereka juga tidak punya afinitas. Jadi, mereka harus belajar sihir dari awal. Kebanyakan, mereka menyihir dengan cara mengubah elemen. Atau kalau yang sudah berpengalaman, memerintahkan physis di lingkungan.” Kata Adi menjelaskan dengan dada membusung.
“Iya, aku sudah dengar dari Erik sebelumnya.” Kata Harsa, sengaja agar Adi tidak sombong,
“Tapi kalau soal manusia yang menciptakan cadangan physis seperti itu, juga hal baru untukku.” Tanggap Erik.
“Hmmm. Manusia yang bisa menyihir dan menciptakan cadangan physis?” Adi bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan wajah berkerut. “Aku jadi penasaran.”
“Kak Adi mau bertemu dengannya?”
“Hmm, mungkin kalau aku ada libur.” Kata Adi, berusaha menyembunyikan rasa penasarannya. “Ya, sudah. Kalau sudah selesai aku akan kembali minggu depan untuk mengajarimu lagi.” Tanpa menunggu jawaban Harsa, Adi menghilang ke Tepi Dunia Roh.
Setelah itu, Darma menghembuskan nafas lega. Dia melihat anak semata wayangnya dengan wajah khawatir.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Ma. Aku akan jadi sekuat kak Adi sampai mama gak perlu khawatir lagi.” Kata Harsa menenangkan. “Minggu depan juga aku akan belajar sihir dengan serius.”
Darma tersenyum manis mendengar janji Harsa, tapi jawaban yang keluar dari mulutnya malah sangat praktis. “Jangan lupa belajar UTS-mu juga.”