
Harsa sudah putus asa ketika seluruh lengan kirinya telah menjadi hitam. Kontrolnya atas physis dan lengan kirinya menguap sudah. Dia sedang terbaring lemas ketika getaran terasa dari seluruh dinding-dinding fasilitas bawah tanah itu. Getaran hilang itu sesaat, lalu muncul lagi dengan skala yang lebih besar.
Gempa?
Kedua formskitter itu saling memandang satu sama lain. Riak physis di kamar itu menjadi kacau karena formskitter yang ada dalam ruangan itu menjadi panik dan agresif. Mereka melupakan keberadaan Harsa dan menghentikan eksperimen itu. Rasa sakit yang menyenggat membuat Harsa tidak dapat berpikir lurus. Dia lega formskitter-formskitter itu berhenti melakukan apapun yang mereka lakukan pada dirinya, namun rasa sakit di tangannya masih tak terasa baik. Baik mental maupun fisiknya sudah lelah. Oleh karena itu, ketika pandangannya kabur karena air mata, dia kembali tertidur.
Harsa tak tahu berapa lama waktu sudah berlalu sampai dia kembali membuka matanya. Dia terbangun dengan alunan nada seperti nina bobo. Harsa mengerjap-ngerjapkan matanya. Lama didengar, alunan musik itu tak asing. Dia masih tak bisa bergerak karena tekanan yang begitu berat di Tepi Dunia Sihir dan dia tak punya kekuatan mental lagi untuk membuka Kainya, walaupun tangan dan kakinya sudah tidak ada yang terikat.
Kepalanya menengok ke samping. Dia masih berada di ruang serba putih, tapi formskitter-formskitter itu tidak lagi terlihat. Sebaliknya, tiga orang Kasarewang berjalan-jalan di sekitar ruangan itu. Semuanya mengenakan seragam tentara seperti Adi. Salah satu mereka, sedang duduk di pinggir kasur tempat berbaring. Kasarewang pria itu sedang memeriksa lengan Harsa yang sedang menghitam. Dia memasukkan physisnya sendiri ke sana dan rasanya tak enak. Seperti ada benda asing dan dingin yang bergerak-gerak dalam lengannya.
Dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, Harsa kembali membuka Kainya, dan mengallirkan sedikit physis ke telinga dan tenggorokannya. Segera, suara lanunan itu terdengar lebih jelas. Harsa dapat menangkap artinya kalimat per kalimat.
“Dia beruntung serangan dadakan kita berhasil, sehingga mereka meninggalkannya sebelum formskitter itu bergabung dengannya.” Kata Kasarewang itu di tengah konsentrasinya.
Salah satu Kasarewang wanita yang sedang berjalan-jalan di ruangan itu pergi ke arah Harsa. “Bagaimana ini mungkin terjadi? Aku kenal anak itu. Dia adiknya Adi. Ada darah Kasarewang mengalir dari dalam dirinya. Aku tak pernah terbayang Kasaraewang dan formskitter dapat bersatu.” Samar-samar Harsa mengenai Kasarewang wanita itu. Dia adalah bos yang waktu itu Adi kenalkan pada saat pertama kali dia dan Aster pergi ke Drestha.
“Kasarewang biasa pasti akan mati kalau diberikan prosedur seperti ini, tapi justru karena dia setengah manusia mereka mencobanya.” Jelas Kasarewang itu.
“Bisakah kamu menyembuhkan dia?”
Kasarewang pria itu menggeleng. “Sekarang ini aku hanya mencegah agar sebagian formskitter dalam tubuh anak ini tidak menyebar. Aku tak punya penguasan dekrit hidup yang sejauh itu.”
”Urggh.” Harsa ingin berkata kalau dia merasa sakit, namun kata-katanya hanya keluar sebagai lenguhan karena lidahnya tak dapat digerakkan.
“Dia sudah sadar rupanya.” Kata Kasarewang wanita yang beralih pada Kasarewang perempuan lainyang masih menyelidiki ruangan itu. “Gilda, panggil Adi. Dia pasti akan lebih tenang kalau tahu adiknya sudah bangun.”
Kasarewang itu mengangguk dan pergi keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana perasaanmu.” Tanya Kasarewang pria yang mengobati lengannya.
“Blurghh.” Harsa menghela nafas karena tidak bisa berbicara dengan benar.
“Ya. Aku mengerti. Kamu pasti merasa seperti ‘blurgh’.” Kata Kasarewang wanita itu dengan senyuman. “Aku juga sering merasa seperti muntahan kalau kalah bertarung dengan formskitter.”
__ADS_1
“Um. Itu bukan jawab-" Kasarewang pria itu hendak mengungkapkan pendapatnya, tapi tidak jadi. "Ah, sudahlah. Aku paham bertarung melawan formskitter setelah beratus-ratus tahun pasti membuatmu error sedikit."
Tak lama, Adi melangkah masuk dalam ruang serba putih itu dengan wajah pucat. Kekhawatirannya segera hilang setelah melihat Harsa telah sadar. “Baguslah. Kamu baik-baik saja.”
Nggak kak, sumpah, aku kesakitan. Batin Harsa.
“Aku nggak tahu kenapa, tenggorokannya gak terluka, tapi dia tidak bisa bicara.”
“A, a, aiiir.” Pinta Harsa dengan sekuat tenaga.
Mereka saling bertatapan sebelum Kasarewang wanita itu menangkap maksud Harsa. “Mungkin dia butuh minum.”
Adi membuat air minum dari physisnya dan memberikannya pada Harsa. Akhirnya, setelah berhari-hari lamanya, bibir Harsa merasakan dingin dan segarnya air mineral. Dia tidak pernah menghargai keberadaan air seperti itu sebelumnya. Tenaga seperti kembali mengaliri tubuhnya.
Harsa terengah-enggah karena terlalu banyak minum. “Kak Adi kenapa bisa ada di sini?” tanya Harsa kebingungan. “Kamu nggak tahu bagaimana aku dan papa sangat khawatir karena kamu menghilang selama empat hari. Lalu apa, ketika ketemu? Kamu ada di sarang persembunyian formskitter. Aku kira kamu melarikan diri dari rumah!”
Adi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itu pertanyaanku. Kenapa, kamu bisa ada di sini?”
Harsa mulai menceritakan apa yang terjadi ketika dia sedang belajar di tengah malam. Adi mendengarkan dengan serius. Di akhir kisah, dia menepuk wajahnya sendiri.
Dahi Kasarewang wanita itu berkerut. “Bukankah itu berarti adikmu diincar?”
“Sepertinya begitu.” Kata Adi lelah.
“Diincar? Kenapa aku diincar? Bukankah semua Kasarewang selalu diincar oleh formskitter?” tanya Harsa bingung.
“Ya, tapi rumah kita kan sudah ayah pasangkan mantra untuk menyembunyikan kekuatan sihirmu. Formskitter itu pasti sudah mengawasimu dari lama dan menyuruh si formskitter bentuk sarang lebah itu untuk mencari celah dan menangkapmu saat kau lengah.”
Harsa bingung. “Formskitter dapat membuat perencanaan semacam itu? Aku pikir mereka seperti binatang sihir yang agresif, begitu saja.”
Adi menggeleng. “Kebanyakan memang seperti itu, tapi petinggi-petinggi mereka punya akal. Kalau tidak, bagaimana mereka membangun fasilitas rahasia seperti ini?”
“Manusia.” Kata Kasarwang laki-laku yang mengobati lengannya dengan geram. “Tadi di ceritamu kamu bilang ada manusia yang sudah menyatu dengan formskitter. Sudah kuduga mereka bekerja sama dengan formskitter untuk menyingkirkan kita”
__ADS_1
“Rase, tenanglah. Hanya sebagian manusia yang seperti itu.” Kata Kasarewang wanita yang menjadi bos mereka.
“Segelintir.” Koreksi Harsa. “Lalu, kak Adi kenapa bisa tahu aku ditahan di sini?”
“Kami tidak tahu. Kami menyerang fasilitas rahasia ini karena mendapatkan intel dari tim mata-mata kami. Formskitter biasanya melancarkan serangan bunuh diri, sehingga kesempatan seperti menyerbu fasilitas rahasia mereka sangat jarang. Kami langsung ke sini setelah mendapat intel itu, tapi tak pernah kusangka kamu ada di dalamnya.”
“Aku beruntung sekali.” Kata Harsa bersyukur. Setelah Rase selesai mengobati lengannya, Harsa dapat sedikit demi sedikit kembali merasakan sesuatu di lengannya dan perlahan mulai mengerakkannya kembali, meski masih kaku setengah mati. “Sebenarnya apa yang mereka coba lakukan padaku.”
“Tidak semua formskitter lahir dengan kecerdasan. Untuk meningkatkan kecerdasan mereka, formskitter yang menguasai dekrit hidup tingkat tinggi berusaha menyatukan mereka dengan manusia.” Jelas Kasarewang wanitai itu. “Manusia biasanya dijanjikan kekuatan yang tak terbatas, namun sebenarnya kehendak bebas mereka direbut dan digantikan agresivitas terhadap Kasarewang.”
Harsa mengerenyit. Dia membayangkan pria berjas putih yang langsung agresif tak lama setelah bertemu dengannya. “Apakah prosesnya bisa dibalikkan?”
“Mungkin bisa.” Jawab Resa ragu. “Tapi butuh Kasarewang yang punya penguasaan mendalam akan dekrit sihir. Setidaknya sama dalamnya dengan formskitter, atau lebih dalam lagi.”
Kasarewang pemimpin mereka langsung memontong ke intinya. “Aku sarankan agar kamu meminta pertemuan dengan Raja Kasarewang. Mungkin hanya dialah yang bisa menyembuhkan lengamu.”
Harsa kembali merasa cemas. “Apakah bi, bisa?”
“Akan aku usahakan.” Kata Adi tegas. “Tapi sebelum itu, kita harus kabari ayah dulu. Lalu, aku akan telepon temanku supaya membatalkan ujianmu dulu. Kamu perlu istirahat.”
“Apa?!” kata Harsa bingung. Lalu dia segera menyadari, bahwa ujian standarisasi tinggal dua hari lagi. “Nggak, kak. Jangan! Biarkan aku ikut ujian itu.”
Dahi Adi berkerut tanda tidak setuju. “Apa? Kamu pikir kamu bisa ikut ujian dalam kondisi begini?!”
Harsa mengangguk yakin. “Nggak lulus nggak masalah, tapi aku tidak bisa membiarkan Aster ikut ujian itu sendirian.”
Adi tampak bimbang. Dia tidak ingin mengakuinya, tapi dia juga khawatir akan nasib Aster yang harus menghadapi ujian kewarganegaraan Kasarewang sebagai manusia sendirian. Anak perempuan itu akan berada di tengah-tengah anak-anak Kasarewang yang belum tahu jelas soal dunia manusia dan mungkin tidak menyukainya.
“Kamu yakin?” tanya Adi ragu.
Harsa mengangguk yakin. “Ya, kak. Tolong bawa aku ke Drestha untuk ikut ujian itu sekarang.”
__ADS_1