Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa Wijaya vs Sihir (3)


__ADS_3

Apa yang aku tahu soal sihir? Tanya Harsa pada dirinya sendiri. Mendapati Harsa tidak langsung menjawab, Adi kembali bertanya.


“Sebelum aku bicara panjang lebar, aku hanya ingin tahu seberapa jauh pengetahuanmu tentang sihir. Apa yang sudah Ayah ajarkan padamu tentang sihir?”


“Papa bilang bahwa aku punya kemampuan sihir yang bisa keluar dalam bentuk api.”


“…” Adi terdiam. Dia kembali merenungkan sedikitnya informasi yang diberikan oleh ayahnya pada Harsa. “Kalau dalam satu kalimat, apa kamu bisa mendefinisikan sihir padaku?”


“Sesuatu yang ajaib?” jawab Harsa dengan kedua tangan terangkat, bingung.


Adi menghela nafas pasrah. “Jadi artinya dia tidak mengajarimu apa-apa.”


“Papa mengajariku bahasa Kasarewang! Ditambah dengan semua pelajaran sekolah, aku tak-”


“Tapi kamu bahkan tidak bisa bicara pakai bahasa Kasarewang sekarang!” potong Adi.


“Sudah! Langsung saja jelaskan apa itu sihir!” Kata Harsa tidak mau berdebat dengan Adi yang tidak suka mengalah.


“Sihir adalah perintah untuk menggerakkan dan mengubah physis, dari physis menjadi elemen, atau dari elemen menjadi physis.” Kata Adi dalam satu tarikan nafas. Tampaknya dia hafal pengertian sihir di luar kepala.


“Oke, lalu apa itu physis?” tanya Harsa langsung pada intinya.


“Physis adalah hal paling murni di dunia ini. Physis bisa berubah menjadi elemen apa saja, baik itu energi maupun materi, ruang maupun waktu. Physis merupakan hal yang membangun dunia ini. Air, tanah, udara, ataupun ruang tempat semua materi itu berada. Juga waktu dimana ruang dan materi itu berjalan. Semuanya bisa dibuat dari physis dan semua hal di dunia ini mempunyai physis. Kamu juga punya physis yang tersebar di tubuhmu. Namun, physis di dunia ini terbatas.”


“Kalau begitu energi yang keluar dari dalam diriku? Itu juga physis?” tanya Harsa mengingat sihir yang sering keluar dari segelnya. “Apa elemen?”


“Physis tidak keluar dari dalam dirimu. Itu keluar dari balik Kaimu.” Sanggah Adi. “Coba kamu tutup mata dan rasakan aliran physis yang ada dalam tubuhmu.”


Harsa menutup matanya, melihat ke dalam dirinya. Dia merasakan aliran physis yang berputar-putar dalam tubuhnya. Dari sekian banyak aliran itu, dia merasakan asal dari physis itu. Mengikuti instingnya, dia terus terfokus pada sumber aliran physis tersebut. Lalu… dia tiba-tiba kembali dalam lorong putih yang dilihatnya dalam mimpi.


“Kamu main masuk saja.” Kata-kata Adi terdengar begitu dekat hingga mengejutkannya.


“Woahh!! Kenapa kak Adi ada di sini?!” tanya Harsa kaget sambil melangkah mundur dari sosok Adi yang berdiri di lorong sempit itu.


“Aku memasukan physis tubuhku dan vasalku dalam tubuhmu.” Kata Adi.


Harsa menggeleng. “Nggak ngerti.”


“Setiap orang punya physis yang unik. Kumpulan physis dari Kasarewang bisa membentuk vasal yang merupakan wujud dari roh seseorang. Dengan vasal.” Kata Adi sambil menunjuk dirinya dan Harsa. “Kita bisa membuka dan menutup Kai.” Katanya sambil menunjuk ke depan.

__ADS_1


Harsa mengikuti Adi yang berjalan menuju ke depan. Ketika mereka sampai di tirai kain jala yang bersimbol api, Adi berhenti. “Ini,” katanya membuka penjelasan. “Merupakan manifestasi dari afinitasmu terhadap api. Simbol pada kain menandakan bahwa physis yang dari Kai akan keluar dalam bentuk elemen api dan elemen api yang kamu konsumsi akan tersimpan dalam bentuk physis murni.” Jelas Adi. “Pelajaran pertama kamu adalah bagaimana kamu bisa mengalirkan physis melalui simbol ini secara sadar, sehingga kamu bisa mengeluarkan physis dalam bentuk murni atau dalam elemen api. Setelah itu, kalau sudah bisa, kamu mungkin bisa mengalirkan physis murni ke tubuhmu untuk memperkuatnya.”


Harsa mengangguk. “Jadi filter ini sangat penting untuk melakukan sihir?”


“Baguslah kamu cepat paham, tapi stempel pada filter ini hanya tanda saja. Yang mengubah physis menjadi elemen tetaplah kamu. Kamu yang melakukan sihir, dan bukan stempelnya.”


“Hm, oke, aku mengerti.” Harsa membuka mata. “Bagaimana afinitas seseorang ditentukan? Kenapa aku punya afinitas terhadap api, bukan air, atau tanah?”


“Ditentukan dari lahir. Biasanya seorang Kasarewang akan mewarisi afinitas dari salah dua orangtua mereka. Kamu mewarisi afinitas terhadap elemen api di bawah dekrit abstrak dari Ayah.”


“Lalu kak Adi?”


Adi batuk sedikit. “Aku mewarisi afinitas terhadap api dari ayah dan air dari ibuku. Memang kasus yang lumayan jarang, tapi bisa saja terjadi.”


“Apa karena itu kak Adi bilang berbakat?”


Adi mengangguk-ngangguk. “Iya, salah satunya begitu, tapi sebenarnya karena aku lulus dari sekolah ketentaraan lebih awal dari yang lain. Itu cerita untuk lain kali. Pertanyaan selanjutnya!”


“Hmm.” Harsa memikirkan pertanyaannya baik-baik. “Ada berapa banyak jenis elemen?”


“Tak terhingga. Bahkan memerintahkan elemen air mineral, air suling, dan air laut sedikit berbeda. Kita membaginya dalam lima dekrit besar. Dekrit sihir waktu, dekrit sihir ruang, dekrit sihir hidup, dekrit sihir abstrak, dan dekrit sihir benda. Elemen api berada di bawah dekrit sihir abstrak.”


“Engg, Ya? Tapi lebih dari itu.” Jawab Adi sedikit bingung. Kemudian dia mengangkat telapak tangannya. Di atas telapak tangannya, terbentuk awan kecil yang melayang-layang. “Aku punya afinitas terhadap air yang membuatku lebih mudah menguasai elemen air, tapi aku bisa mengembangkannya untuk menguasai elemen-elemen lainnya yang berada di bawah dekrit material karena elemen air berada di bawah dekrit material.”


Harsa terbelalak. “Tunggu dulu, aku kira Kak Adi hanya punya afinitas terhadap api dan air saja.”


Adi menggeleng. “Aku rasa terakhir ayah memang bilang padamu kalau aku punya afinitas terhadap air. Itu benar tapi terlalu dipermudah, sehingga kamu jadi salah mengerti. Setiap Kasarewang punya afinitas terhadap elemen tertentu di bawah dekrit tertentu. Contohnya aku, aku punya afinitas terhadap air di bawah dekrit material. Artinya aku paling mudah menguasai elemen air, tapi aku bisa menguasai elemen-elemen lainnya yang berada di bawah dekrit material kalau aku mau berusaha. Sama halnya dengan api. Kamu punya afinitas terhadap elemen api yang berada di bawah dekrit abstrak, tapi kalau kamu mau belajar, kamu bisa menguasai elemen-elemen lain yang berada di bawah dekrit abstrak, seperti elemen listrik, suara, dan cahaya. Jadi daripada hanya sebagai klasifikasi, dekrit juga bertindak sebagai batasan. Ada perbedaan kesulitan yang signifikan untuk menguasai  elemen lintas dekrit dan elemen yang berada di bawah dekrit yang sama.”


“Jadi aku bisa menguasai elemen lainnya selain elemen api?” tanya Harsa bersemangat, lebih kepada dirinya sendiri.


“Ya. Semua elemen yang sama-sama berada di bawah satu klasifikasi dekrit lebih mudah untuk dipelajari.” Jelas Adi. “Tapi itu nanti. Pelajaran pertamamu adalah membuka dan menutup Kai secara sadar. Setelah bisa, kamu bisa melakukan banyak hal, seperti memperkuat tubuh sendiri, mengeluarkan aura, menyerap physis, dan mempersepsi dan mengendalikan physis di lingkungan. Baru setelah itu, kamu akan belajar bagaimana mengubah physis menjadi elemen lainnya yang berada di bawah dekrit abstrak.”


“Baik.” Kata Harsa mulai bersemangat karena tantangan baru. “Bagaimana melakukannya?”


Tanpa menjawab Harsa, Adi mulai melangkah hingga mereka sampai ke depan gerbang besar di ujung lorong itu. Berbeda dari terakhir kali Harsa berada di sini, dia jendela pivot di gebang besar itu sedikit terbuka. Dari sana, seperti angin berhembus perlahan, physis mengalir keluar dari dalam dirinya. Harsa kembali memperhatikan gerbang megah itu dengan berdecak. “Jadi… ini Kai?” Dia kembali berkeringat dingin membayangkan bahwa dirinya dapat mati jika melewati gerbang ini.


“Tutup jendela itu. Lalu, kamu bisa kembali ke penampilanmu yang semula.” Kata Adi tegas.


Harsa menelan ludah. Sebelum dia mencoba menutup jendela itu, Harsa sadar bahwa tugas itu tidak akan semudah yang dia bayangkan. Tangannya bergetar mencoba mendorong agar jendela itu tertutup dengan menggunakan seluruh kekuatannya, namun engsel jendela itu sama sekali tidak bergeming. Harsa menatap Adi penuh pertanyaan, berharap dapat memberikan bantuan, tapi Adi berdiri tak bergeming di sana.

__ADS_1


“Kak, tolong?” Pinta Harsa memelas.


Adi menggeleng. “Aku tidak bisa membantumu. Kai itu bagian dari kamu. Hanya kamu yang bisa menggerakannya.”


Harsa menghela nafas putus asa. Dia mencoba sekali lagi, tertutup! Tertutuplahh!!! Teriak Harsa dalam hati. Kamu bagian dari tubuhku, kan! Jadi aku bisa menggerakkanmu! Di luar dugaan, jendela itu bergerak dan tertutup. Sangking kagetnya, mata Harsa terbuka lebar. Dia kembali ada di lembah di Tepi Dunia Roh. Adi yang terlihat seperti sedang tertidur di depannya juga segera membuka mata.


“Kekuatan mental lah yang kamu perlukan untuk membuka dan menutup Kai, karena mereka bagian dari rohmu.” Jelas Adi. “Semakin panjang umurmu, semakin mudah melakukannya. Sekarang coba kamu membuka Kai lagi.”


“Dibuka lagi?”


“Kamu harus bisa membuka dan menutup Kai dengan cepat tanpa kehilangan kesadaran kalau ingin memakai physis dari Dunia Roh dalam pertarungan. Kamu juga masih perlu bisa mengontrol perubahan dari physis menjadi elemen api.”


Tanpa bisa protes lagi, Harsa merasakan aliran physis dalam dirinya. Jika sebelumnya aliran itu begitu deras karena keluar dari Kainya, sekarang physis mengalir dalam dirinya dengan tenang. Harsa mencoba membayangkan pintu itu terbuka kembali. Dia merasakan seperti ada ‘klik’ dalam dadanya. Kemudian, physis menyembur keluar dari pintu gerbang yang terbuka. Sebelum physis menyebar keluar dari tubuhnya, Harsa menahan mereka.


“Kak, bagaimana cara untuk kita menggunakan filter itu?” tanya Harsa bingung. “Kalau aku mengeluarkan physis sekarang dari tubuhku, aku sudah yakin serratus persen akan keluar dalam bentuk elemen api.”


“Tadi, aku bilang, apa itu sihir?” Adi balik bertanya menghiraukan pertanyaan Harsa.


“Uuuh. Perintah kepada physis untuk berubah jadi elemen dan sebaliknya.” Jawab Harsa bingung.


Adi mengangguk. “Lalu, apa yang kamu bingungkan?”


Harsa melihat kakaknya dengan semakin bingung. “Ya, bagaimana? Bagaimana aku mengubah sesuatu yang bahkan aku nggak bisa lihat?”


“Perintahkan. Kamu punya otoritas atas physis. Selama kamu paham bahwa kamu berkuasa atas physis, kamu bisa sihir.”


“Perintahkan.” Ulang Harsa. Dia mengangguk sambil menutup matanya, kemudian dia teringat bagaimana dirinya menarik keluar physis pada saat dia menghancurkan segelnya. Ketika itu, dia menyuruh physisnya keluar tanpa pikir panjang karena sudah putus asa. Keluar, pikir Harsa, tanpa terbakar! Harsa bisa membayangkan simbol pada kain jala dalam lorong itu tidak menyala ketika physis dari Dunia Roh mengalir keluar dari tubuhnya.


“Tuh, bisa.” Komentar Adi merasakan physis keluar dari tubuh Harsa, terkumpul di udara di sekitar kulitnya.


Harsa tersenyum, menyadari bahwa kakaknya benar.


“Jangan senang dulu, seharusnya, Kasarewang umur lima tahun bisa melakukan apa yang kamu lakukan dengan mudah.”


“Aku tahu. Banyak yang harus kukejar bukan?” Kata Harsa, tapi kali ini dia lebih bersemangat. Harsa sudah dapat mengalirkan physis ke seluruh tubuhnya tanpa mengeluarkan satu percikan apipun. Untuk pertama kalinya dalam beberapa puluh menit ke belakang, akhirnya dia bisa berdiri di Tepi Dunia Roh. Dia merasa lebih baik, setelah sekian lama badannya terasa begitu berat.


“Ya. Banyak yang harus kau kejar.” Kata Adi, turut berdiri juga. “Siap?”


“Jangan khawatir. Aku sering masuk rangking tiga besar di kelas.” Kata Harsa percaya diri

__ADS_1



__ADS_2