
Satu bulan kemudian.
Gilda tersenyum tak nyaman sambil memegang kopernya di depan gerbang sekolah. Dia dan Harsa datang lebih dahulu di subuh keberangkatan mereka ke pulau Bali. Terkantuk-kantuk, Harsa berdiri di sebelahnya.
“Aku nggak mengerti kenapa manusia harus bawa-bawa barang dengan tas seperti ini? Kenapa mereka nggak menggunakan dekrit ruang unuk membuat bank barang sih? Atau sebenarnya, kalau jaraknya memang jauh kenapa gak membuat portal teleportasi dengan dekrit ruang?”
“Aku pikir kamu sudah sadar kalau mayoritas manusia tidak bisa menyadari adanya sihir.”
“Umm! Maksudku, kenapa mereka nggak memperkenalkannya ke public saja?!”
Harsa menggeleng-geleng. “Itu akan mengacaukan ilmu pengetahuan yang selama ini sudah dibangun oleh manusia. Lagipula, tanpa sihir, manusia sudah membuat banyak hal menakjubkan.”
Selagi Harsa berbicara, bus-bus yang akan membawa mereka ke Bali datang. Bus-bus itu berjajar di halaman depan sekolah mereka. Gilda melihat bus itu dengan takjub.
“Apa itu?” Setiap hari, Gilda datang ke sekolah dengan teleportasi. Jadi, dia hampir tak pernah mengunjungi jalan-jalan di dunia.
“Itu bus.” Jawab Harsa tak tertarik.
Gilda mengagumi bus-bus itu dengan dahi berkerut. “Wow! Manusia bisa masuk ke dalam sana?!” katanya terkejut karena merasakan manusia dalam bus melalui auranya! Mereka juga memuntahkan manusia-manusia itu!”
Harsa menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak laki-laki itu terlalu mengantuk untuk menjelaskan. Tak lama, guru-guru mulai membagi mereka ke dalam bis berdasarkan kelas. Harsa dan Gilda naik duluan ke dalam bis 2 karena teman-teman mereka belum datang. Dalam bus, Harsa menaruh tas ranselnya di bagian depan bus, lalu berkata pada Gilda.
“Tolong bantu aku boleh gak?”
“Ya, tentu, apa?”
“Duduk di belakangku saja, ya. Terus kamu ajak Barasa duduk bersamamu, saja. Supaya aku bisa duduk bareng Ellis.”
Alis Gilda menaik, namun tanpa berkomentar apa-apa dia mengangguk. “Oke.” Katanya sambil menaruh tasnya di kursi di belakang kursi Harsa.
Guru-guru mengumpulkan mereka kembali untuk briefing sebelum berangkat ke berlibur. Di lapangan sekolah, Harsa dan Gilda bertemu dengan Barasa yang baru datang.
“Yo!” Panggil Barasa dengan senyum lebar. “Akhirnya hari ini datang juga!” Katanya bersemangat.
“Yes! Perjalanan ini pasti akan tegang sekali!” Sahut Gilda.
“Tegang? Kenapa tegang?”
__ADS_1
“Nggak, bukan apa-apa.” Bantah Harsa panik. “Ngomong-ngomong, dimana Elis?”
Barasa mengecek ponselnya. “Belum dijawab nih. Telat bangun kayaknya. Pesanku belum dijawab.”
“Ya, ampun! Kalau sampai ketinggalan, gimana?”
Barasa menggeleng. “Nggaklah, dia nggak akan separah itu.”
Elis baru datang pada saat mereka sudah menunggu keberangkatan di dalam bus. Dia datang tergesa-gesa dengan rambut acak-acakan. Namun, senyuman di mata dan bibirnya tetap membuatnya tampak cantik natural. Sayangnya, rencana Harsa gagal total karena Elis datang terlambat. Barasa langsung menaruh tasnya di sebelah Harsa.
Sebelum Harsa protes, Barasa memandangnya, dan berkata. “Nggak, Sa. Aku nggak akan menuruti permainanmu.”
Oleh karena itu, Elis duduk di sebelah Gilda dengan nyamannya. “Thank you.”
Beberapa jam kemudian, sembilan puluh persen anak dalam bus kelas Harsa sudah tidur. Semua mencoba mengembalikan energi yang tersedot karena bangun pagi. Namun, di tengah ketenangan itu, Gilda berdiri. Dia keluar menepuk bahu Harsa yang sedang tertidur di kursi di depannya.
“Woahh.” Harsa terbangun.
“Apa kamu tidak merasakannya?” tanya Gilda.
Harsa berusaha untuk berkonsentrasi akan auranya. Lalu, punggunya berkeringat dingin. “Mereka datang.” Sebelumnya, dia berharap bahwa resiko yang dia bicarakan dengan Erik dan Darma tidak akan pernah datang. Harsa salah besar. Baru beberapa jam dalam trip ini, formskitter sudah menyerangnya.
“Lalu?” tanya Gilda sambil membuka tudung transparan menuju Tepi Dunia Roh. Pemandangan di tepi Dunia Roh tampak buram karena kecepatan bus yang sangat tinggi. “Jangan bilang kamu takut melompat dengan kecepatan seperti ini.”
“Kita akan tertinggal!” kata Harsa panik. Suaranya mulai keras dan membangunkan Elis.
“Guys? Ada apa?” tanya Elis masih setengah sadar.
“Jangan khawatir soal itu! Kita tak punya banyak waktu! Kita harus mengalahkan formskitter itu sebelum dia menyerang ke Dunia Material!”
“Tapi-!”
Gilda menarik Harsa masuk ke Tepi Dunia Roh. Pemandangan berubah dari jalan raya menjadi lembah luas dengan gunung-gunung di kejauhan. Formskitter berbentuk pohon merambat berakar di tengah-tengah lembah itu. Dia bergerak dengan akar-akarnya itu.
Formskitter itu sedang sibuk bertarung melawan dua orang manusia. Formskitter itu menyerang mereka dengan akar-akarnya yang tajam dan bergerak cepat. Harsa langsung tahu mereka manusia dari bagaimana mereka bertarung tanpa aura. Salah satu pria, bahkan tidak mengendalikan physisnya sendiri. Dia mengendalikan physis dari satu buah batu akik besar di tengah tombak panjangnya. Itulah yang membuatnya dapat berdiri dalam tekanan tinggi di Tepi Dunia Roh. Salah satu manusla lainnya bertarung seperti Aster. Dia mengontrol physis di seluruh tubuhnya, tapi tak mengubah physis menjadi elemen. Dia mengubah elemen di sekitarnya, terutama, elemen gravitasi. Harsa tak bisa merasakan elemen grativasi, tapi dia menarik kesimpulan itu dari bagaimana perempuan itu melayang-layang. Setiap pukulan palunya jauh lebih berat daripada yang seharusnya. Akar-akar
“Mereka bertarung sembarangan karena tidak memiliki aura untuk mengecek dimana inti dari forsmkitter itu.” Kata Gilda langsung menguatkan kakinya dengan physis dan berlari menuju pertarungan itu.
__ADS_1
“Intinya ada di akarnya!” Teriak Harsa merasakan physis yang cukup besar terasa di sana.
“Mungkin inti itu palsu, sih.” Gumam Gilda.
Kedua manusia itu mendengar suara Harsa dan mengangguk. Mereka mulai mensingkronisasikan serangan mereka menuju bagian akar dari formskitter tersebut. Si pria menggunakan tombaknya untuk memotong-motong akar tajam yang menyerang mereka. Sementara si perempuan mulai menyerang bagian tanah. Serangannya yang kuat menghancurkan tanah dan batu-batu yang menyelimuti akar dari formskitter itu. Di bawah sana, terlihat inti hitam dari formskitter yang harus mereka hancurkan.
Gilda membuka Kainya lebar-lebar. Auranya menekan Harsa dan membuatnya berkeringat dingin. Auranya menekan dan membuat berdiri di Tepi Dunia Roh jauh lebih sulit. Di saat itu, Harsa baru menyadari aura Gilda jauh lebih mengerikan daripada Adi. Senyum ramah Gilda hilang sudah karena
Dia mengambil pedang berbilah dua dari ruang kosong. Gilda mengerahkan physisnya dalam jumlah besar ke pedangnya. Dari jarak jauh, dia menebas inti formskitter itu dengan physis yang membuat pedangnya dua kali lipat lebih panjang. Inti dari formskitter itu terbelah menjadi dua, sebelum hancur menjadi berkeping-keping. Lalu, tubuh fromskitter itu pun berubah menjadi abu.
“Fiuh.” Kata Gilda lega. “Aku nggak nyangka akan semudah itu.”
“Mudah bagimu.” Kata pria manusia.
“Aku bahkan belum sempat mengeluarkan pedangku.” Gumam Harsa.
“Yah, sudah. Bagus’kan kalau mudah.” Kata manusia perempuan itu yang kemudian menyarungkan palunya. “Ayo kita pergi dari sini. Capek sekali berdiri di Tepi Dunia Roh.”
“Baiklah.” Gilda kembali membuka tudung transparan dan mereka melangkah ke pinggir jalan luar kota di Pulau Jawa. Tombak panjang si penyihir pria berubah menjadi gantungan kunci saat mereka sudah berada di Tepi Dunia Roh.
“Rasanya lebih nyaman.” Kata penyihir perempuan itu.
Harsa melihat mereka dengan bingung. “Apa kalian berasal dari kepolisian sihir?”
“Ya!” Jawab penyihir wanita. “Namaku Lisa dan ini Edi, bosku. Kami mengawasimu dari kemarin-kemarin. Jangan khawatir, kami juga akan mengawasimu selama studi tour ini.”
Kata mengawasi membuat Harsa merasa sedikit tidak nyaman. “Uhh. Ya. Salam kenal. Tapi, jadi bagaimana kita bisa kembali ke dalam bis?”
“Kami bawa mobil di belakang. Kita akan mengejar bus itu. Jadwal studi tour kamu akan makan di restoran Ayam Bakar kan? Kami akan mengantar mobil ke sana.” Kata Edi.
Lisa menyetir dengan cepat dan sampai ke restoran itu bahkan sebelum bus kelasnya datang, sehingga Harsa dan Gilda harus bersembunyi di toilet sampai akhirnya teman-teman mereka mulai masuk ke restoran.
“Harsa?” tanya Elis ketika dia sadar akan kehadiran Harsa di restoran. “Apa yang terjadi?!”
“Apa? Aku baru dari toilet.” Kata Harsa gugup.
Dahi Elis berkerut. “Nggak. Maksudku, aku melihat kamu menghilang dari bus.”
__ADS_1
Harsa tidak tahu harus menjawab apa.