
Tak seperti biasanya, Harsa berangkat ke sekolah dengan tubuh lesu. Badannya pegal-pegal setelah Adi melatihnya keras-keras tanpa istirahat hingga dia bisa membuka dan menutup Kainya dengan lancar. Bahkan setelah dua hari bekerja keras, Harsa tidak kuat untuk membuka seluruh pintu Kainya. Kalaupun dia kuat, tubuhnya bisa rusak karena tidak mampu menampung jumlah physis yang mengalir ke tubuhnya. Namun, sekarang, Harsa sudah percaya diri dia tidak akan membakar kamarnya lagi tanpa sengaja.
“Yo.” Barasa sudah berada duluan di kelas, berdiri menyambut Harsa.
“Hi.” Sapa Harsa, masih lemas.
Tanpa banyak bicara, Barasa menarik lengan Harsa dan menundukannya di kursi depan Barasa. “Kamu nggak apa-apa? Terakhir, hari jumat kemarin... apa kamu nggak apa-apa?”
Harsa tertegun mendengar pertanyaan Barasa. Dia belum menyiapkan cerita tentang apa yang terjadi di hari Jumat. Pada akhirnya, dia menceritakan yang seadanya. “Kakakku datang dan menyelamatkanku.”
“… Apa dia juga yang menyembuhkan luka-lukaku dan kakak kelas itu?”
“Ya, sepertinya. Aku juga nggak sadar segera setelah kakakku datang.”
“Wow… kakakkmu pasti kuat banget.” Kata Barasa. “Dia belajar aliran bela diri apa?”
Mata Harsa mengerjap-ngerjap. “Daripada bela diri, aku rasa dia bisa sihir. Kamu sendiri, kamu bisa sihir kan? Kalau nggak, kamu nggak mungkin menahan-”
Dahi Barasa berkerut, meski dia tertawa kecil. “Sihir? Apa dongeng seperti itu nyata? Bukan. Yang aku lakukan itu bela diri. Aku mengalirkan tenaga dalamku untuk menahan Legenda Bayangan itu. Ah, iya. Aku pikir legenda bayangan itu hanya cerita. Kenapa dia datang ke sekolah ya?”
“Ehm.” Harsa terdiam ragu. Awalnya dia kira bahwa Barasa merupakan orang yang pendiam, namun sebenarnya anak itu bicara banyak jika tentang bela diri. “Legenda Bayangan itu apa?”
“Kamu nggak tahu soal itu?”
Harsa menggeleng.
“Wow. Pasti shock sekali buatmu. Kamu hebat juga bisa bertahan tanpa tahu apa itu Legenda Bayangan.” Kata Barasa kagum. “Legenda Bayangan itu mahkluk legendaris yang katanya diburu oleh pendiri aliran bela diriku. Katanya, orang yang berhasil mendapatkan inti Legenda Bayangan akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar. Sejujurnya, aku sendiri juga baru pertama kali melihatnya. Kukira semua cerita kakek soal asal muasal bela diri kami itu cuma khayalan saja.”
Otak Harsa seperti berputar di roller coaster. Penjelasan Barasa tentang formskitter tidak ada mirip-miripnya dengan formskitter yang dia dengar dari keluarganya selama ini. “Uh, begitu.” Harsa memutuskan untuk pura-pura tidak tahu tentang formskitter sama sekali karena dia ingin menyembunyikan fakta bahwa dia adalah setengah Kasarewang. Setelah Harsa menceritakan tentang Barasa pada ayahnya, dia kembali diingatkan bahwa ada segelintir manusia yang bisa sihir. Harsa kira Barasa seperti itu, tapi ternyata Barasa sendiri menganggap bahwa sihirnya merupakan tenaga dalam.
“Jadi, soal kakakmu-” Kata-kata Barasa terpotong oleh bel sekolah. Barasa mengeluh karena guru mereka langsung masuk, namun Harsa merasa lega. Untunglah bahkan setelah mereka istirahat siang, Barasa tidak bisa melanjutkan obrolan mereka karena Elis, mendatangi mereka.
“Yay! Kita satu kelas.” Kata Elis dengan senyum lebar. “Kemaren memang terpotong acara demonstrasi klubnya, tapi pada sudah mutusin gak mau masuk klub mana?”
__ADS_1
“Kamu sendiri gimana?” Barasa balik bertanya.
“Aku sih fix klub musik.” Jawab Elis tanpa ragu. “Kalau kamu mau ikut klub bela diri?”
Barasa menggeleng dengan murung. ”Nggak ah. Ngelihat senior-seniornya kayak kemarin. Lebih baik aku belajar sendiri dari kakek.”
Harsa mengangguk setuju. “Ya, kayaknya akan stres kalau masuk sana.”
“Oh, iya. Kamu sudah tahu belum, Sa? Keluarga Barasa itu turun temurun mewarisi ilmu bela diri. Kamu bisa ikut ke perguruannya lho.” Cerocos Elis bangga.
Muka Barasa memerah karena malu. “Sudah, nggak penting. Ngomong-ngomong gimana kamu Har?”
“Aku kayaknya bakal masuk klub basket. Dari SMP aku ikut klub basket.” Bahkan sebelum MOS, Harsa sudah memutuskan.
“Hm. Klub basket ya?” Kata Barasa pada dirinya sendiri. “Boleh aku nebeng?” tanya Barasa. “Soalnya aku masih belum memutuskan mau ikut klub mana. Kalau klub olahraga kayaknya enak dan banyak bergerak.”
“Bolehlah. Ayo bareng.”
Pulang sekolah, Harsa dan Barasa pergi ke lapangan basket sekolah untuk mendaftar klub basket. Tanpa banyak kata, mereka diterima dalam klub. Katanya, yang tidak cocok akan bertahan. Jadi, satu bulan pertama, akan terjadi seleksi alami.
Harsa lega, tidak seperti klub bela diri, senior-senior di klub basket tampaknya terbuka dan ramah-ramah. Mereka bermain dua permainan setengah lapangan. Harsa melupakan rasa lelahnya dan menikmati dirinya sendiri saat ikut permainan bola basket. Bahkan, mungkin terlalu menikmati dirinya. Tubuhnya bergerak bebas, semakin bebas sejak dia menguasai sihirnya. Sekarang, Harsa bisa mengalirkan physis ke bagian tubuhnya. Di Tepi Dunia Roh, sihir itu wajib agar Harsa bisa berdiri. Di Dunia Material, sihir meningkatkan kemampuan fisiknya melebihi orang normal. Ketika dia mengfokuskan semua sihirnya ke kaki, melompat hingga ke lantai dua seperti Adi bukanlah masalah. Namun, jika dia menggunakan sihirnya untuk bermain bola basket, maka dia bisa melewati seluruh pertahanan tanpa usaha besar. Di akhir permainan mereka, Harsa merasa aneh. Permainan basket tidak lagi jadi tantangan. Di sisi lain, Harsa tidak merasa memaksimalkan kemampuan fisiknya ketika menahan sihirnya. Bagaimanapun dia tidak merasakan lagi ketegangan dan adrenalin pada saat bermain basket.
“Sa! Harsa!! Sini!”
Saat Harsa sedang istirahat minum di pinggir lapangan, dia dipanggil oleh satu sosok perempuan berambut sepunggung yang diikat satu. Aster berdiri di luar lapangan, dengan baju kasual. Tangannya melambai-lambai dengan sebuah kertas di tangannya. Entah kenapa, firasat Harsa buruk.
“Barasa.”
“Hm, kenapa?”
“Bentar yah. Ada yang manggil.” Kata Harsa, keluar menuju lapangan. “Kenapa? Kamu kemarin nggak apa-apa?” tanya Harsa pada Aster, tulus khawatir.
“Yah… Entah kenapa aku baik-baik saja. Kemarin sadar-sadar, aku bangun di UKS. Guru-guru pada ribut karena ada bekas terbakar lagi di sekolah.” Aster kemudian menghela nafas. “Aku kena getahnya tahu. Guru-guru memperpanjang masa skorsku karena mereka menyalahkanku soal api yang muncul di lapangan bola.”
__ADS_1
“Maaf.” Kata Harsa baru benar-benar merasa bersalah. “Aku nggak maksud membuatmu repot. Aku juga nggak nyangka mahkluk itu akan muncul.”
“Ya. Aku paham kok.” Kata Aster pengertian, tapi dia melambaikan kertas di tangannya. “Aku cuma ingin melanjutkan pembicaraan kemarin.”
Harsa menerima kertas itu. Di sana, tercetak foto Harsa sedang melompat di lapangan basket, berserta percikan api yang keluar dari kakinya. “Ee. Ini bisa aja diedit kan?”
Aster menggeleng-gelengkan kepala. “Aku masih nggak ngerti kenapa kamu mau menyembunyikan sihir. Aku bertanya bukan karena ingin memerasmu atau apa. Aku cuma ingin kita saling berbagi informasi soal sihir. Lihat.” Tangan Aster terangkat. Di atas telapak tangannya, tiba-tiba muncul genangan air yang meluap-luap hingga jatuh ke tanah.
“Ka, kamu bisa sihir?!” tanya Harsa kaget.
“Yap.” Sedikit nada bangga terdengar di jawaban Aster. “Dan ini pertama kalinya aku bertemu orang lain yang bisa sihir.”
“Wow…” Harsa melirik ke arah Barasa. Tapi Barasa nggak tahu sihir, dia pikir yang dia lakukan bela diri. Harsa memutuskan untuk diam soal Barasa. “Jadi, apa yang kamu mau?”
Senyum Aster melebar karena Harsa akhirnya mengakui kalau dia bisa sihir. “Ikut ke klub sulapku. Aku butuh anggota klub lain supaya klub sulap gak ditutup. Setelah itu, tolong ajari aku bagaimana menyihir.”
“Ehh. Sejujurnya aku nggak yakin bisa mengajarimu.” Adi sudah banyak menekankan bahwa elemen yang dikuasai sangat tergantung dari keturunan seseorang. “Tapi kalau soal klub sihir, mungkin aku bisa ikut. Nggak ada aturan nggak boleh ikut dua kegiatan, bukan?” Harsa sendiri belum yakin bahwa dia akan ikut klub basket atau tidak. Jadi, dia rasa tidak masalah ikut klub sulap, lagipula habis latihan tadi, dia meragukan bergabung dengan klub basket.
Sikap tenang Aster hilang seperti terbawa hembusan angin. “Ya ampun, makasih Sa!! Hehehe. Makasih banget!! Kamu nggak perlu khawatir soal mengajariku sihir. Tinggal dicontohkan saja. Lagipula selama ini aku selalu belajar sihir secara otodidak.”
“Ah, iya. Aku penasaran. Memangnya dari mana kamu bisa sihir?”
“Hehehe. Ceritanya panjang. Kamu sendiri gimana?”
“Hmm, sudah turun temurun dari keluarga.” Kata Harsa tidak tahu harus menjawab apa.
“Enaknya…” Kata Aster iri. “Kalau begitu. Mulai minggu depan pas aku sudah masuk kelas ya. Di ruang kelas kosong lantai empat, di sana kita biasa ada kegiatan klub sulap setiap hari Kamis. Kamu jangan lupa datang ya.”
Harsa mengangguk. Hatinya mulai penasaran pada sosok Aster. Bagaimana manusia biasa bisa menggunakan sihir? Bagaimana Aster belajar sihir secara otodidak?
__ADS_1