
Muka Harsa memerah ketika dadanya membuncah marah. “Apa?! Tapi semua orang kamu bisa menyembuhkannya!”
“….” Sang Raja Kasarewang tak tersentak oleh kemarahan Harsa. “Kamu sungguh mengalami luka yang tak mudah, Nak.” Katanya pada Harsa dengan simpatik.
Mata Harsa melotot lebar. Harsa menatap Raja Kasarewang dengan putus asa. Dia menahan dirinya sendiri untuk tidak membentak Raja Kasarewang karena kecewa.
“Meskipun aku tidak bisa menyembuhkanmu, aku bisa melakukan memperbaiki tanganmu seperti semula. Meskipun kamu mungkin tidak suka caranya.” Lanjut Sang Raja Kasarewang.
“Bagaimana caranya?” tanya Harsa, semakin penasaran karena dia dibilang tak akan suka.
Raja Kasarewang mendesah panjang. “Seperti yang sudah kamu tahu, aku menguasai dekrit waktu. Aku dapat memutarbalikkan waktumu ke sebelum kamu terluka, sehingga kamu tidak pernah terluka.”
“Bukankah itu bagus sekali?”
“Tapi aku tidak bisa hanya mengubah waktu tanganmu. Kalau hanya sebagian saja, maka akan ada distori waktu di antara tangan dan sisa tubuhmu yang lain. Itu akan membuat ketidaknyamanan yang terus-menerus.”
“Jadi?”
“Jadi aku harus memutar waktu di otakmu juga dan itu artinya kamu, terutama tubuhmu, akan kembali ke waktu sebelum kamu terluka. Kamu tidak jadi mengalami hal-hal selama beberapa bulan ke belakang.”
Harsa diam karena tak mengerti.
“Intinya, kamu tidak akan mengingat apa yang terjadi selama beberapa bulan ke belakang karena kamu tidak mengalaminya. Kamu akan jadi lebih muda beberapa bulan.”
Ketika itu, Harsa baru memahami apa yang dibicarakan oleh Raja Kasarewang. “Nggak.” Tolaknya langsung. Dia tidak akan rela kehilangan ingatannya selama beberapa bulan ke belakang. Apalagi ketika dia baru saja pergi ke Bali bersama dengan teman-temannya.
“Ya, aku tahu.” Kata Raja Kasarewang tak terkejut.
“Apa Yang Mulia tidak bisa menyembuhkanku?” Tanya Harsa putus asa.
__ADS_1
“Aku bisa, tapi tidak dapat.” Kata Raja Kasarewang dengan wajah sedih melihat penderitaan Harsa. Ketika naik taktha, aku mengambil sumpah untuk menjalankan pemerintahan dengan totalitas, termasuk di dalamnya mengikuti konstitusi yang telah disepakati antara Kasarewang pertama dan Dewa Kehidupan yang telah mengajarinya sihir.”
Harsa terdiam mendengarkan. Samar-samar dia ingat tentang konstitusi Kerajaan Kasarewang, tapi dia tidak ingat detailnya. Harsa lebih ingat isi pembukaan UUD 45 yang dia dengarkan setiap pagi daripada konstitusi yang hanya dia baca satu kali.
“Salah satu isi konstitusi itu, adalah untuk tidak pernah menggunakan Dekrit Hidup tingkat tinggi, seperti elemen insting dan elemen kehendak bebas. Aku tidak bisa melanggar sumpahku untuk hal apapun, meskipun itu untuk menyembuhkanmu. Jika aku tidak mengikuti perarturan yang leluhurku buat, siapa yang akan mematuhinya?”
“Jadi, sebenarnya kamu bisa, tapi tak mau.” Jawab Harsa kesal, tidak sadar siapa yang sedang ada di hadapannya.
Dengan sabar, Raja Kasarewang menjelaskan ulang. “Kita Kasarewang tidak bisa menjadi sama seperti musuh kita, formskitter. Kamu harus paham seberapa jahatnya tindakan seperti itu. Setiap mahkluk lahir dengan insting untuk bertahan hidup. Tidak etis ketika kita mengubahnya menjadi insting untuk melayani si penyihir. Begitu juga dengan roh dan representasinya, vasal. Mengubah vasal orang lain seperti mencoreng karya lukisan orang lain untuk kesenangan kita sendiri. Kita akan kehilangan kemampuan untuk menarik physis dari Dunia Roh jika kita mengubah insting dan vasal seperti yang dilakukan oleh formskitter.”
“Bahkan untuk mengembalikan vasalku seperti sebelumnya?” desak Harsa terus.
Raja Kasarewang mengangguk. “Aku sangat bersimpati padamu, tapi bahkan jika aku sendiri yang terluka, aku tidak akan berani menyihir vasalku sendiri. Namun jangan bersedih dulu. Aku bisa membantumu dengan cara lain.” Kata Raja Kasarewang kembali dengan senyum kecil.
Dia mengambil kertas kosong, satu buah tanah lihat berwarna merah muda, dan sebuah cap segel dari udara kosong. Raja Kasarewang menuangkan sedikit tanah liat di atas kertas dan mencap tanah liat itu. Sesaat, cap itu memanas dan membakar tanah liat itu hingga tak lagi berubah-ubah bentuk. Raja Kasarewang mengambil kepingan tanah lihat merah muda itu kemudian menyerahkannya pada Harsa.
Harsa menerima kepingan tanah liat itu dari tangan Raja Kasarewang. Begitu sampai di tangannya, tanah lihat itu bergerak sedikit ke arah altar suci itu. Harsa tinggal mengikutinya saja untuk sampai ke sana.
“Jadi… Aku harus pergi ke sana?” tanya Harsa kecewa karena tangannya tak sembuh sekarang.
Raja Kasarewang mengangguk.
Menghela nafas, Harsa berdiri dan mengangguk. “Baiklah, terima kasih.” Katanya lalu berbalik kembali. “Eee, bagaimana caranya aku keluar?”
Raja Kasarewang menghentakkan jarinya, lalu pintu mozaik warna-warni kembali terlihat di dalam ruangan itu. “Semoga beruntung.” Kata Raja Kasarewang itu. Wujudnya kembali ke anak-anak.
Harsa berhenti sebelum kakinya melangkah melewati pintu itu. Satu kali lagi dia berbalik menghadap Raja Kasarewang. “Bolehkah aku bertanya hal lain?”
Raja Kasarewang memberikan gestur, ‘ya’.
__ADS_1
“Kamu bicara soal janji antara Kasarewang pertama dan Dewa Kehidupan. Apakah itu berarti bahwa legenda bahwa pahlawan Kasarewang melawan murid kedua itu benar?” tanya Harsa.
“Aku percaya cerita kakekku. Dia melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri.” Jawab Raja Kasarewang tanpa ragu.
“Apakah kamu tidak bisa melakukan sesuatu dengan mantra yang menciptakan formskitter?”
“Sayangnya tidak.” Jawab Raja Kasarewang penuh penyesalan.
Harsa mendesah.
Melihat kekecewaan Harsa, Raja Kasarewang tersenyum dan menambahkan, “Tapi mungkin kamu dapat menemukan orang yang dapat menguraikan mantra itu.”
Ketika Harsa mendengar kata-kata itu, bulu kuduknya merinding. Ada sesuatu di nada bicara dan senyum Raja Kasarewang yang membuat Harsa merasa bahwa Sang Raja sedang tidak membicarakan tentang ‘jika’, atau ‘kira-kira’, atau ‘mungkin’. Dia berbicara seolah-olah benar-benar melihat masa depan Harsa dan Harsa tidak menyukainya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Harsa melangkah keluar dari ruang pertemuan dengan raja itu. Dengan satu langkah, dia kembali berada di luar benteng kastil Kerajaan Kasarewang. Di depannya, Adi sedang menunggu sambil melipat tangannya.
“Bagaimana?” tanya Adi.
Harsa menunjukkan lengannya yang masih kaku dan berwarna hitam pekat. “Dia menolak menyembuhkan tanganku.” Harsa menceritakan pembicaraannya dengan Raja Kasarewang pada Adi.
“Kalau gitu ayo kita pergi ke sana sekarang.” Kata Adi.
Harsa menggeleng. “Nah… Minggu depan aja. Aku masuk ke sekolah besok. Ujian akhir sekolah juga akan segera datang. Aku nggak bisa bolos sekolah di hari pembelajaran intensif.” Protes Harsa. Dia merasa malas untuk pergi ke tempat lain hari ini. “Lagipula tanganku hanya terasa kaku saja.”
“Bukankah jadinya tanganmu nggak bisa dialiri physis?”
“Ya, tapi hanya tanganku saja’kan?”
Adi mendesah panjang, tapi dia tidak banyak berdebat. “Baiklah. Minggu depan, ya. Aku juga janji bertemu Gilda, soalnya.” Putus Adi.
__ADS_1