
Bahkan setelah satu minggu berlalu, Harsa masih dihantui fakta bahwa dia dan Barasa menyukai orang yang sama. Satu minggu tak cukup untuknya memahami bahwa masalah seperti ini bisa terjadi di hidupnya. Selama ini, Harsa pikir masalah seperti cinta segitiga hanya terjadi di novel atau drama televisi, bukan di hidupnya. Elis adalah perempuan pertama yang menarik perhatiannya dan Harsa tidak pernah terpikir untuk menjalin hubungan sebelum ini. Jadi, dia buta akan bagaimana menangani masalah percintaan. Untunglah pertemanan mereka bertiga tidak banyak berubah selain dari sedikit rasa canggung antara dia dan Barasa. Semua itu berkat usaha mereka berdua untuk menganggap bahwa percakapan mereka tidak pernah ada.
Meski masalah ini sering terlintas dalam pikiran Harsa, dia selalu berhadapan dengan tugas yang harus diselesaikan. Entah itu PR dari sekolah, Adi, ujian tengah semester, ataupun berlatih bahasa Kasarewang. Dia punya terlalu banyak kegiatan untuk punya waktu merenungkan hubungan antara dia dan Elis. Malam ini, kegiatan itu datang dalam bentuk sosok seorang Adi.
Dahi Harsa berkerut bingung melihat kakaknya sedang mencoba teh manis untuk pertama kalinya dalam hidupnya di meja makan. “Kok kak Adi di rumah? Hari ini kan hari Senin.” Harsa masih terlalu lemas untuk berlatih sihir lagi.
Adi meletakan cangkir tehnya dengan dahi berkerut juga. Dia masih belum memutuskan apakah dia menyukai teh manis itu atau tidak. “Tadi pagi saat aku hendak kembali ke Drestha, setelah kamu pergi ke sekolah, aku mendeteksi formskitter di sekitar sini. Tampaknya dia mau menyerang kamu. Tapi aku sendiri harus kembali ke Drestha untuk kerja dan kamu harus sekolah, jadi ayah menyarankan agar formskitter itu kita hadapi malam ini. Sekarang, lebih baik jangan menunda lagi.”
Muka Harsa berubah pucat. Terakhir kali menghadapi formskitter, mahkluk itu hampir menghilangkan nyawa kedua temannya, dan dia sendiri kehilangan kesadaran. “Eng? Kita? Aku dan kak Adi akan menghadapinya berdua?”
“Ya.” Kata Adi tegas. “Bagus agar kamu punya pengalaman bertarung melawan formskiter lebih banyak.”
Walaupun gugup, Harsa mengangguk.
“Ayo kita hadapi di Tepi Dunia Roh, agar tidak merusak apa-apa.” Kata Adi lalu mengayunkan tangannya. Salah satu cincin batu akik di jarinya menyala, kemudian tudung transparan ke Tepi Dunia Roh terbuka.
Harsa menelan ludah. Dia menaruh tas sekolahnya dan melangkah ke Tepi Dunia Roh mengikuti Adi.
Seperti biasa, lembah luas terhampar di sekitar mereka dalam Tepi Dunia Roh. Sejauh mata memandang, Harsa tidak melihat ada perbedaan dari tempat mereka latihan biasanya.
“Kau siap?” tanya Adi.
__ADS_1
Harsa menggeleng. “Nggak, tapi harus tetap dihadapi kan.”
“Jangan khawatir, aku ada di sini.” Kata Adi menenangkan. “Aku juga tidak akan sengaja mencebloskan kamu ke dalam bahaya.”
Harsa mengangguk. Sekarang, dia bisa percaya pada kata-kata Adi sepenuhnya. Harsa yakin kalaupun Adi sering bersikap menyebalkan, kakak laki-lakinya itu tidak berniat jahat.
“Iya, makasih kak.” Katanya mengangguk. “Tapi, dimana formskitter itu? Nggak kelihatan sama sekali.”
“Coba keluarkan auramu.” Suruh Adi.
Harsa mengeluarkan physisnya dalam jumlah tipis dan melebar.
“Nggak perlu menahan dirimu.” Dari Adi kelaur aura menekannya yang biasa. Penampilannya berubah kembali menjadi penampilan seorang Kasarewang yang mencolok dengan rambut biru terang dan mata putihnya yang menyala.
“Itu pentingnya auramu selalu aktif dua puluh empat jam sehari.” Kata Adi mengingatkan. “Kemarin, apa kamu benar-benar mengerjakan PRmu untuk mengaktifkan auramu sepuluh jam sehari?” tanya Adi curiga. “Kalau pagi ini kamu mengaktifkan auramu, seharusnya kamu sudah sadar kalau ada formskitter sedang terbentuk.”
“Uhh. Aku nyalakan, kok, tapi gak sepuluh jam nonstop. Berhenti-berhenti gitu. Terus, aku nggak melebarkan auraku hingga sejauh itu. Memangnya aura kak Adi sampai lima ratus meter?” Harsa balik bertanya tak percaya.
“Iya, kok. Aku selalu mengeluarkan auraku setiap saat. Lebarnya bisa menyelimuti setengah kota ini. Kalau aku serius, bisa hingga ke seluruh kota ini.” Kata Adi. Dia tidak bermaksud membanggakan diri. Tidak juga menekan Harsa. Dia hanya ingin menempatkan standar yang tinggi agar Harsa bisa berkembang dengan lebih cepat.
“… Ehh. Iya. Semoga bisa.” Kata Harsa tidak terjanji. “Tapi formskitter itu tidak menyerang kita?”
__ADS_1
“Dia masih terbentuk.” Jawab Adi. “Sebenarnya, cara yang paling mudah untuk menghadapi formskitter adalah menghancurkan intinya sebelum badannya terbentuk. Tapi, karena aku ingin ini jadi latihan kamu menghadapi formskitter, maka kita tunggu dia terbentuk sempurna.”
Tangan Harsa sudah basah keringat karena tegang, tapi sepertinya Adi santai saja. Tentara itu lanjut menjelaskan.
“Dalam menghadapi formskitter. Hal yang paling penting ada menghancurkan intinya. Kalau intinya sudah hancur, maka formskitter itu tidak akan beregenerasi lagi.”
“Bola kristal hitam itu?” tanya Harsa.
“Ya. Caranya adalah dengan melukai formskitter itu hingga intinya kelihatan. Setelah itu, kamu hancurkan intinya. Setelah intinya hancur, dia tidak akan beregenerasi lagi.”
“Apa nggak ada cara untuk menghancurkan formskitter dalam sekali serang?” Tanya Harsa.
“Caranya kamu menghancurkan intinya dalam satu kali serang. Kebanyakan inti formskitter di tengah-tengah tubuh mereka, tapi formskitter yang lebih kuat dan lebih pintar sering memindahkan inti mereka ke berbagai bagian tubuh mereka. Jadi, ya. Untuk memastikan mereka benar-benar mati, kamu harus lihat inti mereka hancur.” Jelas Adi.
Harsa mengangguk-angguk. Dahinya berkerut. Selama mereka berbicara, formskitter itu semakin berubah nyata. Otot-otot berwarna hitam mulai terbentuk mengelilingi intinya. Dalam hitungan menit, mereka sudah harus bertarung.
“Ingat.” Tambah Adi lagi. “Ketika melawan formskitter kamu harus waspada dan menjaga badanmu dari berbagai macam serangan. Selain bisa menguasai beberapa elemen sihir, formskitter bisa berubah-ubah bentuk, sehingga mereka bisa mengejutkanmu.”
Mendengarkan penjelasan Adi akan seberapa seramnya formskitter, yang sedang terbentuk tak jauh di depan sana, tubuh Harsa semakin tegang. “Iya, kak.”
Waktu mereka telah habis. Formskitter itu sudah terbentuk sempurna menjadi seekor kelelawar. Terbang dari langit, formskitter itu terjun menyerang Harsa. Taringnya mencuat mengerikan dengan air liur beracun yang tampaknya dapat menghancurkan apapun.
__ADS_1
Adi mengaktifkan salah satu cincinnya dan mengeluarkan pedangnya yang ramping, tapi dia tetap bersiaga di belakang, menyuruh Harsa menghadapi formskitter itu sendirian. “Hati-hati. Jangan memaksakan diri.” Kata Adi.
Harsa berlari ke depan, menyelimuti badannya dengan physis yang sangat tebal. Satu bulan yang lalu, Harsa begitu tak berdaya melawan formskitter yang tiba-tiba muncul di sekolahnya. Barasa dan Aster sampai terluka karena melindungi dirinya. Dia sendiri sampai kehilangan kesadaran. Namun, setelah berlatih bersama Adi hingga bergelimang keringat, kali ini akan berbeda. Harsa tidak akan kalah.