
Adi melompat dari atap rumah ke satu atap rumah lainnya hingga mereka sampai di satu atap penginapan melati yang dapat dipesan secara daring. Di atas atap penginapan melati itu, seorang wanita berdiri di sebelah bayangan hitam yang tidak jelas bentuknya apa. Dari arah mereka, aura menekan keluar bertabrakan dengan aura Harsa dan Adi. Tak bisa dipungkiri, keringat dingin mengucuri dahi Harsa.
“Kak Adi! Katanya ada dua formskitter! Satu di antaranya manusia!” Teriak Harsa.
“Bodoh! Yang perempuan itu formskitter berbentuk manusia! Dia yang kuat! Aku akan membawanya ke Tepi Dunia Roh!” Teriak Adi sementara mereka semakin mendekat. “Begitu aku bilang, kalian berdua harus langsung turun!”
“Ya!”
Tepat pada saat jarak mereka hanya satu rumah, Adi berteriak, “Turun!!” Harsa dan Barasa melompat dari awan yang dibuat oleh Adi. Mereka mendarat di atap rumah seberang penginapan tersebut.
Dari awal, Adi sudah langsung serius. Adi membiarkan auranya mengamuk. Rambutnya berubah menjadi biru terang dan matanya menjadi putih menyala. Seketika, awan yang dibuat Adi membesar dan menggelap. Adi mengubah physis yang dia taruh dalam awan tersebut menjadi petir yang segera menyambar ke arah pedang rampingnya yang baru dia keluarkan.
Formskitter berbentuk wanita itu mulai menunjukkan wujud aslinya. Tangan kanannya berubah menjadi cakar singa raksasa. Dengan tangan kanan itu, dia menahan serangan pedang Adi yang penuh dengan muatan listrik. Sengatan listrik itu menyengat dan mendorong formskitter itu ke belakang. Di saat yang sama, Adi mengalirkan physis ke salah satu cincinnya yang menyala, dan tudung transparan di belakang formskitter itu terbuka. Mereka berdua, Adi dan formskitter itu, masuk ke dalam Tepi Dunia Roh. Mereka berdua memang menghilang dari Dunia Material, namun suasana di atas atap tepatlah mencengkam karena pertabrakan antara aura Adi dan formskitter itu.
“Barasa!” Teriak Harsa. Tanpa menahan diri, dia juga mengeluarkan auranya dengan maksimal. Warna rambutnya berubah menjadi merah terang dan matanya kuning menyala.
Barasa sendiri langsung mengalirkan physis ke seluruh tubuhnya.
Bayangan hitam itu berbuah menjadi seekor ayam hitam dengan cakar dan paruh yang mengintimidasi. Tanpa mempedulikan Barasa, dia terbang ke arah Harsa. Anak laki-laki kembali membentuk pedang putih dari api panas dan padat. Dengan pedang itu, dia menangkis patukkan dari formskitter berbentuk ayam itu. Berbeda dari formskitter yang dia lawan sebelumnya, formskitter ini jauh lebih kuat. Bahkan paruh ayam ini jauh lebih kuat dari inti formskitter terakhir yang dia lawan. Paruhnya tidak hancur terkena pedang Harsa, meski bulu-bulu di wajahnya mulai terbakar. Tanpa memedulikan dirinya, formskitter itu terus menyerang Harsa.
“Barasa! Dia takkan menyerang kamu! Kita harus memanfaatkannya untuk menang!” Teriak Harsa di tengah konsentrasinya menangkis patukan-patukan ayam itu yang kesannya semakin lama semakin cepat. Setiap patukan mengandung physis yang bahkan sisa-sisanya menggores kedua lengan Harsa.
“Ya! Walau sudah telat untuk membicarkan strategi sekarang!” Barasa menyerang dari belakang. Dengan tangannya yang dipenuhi physis, dia mengambil salah ekor formskitter berbentuk ayam itu dan melemparkannya ke pinggir, membebaskan Harsa dari serangan bertubi-tubi. Formskitter itu menggunakan sayapnya untuk mendarat di salah satu atap rumah. Dia segera melompat untuk kembali menyerang.
__ADS_1
Di waktu yang genting ini, pikiran Harsa malah teralih pada elemen api yang sedang dia kendalikan di pedangnya. Elemen api berwarna putih itu sedikit berbeda dengan elemen api yang biasa dia kendalikan. Bila Harsa mengubahnya menjadi lebih padat lagi dengan physis, elemen api itu rasanya dapat berubah menjadi elemen lain. Mempercayai intuisinya, Harsa terus mengembangkan elemen api itu. Lama kelamaan, pedang putihnya menjadi kasat mata. Meski sihirnya terkesan hilang, Harsa tersenyum karena tahu persis elemen apa yang muncul dari percobaannya.
Harsa mengarahkan tangan ke formskitter itu, dan menembahkan elemen yang baru dia kuasai. Patuk formskitter berbentuk ayam itu sekarang hancur terpotong bersama setengah badannya. Lidah-lidah api kecil menghanguskan luka yang terbuka itu.
“Mantap, Sa!!” Puji Barasa dengan mata melotot lebar.
Saat kemenangan Harsa tak lama, dahinya mengkerut. “Nggak, belum!” Di tengah-tengah formskitter itu, tidak ada inti yang menjadi kunci untuk mengalahkan formskitter.
Benar saja, formskitter itu bukannya menghilang, malah terbagi menjadi dua. Keduanya berubah menjadi serigala yang langsung melompat ke arah Harsa. Barasa dengan sigap menendang satu serigala yang hampir mencakar wajah Harsa, sementara Harsa menahan gigitan satu serigala lain dengan physis yang menyeliputi dirinya.
“Aku akan atasi yang ini!” Seru Barasa, menghalangi serigala itu untuk kembali menyerang Harsa.
“Hancurkan kristal hitam yang jadi intinya Sa! Kalau nggak, kita nggak bisa ngalahin formsktter ini!” Kata Harsa sambil melepaskan dirinya dari gigitan serigala itu. Lengannya berteriak sakit karena tidak bisa menahan gigitan penuh physis itu. Sebelum serigala itu sempat menerjang lagi, Harsa kembali menembakkan lasernya yang terlihat. Serigala itu melompat untuk menghindari serangan Harsa, namun Harsa menarik lasernya yang entah mencapai mana ke samping. Serangannya berhasil mengenai serigala berbentuk formskitter itu, namun lagi-lagi, di tengah badannya tidak terdapat inti dari formskitter.
Apa?! “Nggak mungkin!! Di aku juga nggak ada!” Kata Harsa mulai merasa putus asa saat tenaganya terbuang sia-sia untuk melawan formskitter yang tidak memiliki inti. “Kalau gitu, gimana kita mengalahkan formskitter ini?!”
“Aku nggak tahu!” kata Barasa mundur ke belakang. Punggungnya menyentuh punggung Harsa selagi mereka waspada akan serangan mendadak dari dua serigala yang mengitari mereka.
“Kalau begitu, kita cuma buang-buang waktu!” Keluh Harsa panik. “Gimana kalau kamu coba masuk ke penginapan itu untuk cari Aster?! Aku akan menahan formskitter ini di sini!”
“Kamu yakin kamu nggak akan apa-apa?” tanya Barasa khawatir.
“Ya!” Kata Harsa yakin.
__ADS_1
Kedua serigala itu bahkan tidak mengidahkan Barasa yang lari dan masuk ke dalam penginapan itu sementara Harsa mengandalkan auranya untuk membaca setiap serangan kedua formskitter itu agak tidak terluka parah. Dia berharap agar Barasa segera keluar dari penginapan dengan sosok Aster yang aman agar dapat kembali membantunya bertarung melawan formskitter. Namun, dia menyesali harapannya. Barasa memang keluar dari penginapan, tapi dia keluar karena terlempar dari jendela di lantai dua. Kaca jendela itu pecah berkeping-keping ketika Barasa ditonjok keluar.
“Barasa!” Teriak Harsa khawatir. Sekali saja dia lengah, salah satu cakar formskitter berbentuk serigala itu mengenai punggungnya. Harsa kehilangan pijakkannya dan jatuh dari atap ke jalan dimana Barasa terbaring lemas. Jika bukan karena physis yang melindungi dirinya terus-menerus, Harsa akan mematahkan beberapa tulang rusuknya.
“Urgh!” Barasa memaksakan dirinya berdiri. “Masih ada satu lawan lagi.”
Dari jendela di lantai dua itu, seorang laki-laki yang suaranya Harsa kenal keluar. “Aku tidak menyangka Aster punya teman lain yang menguasai sihir.” Katanya. Dia mengulurkan tangannya dan kedua formskitter berbentuk serigala itu kembali menjadi tak berbentuk, kemudian merasuk ke tubuh laki-laki itu. Bayangan hitam itu masuk ke kulitnya dan menghitamkan bola matanya. “Kalian lebih baik pulang saja.”
“Dia tubuh Legenda Bayangan yang sesungguhnya?” tanya Barasa sambil membantu Harsa berdiri.
Harsa menggeleng. Auranya mengatakan dengan jelas bahwa laki-laki itu merupakan manusia yang tidak memiliki Kai. Dia sama sekali tidak mengeluarkan aura seperti Kasarewang atau formskitter. “Bukan. Dia manusia.” Setelah bisa berdiri dengan tegak, dia menatap musuhnya baik-baik. “Siapa kau?”
“Namaku Adit.”
“Mana Aster?” tanya Barasa tak sabar.
“Dia sedang tidur di kamar penginapan dan dia tidak akan pulang.” Kata Adit.
“Nggak. Aster akan pulang bersama kami malam ini.” Kata Harsa tegas.
Dahi Adit berkerut. “Hah? Apa kamu nggak tahu kalau Aster nggak nyaman berada di rumah? Apa kamu nggak tahu dia ingin pergi dari rumah sejak dulu?”
Harsa teringat dengan keluarga Aster yang tidak tahu kalau anak itu menghilang. “Aku nggak tahu soal itu, tapi kalau Aster memang pergi dengan keinginannya sendiri, dia nggak akan pergi tanpa kabar. Jadi, kami akan membawanya pulang.”
__ADS_1
“Yah, coba saja. Kita lihat apa kamu bisa mengalahkan aku dan formskitterku.” Katanya dengan tenang. Dia mengangkat tangannya dan physis di sekitar mereka berubah menjadi elemen yang tidak Harsa kenal. Elemen tulang. Dari berbagai sudut mengelilingi mereka, tengkorak-tengkorak hidup muncul mengelilingi Harsa dan Barasa.