Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Kegalauan Harsa


__ADS_3

Gilda tidak masuk ke sekolah keesokan harinya. Teman-teman satu kelas menanyai Harsa akan kabar Gilda. Pascanya, semua orang melihatnya sebagai orang yang paling dekat dengan Gilda. 


"Dia sakit. Kelelahan habis main di Bali kali." Jawab Harsa mencoba terlihat santai. 


Semua teman-temannya menerima alasan itu tanpa banyak tanya. Beberapa anak memang benar-benar sakit karena kelelahan. Namun, sebenarnya Harsa merasa khawatir. Gilda sedang dirawat di rumah sakit di Drestha karena lukanya setelah berhadapan dengan formskitter bertudung hitam itu. Adi tidak menceritakan seberapa parah luka Gilda, tapi Harsa tak bisa mengenyahkan rasa bersalahnya. 


Sebagai ganti dari Gilda, Lisa dan Edi menyelundup masuk ke sekolah sebagai petugas kebersihan sekolah. Mereka telah mendapatkan izin dari kepala sekolah setelah menunjukkan surat izin penyelidikan dari kantor kepolisian. Tak bisa dipungkiri, Harsa merasa selalu tegang dengan keberadaan mereka. Harsa merasa benar-benar berada dalam bahaya. 


Walaupun teman-teman dan guru-guru Harsa dapat menerima penjelasan dari Lisa, Barasa tidak bisa tertipu. 


"Kamu terlibat dalam kasus yang berhubungan dengan sihir, bukan?"


Harsa tidak bisa mengelak. Dia tidak punya alasan untuk menyembunyikan masalahnya dari Barasa. Dia telah berjanji untuk memberi tahu Barasa kalau dia berada dalam bahaya. "Ya."


"Sudah kuduga. Pria yang menyerangmu di Bali itu punya tenaga dalam yang kuat banget soalnya. Lalu, polisi pria yang datang bersamamu itu, dia polisi yang sama yang menyergap kita sewaktu menyelamatkan Aster." Cerita Barasa. Melihat Harsa hanya mengangguk-angguk mengiyakan, Barasa lanjut bertanya. "Jadi Gilda beneran sakit?"


"Beneran, kok. Meski bukan karena kelelahan, sih." Jawab Harsa. "Kakakku nggak ngomong gimana jelasnya kondisi Gilda."


"Pasti baik-baik saja." Kata Barasa yakin. "Pulang dari Bali dia masih kelihatan sehat-sehat saja, kok. Apalagi kalau memikirkan seberapa canggihnya penyembuhan dengan sihir." Kata Barasa mengingat bagaimana Aster menumbuhkan kembali otot-otot Harsa yang telah terputus. 


Harsa mengangguk. Memang, Gilda masih tertawa dan bercanda bersama mereka sepanjang perjalanan pulang. Oleh karena itu, Harsa kaget sekali ketika mendengar dari Adi kalau Gilda dirawat di rumah sakit. 


"Apa? Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya satu suara perempuan dari belakang. 


Tanpa Harsa dan Barasa sadari, Elis menyusul mereka ke kantin. Tanpa menunggu jawab kedua temannya, Elis ikut duduk di meja kantin mereka. Harsa dan Barasa masih diam sangking terkejutnya, sehingga Elis bertanya lagi. 


"Gilda di rumah sakit? Sihir?" Desaknya. "Kalian berdua sedang ngomongin apa sih sebenarnya?"

__ADS_1


"Nggak, cuma game, kok." Kata Harsa buru-buru.


"Game? Rasanya kalian terlalu serius untuk ngomongin game doang." Bantah Elis. "Lalu kalau game, memangnya apa hubungannya sama Gilda?" 


Harsa membenamkan mukanya di dalam tangannya. Dia sudah lelah mencari-cari alasan. Sudah cukup. Katanya dalam hati. Lagipula aku harus memberitahu Elis cepat atau lambat.


"Sa?" Tanya Elis khawatir. Dia mulai takut nama bicaranya terlalu ngegas.


Harsa menatap Elis baik-baik, lalu berkata dengan lantang. "Lis, aku bisa sihir."


Dahi Elis bekerut bingung. "Hah?"


"Aku bisa sihir." Ulang Harsa sekali lagi. "Karena itu, aku bisa menghilang dari bis kemarin ini."


Elis menggeleng, masih tidak mengert.


Mata Elis terbelalak. "Wow!" Lalu dia tertawa terbahak-bahak. "Oohhh!! Maksud kamu sulap?! Haha hebat, Sa. Jadi ini yang kamu pelajari di Klub Sulap?!" 


Harsa mengepalkan tangannya dengan kesal. Dengan satu hentakan dia menghentikan sihirnya. Lalu, tanpa memberi penjelasan, Harsa berdiri dan kembali ke kelas. Dia meninggalkan Elis yang kebingungan dan bertanya-tanya pada Barasa, apa yang salah.


***


Di kelas Harsa merenung sendirian. Dia memikirkan hubungannya dengan Elis. Setelah tiga tahun, Harsa merasa dekat dengan Elis. Meskipun begitu, Harsa tidak lebih dekat dengan Elis dibanding Barasa.


Dia suka Elis karena anak perempuan itu, cantik, pintar, dan walaupun diam-diam, sebenarnya pemberani dan terencana. Lebih lanjut lagi, Harsa merasa senang dan nyaman ketika mengobrol dengan Elis. Hal yang kurang dari hubungan mereka adalah Harsa tidak bisa berbicara tentang Kasarewang, Drestha, maupun formskitter. Apakah dia bisa menyakinkan Elis lagi bahwa ada kenyataan di luar apa yang bisa gadis itu persepsi? Apakah hubungan mereka bisa lebih dari sekadar teman baik?


Di tengah-tengah kegalauan itu, pikiran Harsa terputus karena suara ketukan di pintu kelasnya yang kosongnya melompong. Seorang petugas kebersihan, tidak, Edi, masuk ke ruang kelas. Dia duduk di kursi depan meja Harsa tanpa minta izin. 

__ADS_1


"Kamu sedang memikirkan apa sampai gak bisa mendeteksi keberadaanku lewat auramu? Selagi Gilda tidak ada di sini, kami cuma bisa mengandalkanmu untuk mendeteksi kedatangan formskitter dari jauh."


"Tenang saja, kalau formskitter, aku pasti waspada karena auranya mengerikan. Kalau kamu dan Lisa terasa seperti manusia biasa, soalnya."


"Iya, kami memang manusia biasa, sih. Soalnya."


"Bagaimana kamu bisa merasa manusia biasa kalau kamu bisa sihir? Gimana kamu bisa menjalani kehidupan normal dengan sihir kamu? Gimana kamu menjaga hubungan dengan orang-orang yang tidak mengerti sihir?"


Edi tersenyum diberi pertanyaan bertubi-tubi seperti itu. "Kamu membuatku teringat sama diriku yang masih enam belas tahun. Waktu itu aku mulai bisa merasakan physis. Kalau kamu sadar, aku bertarung dengan menggunakan physis di lingkungan saja, lalu mengubahkan menjadi elemen dengan mantra yang ada dalam senjataku. Beda dengan kamu dan Gilda, aku nggak punya Kai untuk menarik physis dari Dunia Roh. Tapi meskipun begitu, aku cukup pandai menguatkan dan mengumpulkan physis yang ada di lingkungan. Sampai-sampai aku bisa melayang sedikit. Tanpa sengaja, keluargaku melihatnya. Waktu itu aku bertengkar cukup hebat dengan mereka, karena mereka pikir aku mempraktekkan ilmu hitam. Padahal, selidik demi selidik, aku bisa mempersepsi sihir karena kakek dari kakekku, entah berapa jauh, adalah Kasarewang. Orangtuaku sudah nggak tahu lagi apa itu physis dan Kasarewang. Aku sempat berlari ke jalan yang salah untuk memperdalam ilmuku soal sihir. Untunglah Lisa menemukanku dan memasukkanku ke kepolisian sihir. Sampai sekarang, aku masih kesulitan untuk menjelaskan apa yang kukerjakan sekarang. Caraku menjelaskan sihir pada mereka…. Sebenarnya sampai saat ini aku tak menjelaskan apa-apa. Aku beruntung mereka tak banyak tanya. Selama aku baik-baik saja, dan tahu kalau pekerjaanku halal, mereka tidak pernah merecokiku lagi."


Cerita Edi sedikit memberikan Harsa harapan. Mungkin Elis juga bisa sepert itu. Mungkin Elis tidak perlu tahu atau mengerti, tapi selama Elis dapat menerima Harsa sebagai Harsa Wijaya… mungkin akan ada jalan.


"Maaf, kalau aku malah meracau kemana-mana soal diriku tanpa menjawab pertanyaanmu." Kata Edi.


"Nggak! Aku yang makasih malah!" Kata Harsa sembari tersenyum. "Aku sudah nggak terlalu galau lagi jadinya."


"Baguslah. Fokus sam auramu, ya. Telepon aku atau Lisa kalau kamu merasakan formskitter."


Harsa mengangguk. "Soal berjalan ke arah yang salah… maksudmu organisasi yang menggabungkan formskitter dengan manusia?" Tanya Harsa penasaran.


"Pokoknya organisasi manusia yang menggunakan sihir untuk hal-hal yang salah." Kata Edi tak mau mengingat-ingat peristiwa itu lagi. "Tapi yeah, sama buruknya dengan organisasi yang mengincarmu saat ini."


Harsa dapat merasakan determinasi dari Edi untuk menghancurkan organisasi ini. Satu kali lagi dia mengangguk. "Aku akan membantu kamu untuk mengungkap kedok mereka."


"Kita tahu mereka mau menggunakan manusia sebagai tentara untuk berperang melawan manusia. Mereka ingin lebih banyak bereksperimen dengan Dekrit Hidup. Bantu aku untuk menghentikan mereka."


Harsa mengangguk setuju. "Pasti."

__ADS_1


__ADS_2