Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Lomba (2)


__ADS_3

Hari itu, berbeda dari biasanya, Harsa tidak langsung pulang ketika bel tanda pulang berdering dengan kencang. Dia berjalan ke kantin untuk membeli satu botol teh manis yang dapat memberikannya energi sampai sore nanti.


“Harsa!” Namanya di panggil dari daerah tempat duduk kantin. Di salah satu meja yang kosong, Aster duduk sendirian dengan buku pelajaran mahkluk sihir yang tebal. Menyambut panggilan itu, Harsa duduk di seberang Aster. “Kamu belum pulang? Mau belajar bareng gak?”


Harsa melihat buku tebal itu dengan serius sebelum menggeleng pelan. “Nggak bisa. Aku ada janji sama Pak Yono untuk belajar biologi siang ini.”


“Hah? Kok bisa? Kamu dapat nilai jelek? Jadi dihukum pelajaran tambahan gitu?”


“Haha. Nggak, kok. Aku mau ikut lomba cerdas cermat biologi yang diadakan fakultas kedokteran di universtas di Jakarta.”


“Wow, keren banget. Semangat ya!” Dukung Aster. “Aku belajar untuk uas dan ini saja sudah pusing banget.” Kata Aster penuh kekaguman.


Harsa menelan nafas. “Sebenarnya aku pun bingung nanti akan bagaimana.”


Harsa sedang enak-enaknya mengobrol dengan Aster ketika matanya menangkap sosok Elis yang turun dari lantai dua. Di sampingnya Barasa sedang asik mengobrol dengan Elis. Harsa tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi kelihatannya mereka berdua asik sekali mengobrol. Tiba-tiba, hatinya dihujam oleh perasaan galau.


Ah, iya benar juga. Barasa juga sedang suka sama Ellis.


Rasanya fakta itu seperti terlupakan beberapa hari ini. Di waktu itu, Harsa seperti membatu. Meskipun seharusnya dia dapat menimrung di percakapan Barasa dan Elis dengan mudahnya, rasanya seperti ada tembok tak kasat mata yang menghalangi antara dia dan mereka.


Harsa terdiam melihat mereka bersenang-senang. Harsa pikir percakapan dua sahabat lama itu tak akan berhenti hingga Elis berbalik dan menyadari sosok Harsa juga. Elis melambaikan tangan, lalu baik Elis dan Barasa berjalan ke arah meja Harsa.


“Sa!” Sapa Elis ketika sudah berada dekat meja mereka. “Udah siap belum?”


“Siap, kok.” Katanya sambil menunjukkan botol teh manis besar yang baru saja dia beli. “Aku duluan ya, Ter.”


“Iya, semangat ya!” Kata Aster.


“Aku juga pulang duluan, ya. Nanti sore mau latihan bareng sama kakek.” Kata Baras, yang sudah siap dengan helmnya.


Setelah Barasa pulang ke rumah, Elis dan Harsa berjalan ke ruang laboratorium biologi sekolah mereka. Harsa tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya, “Tadi ngomong apa sama Barsa? Kayaknya seru banget.” Harsa berusaha agar dia tidak terdengar cemburu. Apa haknya untuk cemburu?


“Eh? Kita ngomongin film superhero yang baru keluar kok. Pengen nonton, tapi nggak akan sempet. Memangnya kenapa?”

__ADS_1


“Nggak. Penasaran aja.” Kata Harsa, berusaha keras untuk tidak salah tingkah.


Pak Yono, guru pelajaran biologi mereka yang punya kumis seperti mario bros, sudah menunggu kedatangan Gina, Elis, dan Harsa di laboratorium sekolah mereka di lantai empat. Mereka disambut oleh tiga buah modul yang tebalnya sudah lebih dari sepuluh centimeter. Elis duduk di salah satu meja laboratorium mereka. Dia duduk di antara Harsa dan Gina.


“Apa kalian sudah siap?” tanya Pak Yono tanpa senyuman yang dapat memberikan semangat.


“Siap, Pak.” Hanya Gina yang menyambut dengan semangat. Harsa memaksakan senyuman, sebelum akhirnya hatinya mengeluh karena mendapatkan banyak sekali bahan pelajaran dari Pak Yono.


Ketiga tumpukan modul tersebut merupakan rangkuman pelajaran biologi dari kelas satu hingga tiga.


“Pak, ini harus dihafal semua?” tanya Harsa tidak percaya.


“Ya. Ini sudah bagus dibuatkan modul oleh kakak kelas kalian.” Jawab Pak Yono. “Nanti bagi tiga saja. Biar belajarnya gak berat. Tenang, kalian masih punya waktu dua bulan kok untuk menghafal sebelum selesai lomba.”


“Dua bulan… Belajar ini…” Harsa teringat materi pelajaran mahkluk sihirnya. Bila dicampurkan dengan ini, entah akan jadi jus apa otaknya.


“Bisa, lah. Kalian kan pintar-pintar.” Kata Pak Yono. Setelah berkata begitu, dia meninggalkan mereka sendirian di laboratorium komputer.


“Aku ambil bahan kelas satu!” Putus Gina langsung. “Tolong yaa, aku nggak sanggup juga kalau harus menghafal bahan-bahan baru.”


“Makasih, Lis. Maaf ya, aku juga nggak nyanggup belajar materi baru.” Kata Harsa sambil mengambil modul untuk kelas dua. Dalam hatinya dia menangis keras.


Dua jam waktu belajar terasa seperti satu abad ketika mereka bertiga membaca dan menghafal isi modul dalam diam.


“Rasanya satu abad belajar ini pun nggak akan selesai.” Kata Harsa setelah dua jam berlalu.


“Sudah, yuk.” Kata Gina. “Pusing pala berbie. Lanjut besok aja. Sudah jam lima.”


Anak-anak yang sudah mabuk pelajaran itu semuanya setuju. Harsa sudah akan meminta untuk dijemput ketika Elis menepuk bahu Harsa.


“Kamu mau lanjut, gak? Di rumahku.”


“Lanjut?” Otak Harsa sudah sampai dua watt, tapi begitu dia melihat wajah dan ekspresi Elis, otaknya seperti direfresh lagi. “Hayu.” Katanya sambil mengangguk-angguk bersemangat. Jadilah mereka naik taksi daring ke rumah Elis.

__ADS_1


Rumah Elis tak berbeda jauh dengan Harsa. Rumah kompleks dengan teras kecil di luar rumah. Kedua orangtua Elis berada di rumah. Namun, mereka tidak banyak mengobrol dengan Harsa. Mereka berdua ‘belajar’ berduaan di ruang tamu. Meskipun berniat ‘belajar’, mereka berdua malah mengobrol seru. Mungkin karena sebenarnya kedua otak mereka sudah penuh dengan istilah-istilah bahasa latin.


“Jadi ibumu bilang buku kedokteran ini akan diwariskan ke kamu nanti?” Tanyanya tak percaya. Di tangan Harsa ada sebuah buku kuliah tebal hardcover, yang kertasnya terbuat dari bukan sembarang kertas. “Aku baru dengar ada orangtua yang mau mewariskan buku pelajaran.” Tambah Harsa sambil tertawa puas.


“Iya, tuh. Sangking niatnya mereka ingin aku masuk kedokteran. Katanya buku itu mahal loh. Beli di luar negeri dan bagus banget, tapi kalau isinya sudah jadul sama saja nggak kepakai nggak sih?”


“Iya. Benar sih. Kamu pasti tetap harus beli buku lagi nanti. Nggak akan kepakai kalau sudah terlalu lama.” Kata Harsa setuju.


Elis menghela nafas panjang.  “Hah, iya.”


Harsa langsung teringat kalau Elis sama sekali tak ingin menjadi dokter. “Tapi mama kamu pengertian ya, dia sama sekali nggak menuntutmu macam-macam.”


“Haha, iya. Dia lebih nggak terlalu berharap padaku sih.” Mungkin karena tahu aku setengah Kasarewang, dia tidak masalah kalau aku tidak berniat bekerja di dunia manusia…


“Kamu enak juga punya saudara. Karena aku anak satu-satunya, orangtuaku mengharapkan aku memenuhi mimpi-mimpi mereka.” Bisik Elis dengan kesal.


“Tapi kamu niat juga sampai mau mengikuti lomba ini.”


“Aku niat karena uangnya tahu.” Kata Elis tertawa. “Untunglah mereka nggak menghentikan les pianoku sih. Dulu aja, mereka selalu maksa aku les piano. Sekarang waktu aku sudah suka sama dunia musik, disuruh jadi dokter.”


“Haha.” Harsa tidak bisa memahami keluhan Elis. Dia hanya bisa mendukung temannya itu. “Semangat yah. Semoga mereka bisa terbujuk untuk paham.”


“Aku sudah lumayan menyerah. Eh, tapi kamu sendiri gimana, Sa? Apa kamu sudah terpikir menjadi apa?”


Harsa menghela nafas dan menggeleng. “Belum.” Aku bahkan bingung mau lanjut kuliah atau nggak karena tertarik untuk belajar sihir di kota Drestha seperti Aster… Dia tidak bisa mengungkapkan pikirannya.


“Nggak apa-apa, kamu pikirkan saja dulu pelan-pelan.”


Harsa sudah mendengar kata-kata itu ratusan kali dari ratusan orang, tapi rasanya tidak membantunya menjawab pertanyaan-pertanyaannya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2