Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Manusia vs Kasarewang


__ADS_3

Adi membawa mereka sebuah gedung berbentuk kotak yang berwarna putih marmer di sebelah kiri alun-alun Kota Drestha. Dari jauh, dia sudah melihat antrian anak-anak Kasarewang di luar gedung itu. Anak-anak dengan rambut warna-warni itu datang berbodong-bondong. Satu orang instruktur dewasa mengawasi sekitar dua puluh anak Kasarewang. Setiap anak-anak Kasarewang itu, memakai baju bebas, namun di lengan kanan mereka terikat satu pita berwarna merah, kuning, dan lain-lain. Di pita itu, terdapat satu simbol yang berbeda-beda di setiap warna. Tanpa Harus dijelaskan, Harsa menyadari bahwa anak-anak itu merupakan murid-murid sekolah. Dia dapat menebak terutama dari bagaimana anak-anak itu memanggil instruktur mereka sebagai ‘guru’.


“Kak, kita nggak perlu punya kualifikasi apa pun kan?” tanya Harsa mulai khawatir.


“Tidak.” Adi menggeleng. “Semua orang boleh ikut ujian ini, kok.”


Harsa memperhatikan anak-anak Kasarewang itu baik-baik. Ini pertama kalinya dia melihat begitu banyak Kasarewang di satu tempat. Jika dibandingkan dengan gedung arsip di kotanya, gedung kementrian Kasarewang itu tidak mengagumkan sama sekali. Bahkan, tampaknya tidak cuukup untuk memuat seluruh anak yang mendaftar hari ini. Kira-kira ada puluhan anak yang mengantri depan gedung pemerintahan itu.


“Wow. Pendartaran ini, semuanya offline?” tanya Aster melihat antrian yang panjang.


“Offline?” Adi berbalik bertanya dengan raut muka bingung.


“Luar jaringan.” Kata Harsa menjelaskan. “Kak Adi nggak paham bahasa Inggris.”


Adi tetap menggeleng. “Aku tetap tidak mengerti.”


“Maksudnya, Kak. Daftar Pakai internet, pakai komputer, atau hp.” Harsa lanjut menjelaskan, namun Adi tetap melihatnya dengan bingung. Dia menggeleng-gelengkan kepala. “Yah, aku sudah baca di kamus apa itu internet, tapi aku tetap tak paham. Bagaimana kamu bisa menulis di layer kaca itu tanpa sihir saja aku tak paham.”


Harsa kehabisan kata-kata. “Kalau disuruh jelaskan teknisnya sih, aku  juga… Uh. Pemograman sih kak.”


Adi menggeleng-geleng kepala. “Kalau bisa kujelaskan, kalian pasti mengubah elemen listrik jadi elemen cahaya, kan?”


“Ya. Kurang lebih seperti itu.” Saat itu Harsa baru sadar, manipulasi physis mungkin terlihat seperti sihir, tapi untuk Kasarewang, kehidupan sehari-hari manusia juga pasti membingungkan setengah mati.


Mereka mulai masuk ke gedung kementrian setelah jam makan siang berlalu. Harsa mulai sadar bahwa mereka tidak akan dapat istirahat karena Kasarewang tidak berhenti untuk makan siang. Mereka bekerja sembari konstan dalam hal menyerap physis. Untunglah proses antrian itu tidak terlalu lama karena ada beberapa konter yang melayani aplikasi.


“Seharusnya anak-anak yang satu sekolah didaftarkan oleh guru mereka saja.” Komentar Harsa melihat bertapa tidak efesiennya proses pendaftaran itu.


“Yah, tapi di sini kalian juga harus diambil satu persatu physisnya untuk pembuatan cap kewarganegaraan itu.” Kata Adi.


Adi tidak bisa menjawab pertanyaan itu. “Mungkin… demi keamanan? Lagipula ini cuma satu hari. Anak-anak Kasarewang juga senang karena tak perlu belajar.”


Ohh.. Di situ masalahnya… Pikir Harsa. “’Iya, benar juga. Kasarewang punya ‘selamanya’.”


Butuh waktu untuk Adi paham apa maksud Harsa.


Sekarang, setelah mereka menemukan kunci untuk meningkatkan kemampuan pendengaran mereka, Harsa dapat mendengar apa yang orang-orang bicarakan di sekitarnya. Tak jauh dari tempat mereka mengantri, beberapa anak Kasarewang sedang mengobrol di antara mereka.


“Aku merasa heran banget sama sistem ujian kayak gini. Kenapa bagian praktek kita harus kerja sama? Gimana kalau aku satu kelompok ujian sama anak yang gak kompeten dan lemah?” tanya seorang salah satu dari mereka. “Kalau dapat sama teman-teman sendiri sih oke, tapi kalau sama yang gak dikenal? Terus mereka ngeberatin?”


“Yah, semoga saja itu nggak terjadi.” Tanggap anak lain. “Memang mengkhawatirkan sih.”

__ADS_1


“Lihat, tuh di bagian belakang. Anak-anak yang gak punya pita. Mereka berarti gak sekolah kan? Dari mereka, aku tak merasakan  physis. Terutama yang perempuan. Apa mereka cacat?”


Cacat? Harsa berkerut dan melihat Aster dengan wajah tak enak. Dia teringat ayahnya sendiri, yang tidak bisa membuka Kai lagi karena vasalnya hancur. Dia baru menyadari, bagi Kasarewang, orang-orang yang tidak bisa sihir pasti dianggap cacat. Apalagi banyak sistem dari masyarakat Kasarwang yang membutuhkan physis. Seperti kegiatan sederhana seperti membuka pintu apartemen. DI tambah lagi, respon dari teman-temannya cukup mengerikan. Mereka malah tertawa mengejek.


“Mereka aneh banget loh. Cara bicaranya juga lucu. Datar banget.” Tambah yang lain.


“Hei! Mereka dapat dengar pembiacaran kalian, tahu.” Tegur guru mereka. “Mereka bukan aneh, mereka manusia. Aku bisa tahu dari satu kali lihat.”


“Apa? Apa yang manusia lakukan di sini?” Kata salah satu anak lain terkejut. “Apa mereka mau menculik Kasarewang lagi?”


Suara anak yang keras itu terdengar hingga ke seluruh isi ruangan. Anak-anak lain mulai memperhatikan Harsa dan Aster. Suasana dalam ruang itu mulai tidak enak.


“Bodoh, kamu terlalu paranoid. Ada gurumu di sini, kamu nggak akan kenapa-napa. Lagian dia sendirian.”


Perkataan guru itu membuat suasana ruangan menjadi lebih tenang, namun Harsa tetap merasa terluka. Perkataan guru itu seolah-olah membenarkan asumsi bahwa Aster berniat tidak baik. Harsa melihat wajah temannya yang berubah dari bersemangat, menjadi lelah, kaget, dan akhirnya pucat. Dia lalu berpaling pada Adi yang sudah akan memberi tahunya kata-kata yang sama seperti dulu.


“Tidak, tidak semua Kasarewang seperti itu.”


“Aku tahu, Kak Adi dan papa nggak seperti itu.” Jawab Harsa langsung. “Kamu nggak apa-apa, Ter?” tanya Harsa khawatir. Dari tadi Aster belum mengatakan satu patah kata pun.


“Hmm, ya. Kurasa.” Dia terdiam sebentar. “Yah, mungkin ini pertama kalinya aku merasa ragu untuk belajar sihir.” Akunya. “Tapi sudah sejauh ini. Aku tidak bisa mundur. Tapi aku mengerti darimana pemikiran itu muncul. Maksduku, orang-orang seperti Adit itu nyata bukan? Aku juga merasa tidak enak padamu mendengar kata-kkata Adit waktu itu.”


Harsa pikir itulah akhir dari rasa tidak enak ketika mereka mendaftar ujian standarisasi, tapi semuanya jadi lebih buruk kettiika diia sampai di salah satu konter.


Harsa mengeluarkan pena untuk mulai mengisi formulir yang harus dia isi, namun si petugas menghentikannya. “Apa itu?!”


“Eh, pena?”


“Maaf, boleh aku saja yang isi.” Tanya Adi. Dia melihat Harsa dengan tatapan minta maaf, “Sorry aku nggak kepikiran akan ada masalah seperti ini.”


“Masalah apa?” tanya Harsa.


Adi mengambil satu balok kaca kecil yang bercampur dengan pahatan kayu dari meja konter. “Aku lupa menjelaskan padamu, Kasareang menulis pakai ini. Uhh, padanan namanya mungkin… Pembakar kata? Intinya, kita masukan ke sini physis dengan bentuk kata yang mau ditulis, dan di ujung kacanya akan memanas sesuai dengan keinginan kita. Biasanya Kasarewang belajar membentuk kata dengan physis di Pembakar Kata di sekolah, jadi aku tidak mengajarimu.”


Adi terus menjelaskan sambil mencontohkan. Di ujung kota kaca itu, kacanya memanas hingga menyala terang, sebelum Adi mencapkan balok itu ke kertas, membakar kertas itu dengan bentuk nama ‘Harsa’ dalam bahasa Kasarewang. Sementara itu, Harsa melihat orang-orang lain, mereka semua mengisi dokumen dengan cap-cap itu.


“Kenapa aku nggak bisa mengisi dengan pena saja?” tanya Harsa merasa malu karena dia harus dibantu untuk mengisi form sementara anak-anak yang lain tidak. Adi sedang bicara dengannya dalam bahasa Kasarewang, jadi dia membalas dengan bahasa Kasarewang.


“Karena itu tinta, bodoh. Tinta digunakan hanya untuk melegalkan dokumen saja dengan cap kewarganegaraanmu.” Kata petugas itu dengan tak ramah.


Harsa merasa frustasi. Dia tidak bodoh, dia hanya tidak tahu semua itu. Lagipula, tinta dalam penanya tidak ada physis ataupun mantranya. Berbeda dengan cap kewarganegaraan yang bisa menyimpan physis, tinta dalam penanya tidak akan bisa dipakai untuk melacaknya.

__ADS_1


“Ingat, nanti kalau ujian tertulis beneran, nggak boleh dibantu lho.”


“Ya.” Jawab Harsa. Itu artinya aku harus belajar pakai pembakar kata itu di tambah semua pelajaran lain.


Setelah mengisi formulir yang menanyakan nama, orangtua, dekritnya, dan umurnya, Harsa diminta menaruh physisnya pada satu batu akik khusus yang akan menjadi cara untuk mengidentifikasikan dirinya nanti. Baik pada saat ujian ataupun untuk membuat capnya.


Setelah giliran Harsa, Adi membantu Aster mengisi formulir. Namun, si petugas itu menghentikan Adi. “Dia manusia, bukan?”


“Ya.”


“Apa kamu gila? Kamu mau manusia ini jadi warga Drestha?.” Lanjut petugas itu.


Dahi Adi berkerut. “Apa masalahnya? Bukankah ada kasus dimana manusia tinggal di Drestha sebelumnya?”


“Tapi mereka gak punya kewarganegaraan kita! Mereka hanya penduduk saja! Dia akan berperan dalam pemilihan kebijakan kita kalau dia sampai lulus ujian ini!” Kata petugas itu jengkel. “Mereka orang asing! Bagaimana kalau ada yang sudah barsatu dengan formskitter dan berperan sebagai mata-mata?”


“Tolonglah, aku jamin sembilan puluh sembilan persen dari populasi manusia nggak tahu apa itu formskitter dan Kasarewang.” Kata Harsa putus asa.


“Lalu apa? Tak ada aturan yang tidak membolehkannya untuk ikut ujian ini’kan?!” Nada bicara  Adi sudah meninggi.


Dengan terpaksa si petugas itu menerima formulir Aster. Setelah itu mereka bertiga kembali ke rumah dengan mood yang buruk. Berbeda dari Adi dan Harsa yang kesal, Aster nampaknya hanya cemas dan takut.


“Benarkah tidak apa-apa aku ikut ujian ini?” tanya Aster sebelum memanggil ojek online untuk pulang ke rumahnya.


“Tidak masalah. Kalau memang terlalu banyak Kasarewang yang khawatir dengan manusia, regulasi ujian ini sudah diganti dari jaman kapan. Aku tahu beberapa Kasarewang yang justru tertarik dengan manusia.” Kata Adi menenangkan.


“Iya, termasuk kakak’kan?” Goda Harsa dengan maksud tersembunyi.


Adi menghela nafas. “Terserah.”


Akhirnya Harsa tertawa dan mencairkan suasana hati mereka, meski Aster tak paham kenapa Harsa tertawa.


“Gimana nih, soal pembakar kata itu.” Kata Aster khawatir.


“Aku akan segera belikan untuk kalian berlatih.” Janji Adi. “Jangan panik. Melihat seberapa cepat kamu menguasai sihir, pasti mudah saja untuk kamu menggunakan alat itu.”


Aster menggangguk. “Makasih, Di.”


“Fokus saja pada ujian kalian.” Nasihat Adi. “Terutama kamu Harsa.”


Harsa menghela nafas. “Ya, aku tahu.”

__ADS_1


__ADS_2