Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Study Tour (5)


__ADS_3

Harsa mendarat tepat di depan formskitter berjubah hitam itu. Hawa berat dari aura formskitter itu menekan Harsa jauh lebih berat dari yang dia pikirkan. Lengannya yang terluka baru terasa kaku sekarang. Seluruh kenangan mengerikan akan bagaimana dia tak berdaya di bawah tatapan formskitter satu itu. Dia jadi teringat lagi kepanikan dan keputusasaan ketika dirinya menjadi kelinci percobaan. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya selagi mereka bertatapan. Dada Harsa berdegap kencang. Dia tak mau mengakuinya, tapi Harsa takut.


Nggak, kalau kak Adi, pasti nggak akan ketakutkan seperti ini. Batin Harsa dalam hati.


Acara saling tatap yang hanya berlangsung beberapa detik itu seolah seperti satu abad. Formskitter itu memperhatikan Harsa baik-baik, namun entah apa yang ada dalam pikirannya. Sementara itu, Harsa mengumpulkan keberaniannya.


Bergerak, Sa!!! Perintahnya pada dirinya sendiri.


Harsa mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bergerak maju ke depan. Namun, ketika dia satu langkah dari Harsa, si Formskitter mengangkat rekan manusianya di bawah akar-akar raksasa itu. Dia memisahkan akar formskitter dan tubuh manusia itu. Kemudian pohon besar itu hancur menjadi debu. Lalu, dia pergi secepat dia datang, dengan membawa temannya.


“Heiii!!! Kembali!!!” Teriak Harsa.


“Sa! Jangan dikejar!!” Teriak Gilda terengah-engah. Dia baru saja berdiri dan sampai ke tempat Harsa. Wajahnya putih pucat dan suaranya serak. Dia tidak terlihat baik walaupun dia tidak terluka secara fisik. “Kita harus panggil back-up untuk benar-benar menghabisinya.”


“Apa kamu nggak apa-apa?” tanya Harsa khawatir.


Gilda menggeleng. “Nggak, kondisiku buruk.”


Harsa jadi panik. “Apa? Apa yang harus aku lakukan untuk bantu?!”


Gilda duduk dan menggelengkan kepala. “Biarkan aku duduk sebentar.”


Tak lama, Edi dan Lisa datang juga ke tempat mereka. Mereka tampak berantakan, namun tak terluka. Belalang sembah yang menyerang mereka ikut menjadi abu ketika formskitter itu menarik kawannya pergi.


“Apa yang terjadi? Kenapa formskiter itu mundur?”


Harsa menggeleng-gelengkan kepala. “Mungkin karena Gilda sudah akan menghancurkan inti formskitter. Dia pergi untuk menyelamatkan temannya.”


Gilda menggeleng-geleng. “Formskitter tidak seperti itu.”


“Apapun alasannya aku lega mereka mundur.” Kata Edi sepenuh hati.


“Kamu gimana, Gilda? Sudah baikan belum?” tanya Harsa, ikut berjongkok.

__ADS_1


“Aku bahkan gak berani cek.” Meski Gilda berkata seperti itu, dia kembali berdiri. “Tapi kita harus bicarakan formskitter tadi. Entah bagaimana dia berhasil melewati deteksi auraku. Apa kamu tidak merasakan apa-apa, Sa?”


“Aku lagi tidur.” Kata Harsa jujur.


“Mungkin kamu ketiduran tadi juga.” Tanggap Lisa tanpa banyak pikiran.


“Hah? Nggak. Aku tetap bisa mendeteksi formskitter walaupun aku ketiduran. Berapa lama kamu pikir aku bekerja di benteng tak terlihat Drestha?”


Harsa teringat sesuatu, tapi dia memutuskan untuk tidak mengatakannya. “Sudahlah. Ayo kita kembali ke Dunia Material. Kamu butuh istirahat.” Katanya pada Gilda. “Dan teman-teman juga di sana pasti panik setengah mati.”


“Yah, ayo. Berdiri di sini saja sudah membuatku lelah.” Kata Lisa menyarungkan palunya kembali.


***


Barasa kehilangan kata-kata ketika Harsa dan pria asing itu menghilang dari pengelihatan. Apa dia bermimpi? Apa dia berhalusinasi? Tapi, rasa sakit di pipinya akibat tonjokan keras dari pria itu masih berdenyut keras. Dinding yang retak karena terkena dampak pukulannya juga nyata. Harsa melakukan sesuatu dengan sihirnya lagi, dan itu nyata.


Dada Barasa masih berdetak kencang. Bertarung dengan pria tadi tak seperti bertarung dengan teman-teman sesama ahli bela diri. Pukulan dengan tenaga dalamnya bahkan tidak berpengaruh. Pukulan pria itu keras sekali dan terasa sangat sakit. Adrenalinnya masih belum turun ketika suara langkah kaki terdengar dari luar hotel.


“Heii! Barasa!” Panggil teman satu kamar Barasa yang datang dengan membawa guru-guru laki-laki. Dia menyalakan lampu.


“Barasa hidung kamu berdarah!”


Barasa mengelap darah yang mengalir keluar dari lubang hidungnya. “Woahh.”


Wajah guru mereka berubah pucat ketika melihat dinding hotel yang rusak. “Kamu tahu kamu harus bertanggung jawab sendiri untuk kerusakkan seperti ini?!”


“Apa?! Tapi aku nggak sengaja! Aku nggak akan merusak apa-apa kalau nggak ada penyelundup yang mencekik Harsa waktu tidur!”


“Yang serius kalian?!”


“Serius, pak! Aku baru pulang mau masuk kamar, lalu lihat Harsa lagi dicekik sama pria yang nggak dikenal.”


“Aku bangun dan melihat hal yang sama juga. Dinding itu retak pas aku lagi membela diri dari si penyelundup itu.” Tambah Barasa.

__ADS_1


“Kalau gitu dimana Harsa dan penyelundup itu? Aku nggak melihat mereka dimana-mana! Kalian berdua yakin nggak berhalusinasi? Terus kamu juga harusnya kembali ke kamar lebih awal! Jam dua belas malam itu keterlaluan!”


“Nggak tahu… tadi Harsa masih ada pas aku pergi panggil guru…”


“Harsa tadi pergi dengan pria itu… keluar…” Kata Barasa kehilangan kata-kata.


Guru mereka menahan seluruh selnya untuk tidak mengumpat dan mengambil telepon gengamnya dari kantong celananya. “Aku beneran panggil polisi ya! Awas saja kalau kalian hanya nge prank!”


“Nggak perlu.” Kata seorang wanita dengan tegas. “Polisi sudah di sini.”


Satu orang wanita yang rambut hitamnya diikat ke belakang masuk ke kamar Harsa yang pintunya masih terbuka lebar. Dia berjalan dengan tegap. Di ikat pinggangnya, sebuah palu malah tersandang di sana menggantikan pistol. Harsa Wijaya, dengan baju tidur compang-camping mengikutinya dari belakang.


“Harsa!!!” Barasa langsung dipenuhi kelegaan. Dia lari dan memeluk sahabatnya itu. “Kamu nggak apa-apa?”


“Iya.” Kata Harsa dengan senyuman sambil memberikan jempolnya. “Kamu sendiri berdarah.”


“Hahaha! Sudah lama aku nggak dipukul sekeras itu.” Kata Barasa yang masih dipenuhi adrenalin.


“Siapa kamu?!” tanya guru mereka.


Sambil mengeluarkan lencanya, Lisa menjawab. “Saya polisi. Saya akan coba jelaskan semuanya. Sebelum itu anak-anak itu harus diobati terlebih dulu.”


Pada akhirnya, Harsa berhasil lolos dari cakaran penasaran guru-guru dengan bantuan dari Lisa. Mereka membuat cerita, yang tak salah juga. Cerita bahwa Harsa sedang diincar dan akan diculik oleh sindikat kejahatan tertentu karena dia menjadi saksi mata. Sekarang, Harsa berada dalam perlindungan saksi mata, tapi tidak memberitahu pihak sekolah karena tidak ingin mengganggu kehidupan Harsa, yang sebenarnya hanya sekadar omong kosong belaka. Namun, dengan cerita dan lencana original, mereka berhasil menyembunyikan fakta soal sihir dan formskitter.


Sayang sekali, kisah selalu menjadi rumor ketika sampai ke telinga orang banyak. Meninjau reputasi Harsa di sekolah yang sudah dicap sebagai berandalan, orang-orang mengira Harsa main-main dengan anggota geng motor sampai-sampai diincar oleh sindikat geng motor. Harsa tertawa saja mendengar rumor seperti itu, tapi Elis menatapnya tanpa memberikan celah.


“Apa kamu benar-benar baik-baik saja?” tanyanya khawatir saat mereka sudah kembali sampai di sekolah.


“Ini cuma luka goresan saja kok.” Katanya sambil menekan perban di kakinya. “Nggak sakit.”


“Apa ini yang kemarin kamu bilang kamu nggak bisa cerita? Karena dilarang polisi.”


Harsa menatap Elis dengan rasa bersyukur. “Ya, bener.” Kata Harsa secepat mungkin.

__ADS_1


Elis masih melihatnya ragu. “Kamu harusnya cerita saja, walaupun nggak detail. Jadi kami gak kaget.”


“Iya, maaf. Lain kali aku akan cerita.” Kata Harsa ringan. Dia lega karena mereka akhirnya bisa pulang dengan selamat.


__ADS_2