Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Masa Orientasi Sekolah (1)


__ADS_3

Pagi itu, Harsa kembali teringat mimpi buruknya ketika berumur delapan tahun. Mimpi buruk yang memancing sihirnya meledak-ledak hingga membakar seluruh ruang kamarnya. Dia tak ingat keseluruhan isi mimpi itu, namun ada satu bagian yang tak bisa dia lupakan.


Harsa berdiri di sebuah lorong terang benderang. Dinding kanan-kirinya terbuat dari marmer putih polos, tanpa sedikit pun cela, ataupun garis potongan. Lebar lorong itu begitu sempit, hanya mengizinkannya bergerak beberapa langkah ke samping, namun tingginya bahkan melebihi sepuluh meter. Tanpa pikir panjang, Harsa melangkah ke depan. Tak jauh, dia sampai pada satu tirai yang terbuat dari kain jala yang menghalanginya untuk terus maju. Tirai itu juga berwarna putih dan di tengah-tengahnya terdapat satu corak warna merah. Atau... Dari pada corak, gambar itu lebih dapat disebut sebagai simbol? Garis-garis merah hingga kuning yang meliak-liuk dalam satu buah lingkaran meningatkannya pada api yang mengamuk.


Pikiran Harsa masih kosong ketika dia menaruh telapak tangan di tirai itu. Tak disangka, tubuh Harsa dapat menembus tirai itu. Tubuhnya yang sudah melewati tirai itu menjadi tembus pandang. Penasaran dengan apa yang ada di ujung lorong, Harsa berjalan melewati tirai itu.


Jauh di depan, terdapat sebuah gerbang besar yang berupa pintu geser. Pada daun pintu itu, enam jendela pivot yang saling berjejeran. Seluruh gerbang itu juga terbuat dari marmer putih. Dari mulai gagang, kusen, dan engsel pintu. Tanpa ada obyek lain di lorong tersebut, secara otomatis Harsa tertarik menyelediki gerbang megah itu. Dengan sekali pegang, Harsa mengetahui bahwa baik gerbang itu maupun jendela yang ada di daun pintunya tidak terkunci. Dia membuka jendela pivot itu, dan seperti ada tenaga besar yang mengalir dari apapun yang ada di balik gerbang itu. Penasaran, Harsa pergi ke pinggir gerbang itu, untuk membuka pintu geser itu. Kontras penampilannya yang megah, gerbang itu ringan sekali. Tangan Harsa kecil dapat membuka gerbang tersebut dengan satu kali dorong.


Akan tetapi, tangan Harsa langsung kaku ketika tangannya sudah memegang gagang gerbang itu. Harsa masih memiliki kontrol penuh akan seluruh tubuhnya, namun rasa takut dan tegang meliputinya. Seolah akan terjadi sesuatu yang signifikan jika dia membuka gerbang itu.


Ini hanya mimpi kan? Pikir Harsa, tapi bagaimana dia tahu kalau mimpi ini hanyalah mimpi? Di mana sebenarnya letak lorong ini? Apa yang ada di balik gerbang ini?


Ketika ketidaktahuannya mulai menguasai Harsa, rasa cemasnya berubah menjadi ketakutan. Semakin lama, tenaga yang keluar dari jendela pivotnya yang terbuka semakin besar. Harsa mencoba menutup kembali jendela piviot itu, namun sia-sia. Tenaga itu mendorong Harsa hingga kembali ke balik tirai jala, lalu Harsa membuka mata. Bangun dari mimpi itu, dia menemukan tubuhnya terbakar oleh api yang dia hasilkan sendiri, begitu juga dengan seisi kamarnya. Dia sama sekali tak merasakan panas, namun kulit di dada dan tangan Harsa sudah merasakan sakit akibat luka bakar.


“Arghh!!” Teriak Harsa kesakitan. Ayahnya buru-buru datang menghampiri Harsa. Dagunya jatuh melihat kekacauan di kamar Harsa. “Pa!! Tolong, tolong!!!!”


Erik bersegera memakai sebuah cincin batu akik yang selama ini disimpannya di lemari dokumen penting untuk hal darurat seperti ini. Dengan cincin itu, dia bisa kembali menggunakan sihir untuk sementara. Dia mengumpulkan seluruh api dalam kamar Harsa, juga yang ada pada badan Harsa, sebelum pada akhirnya memadamkannya.


Sejak kejadiian itu, selain luka bakar yang dideritanya, Harsa juga demam tinggi. Terkadang, api sihir kembali meledak dari tubuhnya tanpa dapat dikontrol oleh Harsa. Erik harus mengambil cuti selama satu minggu penuh untuk mengawasi anak bungsunya. Darma yang tidak bisa sihir, tidak akan mampu memadamkan semburan api di tubuh Harsa. Beberapa hari kemudian, sesuai dengan permintaan Erik, Adi datang ke rumah untuk menyerahkan sebuah pita yang bertuliskan mantra dalam bahasa Kasarewang. Dengan pita tersebut dan sihir yang tersisa dari cincin Erik, dia menyeggel Kai Harsa. Begitulah insiden itu terhenti.


Pagi ini, tujuh tahun kemudian, seluruh insiden itu terulang dalam kepala Harsa hanya dalam sekian detik. Penyebabnya adalah bocornya energi sihir dari segel yang mengunci Kai dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Alis Harsa menekuk, dan dia menelan ludah. Seminggu lalu, di Pangandaran, untuk pertama kalinya dia menggunakan sihirnya setelah sekian lama. Sejak saat itu, Harsa semakin khawatir dengan jumlah energi sihir yang bocor setiap harinya. Berbeda dengan dahulu, dia bisa meledakan energi sihir itu sekarang, tapi kapan dan dimana waktunya…. Sungguh sebuah tantangan.

__ADS_1


Belum sempat menemukan jawaban, pintu kamar Harsa terbuka lebar. Darma, masih dengan rambut acak-acakan dan daster khas ibu-ibu berteriak tanapa ampun. “Sa!! Sa!! Bangun!! Sudah jam setengah lima subuh!! Bangun!!”


“Wahh!! Iya, Ma!! Aku sudah bangun ini!”


“Cepat siap-siap! Nanti telat!” Teriak Darma lagi, kali  ini keluar kamar Harsa, memberikannya ruang untuk bersiap-siap. “Masa hari pertama telat?”


“Iya, Ma! Segera kok!” Bibir Harsa kembali membentuk senyum mengingat hari ini adalah hari pertamanya kelas. Dadanya berdetak kencang, baik karena semangat dan tegang. Atas berbagai macam pertimbangan, seperti kualitas pendidikan, jarak tempuh dari rumah, Harsa memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA di tempat yang berbeda dari pada kebanyakan teman-teman SMPnya. Singkatnya, Harsa tidak akan mengenal siapapun di sekolahnya yang baru.


Hari ini adalah hari pertama dari dua hari MOS diberlangsungkan. Sekolah baru, teman baru. Hanya itulah yang terpikirkan oleh Harsa. Jika biasanya murid-murid membenci MOS, Harsa menyambutnya sebagai kesempatan untuk berkenalan dengan banyak orang. Pikiran akan berkenalan dengan berbagai macam orang membuatnya bersemangat.


Kurang dari kurun waktu dua puluh menit, Harsa sudah berada dalam mobil bersama Erik yang masih terkantuk-kantuk. Khusus hari ini, dia berangkat lebih pagi ke kantor supaya dapat mengantarkan Harsa mengikuti MOS. Berkat jalan yang kosong, mereka sampai ke sekolah lebih awal dari yang seharusnya. Oleh karena itu, Erik menahan Harsa untuk tidak bersegera turun dari mobil.


“Sa. Ngobrol sebentar.” Kata Erik menahan Harsa dengan memegang bahunya.


“Hati-hati ya dengan sihirmu. Jangan sampai kelepasan.” Kata-kata Erik langsung menyasar kekhawatiran Harsa.


“Iya. Aku juga nggak mau membakar seisi sekolah, kok.” Ujar Harsa serius.


Erik melihatnya dengan tatapan heran. “Ya, itu juga, tapi bukan. Maksudku, jangan sampai sihirmu terlihat oleh teman-teman.”


Harsa tidak pernah terpikir hal itu sebelumnya, karena segel di vasalnya, Harsa tak punya ruang untuk mengeluarkan sihirnya. “Eh, kenapa?”

__ADS_1


“Banyak komplikasinya. Pertama, kebanyakan manusia menganggap sihir, terutama Kasarewang itu cuma dongeng. Susah untuk manusia menerima keberadaan Kasarewang di tengah-tengah mereka. Kamu mungkin akan diminita menjelaskan sihirmu dengan hal-hal lain seperti trik, atau apalah dan menurut pengalamanku, itu merepotkan. Kasus seperti ibumu bukan hal yang umum. Dia hanya bisa terima kalau aku Kasarewang karena melihat sendiri proses regenerasiku yang tidak wajar saat bekerja sebagai dokter dulu. Kedua, meskipun jarang, beberapa manusia bisa menggunakan sihir.”


“Wah?”


“Masalahnya ada pada bagaimana mereka menggunakan sihir tersebut. Beberapa ada yang menggunakan untuk keuntungan sendiri, bahkan hingga untuk melakukan kejahatan. Beberapa di antara mereka sangat menginginkan kekuasaan dengan kemampuan sihir yang lebih tinggi dan salah satu cara untuk mendapatkannya adalah menyelidiki Kasarewang.”


Harsa mengangguk, memperhatikan sungguh-sungguh.


“Maksudku menyelidiki itu sampai ke menculik dan melakukan autopsi pada Kasarewang. Karena kebanyakan Kasarewang tidak tercatat sebagai warga negara, bahkan tidak ada undang-undang yang mengatur tentang penggunaan sihir. Jadi, sulit melindungimu dari sindikat-sindikat seperti itu. Kamu punya kewarganegaraan sih, dari ibumu, tapi tetap saja suli kalau ada yang sampai menculikmu dengan sihir. Pengadilan tidak akan memvalidasi baik cara ataupun motif dari penculikan tersebut.”


Harsa mendengarkan tanpa kata-kata. Semakin didengarkan, semakin tak terbayang. Dalam pikirannya, dia meragukan penjelasan Erik. Dia sudah hidup begitu damai lima belas tahun ke belakang, hingga dia hanya mengangguk sembari setengah mendengarkan. Harsa tidak mau terkesan membangkang.


“Tenang, Pa! Aku akan menjaga diri baik-baik!” Kata Harsa ceria, untuk menenangkan kekhawatiran ayahnya.


“Hei! Serius ya!”


“Iya, Pa! Tenang saja!” Kata Harsa sambil turun dari mobil dengan tas-tasnya. “Aku pergi MOS dulu, ya!”


Erik menghela nafas lelah. ”Aku justru makin khawatir kalau dia terlalu santai.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2