Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Masa Orientasi Sekolah (3)


__ADS_3

Setelah demonstrasi dari klub berkebun, kelompok Harsa berpindah dari taman depan sekolah, ke aula di lantai empat. Di sana, mereka melihat demonstrasi klub teater, klub film, dan kemudian klub bela diri. Mereka menunjukkan atraksi mematahkan lempengan kayu dengan tonjokkan dan rangkaian tarian bela diri.


“Uohhh!!” Para penonton bertepuk tangan dan berseru kagum.


Setelah pertunjukkan atraksi itu, ketua klub bela diri menyambut mereka. “Halo, teman-teman dari kelas satu. Klub bela diri kita di sini sangat terkenal dengan prestasi-prestasinya. Dari beberapa generasi ke belakang, selalu ada anggota klub yang memenangkan berbagai turnamen olahraga, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.”


Sembari ketua klub berbicara, proyektor yang dipasang di depan mereka menampilkan foto-foto kemenangan anggota-anggota klub mereka berserta mendali dari berbagai macam turnamen bela diri.


“Oleh karena itu, kami berjanji untuk melatih semua anggota kami untuk menjadi yang terkuat. Latihan di klub kami tidak mudah, tapi semua kerja keras kita akan terbayar di setiap turnamen yang ada. Bukan hanya yang sudah mendalami olahraga ini sejak SMP atau SD, teman-teman yang baru ingin mulai mendalami olahraga bela diri juga kami terima. Kami senang sekali jika menemukan bakat-bakat yang sebelumnya terpendam. Kalau ada teman-teman yang ingin melihat demonstrasi kekuatan dari klub ini, anggota-anggota kami siap menerima tantangan.”


Murid-murid kelas satu terdiam, semua merasa bodoh untuk menantang kakak kelas mereka, kecuali satu orang. Barasa berdiri dan maju ke depan tanpa ragu. Sebagian murid-murid lain bertepuk tangan kagum, sebagian lain malah mencibir. Harsa sendiri, mulai merassa khawatir.


“Hei? Apa kamu yakin?” Bisik Harsa, tapi Barasa tidak menanggapinya.


“Tenang.” Kata Elis dengan senyum kecil. “Barasa kuat kok.”


Kata-kata Elis terbukti benar. Salah satu senior tinggi berotot maju menjadi lawan Barasa. Dengan senyum bangganya tangannya terlentang ke depan, mengarahkannya untuk maju duluan. Barasa mengangguk, dan memberikan salam sebelum membentuk kuda-kuda. Pukulan tangannya menyambar dengan cepat. Bukan hanya tangan Barasa saja yang bergerak, melainkan seluruh otot baik di kaki, punggung, bahu, hingga ke lengannya turut mendukung dalam satu gerakan yang utuh. Ekspresi bangga di wajah si senior hilang sudah dalam sepersekian detik, kemudian digantikan dengan rasa terkejut. Tak menyangka lawannya akan menyerang dengan kokoh, si senior terlambat memasang kuda-kuda pertahanan yang baik. Pukulan Barasa mengenai lengannya yang mencoba melindungi bagian wajah. Suara ‘Patt!!!’ terdengar keras dari pukulan yang melemparkan si senior hingga ke tempat duduk anak-anak kelas satu di seberang.


Sama seperti pada waktu Harsa menembus barisan anggota klub basket, orang-orang terkesiap sebelum memberikan sorakan dan tepuk tangan. Termasuk Harsa. Dagunya jatuh terbuka lebar sangking terkejutnya. Bukan hanya karena dia tidak menyangka Barasa sangat kuat, tapi gerakan itu… Gerakan Barasa punya tenaga yang…., mengingatkannya akan sihirnya sendiri?


Si senior itu cepat-cepat berdiri kembali, wajahnya memerah dan dia berteriak membela diri. “Aku belum siap, itu saja!”  Akan tetapi suaranya tertutup oleh sorakkan untuk Barasa.

__ADS_1


Sang ketua klu langsung mengambil alih, menepuk bahu Barasa, dan mempersilakannya untuk kembali duduk agar sorakan cepat berhenti. Tangannya melambai-lambai agar perhatian kembali tertuju padanya. “Baik, baik semua. Tak kusangka ada yang sudah ahli bela diri. Bagaimana, apa ada lagi yang berani mencoba?” Ketika tidak ada yang mengancungkan tangan, ketua klub itu menghampiri seorang anak laki-laki cengkring yang tidak terlalu memperhatikan atraksi mereka. “Bagaimana kalau kamu?” tunjuknya begitu saja.


“Eh?! Tapi a-”


“Ehm.” Ketua klub bela diri tidak menunggu jawabannya. Dia menarik murid kelas satu yang jelas-jelas merasa tidak nyaman itu ke tengah-tengah aula. “Jangan khawatir, ini hanya demonstrasi saja.”


Tangan Harsa berkeringat begitu dirinya melihat ekspresi anak tersebut. Harsa sudah melirik ke kanan-kiri, namun segera menyadari bahwa mereka tidak sedang diawasi oleh para guru. Firasat buruknya terbukti benar ketika anak laki-laki tersebut dibanting dan dijadikan bahan tertawaan.


Sial! Umpat Harsa dalam hati. Bukankah ini sudah termasuk perundungan? Mereka sengaja memilih orang yang nggak tertarik dengan bela diri untuk memperbaiki citra klub mereka yang rusak karena Barasa tadi!


Kekhawatiran Harsa berubah menjadi kekesalan yang membara. Anak-anak yang tak peka tertawa, beberapa anak yang lebih peka terdiam pucat dan memalingkan muka, tidak tahu harus melakukan apa. Lebih sedikit lagi yang terpikir untuk bertindak, dan lebih sedikit lagi yang benar-benar bertindak.


Namun, si senior itu baru berhenti karena melihat Harsa berdiri. Tanpa menunggu ketua klub mempersilakan, si senior itu menantang. “Kenapa, heh?! Kamu mau mencoba ke depan juga?”


Harsa, sebenarnya juga tidak punya strategi menghadapi kakak-kakak kelas ini. Salah langkah, dia dapat dimusuhi oleh kakak kelas di hari pertama sekolah. Dia tak punya niat untuk membuat masalah. Dia berdiri tanpa pikir panjang, karena rasa kesalnya tidak bisa membiarkannya diam. Mendengar tantangan itu, Harsa maju tanpa tahu yang harus dia lakukan.


Si senior itu menyerang duluan. Dia berlari ke arah Harsa dan meluncurkan tendangan atas, langsung mengincar kepala Harsa. Tubuh atletik Harsa refleks melakukan khayang, menghindari tendangan melingkar atas itu. Dia segera kembali berdiri dan menghindari serangan-serangan terlatih si senior.


“Apa heh? Kamu cuma bisa menghindar saja?!” ejek si senior.


Dada Harsa semakin panas. Sebelumnya, dia tidak pernah belajar bela diri, tapi Harsa sadar tubuhnya lebih atletik daripada teman-teman sebayanya dan ia punya refleks yang cukup baik. Kalau saja dia bisa menyelimuti tonjokkannya dengan sihir seperti Barasa, dia akan mengalahkan si senior ini dengan mudah. Di saat yang sama, dia bisa merasakan energi sihir yang bocor dari vasalnya. Arahkan ke kepalan tangannya dan lepaskan! Kalau dia lakukan itu, dia bisa mendorong si senior ini hingga ke belakang seperti Barasa bahkan tanpa menyentuhnya. Atau… dia bisa membakar seniornya hingga mati.

__ADS_1


Harsa teringat kamarnya yang hancur lebur ketika dia berumur delapan tahun, kemudian dia teringat kata-kata ayahnya untuk menjaga identitasnya. Terakhir, dia mengingat tatapan heran Elis ketika dia mengomentari bahwa ‘seperti’ ada percikan api yang keluar dari kakinya pada saat dia bermain basket.


Harsa bergumul dengan batinnya sendiri.


Akhirnya Harsa menjaga baik-baik agar tidak ada physis yang keluar dari tubuhnya. Tanpa physis, serangannya dibalikkan dengan mudah oleh si senior. Hanya tinggal tunggu waktu hingga akhirnya Harsa kembali ke tempat duduknya dengan lebam di wajahnya.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Elis khawatir melihat pipi kanan Harsa mulai membiru.


“Nggak.” Butuh seluruh tenaga Harsa agar dirinya tidak meledak-ledak. Rasanya butuh setiap sel di tubuhnya untuk mencegahnya membakar sekolah ini. Untunglah waktu demonstrasi dari klub bela diri sudah selesai dan salah satu panitia OSIS segera memanggil guru ke aula. Berkat panitia OSIS itu, Harsa bisa lepas dari si senior hanya dengan satu lebam di pipi kanannya, tapi entah apakah si senior itu akan benar dihukum atau dapat lolos dengan alasan ‘kecelakaan’.


“Maaf. Aku jadi merasa bersalah. Sungguh.” Kata Barasa benar tulus. “Aku ke depan karena aku suka bela diri, dan aku pikir mereka benar kuat.”


“Bukan salahmu.” Kata Harsa kembali duduk di bangkunya dan mengambil buku MOSnya. Dia harus melihat apapun, membaca apapun, agar bisa terlepas dari rasa marah membara ini. Matanya tak sengaja membaca jadwal acara MOS, dan menemukan bahwa setelah demonstrasi dari klub bela diri, akan terdapat demonstrasi dari klub sulap.


Sesuai dengan jadwal tersebut, seorang anak perempuan berambut hitam panjang hingga ke punggung sedang mempersiapkan meja dan peralatan sulap ke tengah-tengah aula, sendirian. Dia menggunakan kacamata bulat yang menutupi kantong matanya hitam. Postur tubuhnya yang kecil tampak kesulitan mengangkat-angkat properti demonstrasi klub sulap. Di saat yang sama, para anggota klub bela diri sedang undur diri.


Saat senior yang menghajarnya itu melihat Harsa, dia berhenti sebentar dan memasang senyum sombong. “Sok pahlawan!” Ejeknya.


Kemudian, Harsa lepas kendali. Seperti granat yang meledak ketika pelatuknya dilepas, sihir mengalir keluar dari tubuhnya, langsung dalam bentuk elemen api dan membakar baik kursi maupun buku MOSnya. Alarm kebakaran sekolah berdering nyaring, alat pemadam kebakaran otomatis di langit-langit aula menghamburkan air ke bawah dan membasahi semua orang yang ada di aula.


Ruangan itu berubah menjadi kekacauan.

__ADS_1


__ADS_2