
Permintaan Aster memberatkan pikiran Harsa ketika dia keluar dari ruang aula asrama. Mereka kembali ke lapangan terbuka Universitas kota Drestha itu. Di tengah suasana hiruk pikuk di sana, mata Harsa melebar ketika melihat rambut panjang berwarna pink yang tak asing. Beban pikirannya hilang ketika dia teralihkan oleh perempuan yang satu ini.
“Rucira?” Panggilnya.
Sang gadis segera menengok dan melambai-lambai dengan senyuman lebar. “Harsa!”
Seperti yang sudah disangka-sangka, Rucira tidak sendirian. Di belakangnya, Kriya membayangi. Matanya menyipit melihat kehadiran Harsa. Seperti kemarin-kemarin, Kriya tampak tak bersahabat. Berbeda dengan Kriya, Rucira menghampiri Harsa dan Adi tanpa ragu.
“Wah, kamu sudah mau mulai sekolah sekarang? Cepet banget?” mata Rucira melebar dengan kekaguman. “Aku dengar kamu peserta termuda kemarin!”
“Nggak, kok! Aku cuma mengantar teman saja. Aku masih sekolah juga soalnya.” Harsa menggelengkan kepalanya.
“Sekolah? Aku pikir kamu home-schooling.” Kata Rucira mengangkat sebelah alisnya.
“Ya, aku belajar sihir dari kakakku. Sekolah yang aku maksud adalah sekolah untuk manusia.”
Satu kali lagi, mata Rucira melebar. “Manusia juga punya sekolah? Gimana rasanya sekolah di sana?”
“Eh, ya… begitu. Datang ke sekolah dan belajar.” Harsa kesulitan menjabarkan kegiatan sehari-harinya.
“Wow, menarik sekali! Aku nggak kebayang pada belajar apa karena manusia gak belajar sihir kan? Aku penasaran belajar apa saja kalau nggak belajar sihir. Kira-kira aku bisa masuk sana gak ya?”
“A.. apa?!” Harsa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Kamu mau masuk sekolah?!”
Rucira mengangguk percaya diri.
Harsa tidak bisa membayangkan ada seorang Kasarewang yang masuk ke sekolahnya. Mereka bisa menarik perhatian seisi, tidak mungkin seisi kota jika tak sengaja memperlihatkan sihirnya. Jangankan sihir, kalau ada yang melihat rambut pink dan mata hijau Rucira yang natural…
Harsa menggelengkan kepalanya. “Menurutku akan sulit… dan berbahaya…”
“Ow…” Kata Rucira kecewa.
“Kamu nggak perlu masuk sekolah macam itu, Nona.” Kata Kriya tak suka.
Mata Rucira menyipit. “Ih, apa sih, Kriya? Kalau aku pengen emang gimana.”
__ADS_1
“Kamu sendiri sudah mulai sekolah?” Harsa mengalihkan pembicaraan agar tidak canggung.
“Nggak, kok. Aku juga mengantarkan kakakku.” Dia menunjuk salah satu Kasarewang di tengah keramaian rambut yang berwarna-warni. Kasarewang yang dia tunjuk itu sama-sama memiliki warna rambut pink peach, namun matanya berwarna ungu tua. Dia sedang berbicara ramai-ramai dengan teman-temannya. “Hehe, kamu mungkin nggak percaya, tapi aku dan Kriya peserta kedua termuda di ujian kemarin, loh!”
“He?” Harsa mengangguk-angguk.
“Jadi aku juga masuknya nanti.” Lanjut Rucira. “Bareng Kriya.”
Harsa mengangguk-angguk karena tidak tahu harus menjawab apa. “Ohh, kalian selalu berdua, ya.”
“Iya, dong! Kita kan teman!” Kata Rucira senang.
“Hah? Apa? Teman? Bukan, aku bukan temanmu.” Tolak Kriya.
Alis Harsa menaik. Mulutnya tak tahan untuk menggoda. “Apa? Jadi, pacaran?”
“Nggak!” Mereka berdua teriak bersamaan.
“Tapi, kamu kok bisa-bisanya bilang kita bukan teman?! Kita kan sudah bareng dari kecil.” Rucira protes.
Raut wajah Rucira mengerut. Matanya mulai berkaca-kaca. “Ueehhh.” Dia mulai menangis sembari
Adi menepuk bahu Harsa dengan ekspresi datar, tapi kepalanya mulai penat. “Pulang, yuk. Kadang aku harus setuju kalau kamu lebih dewasa daripada Kasarewang lain seumuranmu.” Aku Adi dalam bahasa Indonesia.
Harsa mengangguk setuju. Interaksi antara Rucira dan Kriya berada di luar nalarnya. Di sisi lain, pertanyaan Rucira yang tak masuk akal memberikan impresi yang mendalam di kepala Harsa. Dia tidak pernah bertemu dengan Kasarewang yang sangat ramah dan penasaran dengan manusia. Dia juga jadi teringat bagaimana Rucira langsung berkenalan dengan Aster ketika ujian tahap dua dimulai.
Mungkin aku harusnya gak terlalu pesimis. Kata Harsa dalam hati senang.
***
Tak terasa, dua tahun telah berlalu. Sekarang Harsa belajar di kelas tiga SMA. Di hari pertama sekolah, Harsa datang dengan mata dua puluh lima watt. Liburan ke belakang, jam tidurnya kacau karena terus berpindah dari rumah ke Drestha.
“Pagi-pagi pucet banget.” Komentar Barasa yang sudah datang duluan.
Harsa menghempaskan dirinya ke kursi kosong di belakang Barasa, seperti biasa. “Uuhh. Nggak kuat ngantuk banget aku baru tidur jam tiga.”
__ADS_1
“Haha, ngapain coba?”
“Nggak bisa tidur aja.” Keluh Harsa. “Ngantuk banget.” Harsa benar-benar tidak bisa menjaga konsentrasinya hingga dia menyerah untuk mempertahankan auranya.
Duh, pagi ini nggak akan ada formskitter menyerang, kan? Pikir Harsa. Nggak masalah sepuluh menit saja menarik auraku…
Harsa meletakkan kepalanya dengan malas di atas kedua tangan yang terlipat di mejanya. Dia menarik auranya hanya tinggal ke arah satu kelas ini. Segala informasi yang ramai hilang mneyepi ketika Harsa menghilangkan auranya.
“Tanganmu masih belum sembuh?” Barasa menyadari lengan Harsa yang masih dia tutupi dengan perban.
“Belum.”
Luka di tangannya tidak berubah sejak dokter Kasarewang di Drestha mencoba memperbaiki tangannya. Berkas hitam itu bahkan tidak bergeming sedikitpun. Buat manusia biasa, luka itu terlihat seperti memar yang sangat mengerikan, jadi Harsa menutupinya dengan perban. Lukanya sudah tak sakit lagi, tapi kadang tangannya terasa kaku dan sulit dipakai untuk menulis. Perawatan dari Darma juga tak berguna. Ibunya tak pernah putus asa dalam menangani penyakit, namun kali ini, taka da yang dapat Darma lakukan. Erik pun hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat luka Harsa. Jadi, dia hanya dapat menunggu pertemuan dengan Raja Kasarewang.
“Apa benar nggak apa-apa? Kamu sudah ke dokter?” tanya Barasa khawatir.
Harsa tak bisa menahan tawa kecil. “Ibuku dokter tahu. Dia sudah menyerah. Luka seperti ini bukan luka yang dapat disembuhkan secara fisik…” Kata Harsa sambil membayangkan vasalnya yang berubah mengerikan semenjak dia menerima luka ini. Sampai sekarang, dia tak terbiasa dengan wujud vasalnya sekarang.
“…” Barasa terdiam sejenak. “Lalu bagaimana?”
Harsa memasang senyuman di wajahnya. “Jangan khawatir.”
Tapi Harsa tidak bisa seperti itu. “Kamu benar-benar dalam bahaya ya? Kalau dipikir-pikir di hari pertama MOS, kamu juga diserang oleh Penjaga Bayangan… Masa aku tidak khawatir?”
“….” Kali ini Harsa yang tidak bisa menjawab. Sekarang, Harsa sadar total sudah hidupnya diincar oleh organisasi yang terdiri dari manusia dan formskitter. Mereka ingin menggunakan Harsa untuk menciptakan formskitter pintar yang lebih kuat daripada manusia biasa yang digabungkan dengan formskitter biasa.
“Beneran ya, Sa. Kemaren kamu sudah banyak bantu aku soal kakekku itu. Kalau ada apa-apa, apalagi terkait dengan keselamatanmu, jangan ragu untuk bilang aku, ya.”
Senyum Harsa berubah menjadi tulus. “Iya, tenang saja. Aku pasti bilang. Untungnya kita bertiga sekelas lagi.” Kata Harsa melihat Elis yang terburu-buru masuk kelas karena sedikit terlambat.
Gadis manis itu melambai pada kedua temannya sebelum duduk di satu bangku kosong yang tersisa di belakang kelas. Di belakangnya, wali kelas mereka yang baru juga ikut masuk kelas. Dia tidak sendirian. Seorang gadis yang tak asing buat Harsa mengikuti langkah guru wali kelas mereka dengan tegap. Mata biru langitnya langsung menarik perhatian anak-anak laki-laki di seluruh kelas mereka. Rambut panjangnya yang mencapai pinggang diikat satu dengan rapi ke belakang. Kulitnya putih mulus seperti kulit orang-orang kaukasian. Lengkap dengan seragam sekolah Harsa, tanpa menyembunyikan penampilan mencolok seorang Kasarewang, Gilda berdiri di depan kelas sambil tersenyum penuh kepercayaan diri.
__ADS_1