Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Harsa vs Sang Kakak (5)


__ADS_3

“Papa nggak ke sini untuk cari kak Adi?” tanya Harsa ciut. Dia berharap ayahnya meninggalkannya sendirian.


“Hmm, aku rasa aku cari dua-duanya.” Erik tersenyum agar Harsa tidak kecut. Dia tidak datang ke sini untuk memarahi Harsa.


Lagi-lagi Harsa menghela nafas, tapi tetap mengangguk.


Ayahnya membawa Harsa ke taman belakang hotel mereka. Erik duduk di salah satu bangku taman. Harsa ikut duduk di sebelahnya, bersiap-bersiap menghadapi ceramah ayahnya.


Membuka percakapan, Erik bertanya. “Kamu nggak takut sama formskitter yang kuceritakan tadi?”


Alis Harsa menaik. Dia tidak begitu ingat kata-kata Erik di restoran karena terbawa emosi. Dia menggeleng. “Aku nggak pernah ketemu formskitter sebelumnya.”


“Benar juga.” Erik mengangguk-angguk. “Hmm, kalau begitu apa kamu pernah merasakan apakah ada perbedaan antara aku dan Adi?”


Harsa tidak perlu berpikir untuk menjawab pertanyaan itu. “Ya, iyalah. Kak Adi itu kesannya sombong banget, selalu memandang rendah aku dan mama, tapi papa kan nggak seperti itu. Papa juga jauh lebih pengertian dari kak-.”


“Bukan, bukan itu maksudku.” Potong Erik. “Maksudku apakah ada yang berbeda secara biologis.”


Harsa mengamati ayahnya dari atas hingga ke bawah. “Papa nggak punya penampilan mencolok seperti kak Adi? Maksudku rambut papa warnanya hitam biasa, mata papa juga gak mencolok.”


“Selain itu?”


Dahi Harsa berkerut. “Papa nggak pernah mengeluarkan aura yang mengintimidasi kayak Kak Adi.”


“Huuh, menurut kamu kenapa tuh?”


“Karena papa jauuuhhh lebih ramah dari kak Adi?”


Erik tidak bisa menahan tawanya. “Nggak, bukan itu. Itu karena sekarang aku nggak bisa lagi membukai Kai, gerbang tempat saluran physis, sehingga aku nggak bisa melakukan sihir lagi.”

__ADS_1


Harsa kembali mengingat penjelasan ayahnya ketika dia masih kecil. Tangannya memegang perutnya yang merupakan titik tengah tubuhnya. Di dalam sana, katanya ada satu buah gerbang besar bernama Kai yang dapat mengeluarkan physis. Pada waktu Harsa berumur delapan tahun, ayah Harsa menyegel Kainya karena kemampuan sihir Harsa terlalu meledak-ledak. Harsa yang tidak bisa mengontrol kemampuan sihirnya, bisa tiba-tiba menyemburkan api ketika tidur, sampai membuat badannya sakit karena tidak dapat menahan kekuatan sihir yang begitu besar.  Hal itu terjadi karena lahir dari manusia dan Kasarewang, Harsa memiliki sihir Kasarewang dari ayahnya namun memiliki tubuh manusia biasa.


“Nggak punya lagi? Kenapa?”


“Karena formskitter. Dulu sekali, pada saat Adi masih remaja, ketika kami sedang liburan keluarga. Maksudku, aku, Adi, dan ibunya, kami lengah dan diserang oleh formskitter yang kuat. Ibu Adi, istriku yang sebelumnya, dia bertarung dengan formskitter itu dengan sedikit bantuanku. Dia orang yang kuat, sebagai seorang pengawal kerajaan, dia yang paling punya pengalaman menghadapi formskitter. Aku percaya padanya, pada kemampuannya, pada pengalamannya, tapi aku menyesal sekarang. Dia meninggal untuk melindungiku dan Adi. Yah, aku juga terluka berat waktu itu. Aku kehilangan vasalku dan menjadi cacat- tidak bisa melakukan sihir lagi. Adi sangat terpukul melihat bagaimana mamanya tewas di tangan formskitter dengan mata kepalanya sendiri. Aku rasa peristiwa itu merubahnya drastis. Sejak saat itu, dia hanya ingin menjadi tentara dan membunuh formskitter sebanyak mungkin.”


Harsa mendengarkan dengan khusyuk. Ini pertama kali ayahnya bercerita bagaimana dia kehilangan istri pertamanya. Entah karena Erik tidak ingin mengingat-ingat lagi kejadian pedih itu, atau karena tidak enak pada Darma, dia tidak banyak menceritakan tentang ibu Adi. Mungkin karena keduanya.


Erik melanjutkan. “Kakakmu, Adi itu sangat sensitif soal formskitter. Meskipun saat ini dia dibilang anak berbakat yang tak terkalahkan, dia nggak akan pernah meremehkan formskitter. Oleh karena itu, dia sangat waspada tadi. Aku cerita begini supaya kamu bisa lebih pengertian sama kakakmu.”


Harsa terdiam, masih mencerna cerita yang baru dia dengar. Formskitter, meninggalnya ibu Adi, dan ayah yang tidak bisa menggunakan sihir…. Semakin informasi itu meresap, semakin Harsa merasa bersalah. “Jadi dia marah karena aku meremehkan formskitter?”


“Yah, kamu nggak tahu formskitter juga sih.” Kata Erik memaklumi.


Harsa semakin tertunduk. Dia teringat bagaimana kakaknya kesal karena dia tidak bisa menguasai bahasa Kasarewang, juga kesal karena dia tidak memahami bahaya yang harus dihadapi oleh Kasarewang, formskitter. Tindak-tanduk ketidaksukaan dan ekspresi wajahnya kembali terulang dalam hati dan kepala Harsa.  Kemudian dia sadar.


Wajahnya terangkat melihat ayahnya.“Kakak kesal padaku karena tidak tahu apa-apa tentang Kasarewang. Mungkin karena selama ini aku juga tidak pernah mencari tahu.” Simpulnya. “Sekarang aku merasa nggak enak. Selama ini hidup tenang di tengah-tengah manusia tanpa pernah terpikirkan sekalipun bahwa aku adalah keturunan Kasarewang. Aku tidak tahu apa itu physis, tidak tahu bagaimana Kasarewang makan, tidak bisa bahasa Kasarewang… Aku juga tidak pernah bertanya padamu, seoalah-olah bagian dari diriku yang magis ini tidak pernah ada.”


Harsa menggeleng. “Aku tahu kalau ketidaktahuan itu menyenangkan. Sebelumnya aku menganggap Adi menyebalkan, tapi sekarang aku bisa melihat bagaimana Adi merasa kalau aku menyebalkan.” Kataku serius. “Makasih, Pa. Aku rasa aku tahu bagaimana cara menghadapi Kak Adi sekarang.”


“…” Erik tidak bisa membalasnya. Dia malah tidak siap dengan respon Harsa. “Baguslah kalau begitu. Ehm, ayo balik ke kamar.”


Di kamar, Adi tetap tidak terlihat di mana-mana. Harsa memutuskan untuk tidur saja, karena dia tidak tahu bagaimana cara kerja apartemen portabel milik Adi. Baru beberapa jam Harsa tidur, dia terbangun oleh suara pintu beranda kamar mereka di lantai dua terbuka.


“Uahh!!” katanya terkejut. Matanya menangkap kelebatan sosok seseorang yang keluar ke beranda dan tubuhnya bergerak mengikuti tanpa berpikir.


Di beranda, Adi sudah siap terjun dari lantai dua.


“Kak Adi!” katanya terkejut.

__ADS_1


Pria itu berbalik. “Tidur sana.”


“Ya ampun! Aku minta maaf deh, kalau memang ngeselin, tapi bukannya ini berlebihan banget!!” Kata Harsa panik kakaknya akan melompat.


Adi memincingkan matanya, heran. “Sudah, bahaya. Mundur sana.” Lalu, tanpa menunggu jawaban Harsa, dia melompat.


Tidak, ini salah. Pikir Harsa dalam hati. Dia langsung berlari untuk menangkap Adi. “Kakak!!” Akan tetapi, tubuhnya tidak bisa menahan berat Adi. Harsa malah ikut terjatuh ke bawah. “Aaaahhhh!!!”


Pada saat jatuh, seolah ada tudung yang robek dari daerah sekitar tubuh Adi, kemudian mereka masuk ke dunia yang berbeda. Bukannya jatuh ke jalan beraspal yang memisahkan gedung hotel mereka dari pantai, Adi dan Harsa mendarat di pantai berpasir putih. Di kejauhan, Harsa bisa mendengar suara ombak dan sejauh mata memandang, mereka berada di bibir pantai. Tak ada gedung perhotelan atau ruko-ruko penjual kaos dan barang-barang oleh-oleh. Hanya ada pantai di kiri dan hutan di kanan mereka.


“Urgh.” Erang Adi menahan badannya dan Harsa sekaligus. Dia mendarat dengan posisi berjongkok. Kedua kakinya bergetar karena tidak siap menahan berat Harsa. “Apa yang kamu lakukan?!” tanya Adi kesal menjatuhkan Harsa ke pasir sembari berdiri.


“Aduh. Itu pertanyaanku! Masa karena bertengkar sedikit mau bunuh diri?!”


Alis Adi menaik. “Aku tidak akan mati hanya karena turun dari lantai dua.” Katanya menggerutu. Mukanya memerah, dia tidak akan mengaku kalau dia keluar dari beranda karena tidak tahu cara membuka pintu hotel yang terkunci otomatis.


Mata Harsa mengerjap-ngerjap. Kata-kata Erik tentang kemampuan bertarung Adi yang dinilai sebagai anak berbakat kembali terlintas. “Dimana ini?”


“Di Tepi-” Kata-kata Adi terputus selagi dia menggendong Harsa sekaligus menghindari serangan batu-batu kerikil tajam yang diarahkan pada mereka berdua. “Tidak ada waktu untuk penjelasan! Kamu bisa lari?”


“Bisa!”


Tanpa ragu Adi melempar Harsa. “Sembunyi sana!!” Kemudian, berpaling pada arah serangan batu kerikil yang masih menerjang mereka.


Butuh seluruh usaha Harsa untuk bangun. Apakah aku terluka? Tanya Harsa pada dirinya sendiri mendapati betapa lemas tubuhnya. Di tengah kebingungan itu, pada akhirnya dia melihat lawan mereka.


Sepuluh meter di depannya, sebuah mahkluk mengerikan yang tak bisa Harsa identifikasi melayang-layang. Pasir-pasir di sekitarnya menyatu dan menjadi peluru batu kerikil yang melempar diri mereka sendiri dengan kecepatan tinggi ke arah Adi. Punggung Harsa gemetar melihat sosok mengerikan itu. Bukan hanya sosoknya yang mendatangkan mimpi buruk, tapi dia punya aura yang sama, atau bahkan lebih mengerikan daripada tekanan mental yang selalu mengikuti kehadiran Adi. Tanpa perlu diberitahu oleh Erik atau Adi, Harsa sudah tahu.


Mahkluk itu adalah formskitter.

__ADS_1


 


 


__ADS_2