Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Ujian Standarisasi (3)


__ADS_3

Segera setelah ujian dihentikan, mereka diminta berkumpul kembali ke arah satu cahaya biru yang menjulang ke atas di tengah-tengah hutan pinggir kota Drestha itu. Sampai ke titik berkumpul, Rucira, Kriya, satu orang Kasarewang lagi, dan pengawas ujian telah berkumpul di titik cahaya biru yang ditembakkan oleh si pengawas. Semua ekspresi mereka tidak enak.


Kriya yang pertama kali berbicara. “Oh? Akhirnya si pengecut datang juga. Beraninya ya, kamu lari begitu?!”


“Apa?!” Harsa langsung bereaksi. “Bukankah kamu yang lari duluan? Bukannya kamu yang pengecut?”


Kriya membusungkan dadanya dan sudah akan maju satu langkah ke depan Harsa, namun Rucira memegang tangan Kriya, menghentikannya. “Kami balik lagi untuk membuat strategi dengan kalian, tapi… ya, ternyata tidak seperti yang direncanakan.” Katanya sedih.


“Lalu dimana singa berapi itu?” Satu Kasarewang laki-laki yang belum Harsa tahu namanya memotong pembicaraaan mereka.


“Yahh, dia hampir melukai Rucira, jadi aku…” Jawab Kriya dengan nada yang lumayan bersalah.


“Jadi apa? Kau apakan dia, heh?”


“Aku hampir membunuhnya sebelum akhirnya dihentikan oleh pengawas ujian dan dia pindahkan entah kemana dengan sihir dekrit ruang.” Jawab Kriya sejujur-jujurnya.


“Kamu bercanda, ya?! Itu kan salah satu syarat untuk kita lulus?!”


“Ya, daripada ada yang terluka!”


“Sudah cukup!” Pengawas mereka telah kehilangan kesabaran. “Apa kalian semua lupa kalau ini adalah ujian kelompok? Aku tak mau bilang hasil kalian, tapi semestinya sadar ada masalah ketika kalian nggak langsung berinisiatif bekerja sama dari awal?!”

__ADS_1


Tak ada yang dapat membantah kata-kata pengawas ujian itu. Semua anak-anak itu terdiam karena merasa malu.


“Sudah. Waktunya ujian kedua. Kali ini, kalian bisa bekerja sama untuk mengalahkan formskitter. Bagaimanapun juga, ketika berhadapn dengan formskitter, permasalahan apapun di antara Kasarewang seharusnya dapat dikesampingkan.” Kata pengawas itu, lalu melirik Aster sejenak, tapi dia tak mengatakan apa-apa lagi.


Harsa mengangguk sambil mengambil salah satu bilang pedangnya yang tertinggal di dekat sana dengan tangan kirinya.


Pengawas itu melambaikan tangannya dan membentuk satu pintu mozaik warna-warni di tengah-tengah udara kosong. “Ingat, di ujian kedua ini, kalian masing-masing akan berhadapan dengan satu formskitter. Namun, meski bertarung satu lawan satu, kalian harus tetap berpikir sebagai tim.”


Hanya Rucira yang menanggapi pengawas ujian itu. “Ya, Pak!”


Pengawas itu menghela nafas menyerah. “Apa kalian sudah siap?”


“Ya.” Jawab Kriya tegas.


Di atas ruangan yang begitu luas, ada langit-langit yang setiap satu meter dipasangi  kristal putih seperti lampu. Satu persatu kristal putih itu menyala ketika mereka menjejak masuk ke dalam ruangan itu. Mereka masuk dalam ruangan itu. Di mata telanjang, ruanan itu kosong, namun muka para Kasarewang menjadi pucat termasuk Harsa.


Dia telah melebarkan auranya, dan dirinya menangkap formskitter-formskitter akan dilepaskan untuk mereka hadapi. Seumur hidupnya, dia tidak pernah berhadapan dengan lima formskitter sekaligus. Harsa tahu formskitter-formskitter itu tak sekuat formskitter yang biasa dia hadapi, namun tetap saja…. Mengerikan.


“Ter. Hati-hati. Mereka bisa dilepas kapan saja.” Peringat Harsa.


Aster sedang menengok ke kanan dan ke kiri, mencari ujung dari ruangan itu. Hanya Aster yang belum menangkap sosok formskitter di ruangan itu. Aster berbalik melihat Harsa dengan tatapan cemas. Dia bingung kenapa keempat rekannya begitu pucat.

__ADS_1


“Mereka sudah ada di ruangan ini?” tanya Aster.


“Hah? Bahkan dia tak bisa mendeteksi formskitter dengan auranya?” Keluh Kriya.


“Auraku tidak bisa terlalu lebar.” Kata Asster jujur. “Tapi jangan khawatir, aku tidak akan merepotkanmu saat bertarung.”


“Huh. Jangan kira aku akan menyelematkanmu kalau kamu berada dalam bahaya.” Kata Kriya dingin.


“Hentikan.” Kata kasarewang yang belum juga mengenalkan dirinya.


Kriya mendesah panjang.


“Jadi, apa ada yang punya rencana?” tanya Harsa, tak begitu peduli lagi dengan Kriya ketika formskiter sudah berada dalam jangkauan aura.


“Kita hadapi sendiri-sendiri. Yang pertama kali selesai, bantu yang lain.” Jawab Kriya.


“Oke, tampaknya adil buatku.” Kata formskitter satu lagi.


“Tunggu dulu, masa cuma begitu?” Protes Harsa, Namun, protes terhenti ketika terdengar dengan suara zing!!! di seluruh ruangan.


“Umm? Para peserta?” terdengar suara bergaung yang entah darimana datangnya. “Aku tahu ini pertama kalinya kalian harus bertarung dengan formskitter, sehingga wajar jika kalian merasa takut dan cemas. Jangan khawatir, aku siap turun jika ada masalah. Tentu saja, kalau sampai aku turun, itu akan mempengaruhi nilai kalian. Oleh karena itu… Mulai!!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2