
Tak salah lagi, pria yang berkulit pucat itu merupakan manusia yang menyelundup ke kamar Harsa di Bali. Setengah wajahnya sudah menghitam karena formskitter. Langkahnya yang tenang membuat Harsa semakin ketakutan.
Bukan hanya karena dia tahu dia sedang berhadapatn dengan formskiter, namun karena dia tidak dapat merasakan apa-apa dari pria itu. Dengan auranya, Harsa dapat merasakan pergerakan elemen dan physis, terutama jika dia waspada. Akan tetapi, Harsa tidak dapat merasakan keberadaan manusia formskitter itu sama sekali.
“Hei! Anak-anak jam sekarang sudah harus tidur.” Kata pria itu dengan tenang.
“Kau bukan guru.” Tolak Harsa sambil melangkah ke depan.
Senyuman pria itu terasa sangat mengerikan. Dia tidak terasa seperti manusia lagi, meskipun dia berbentuk manusia. Bahkan, Elis yang tak tahu menahu tentang sihir, tapi dia sadar bahwa ada yang salah dengan orang itu.
“Ada apa dengannya?” tanya Elis khawatir. Lebih khawatir tentang keadaan pria itu daripada keselamatan dirinya sendiri.
“Apa kamu masih manusia?” tanya Harsa, karena dia tidak merasa pria itu dapat mengontrol dirinya sendirinya.
Pertama kali dia bertemu dengan manusia yang bergabung dengan formskitter, Adit masih berbicara seperti manusia. Kedua kali, dia bertemu dengan laki-laki yang bergabung dengan formskitter ketika dia culik. Manusia yang waktu itu terlihat sadar dan berbalik menjadi orang lain ketika formskitter itu mengambil alih. Namun, manusia ini, dia terlihat seperti… formskitter saja.
“Kamu tahu… Namamu Harsa, bukan? Bukankah kamu sudah cukup menghadapi dunia Kasarewang yang selalu menganggap rendah manusia? Bukankah kamu ingin menghancurkan mereka? Kamu bisa menghancurkan mereka dengan membantu penelitian kami.”
“Kasarewang?” tanya Elis.
“Apa?! Nggak! Aku tidak akan melawan ayah dan kakakku sendiri!” Harsa menggeleng karena bujukannya sama sekali tidak masuk akal.
__ADS_1
“Kamu pikir kamu bisa berkata tidak?”
“Ya!” Teriak Harsa sambil maju.
Formskitter berbentuk tumbuhan itu keluar dari tangan kanannya yang berisi inti dari formskitter. Batang pohon itu menumbuhkan dedaunan dan terlempar ke arah Harsa dengan kecepatan tinggi, Mereka tajam seperti besi. Harsa dapat menghalangi mereka dengan mengalirkan physis ke tangan kirinya, namun Harsa tidak sadar bahwa dedaunan itu, terlempar ke arah Elis. Dia tidak cukup cepat untuk menghindari serangan nyasar itu. Dedaunan itu menancap leher dan tangan Elis. Darah merah mengalir dari sana.
“Aaahhh!!” Elis berteriak karena kesakitan dan kaget. Elis jatuh ke lututnya. Seluruh badannya bergetar karena ketakutan. Dia merasa baru saja terjun masuk dalam mimpi buruk, yang terasa begitu nyata.
“Elis!” Harsa berbalik ke belakang untuk memastikan bahwa Elis baik-baik saja. Dia memegang Elis dengan kedua tangannya. Rasa takut, khawatir, dan bersalah jatuh menguasai hati Harsa. Dia telah siap untuk melawan formskitter, namun dia tidak siap melihat temannya tersakiti, apalagi Elis.
“Harsa!” Edi memanjat pillar sekolah yang masuk ke beranda lantai dua dengan memanjat pillar sekolah. “Bawa formskitter itu ke Tepi Dunia Roh! Aku akan menolong Elis.”
Harsa mengangguk. Dengan berat hati, Harsa meninggalkan Elis pada Edi. Dia meloncat ke tudung transparan menuju Tepi Dunia Roh. Lembah luas di yang menjadi tempat natural dari sekolah mereka. Lagi-lagi, formskitter itu mekar menjadi pohon raksasa setinggi tiga meter. Lagi-lagi dia berbuah menjadi belalang-belalang sembah yang sedang Lisa hadapi seorang diri.
Harsa mengabaikan Lisa yang kesulitan untuk menghadapi belalang-belalang sembah itu. Dia langsung mendaratkan dirinya di bawar akar formskitter berbentuk pohon itu. Harsa membuat pedang putihnya dengan presisi yang jauh lebih baik sekarang. Dia menebas akar-akar rakasasa itu untuk menemukan manusia yang terkubur di dalamnya. Baru dua kali tebasan, salah satu akar raksasa itu menaik dan memukul perut Harsa hingga dia terpelanting ke belakang dan terseret di atas tanah.
“Ugh.” Harsa langsung bangkit kembali karena seluruh tubuhnya, kecuali tangannya, terlindung oleh physis.
Begitu bangkit, Harsa langsung berhadapan dengan tiga buah belalang sembah raksasa berukuran serigala. Belalang sembah itu langsung menyerang Harsa dengan sabitnya di kanan. Harsa menghindar ke kiri, lalu Harsa melangkah ke depan, dan mengayunkan pedangnya ke kanan. Dengan mudah dia membelah belalang raksasa itu menjadi dua bagian. Harsa memindahkan pedangnya ke tangan kiri, lalu menembakkan laser untuk menghancurkan dua buah belelang sembah. Dia harus memindahkan pedangnya karena tidak bisa mengalirkan physis ke lengan kirinya.
“Harsa!” Panggil Lisa meminta bantuan. Dia kesulitan karena harus menghadapi lima belalang sembah sekaligus. Lisa menghajar mereka dengan mengubah gaya gravitasi di sekitarnya sehingga berat tubuhnya ringan seperti bulu. Namun, pukulan palunya tetap meretakkan kulit keras dari belalang sembah itu. Tidak sekuat serangan laser Harsa, tapi cukup untuk membuat belalang sembah itu tidak bisa bergerak untuk sementara.
__ADS_1
Harsa meluncurkan sebuah laser yang menghancurkan beberapa belang sembah, tapi dia tidak bisa menolong Lisa terus jika dia ingin menghancurkan formskitter itu. Dia harus menyimpan physisnya untuk memenangkan pertarungan ini. Harsa kembali berfokus pada batang pohon formskitter itu. Jika saja dia memiliki keselarasan dengan Dekrit Material, dia dapat menggerakkan elemen tanah dari jauh untuk menghancurkan inti dari formskitter itu.
Atau… seandaianya Aster berada di sini…
Harsa menggeleng kepalanya dan memfokuskan diri pada masalah yang ada di depannya. Belalang sembah itu bertambah banyak. Pohon-pohon itu terus berbuah hitam dan rasanya belalang sembah itu malah terasa seperti semut banyaknya. Dahi Harsa berkerut. Sekarang dia bahkan tidak bisa mendekati formskitter itu.
Dia terus menerus menghindari serangan para belalang sembah sembari mencari celah untuk menembakkan laser pada akar-akar pohon formskitter itu. Harsa berharap-harap cemas agar salah satu serangannya mengenai inti formskitter, tapi dari keadaan formskitter itu, serangannya tidak mempan.
Harsa semakin terdorong ke belakang. Dia menebas belalang-belalang sembah itu ratusan kali, tapi dia terus terdorong ke belakang. Lama-kelamaan, tangan Harsa merasa kebas karena terlalu banyak menebas belalang sembah formskitter itu. Harsa dapat bisa bertarung sepanjang hari dengan belalang-belalang sembah ini, tapi dia akan kehilangan cadangan kekuatan untuk mengakhirinya.
“Ughh…” Harsa mulai putus asa. “Lis! Kita harus menggabungkan kekuatan untuk men-”
Kata-kata Harsa berhenti ketika melihat wajah pucat Lisa, yang dengan seluruh kekuatannya hanya bertahan untuk tak terbelah dua oleh serangan belalang sembah itu. Lisa tidak bergantung pada jumlah physis untuk bertarung. Dia hanya mengerakkan dan mengubah elemen. Namun, tampaknya mengendalikan elemen juga memakan tenaganya. Di tambah lagi, Lisa belum terbiasa untuk berdiri di Tepi Dunia Roh.
Aku harus menerjang ke sana sendiri. Pikir Harsa berkeringat dingin. Formskitter berbentuk pohon itu semakin jauh dari detik ke detik. Harus cepat, sebelum Lisa benar-benar kelelahan dan terluka parah. Apakah aku harus menghabiskan seluruh physisku untuk menyerang akar pohon formskitter itu?
Harsa ragu, karena dia tidak tahu bagaimana kondisi Gilda saat ini. Ketika pertama kali memasuki Tepi Dunia Roh, auranya dapat mendeteksi Gilda sedang bertarung dengan formskitter lainnya. Akan tetapi, pertarungan mereka telah berpindah begitu jauh hingga Harsa kehilangan jejak mereka. Harsa tidak yakin dia dapat membantu Gilda jika dia menghabiskan tenaganya di sini.
Harsa menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa ragu. Lisa taruhannya di sini. Harsa sudah menyiapkan seluruh physisnya untuk membuah laser raksasa berdiameter tiga meter untuk menghancurkan seluruh belalang sembah dan formskitter pohon itu dengan saatau kali serang. Namun, dia berhenti.
Tudung transparan di atas kembali terbuka. Dari sana, Edi dan Barasa turun ke medan pertarungan tepat ke depan Harsa.
__ADS_1