
Langit kota Drestha berwarna biru cerah ketika mereka mengantarkan Aster ke Universitas Drestha untuk memulai kehidupannya sebagai siswa di sana. Aster tersenyum lebar dan matanya berbinar-binar. Akhirnya, hari-hari sekolah yang dia nantikan sejak lama tiba juga. Dia melangkah seolah tanpa beban barang-barang yang dia bawa dari rumahnya.
“Ter, semangat banget.” Komentar Harsa.
“Hehe, iya dong!”
“Keluarga kamu nggak protes kamu masuk ke sekolah sihir, Ter?” tanya Harsa.
Senyum Aster menyingkir sebentar dan Harsa agak menyesal karena telah menanyakan pertanyaan itu, namun Aster kembali tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. ”Nggak apa-apa, kok. Mereka pikir aku dapat beasiswa kuliah di luar negeri atau ya seperti itu. Gak salah juga sih, aku benar-benar dapat beasiswa!” Kata Aster berubah senang lagi.
Berbeda dengan nilai ujian standarisasi Harsa yang pas-pasan, Aster mendapat nilai yang cukup tinggi, 897 dari 1000. Adipati Aakil sangat terkesan mendengar kabar ini. Tawanya meluap-meluap sambil menjabat tangan Aster dengan tegas.
“Zaman sudah berubah.” Katanya pada dirinya sendiri sebelum berpaling pada Aster. “Baiklah! Kamu berhasil melebihi ekspektasiku!” Dari cincinnya dia mengeluarkan setumpuk uang Kasarewang. “Sebagai gantinya, aku beri kamu beasiswa! Sana! Beli semua yang kamu perlu untuk mulai belajar!”
Jadilah sekarang, mereka berbelanja menghabiskan uang yang diberikan oleh Adapi Aakil.
“Yok, cepat guysl! Banyak yang harus kita lakukan hari ini.” Kata Adi memburu-buru mereka.
Adi membawa mereka ke toko batu akik dan cincin yang dulu pernah dia kunjungi. Di sana dia membelikan Aster satu cincin lagi yang berisi mantra untuk merekam realita dalam bentuk alternate reality dengan memanipulasi elemen cahaya dan elemen suara di sekitar mereka.
“Wow!! Kalau aja bisa merekam kegiatan kelas, kita bisa mengikuti kelas lagi dan lagi.” Kata Harsa takjut melihat teknologi sihir yang begitu maju.
“Keren sih, tapi kamu mau mengikuti kelas dua kali?” Dahi Aster berkerut membayangkan harus mendengarkan penjelasan gurunya tentang rumus statistik dua kali.
__ADS_1
Sementara itu dahi Adi berkerut. “Apa yang kalian bicarakan? Cincin ini berguna bukan untuk merekam seluruh kelas, hanya demonstrasi sihir saja. Semakin sering kalian melihat dan merasakan sendiri sihir, semakin mudah memahaminya.” Jelas Adi.
Baik mulut Aster dan Harsa huruf ‘O’. “Ooohh…” Kepala mereka mengangguk-angguk.
Selain membelikan alat-alat belajar untuk Aster, Adi juga dengan murah hatinya membelikan Harsa cincin yang berisi mantra untuk mengendalikan elemen air sambil berkata, “Jangan lupa ya, Samudra Pasifik.”
Harsa menelan ludah. Dadanya berdebar kencang memikirkan kakaknya akan membawanya bertemu paus biru. “Iya.” Katanya sambil mengelap keringat dingin.
Setelah dari toko penjual cincin batu akik tersebut, mereka pergi ke sebuah rumah kecil yang bahkan lebih mini daripada Gedung Kementrian Kemasyarakatan. Ruangan dalam gedung itu hanya berisi satu konter kecil yang dibelakangnya duduk tiga orang resepsionis dan bangku-bangku yang berjejeran di seluruh ruangan itu. Dua orang resepsionis sedang melayani pelanggan dan resepsionis yang ketiga langsung meminta Adi untuk duduk di depannya.
“Siang? Apa yang bisa saya bantu?” tanya Kasarewang dengan senyum ramah.
“Aku mau membuat Akun Ruang Simpanan untuk dua orang.” Jawab Adi.
Aster dan Harsa saling bertatapan karena bingung. “Akun Ruang Simpanan?” tanya Harsa.
“Ya.” Kata Adi lalu memamerkan cincin di telunjuk kanannya. “Satu brangkas pribadi untuk menyimpan semua benda yang bisa kuambil dari mana saja dengan cincin ini. Di dalamnya, terdapat mantra dekrit ruang yang langsung dapat mengakses brangkas yang disimpan oleh bank ini. Semua Kasarewang menggunakannya, jadi ada baiknya Aster juga punya satu. Lalu satu untuk kamu, Sa. Kamu nggak mungkin membawa senjata barumu ke sekolah kan?”
Harsa menggeleng keras-keras. Wajahnya pucat hanya dengan membayangkannya saja.
“Jadi, setiap kali kak Adi menarik satu barang dari udara kosong, kak Adi mengambilnya dari sini?” tanya Harsa.
Adi mengangguk.
__ADS_1
Aster dan Harsa mengisi formulir itu dengan pembakar kata, lalu melegalisirnya dengan cap kewarganegaraan mereka. Sungguh, Harsa tidak membayangkan akan menggunakan cap itu dalam jangka waktu singkat. Selesai menyetujui ketentuan pengguna layanan bank brangkas, resepsionis mereka menjelaskan sekali lagi.
“Kami tekankan sekali lagi, kami tak bertanggung jawab atas kehilangan barang apapun. Berbeda dengan cap kewarganegaraan, mantra dalam cincin ini dapat teraktifkan oleh physis siapa saja. Jadi cincin ini jangan sampai hilang atau jatuh ke tangan yang salah. Jika sampai hilang, mohon segera laporkan pada pihak bank, maka kami akan segera menonaktifkan mantra yang berada pada brangkas sehingga barang-barang dapat aman sesegera mungkin.”
Harsa mengangguk sambil menerima cincin yang diberikan oleh sang resepsionis. Dia mengalirkan physisnya dalam cincin itu. Berbeda dari melihat Adi menggunakannya, dia dapat melihat ruang di sekitar tangannya terdistorsi. Sebuah lubang hitam berdiamater dua puluh centi muncul di depan telapak tangannya.
Harsa memasukkan tangannya ke sana. Tangannya merasakan satu kotak kubus bersisi satu meter. Itulah bagian dalam dari brangkas yang disediakan oleh bank ini.
“Besar juga.” Komentarnya sambil memasukkan kedua bilah pedang kembarnya ke sana.
Selepas mendapatkan cincin yang jadi tas Kasarewang, mereka berangkat menuju asrama Universitas Drestha. Adi membawa mereka ke belakang gunung Drestha. Di pinggir kota, terhampar hutan luas yang menjadi tempat ujian standarisasi mereka waktu itu. Harsa langsung bergidik mengingat Singa Berapi yang mereka hadapi di tahap kedua ujian standarisasi.
“Kak, benar ke sini jalannya?” tanya Harsa takut. “Apa nggak akan ketemu binatang-binatang berbahaya?”
“Tenang. Di sini dipasang papan informasi kok yang menunjukkan wilayah Singa Berapi. Jangan masuk sana.” Kata Adi.
Dahi Harsa mulai berkerut ketika Adi membawa mereka masuk dalam gua besar alami penuh stalagmit dan stalaktit. Tak jauh ke dalam gua, terdapat satu stalakmit yang berbeda dari yang lain. Berbeda dari stalagmit-stalagmit lain yang berwarna abu-abu, stalagmit di tengah-tengah gua itu merupakan kristal biru bening yang bersinar jika terkena pantulan sinar matahari dari kolam yang berada di bawah stalagmit kristal itu. Dalam kristal bening berwarna biru kristal itu, Harsa dapat melihat dengan mata kepala sendiri dalam kristal itu ada uliran physis cair yang bersinar putih. Physis cair itu mengalir seperti benang-benang bercahaya yang membentuk satu simbol dekrit ruang. Gabungan antara cahaya samar-samar dari physis, warna kristal yang biru toska, dan cahaya pantulan matahari memerangkap perhatian Harsa. Dia dapat menghabiskan satu hari penuh untuk menikmati warna-warni indah dari kristal itu.
“Kita sudah sampai di depan gerbang Universitas Dretha.”.
__ADS_1