Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Ujian Standarisasi (2)


__ADS_3

Satu kali lagi, sura auman terdengar dari hutan. Suara auman yang menggetarkan baik hati maupun tanah dimana mereka berpijak. Mendengar suara auman yang mengerikan itu, keringat dingin membasahi telapak tangan Harsa. Aster di sebelahnya juga mengambil posisi bersiaga.


“Singa berapi?” tanya Aster. “Itu binatang yang ada di soal tadi.”


Harsa menahan diri untuk tidak mengutuk. “Aku nggak tahu apa-apa soal binatang berapi.”


“Kamu bercanda.” Balas Kasarewang yang terlihat lesu. Sekarang, wajah lesunya sudah berubah menjadi waspada. “Singa berapi bisa menjadi bahaya kebakaran yang besar kalau tidak ditangkap. Yang ini, entah kenapa, terdengar marah.”


Tentu, Harsa tak menyangka mereka akan dihadapkan langsung dengan singa berapi sungguhan. Harsa telah mendeskripsikan singa berapi sebagai seekor singa dengan rambut terbakar dan dapat meluncurkan bola api dari mulutnya. Harsa membayangkan sosoknya yang besar, mengerikan, dan sanggup menerkan rusa ataupun banteng. Namun, sosok yang muncul dari balik pohon-pohon adalah satu sosok kucing garong kecil dengan ekor yang ujungnya terdapat lidah api.


“Apa?” Dahi Harsa berkerut heran. “Apa itu anaknya?”


Bukan.“ Kata Rucira. “Nggak! Kita perlu pergi sekarang!”


Aster mengambil lengan Harsa dan menariknya ke belakang. Untunglah Aster melakukan itu. Kucing dengan ekor berapi itu melesat ke dekat pipi Harsa dengan kecepatan yang tak bisa dideteksi oleh mata kepala Harsa. Salah satu cakarnya menggores pipi Harsa. Darah segar berwarna merah mengalir dari pipinya.


“Woah!”


Mereka tidak menunggu lagi. Kriya menggendong Rucira lalu berlari dengan kaki yang di perkuat oleh physis. Kasarewang laki-laki itu juga menghilang entah kemana. Sementara itu, mata Harsa masih mengikuti pergerakan singa berapi itu, namun sosoknya sudah menghilang lagi. Harsa baru mulai mencari sosok kucing itu ketika Aster menarik lengannya yang belum dia lepaskan.


“Kita harus pegi, Sa!” Teriak Aster. “Singa berapi itu cepat sekali, dan agresif! Dia akan menyerang siapa saja yang masuk ke wilayahnya!”


“Aku tak tahu!”


“Iya, sekarang kamu tahu, jadi lari!” Teriak Aster puts asa. “Masalahnya kita tidak boleh melukai apalagi membunuh mereka!”

__ADS_1


Harsa mengutuk kebodohannya sendiri dalam hati lalu mulai berlari mengikuti langkah Aster. Belum juga mereka berlari jauh, singa berapi itu sudah kembali berada di depan mereka. Detik itu, insting bertarung Harsa bangkit. Matanya menangkap gerakan kecil dari mulut singa berapi.


“Awas telinga!” Dua kata itu dalam bahasa Indonesia cukup untuk mengarahkan Aster untuk menutup telinganya.


Suara auman yang dari jauh sudah menggetarkan tanah itu dilemparkan ke depan muka mereka. Suara itu sangking kerasnya hingga melemparkan tubuh Harsa dan Aster satu meter ke belakang. Kepala Harsa langsung pusing dan dia kesulitan berdiri kembali, tapi mengingat singa berapi itu punya kecepatan pembalap mobil F1, Harsa tak punya kesempatan untuk merasa kesulitan. Pengalamannya berada di ujung tanduk jurang kematian ketika melawan formskitterlah yang menyelematkaannya dalam situasi seperri ini.


Ya ampun, bagaimana kita bisa lari dari singa berapi ini kalau misalnya dia lebih cepat dari kita? Batin Harsa dalam hati.


Pada saat itu, sebenarnya pengawas ujian sudah akan menolong mereka, namun Harsa langsung teringat akan daya tarik elektromagnet yang diterapkan untuk membuat kereta super cepat. Tentu dia tidak tahu bagaimana menghitung jumlah physis dan elemen elektromagnetik yang harus dia gunakan. Harsa tak sempat berpikir untuk membuat loop kutup positif negatif yang akan membuat dirinya maju, dia hanya mengambil kedua pedang yang Adi berikan, kemudian dia memasukkan elemen elektromagnetik dengan kutub yang berbeda pada dua bilah pedangnya. Dia memasukkan hampir setengah dari jumlah physisnya untuk menjadi elemen elektromagnetik. Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, dia mengambil lengan Aster sebelum akhirnya dirinya terlempar oleh gerakkan tolak menolak dari gelombang magnet yang tiba-tiba terbentuk antara dua belah pedangnya. Mereka berdua terlempar tak terkontrol ke belakang entah berapa jauh.


Harsa menyelimuti dirinya dan Aster dengan physis. Kalau tidak, tubuh mereka dapat remuk karena bertubi-tubi menhantam pohon-pohon di hutan itu. Mereka berdua jatuh terseret di tanah hutan setelah beberapa ratus meter sebelum akhirnya benar-benar berhenti.


“Argh.” Keluh Harsa yang merasa seluruh badannya seperti adonan roti yang dipukul terus menerus selama berjam-jam.


Aster membantunya bangun. Anak perempuan itu lebih tak terluka karena Harsa yang melindunginya. “Astaga, kamu nggak apa-apa?” Tanya Aster panik.


Aster terlihat bingung. “Aku juga resah karena mereka nggak menjelaskan maksud dari ‘menghadapi’, tapi kalau aku tak salah, singa berapi tak dijinakkan. Mereka seperti singa yang bagaimana pun juga, bukan binatang peliharaan.”


“Apa yang mereka mau sih?!” Harsa merasa sayang karena salah satu bilah pedangnya tertinggal di jauh di depannya.


“Bentar, Sa. Singa berapi merupakan binatang yang sangat territorial. Dia tidak akan mengejar atau melukai kita kalau kita keluar dari teritorialnya.” Jelas Aster.


“Jadi, kita memang harus lari?!” Harsa sudah bersiap dan menaruh banyak physis ke kakinya.


“Iya! Tapi nggak sembarangan! Teritori singa berapi bisa mencapai dua puluh kilo meter, dan kita nggak tahu dimana batasan teritorinya. Bisa jadi, kita malah berputar-putar sembaran di teritorinya. Apalagi kalau kita tidak tahu batasan dari teritorinya.”

__ADS_1


“Lalu bagaimana?”


“Secara idealnya, kita bisa pergi untuk mencari tanda-tanda cakaran dari singa berapi, tapi aku nggak merasa kalau seperti itu tidak pratikal. Mungkin akan lebih mudah kalau kita bisa berpindah langsung dengan dekrit sihir ruang.”


Harsa menepuk jidatnya. Dia teringat bagaimana salah satu peserta ujian dari kelompok mereka langsung hilang begitu saja. Apa dia punya dekrit ruang? Atau mungkin dia membawa cincin dekrit ruang? “Kurasa hal seperti itu nggak bisa.” Katanya pada diri sendiri. “Apa kamu punya ide lain?”


Alis Aster mengerut dan dia menggeleng panik. “Uh! Yah, mungkin benar pikiranmu yang pertama. Aku merasa lebih baik kita nggak diam saja!”


“Coba kita asumsikan kalau para pembuat soal itu, menaruh kita di tengah-tengah teritori mereka, mungkin kita bisa keluar dengan berlari berlawanan.” Pikir Harsa asal. “Apa kamu bisa berlari sendiri?”


“Apa kamu bisa berlari sendiri?” tanya Aster sambil melihat tangan dan baju Harsa yang sudah mulai rusak karena tergusruk tanah tadi.


Harsa tertawa. Dia bahkan tak menyadari keadannya sendiri. “Aku akan baik-baik saja selama masih ada adrenalin rush.”


Aster tak enak, namun dia terpaksa mengangguk setuju kalau mereka akan berlari ke arah yang berlawanan. Di saat itu, sebuah teriakkan keras terdengar dari jauh. “AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!”


Harsa dan Aster langsung terdiam karena ketakutan.


“Mereka benar menjamin keselamatan kita kan?” tanya Aster sudah akan menangis.


“Sekarang aku nggak yakin.” Jawab Harsa.


Untunglah tak lama, terdengar suara peluit keras yang diikuti oleh nyanyian yang menyatakan bahwa ujian telah selesai. Harsa dan Aster merasa lega dan khawatir. Lega karena ujian telah berhenti. Khawatir karena mereka tidak tahu apa yang terjadi di ujian ini, apalagi apakah mereka lulus atau tidak.


“Apa yang terjadi?” tanya Harsa pada akhirnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2