
Tempat itu tidak terlalu berbeda jauh dari hutan yang baru saja mereka lewati. Namun, aura mereka berkata sebaliknya. Binatang-binatang sihir yang dari tadi tersebar dengan luas di daerah mereka hilang sudah, tanpa jejak. Di sekitar mereka begitu sepi hingga Harsa bergidik. Mereka jelas-jelas telah memasuki wilayah yang berbeda.
“Selanjutnya kemana kita harus pergi?” tanya Harsa bingung pada kakaknya.
Adi menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu. Aku baru pertama kali juga pergi ke sini.” Kata Adi matanya tetap memandang sekitar dengan waspada. Nalurinya sebagai prajurit terlatih langsung bangkit ketika dia memasuki tempat baru.
Harsa tidak tenang berdiam diri. Dia melangkah ke depan, walaupun entah ke mana. Adi mengikutinya dari belakang. Semakin mereka masuk ke dalam hutan, pohon-pohon semakin jarang. Namun pepohonan itu semakin tinggi besar. Satu pohon bisa mencapai dua puluh meter ke atas. Matahari dari atas bersinar terik. Namun dedaunan menutupi cahaya matahari.
Di bawah bayang-bayang matahari itu, seorang wanita kasarewang tiba-tiba berdiri di sana. Harsa dan Adi mengambil langkah ke belakang, waspada. Harsa tidak tahu dapat merasakan aura kehadiran wanita itu. Wajahnya yang tak berkespresi membuat Harsa ketakutan. Wanita itu tinggi, bhakan lebih tinggi dari Adi. Kulitnya yang putih pucat terlihat tidak sehat. Matanya berwarna ungu terang bercahaya di balik bayang-bayang. Rambutnya yang berwarna merah muda lurus mencapai pinggang. Dia mengenakan dress putih polos. Kakinya menjejak ke rumput-rumput hijau dan tanah tanpa alas kaki apa pun.
Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya, wanita Kasarewang itu akhirnya bernyanyi pada mereka dengan bahasa Kasarewang. “Sang Raja telah memberi tahu tentang kedatangan kalian hari ini jauh hari. Ayo, ikut aku. Aku tahu kalian ingin berbicara dengan Dewa Kehidupan melalui altar suci kami.”
Tanpa menunggu balasan mereka, wanita Kasarewang itu berbalik dan menuntun mereka tanpa kata-kata. Harsa dan Adi juga mengikuti dia tanpa kata-kata. Harsa melirik Adi yang mengangguk dan ikut mengikutinya.
“Dia sudah tahu kedatangan kita dari dulu?” bisik Harsa bingung.
“Raja mungkin tahu dari dekrit waktu…” Jawab Adi.
“Tapi kalau begitu… dia tahu kejadian sekolah kemarin?” Dahi Harsa berkerut mengingat kepulangan Gilda ke Dunia Roh.
“Tidak berarti seperti itu…. Aku pikir sang Raja tidak tahu semuanya.”
Percapakan mereka terputus oleh pemandangan yang mereka lihat. Di balik batang pohon-pohon yang semakin membesar, sebuah kastil tua dari batu berdiri. Di lantai dua kastil tersebut, terdapat teras lantai dua yang tersambung dengan pintu kaca. Aura-aura Kasarewang di dalam kastil itu menarik perhatian Harsa ke kastil itu, meski wanita Kasarewang itu terus berjalan melewati kastil batu.
Pintu kaca lantai dua itu terbuka lebar. Dari dalam kastil seorang gadis Kasarewang berlari ke balkon. “Nek!!”
__ADS_1
Harsa terkejut melihat satu pasang mata hijau dengan rambut pink lurus acak-acakan yang dia kenal. “Rucira?”
“Harsa!” Teriak Rucira senang. Dia meloncat dari lantai dua dengan santai. Rumput-rumput di bawah berkembang dan membentuk kasur untuk menahan tubuhnya agar tidak terluka. “Kamu BISA, main ke sini?”
“Rucira, mereka tidak datang ke sini untuk main.” Kata wanita Kasarewang. “Kembalilah ke dalam.”
“Ouhh.” Kata Rucira kecewa.
Rucira tidak lengkap tanpa Kriya. Dia muncul dari pintu depan dan menggenggam lengan Rucira. “Ayo, masuk.”
“Apakah aku tak bisa membantu?” tanya Rucira tak ingin kembali ke dalam rumah.
“Aku rasa nggak masalah.” Kata Harsa. “Kenapa kamu di sini?”
“Kamu keturunan adipati?” tanya Harsa kaget.
“Ya. Adipati sebelumnya adalah kakekku.” Kata Rucira biasa saja.
Dia mengikuti Harsa dan Adi ke masuk jauh ke dalam hutan. Di bagian hutan yang lebih dalam, terdapat batu-batu kotak yang disusun menjadi satu altar kecil. Altar itu berdiri dengan tenang, seolah tak tersentuh selama ratusan tahun. Dedaunan tumbuhan merambat tumbuh di sela-sela altar itu. Sinar-sinar matahari menyentuh altar itu dengan lembut.
“Itu?” Dahi Harsa berkerut. “Altarnya?”
“Ya.” Wanita Kasarewang itu mengangkat tangannya dan tumbuhan-tumbuhan itu menyingkirkan dirinya sendiri dari altar batu itu. Rucira ikut membantu.
Di atas altar tersebut, ada corak cap yang sangat rumit. Harsa datang ke depan itu dan menyentuh lambangnya dengan perlahan. “Apa yang harus aku lakukan?”
__ADS_1
“Taruh physismu ke sana. Lalu, doamu akan tersampaikan pada Dewa Kehidupan.” Jawab wanita Kasarewang itu tanpa berekspresi.
Harsa mengangguk. Dia membuka Kainya sedikit dan mengalirkan physisnya ke simbol di atas altar tersebut. Kemudian semuanya senyap. Pandangan hilang selagi semuanya menjadi putih polos. Secara paksa, Kainya terbuka lebar. Sebuah kekuatan dari Dunia Roh yang tak terhingga mengalir ke tubuhnya. Tubuh Harsa naik ke atas altar karena physis asing yang melimpah ruah mengalir melaluinya.
Harsa merasa tertimpa kekuatan yang menekannya hingga dia tak bisa berdiri. Dia seperti berada di ruang marbel putih tempat Kainya berada, tapi sekarang dia menatap Dunia Roh yang berada dibalik Kainya tanpa penghalang sedikitpun. Harsa tahu dia melihat Dunia Roh, namun matanya tidak dapat menangkap sosok apa-apa.
Namun dia dapat merasakan satu keberadaan. Satu keberadaan yang menunggunya mengatakan sesuatu. Harsa tidak perlu ragu, dialah Dewa Kehidupan itu. Harsa tahu dia harus minta agar disembuhkan, namun air matanya mengalir turun.
Kenapa? Pikir Harsa. Kenapa Kasarewang harus bertarung melawan formskitter selamanya? Pikirannya melantur pada Gilda. Apakah dia berada di sana?
Tidak ada jawaban dari keberadaan itu. Setelah Harsa menangis, dia merasa lega. Tanpa meminta, physis asing yang mengalirinya mulai menghilang. Abu hitam perlahan keluar dari tangannya, terus hingga kembali seperti semula. Bersih. Tanpa formskitter yang dapat sekali-kali datang dan menjebaknya. Bentuk dari vasalnya pun berubah menjadi dirinya sendiri, seperti semula. Bentuk mengerikan dari vasalnya yang seperti monster setelah dipaksa bergabung dengan formskitter hilang sudah. Harsa tahu, dia benar-benar sembuh. Lalu ada bisikan yang muncul di pikirannya. Bisikan pertama merupakan ketukan masuk. Tenang dan tak mengusik. Lalu bisikan lainnya kembali muncul dengan suara jelas yang tidak menekan.
“Waktu akan menjawab.”
Setelah jawaban itu, semua physis yang muncul dari Dunia Roh kembali lagi melalui pintu Kainya itu. Pintu Kai Harsa tertutup rapat. Tubuhnya terjatuh dari atas altar ke tanah yang dipenuhi oleh tumbuhan merambat. Matanya masih sembab dan pipinya masih basa.
Harsa membuka mata. Adi, Rucira, dan Kriya menatapnya dengan khawatir.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Adi.
Harsa mengangkat tangan kirinya yang sudah kembali seperti semula. Dia mengalirkan physisnya ke sana dengan lancar. Dengan percaya diri, Harsa menjawab. “Ya.”
__ADS_1