Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Kota Drestha (4)


__ADS_3

Beberapa waktu lalu, setelah mendaki beberapa menit mendaki, Aster dan Adi sampai di salah satu tanah landau dengan pohon-pohon karet yang jarang-jarang. Berbeda dengan hutan yang mereka lewati, sebuah gubuk yang sebelah kirinya hancur. Aster memberikan Adi tatapan ragu, namun Adi mengetuk pintu depan gubuk itu tanpa memperhatikan bagian gubuk yang terbuka di se belah kiri.


Tak lama, pintu gubuk itu terbuka, dan seorang pria yang setengah rambutnya sudah beruban keluar dari gubuk tersebut. Dia mengenakan jas putih yang jelas-jelas kotor oleh debu dan serbuk kyau. Di balik jasnya, dia mengenakan kaos yang sudah lusuh dan celana jeans yang sudah tipis dan robek. Secara umum, penampilan orang itu tidak menunjukkan seorang bangsawan, namun matanya langsung memukau Aster.


Mengesampingkan mata panda dan kerutan-kerutan di sekitar matanya, pandangan pria berumur itu lembut sekaligus tajam. Kedua matanya berwarna ungu tua, namun bukan hanya ungu tua, warna biru tua dan hitam juga sering berkelibat di sana. Titik-titik kilauan juga bersinar dari mata itu, seperti sebuah lukisan luar angkasa yang ditaburi gliter perak. Melihat ke dalamnya seperti tersedot oleh lubang hitam.


“Ehm.” Pria tua itu terbatuk.


Aster baru tersadar dari lamunannya mendengar suara batuk. Secara otomatis dia langsung menunduk karena malu.


“---------------------.” Pria itu menyapa Adi ramah. Dia mengelurkan tangan. Namun, Adi malah berlutut dengan sebelah kaki sebelum menyambut jabatan tangan itu.


“----------------------------.” Balas Adi. Lalu berpaling pada Aster. “Perkenalkan, dia adalah mentar yang aku maksud. Namanya Adipati Aakil.”


Aster turut membungkuk dan memperkenalkan dirinya. Adipati itu membawa mereka ke petak tanah kosong di belakang gubuknya. Di sana, dia berkata pada Aster dalam bahasa Kasarewang. “-------------------------.-----------------------------------------.”


“Dia memintamu untuk mendemonstrasikan sihirmu.” Adi langsung menerjemahkan.


Tanpa ragu, Aster langsung mengelendalikan elemen angin, air, dan tanah. Dia juga menunjukkan bagaimana dia bisa membuat elemen-elemen tersebut dari physis di dalam tubuhnya. Meskipun, Aster berakhir menjadi sangat kelelahan. Terakhir, dia juga menunjukkan penguasaannya akan dekrit hidup dengan membuat satu buah daging kecil, yang langsung menghilang ketika Aster kehabisan physisnya. Lelah karena kehabisan physis, Aster terjatuh karena tak sanggup menahan berat Tepi Dunia Roh.


“--------------------.”


“Bagaimana dengan satu lagi? Kamu bisa membuat cadangan physis bukan?” tanya Adi.


Aster memandang Adi dengan tak yakin.


“Yang kamu buat dalam tubuhmu. Juga yang kamu buat di luar tubuhmu. Batu apa, kalian sebut, yang bisa menyimpan physis.”


“Maksudmu ini?” tanya Aster mengeluarkan batu akik yang tidak sengaja dia bentuk saat bermain-main dengan physis. Batu akik itulah yang Harsa ambil dari kamar Aster untuk menemukan keberadaan Aster waktu dirinya diculik.


Tanpa mengatakan apa-apa, Aakil mengulurkan tangannya, meminta batu akik itu dari Aster. Ragu-ragu, Aster menyerahkan mahakaryanya itu pada Aakil.

__ADS_1


Sang Adipati memperhatikan batu akik hitam mengkilap baik-baik sebelum tersenyum miring. Dia mengembalikan batu akik itu pada Aster, lalu kembali berbicara dengan Adi. Mereka berdua bercakap-cakap terus sementara Aster menunggu. Pada awalnya, Adi tampak senang dan bangga, namun senyumannya segera hilang setelah beberapa patah kata dari sang Adipati. Pembicaraannya mereka berubah menjadi perdebatan, namun satu tatapan tegas dari sang Adipati membungkam mulut Adi.


Kasarewang muda itu menghela nafas menyerah, lalu memberikan salam hormatnya pada Adipati Aakil. “Ayo, pergi.” Katanya pada Aster.


Dahi Aster berkerut bingung. “Apa?” Dia memberi salam terakhir pada sang Adipati sebelu mengikuti langkah kaki Adi. “Ada apa?” tanya Aster sambil mengejar Adi yang sudah mulai turun gunung.


“Dia bilang kemampuanmu sangat unik dan kau berbakat, tapi dia meminta maaf karena tidak bisa mengajarimu.”  Jawab Adi tanpa berhenti berjalan.


“Kenapa?!”


“Yah, alasan pertamanya lebih bisa diterima. Dia bilang akan sulit ketika kamu bahkan tidak mengerti apa yang dia katakan. Kedua, dia bilang dia telah berjanji pada Pihak Kementrian Pendidikan untuk mengajar penuh di Universitas lima dekade lalu, jadi dia merasa tidak sopan jika menerima murid di luar Universitas.” Cerita Adi. “Tapi itu tak masuk akal! Dia itu Adipati! Pihak kementrian tidak akan bisa mendesaknya. Dia tidak perlu takut menyinggung siapapun selain Raja!”


Aster terdiam mendengarkan. Sepertinya sepatah kata apapun dari dirinya malah akan membuat Adi semakin kesal.


“Ya, sudah. Pertama kita cari dimana Harsa dulu.” Kata Adi menanggapi Aster yang tutup mulut.


“Oke.” Kata Aster setuju.


Adi baru mau melebarkan auranya untuk menemukan Harsa, ketika suara ledakan api dari dalam hutan terdengar keras. Adi memiringkan kepalanya. “Tampaknya takkan sulit menemukan anak itu.”


Alis Harsa menaik seusai mendengarkan seluruh cerita Aster. “Jadi, kita kemari sia-sia?”


“Yah, setidaknyha kamu bisa jalan-jalan, dan dapat rusa sihir ini.” Bantah Adi langsung.


“Lalu kita tahu apa saja syaratnya agar Adipati Aakil mau mengajariku sihir.” Tambah Aster dengan senyum yang dipaksakan.


“Maksudmu?” tanya Adi bingung.


“Tolong ajari aku bahasa Kasarewang.” Kata Aster penuh tekad. “Lalu, bagaimana cara masuk Universitas Drestha yang dia bicarakan ini?”


“Ka, kamu mau masuk universitas khusus Kasarewang?!” tanya Adi kaget.

__ADS_1


“Apakah tidak boleh?”


Adi menggeleng. “Bukannya tidak boleh, hanya…. Tidak pernah ada manusia yang ikut ujian seperti itu sebelumnya.”


“Berarti bisa kan?” Pojok Aster lagi.


“Ya, kurasa dapat… tapi untuk masuk universitas kamu harus lulus ujian standarisasi untuk dapat kewarganegaraan Kasarewang. Biasanya anak-anak Kasarewang akan bersekolah selama sepuluh tahun untuk mengikuti ujian itu. Sekolahnya tak wajib, tapi…”


Muka Aster memucat. “Aku akan berusaha. Kapan ujian ini biasanya diadakan?”


“Mungkin satu tahun lagi.”


“Memangnya seperti apa ujian ini?” tanya Harsa penasaran.


“Ujian standarisasi biasa dibagi menjadi tiga bagian. Tertulis, praktik binatang sihir, dan praktik mengalahkan formskitter. Dalam ujian tertulis, kamu harus bisa menyelesaikan soal mengenai Pengetahuan Dasar, Sejarah Kerajaan Kasarewang, Bahasa Kasarewang, dan Peraturan Kenegaraan Umum.” Cerita Adi.


“Terdengar banyak.” Kata Harsa sambil menelan ludah.


“Akan aku coba dulu. Kalaupun  gagal tahun ini, tahun depan juga bisa coba lagi kan?”


“TIdak terdapat peraturan untuk hal itu, tapi ada benarnya kamu berpikir seperti itu. Berbeda denga ujian tertulis yang dapat lulus hanya dengan menghafal, untuk lulus ujian praktik kamu harus jadi kuat, Aster.” Kata Adi, lalu berpaling pada Harsa. “Bagaimana dengan kamu Harsa? Kemarin ini aku merasa kamu sudah cukup kuat untuk melawan formskitter. Aku juga sudah merasa kamu cukup kuat untuk lulus dalam ujian praktik, tapi mengingat kamu tidak tahu apa-apa soal Kasarewang…. Aku rasa aku harus ke rumah untuk mengajarimu, sekalian… mengajari Aster.”


“Uhh, maksudmu apa aku mau ikut ujian standarisasi?”


“Ide bagus!” Sambut Aster semangat. Dia menggenggam tangan Harsa. “Ayo, Sa! Ikut ujian ini bersama aku! Jadi kita bisa belajar bareng!”


“Ohh, tapi aku tidak tahu apakah aku mau tinggal di Kota Drestha atau tidak…”


“Menurutku akan lebih baik kamu coba belajar untuk ikut. Biasanya Kasarewang yang mengikuti ujian ini berumur dua dekadi, tapi akan lebih baik kamu mulai belajar lebih awal. Kecuali kamu benar-benar tidak ingin bekerja di Drestha sama sekali. Apa yang kamu mau Sa?” tanya Adi.


Harsa terdiam bingung. Apa yang dia mau? Harsa menutup matanya, dia membayangkan wajah tentara Kasarewang yang menyebalkan tadi. “Menurut kak Adi, apa akan terus diperlakukan seperti tadi kalau tidak ikut ujian ini?”

__ADS_1


“Pastinya hidupmu akan lebih mudah di Drestha kalau kamu punya cap kewarganegaraan, karena semua orang akan menganggapmu sebagai orang dewasa.” Jawab Adi.


“Baiklah. Mungkin aku akan coba.” Kata Harsa pada akhirnya, meski dia belum terbayang bagaimana lelahnya dia kembali berlatih setiap minggu dengan Adi.


__ADS_2