
Kembali ke sekolah, Harsa tidak menyangka bahwa rumor dirinya menghajar para senior dengan brutal akan tersebar ke setiap telinga murid. Harsa jadi terkenal sebagai preman sekolah yang ditakuti oleh seluruh angkatan. Sisi positifnya adalah, tidak ada lagi murid yang berani mengganggu Harsa. Bahkan senior-senior di klub bela diri tidak berani merundung Harsa lagi.
Waktu terasa cepat setelah kejadian tegang menyelamatkan Aster dari penculikan. UAS pun tidak terasa menegangkan, jika dibandingkan dengan seutas benang jauhnya dari kematian ketika bertarung melawan Adit. Tanpa Harsa sadari, dia sudah sampai ke liburan kenaikan kelas di bulan Juni. Sampai di hari libur pertama mereka, Harsa dan Aster tidak berhenti satu minggu pun dari latihan mereka bersama Adi. Sepanjang latihan itu, Adi semakin memiliki insight terhadap kemampuan sihir Aster.
“Kamu sangat mahir mempersepsi elemen-elemen di lingkungan.” Puji Adi sambil memiringkan kepalanya. “Jenis elemen yang dapat kamu kendalikan terus meningkat.”
“Ya, tapi aku tak bisa mendeteksi physis kalau kamu nggak mengajari aura.” Balas Aster ringan.
Mereka sedang berlatih sihir bersama di Tepi Dunia Roh. Lembah hijau terhampar luas. Jauh di ujung garis mata, pegunungan mengelilingi mereka. Semilir udara dingin mencambuk wajah mereka di subuh hari Minggu, setelah mereka selesai beristirahat di apartemen portable Adi. Harsa sedang duduk sambil merenungkan elemen apinya. Dia mencoba mengubahnya menjadi elemen api merah menjadi api biru, lalu putih, hingga menjadi laser. Sudah beberapa hari ini, Harsa belatih sendiri untuk memahami Dekrit Abstrak. Dia melihat ke dalam dirinya sendiri dan sampai ke lorong putih dalam dirinya. Dia kembali berdiri di belakang kain jala yang sebelumnya bergambar simbol api. Sekarang, simbol api itu tak hanya berwarna merah, warna berubah dari merah di tengah, kemudian, oranye, kuning, biru, dan putih. Bukan hanya simbol api itu berubah warna, saat ini simbol itu berubah bentuk. Di bagian atas, terdapat simbol baru seperti garis-garis yang tak terlihat.
Apa ini? Pikir Harsa dalam hati. Di dalam intuitisinya, Harsa seperti mengerti, tapi dia tidak bisa menjelaskan bagaimana dia dapat mengubah physis menjadi elemen laser. Pengetahuan itu seperti tersimpan rapi di belakang kepalanya, tapi tidak bisa dia jelaskan. Bagaimana caranya aku bisa mengubah physis menjadi elemen laser, dan bagaimana aku bisa mengembangkan elemen lainnya?
Lama tak bisa menentukan jawaban, Harsa kembali mengarahkan fokusnya ke luar dirinya. Sementara dirinya sibuk berpikir, Adi sedang mengawasi Aster yang terus berlatih untuk meluaskan auranya. Adi sudah beberapa kali menjelaskan tentang aura, namun sampai saat ini Aster belum mengalami kemajuan.
“Satu kali lagi.” Pinta Aster walau sudah terengah-engah. Dari dalam cadangan physisnya, dia mengeluarkan aura yang tipis dengan lebar hingga lima meter ke depan. Aster mengontrol auranya itu hingga berbentuk bulat, segitiga, kotak. Namun, setiap kali Aster berusaha untuk melebarkan auranya hingga lima belas meter, keringat dingin mengucur dari dahi Aster. Lututnya lemas dan dia terjatuh di bawah tekanan physis Tepi Dunia Roh ketika seluruh physis dalam tubuhnya habis.
“…” Adi berkomentar dengan perasaan tak enak. “Tampaknya…. Terlalu kecil untuk dikatakan aura yang baik.”
Dengan murah hati Adi membantu Aster untuk duduk. “Uhh… Rasanya aku nggak ada kemaujan selama dua bulan ini…” Kata Aster terengah-engah.
Adi menggeleng-geleng. “Kamu berhasil membuat cadangan physis di tubuhmu, tapi physis yang bisa ditampung di sana tidak banyak. Berbeda dengan membuka Kai yang bisa memberikan physis tak terbatas dari Dunia Roh, cadangan physismu dapat diisi kembali dari istirahat dan makan. Karena jumlahnya yang kecil, kamu hanya bisa melebarkan aura sampai sejauh lima meter agar stabil.” Kata Adi lebih kepada dirinya sendiri. "Cadangan physismu juga tidak membesar selama dua bulan ini dan aku juga tidak paham bagaimana cara untuk memperluasnya."
“Apakah aura sangat penting dalam sihir? Aku merasa bisa melakukan sihir biasa saja tanpa aura.” Ungkap Aster.
__ADS_1
“Aura penting bukan hanya untuk mempersepsi physis dan elemen, juga pergerakan musuh. Jika musuhmu mengubah physis menjadi satu elemen tertentu untuk menyerangmu, kamu bisa memperkirakan serangan apa yang akan muncul dan bertindak ke depannya. Selain itu, ketika bertarung, kamu selalu berada di posisi yang lebih baik jika memililki akses terhadap lebih banyak physis.” Kata Adi, mengingat ratusan pengalamannya berhasil memenangkan pertarungan hanya karena dia dapat menarik physis dari Dunia Roh dalam jumlah besar, bukan karena dia dapat menyusun strategi yang baik untuk menyelesaikan pertarungan itu.
“Uhh. Jadi, intinya, aku tidak pandai bertarung?” tanya Aster murung. "Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubahnya?"
Adi mengambil sedikit waktu untuk memandang Aster tepat di mata sebelum menjawab, “Ya.”
Aster menghela nafas. Tampak kecewa. “Kalau begitu aku tidak bisa menjadi lebih kuat dari ini?”
“Kamu tidak perlu fokus untuk menjadi kuat. Tidak semua sihir dipakai untuk bertarung. Banyak sihir bisa dipakai untuk hal yang berguna.” Hibur Adi tanpa ragu. “Kamu tidak perlu berkecil hati. Menurutku pribadi kamu cocok untuk menjadi anggota tim anti-sihir. Soalnya kamu mampu mengubah physis menjadi berbagai macam elemen dan memanipuasi banyak sekali jenis elemen. Kasarewang hanya mampu mengubah physis menjadi elemen tertentu di bawah dekritnya. Memanipulasi elemen yang ada di lingkungan tidak efektif karena tergantung pada lingkungan, elemen tersebut dapat tersedia atau tidak. Beda dengan dirimu, kalaupun kamu tidak bisa menggunakan physis dari Dunnia Roh, kamu bisa menggunakan physis dan elemen yang ada di lingkungan dengan bebas. Kamu harus memaksimalkan keuntungan itu.”
Mata Aster berbinar-binar. “Jadi aku bisa mencegah bencana alam?”
“Ya, jika yang disebabkan oleh sihir. Manipulasi elemen dan physis dalam jumlah besar berbahaya. Setelah bertarung, kami dapat kembali menyeimbangan physis dan elemen di lingkungan.” Jelas Adi.
"Kalau begitu, untuk apa membutuhkan tim anti-sihir?"
Aster mengangguk-angguk mengerti. “ Tapi, kenapa aku tidak bisa mencegah semua bencana alam?” Tanya Aster penasaran.
“Ketidakseimbangan elemen bisa terjadi karena banyak hal. Tidak semua disebabkan oleh sihir. Yah, ada juga orang-orang yang ingin berkeliling dunia untuk menjaga keseimbangan elemen untuk mencegah bencana alam, tapi pekerjaan seperti itu biasanya tidak dibayar dan tidak ada yang dapat hidup dari pekerjaan seperti itu.”
Aster menggeleng-gelengkan kepalanya. “Padahal sangat bermanfaat."
"Uhh, ya. Mungkin beberapa kali tim anti-sihir melakukan kegiatan seperti itu. Aku tak tahu juga. Setahuku mereka berinisiatif melakukannya, meski bukan tugas utama dari tim anti-sihir. Kalau ada tim yang terus berkeliling dunia seperti itu, aku rasa harus terdiri dari manusia."
__ADS_1
"Ya! Tolong ajarkan aku dong, sihir untuk ikut dalam tim anti sihir.” Pinta Aster memohon sungguh-sungguh.
Adi menggaruk kepalanya. “Uuuh. Aku seorang tantara dan berspesialisasi tentang pertarungan. Singkatnya, kamu harus mempelajari cara mengubah banyak elemen, tapi aku hanya bisa mengubah elemen-elemen di bawah dekrit abstrak dan dekrit material.”
“Ah, kalau aku pun disuruh belajar elemen di bawah Dekrit Abstrak harus belajar sendiri.” Keluh Harsa ikut dalam pembicaran mereka.
“Setelah satu tahun ini, aku rasa kamu cukup kuat untuk mempertahankan dirimu sendiri. Jujur, Sa. Kamu belajar cukup cepat. Setelah ini, aku rasa aku tidak punya apa-apa untuk diajarkan padamu. Dalam mempelajari elemen-elemen di bawah Dekrit Abstrak, kamu lebih baik merenung sendiri karena sihirmu akan menjadi unik.” Jawab Adi tanpa sedikit pun perhatian.
“Kalau begitu, gimana aku harus belajar sihir untuk masuk tim anti-sihir?” tanya Aster. Selama bulan-bulan ke belakang, Aster sudah mempelajari banyak hal tentang sihir, terutama tentang manipulasi physis dan aura. Namun, tampaknya Adi sudah tidak memiliki bahan lanjutan untuk mengajarkan mereka.
“Tidak banyak yang bisa mengajarkan cara untuk memanipulasi berbagai macam elemen di bawah berbagai macam dekrit, tapi aku tahu satu orang.” Kata Adi.
“Apa aku bisa bertemu dengannya?”
“Ya. Aku dapat membawa kamu ke Kota Drestha untuk menemuinya.” Ajak Adi santai.
“Kota Drestha? Kak, aku juga mau ke sana!” Harsa ikut berdiri dengan bersemangat. Sejak mendengar tentang adanya kota para Kasarewang, Harsa penasaran dengan bagaimana rupa kota yang dihuni oleh manusia abadi.
“Oh, ya. Kamu juga belum pernah ke sana ya?” tanya Adi sambil mengangguk-angguk. “Boleh saja selama akhir pekan seperti ini.”
“Liburan ini gimana? Mumpung sebentar lagi liburan sekolah.” Kata Aster bersemangat. Dia ikut berdiri karena physisnya sudah terkumpul kembali.
Tanpa sadar, Adi ikut tersenyum melihat semangat Aster yang tinggi.
__ADS_1
“Kalau gitu, sudah diputuskan! Minggu depan kita ke Kota Drestha!” Kata Harsa ikut berdiri. “Janji, ya, kak! Sekalian hadiah ulang tahunku.”
“Iya, janji.” Kata Adi mengangguk. “Janji.”