Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Serangan Pertama


__ADS_3

“E, a, uh?” Harsa langsung tergagap sangking kagetnya.


Mata Aster memincing karena curiga. “Tadi, di aula. Kamu menyalakan api memakai sihir’kan? Waktu bermain basket juga, kamu sampai mengeluaran percikan api.”


“Nggak. Kayaknya ada kesalahan. Mana mungkin manusia bisa mengeluarkan api?” Harsa asal berbicara karena panik.


Aster menggeleng-gelengkan kepala. “Aku yakin yang kulihat itu sihir.”


“Ahhh. Uhhh.” Ketika Harsa sedang mencari alasan, matanya menangkap tudung transpran yang terbuka di kiri mereka. Dari tudung transparan itu, keluar burung hitam raksasa yang memberikan aura tekanan seperti Adi. Seluruh bulu kuduknya berdiri, berteriak agar dia lari, tapi tangannya meraih Aster, menarik lengan Aster ke belakangnya.  Kemudian dia menahan cakar formskitter itu dengan lengan kirinya. Dahi Harsa mengerinyit menahan sakit. Cakar tajamnya melukai kulit Harsa saat menggenggam lengannya. Pengelihatan Harsa sempat kacau balau selagi formskitter berbentuk burung hitam raksasa itu melemparnya ke tengah lapangan bola, dua lantai di bawah.


“UAAAAaaaa!!!!” teriak Harsa yang dijatuhkan dari lantai dua. Kalau saja dia punya badan kuat dan resilien seperti Adi, Harsa mungkin tidak akan takut.


Harsa tidak punya banyak waktu berpikir. Dia segera menarik physis yang sedikit-sedikit kabur dari segelnya agar dapat memperkuat badannya dengan sihir. Namun, sekali lagi, daripada physis itu tinggal dan memperkuat dirinya, physis itu meledak dalam bentuk bola api di sekitar dirinya. Untunglah, ledakan api itu terjadi di saat yang tepat, hingga menghentikan momentum jatuhnya Harsa.


Brakk!!


Harsa jatuh terpelungkup di tanah. Rasa pahit tanah lapangan bola masuk ke mulut Harsa, sementara dadanya sesak karena terkena hantaman tanah. “Aaaah!!Aaaah!”


Dari lantai empat, Barasa berseru khawatir dari atas. “Harsa?!! Ya ampun! Gimana ka-?! Apa kamu-?! Tunggu, aku ke sana!”


Harsa memaksakan dirinya berdiri. Formskitter berbentuk burung itu terbang mengitari lapangan sekolah. Begitu menyadari Harsa masih hidup, dia kembali menikung ke bawah, hendak kembali menyerang. Harsa berlari ke arah bangunan sekolah. Harsa berharap dengan tubuhnya yang lebar itu, si burung formskitter tidak akan bisa mengejarnya. Harsa tidak punya pilihan karena, tak ada lagi physis yang bocor dari segel vasalnya.

__ADS_1


Harapannya pupus ketika formskitter itu berubah bentuk menjadi macan hitam dan melompat ke sela-sela kolom penompang atap sekolah menuju kantin. Formskitter itu melompat hendak menerkam Harsa, tapi dari depan Harsa, Barasa menyerodot turun dari lantai dua dengan menyerodot pegangan tangan. Tanpa berkata-kata Barasa langsung menerjang ke depan, tangannya yang diliputi physis menonjok formskitter itu dengan kekuatan penuh. Namun, berbeda dengan si senior yang manusia biasa, formskitter itu tidak terpental. Bahkan tampaknya tonjokannya tidak berpengaruh sedikitpun.


“Hah? Bagaimana makhluk Legenda Bayangan ada di sini?!” Kata Barasa entah pada siapa.


Fix. Barasa bisa sihir. Kata Harsa dalam hati.


“Apa itu?” Aster, yang baru selesai turun dari lantai dua, berkeringat dingin melihat formskitter untuk pertama kali dalam hidupnya.


Tidak ada waktu bagi Barasa untuk menjawab. Formskitter itu kembali berdiri, namun dia menghiraukan Barasa. Dia melompat menuju Harsa yang masih terus berlari menuju gedungnya.


“Berhenti!” Aster menggerakkan elemen angin untuk mendorong formskitter itu sehingga formskitter itu berubah startegi. Dia kembali mengubah bentuk tubuhnya menjadi burung dan dengan tebasan sayapnya, membalikkan serangan angin Aster hingga siswi itu terbentur tembok.


“Aster!” Harsa berbalik, tapi Aster tak menjawabnya. Tak juga dia bergerak. Sakit di dadanya sudah mulai berkurang. Sekarang dadanya dipenuhi penyesalan. Bagaimana dia bisa membiarkan Aster dan Barasa terlibat dalam pertarungan melawan formskitter? Harsa tahu jelas bahwa formskitter datang ke sini untuk mengincarnya. Adi menekankan bahwa formskitter tidak akan menyerang manusia.


“Dia masih bernafas.” Jawab Harsa.


“Bagus! Kembali ke aula! Ambil ponselku untuk telepon kakek! Pinnya 9876!” teriaknya sambil menahan cakaran macan itu dengan physis murni.  “Aku tidak bisa mengalahkan Legenda Bayangan sendirian!”


Pijakan Barasa semakin terdorong ke belakang. Harsa berkeringat dingin. Dia tidak bisa yakin Barasa mampu bertahan sendirian hingga Harsa selesai memanggil bantuan. Namun, selain memanggil bantuan apakah yang bisa dia lakukan?


“Cepat!” Teriakkan Barasa menggerakkan kaki Harsa. Baru saja dia menjejak anak tangga pertama, dari belakangnya terdengar BAAMMM!!!

__ADS_1


Tenaga Barasa telah habis. Dinidng physis yang melindunginya terkuras tanpa sisa. Telapak macam formskitter itu mendorongnya hingga Barasa menemui nasib yang sama dengan Aster.


“Nggak. Nggak mungkin.” Mata Harsa mulai berair tanpa dia sadari. Lagipula kenapa formskitter tiba-tiba muncul di sini?! Bukankah tempat ini bukan Tepi Dunia Material? Ini tidak mungkin,-


Nyatanya formskitter benar-benar datang ke sekolahnya. Tanpa halangan lagi, formskitter itu sekarang menerjang Harsa.


Hei, aku tahu kamu di sana. Kekuatan sihirku, apapun itu! Harsa memegang perutnya, merasakan physis yang terkumpul di sana, di balik segel yang sudah mau hancur.  “Keluar kau!” Sekarang bukan waktunya untuk takut membakar seluruh sekolah. Bukan waktunya teringat bagaimana dia lepas kendali di umur delapan tahun. Justru, ini adalah waktunya untuk lepas kendali!


Harsa menarik physisnya keluar. Bukan hanya physis yang bocor dari segelnya saja, tapi semua yang bisa dia tarik, Untuk pertama kalinya dia merasakan Kainya terbuka kecil, lalu pita biru yang selama ini mengunci Kainya selama tujuh tahun hancur lebur sudah. Physisnya meledak dalam bola api, mellindunginya dari serangan cakar formskitter. Di saat yang bersamaan, untuk pertama kali dalam hidupnya, Harsa mengeluarkan aura menekan seperti Adi. Rambut hitam Harsa berubah warna menjadi merah membara dan warna pupil matanya menjadi kuning terang selagi seluruh physisnya mengamuk.


Pertama kali dalam tujuh tahun, Harsa merasakan seluruh kekuatannya mengalir dalam tubuhnya. Aliran deras yang tidak bisa dia kendalikan. Bola api yang muncul dari dirinya biasa hilang dalam satu dua detik, terus menerus membakar semua yang berada di sekitarnya. Alarm kebakaran sekolah kembali berbunyi dan alat pemadam kebakaran menuangkan air dari atap sekolah seperti hujan deras, akan tetapi bola api Harsa menguapkan air itu.


Formskitter itu tak berbalik walau kekuatan Harsa melimpah ruah sekarang. Dia tetap menerjang ke depan. Dengan cakar dan taring yang siap untuk melukai Harsa. Namun, cakar dan taring itu terbakar habis menjadi abu ketika menyentuh bola api yang menyelliputi tubuh Harsa. Tangan dan seperempat tubuh formskitter berbentu macan yang terbakar habis itu kembali beregenerasi dalam waktu cepat.


Nggak baik. Harsa sekarang memang tak tersentuh, namun dia tidak akan bisa mempertahankan bola apinya dalam waktu lama. Harsa bisa merasakan tenaganya terkuras. Apalagi Harsa tidak bisa memberhentikan aliran elemen api dari tubuhnya sendiri. Usaha Harsa membakar tubuh formskitter itu tampaknya sia-sia karena setiap kali formskitter itu selalu bisa meregenerasi dirinya lagi dan lagi.


Bagaimana Adi mengalahkan formskitter waktu itu? Apakah dia dapat mengalahkan formskitter ini sendirian? Harsa bisa menghitung kapan physisnya akan habis. Dua puluh detik, sepuluh detik, lima detik lagi… Apakah dia akan mati di sini?


Ketika pikiran itu lewat di otak Harsa, tudung transparan kembali terbuka di belakang formskitter kembali muncul dan robek. Dari balik tudung transparan itu, muncul sosok pria berambut cepak warna biru dengan mata pupil putih menyala. Air dari alat pemadan kebakaran yang masih terus membanjiri lantai sekolah berkumpul menjadi puluhan tombak panjang dari es. Dalam satu gerakan jari, puluhan tombak itu meluncur ke arah formskitter berbentuk macan itu, tepat menusuk ke bola hitam yang menjadi inti dari formskitter itu.


“Kak Adi!!” Tiga detik, dua detik, satu detik….

__ADS_1


Berbanding lurus dengan jumlah physisnya, pandangan Harsa berubah hitam dan kesadarannya hilang.


__ADS_2