Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Lomba (4)


__ADS_3

Mulut Harsa berkumat-kamit sementara dalam pikirannya dia menghafal isi modul kelas dua. Satu minggu ke belakang, Harsa melakukan hal yang sama. Satu jam setelah ini, dia, Elis, dan Gina akan mulai bertanding cerdas cermat di salah satu universitas kota mereka. Mereka bertiga sudah sampai di aula universitas lomba sejak dua jam lalu. Setelah daftar ulang, mereka bertiga sedang belajar di kursi penonton, mencoba mereview sebanyak mungkin materi pelajaran bagian masing-masing.


“Belum mulai, aku sudah capek.” Keluh Gina.


“Mestinya lima belas meni lagi mulai.” Kata Elis sambil melihat jam tangannya dengan cemas. Kakinya tak berhenti bergerak-gerak dari tadi. “Sudahlah ya. Kita nggak perlu menang, kan? Cukup melakukan yang terbaik saja.”


Harsa tidak dapat menahan tawanya. “Kamu sendiri yang pengen hadiahnya.”


“Iya, dong. Siapayang gak pengen dua belas juta?”


“Empat sestelah nanti di bagi tiga.” Gina mengingatkan.  “Itu pun kalau kita dapat juara satu.”


“Ya, juara tiga pun llumayan, kok.” Kata Harsa. “Satu juta untuk setiap orang.”


“Ingat, nanti piala buat sekolah, ya.” Kata Pak Yono di belakang. “Jangan mengecewakan sekolah, ya. Kaliaan berdua, bertiga, maksudnya. Terutama kamu, Sa. Ini kesempatan untuk membuktikan bahwa kamu bukan anak berandal karena berkelahi.”


“Iya, pak.” Kata Harsa tak bersemangat. Dia tidak merasa nyaman karena dianggap berandal oleh guru-guru dan murid kelas tiga sejak kejadian dia ‘membela diri’ dari serangan anak-anak kelas tiga. Namun, Harsa sudah menyerah untuk memperbaiki imagenya.


Mereka berlomba dengan tim dari sekolah lain. Perlombaan pertama tak terlalu sulit. Kerja keras mereka terbalas dengan manis. Kemenangan pada fase pertama membawa mereka ke babak semi-final.


“Wah, aku nggak menyangka akan bisa lolos!!” Gina berkata dengan rasa lega.


“Jangan lengah dulu. Kita harus melawan satu tim lagi untuk ke final. Lalu, harus melawan satu lagi di final.”


“Jujur, nggak kebayang capeknya.” Keluh Gina. “Harusnya ini semua di nggak dilakukan di satu hari.”


Setelah istiarahat selama satu jam, mereka masuk ke tahap semi-final. Pada tahapan itu, lebih banyak orang yang menonton perlombaan mereka. Ruangan aula tanpa terasa menjadi lebih panas. Otak Harsa bekerja keras. Kedua tim saling bergantian merebut jawaban satu sama lain. Setiap kalli tim lawan menjawab pertanyaan dengan benar, skor tim Harsa di bawah mereka. Namun, setiap kali tim Harsa menjawab, skor tim Harsa kembali berada di atas.


Elis mengelap keringat di dahinya. “Bisakah kita menang?”


“Hei, tetap fokus.” Harsa mengingatkan. “Jangan tertekan.”


Elis mengangguk, lalu kembali fokus dengan perlombaan mereka. Elis hampir tidak percaya ketika mereka berhasil masuk ke babak final dengan hanya sepuluh skor lebih tinggi dari tim lawan. Elis tak bisa menahan diri untuk duduk lemas mendengar bahwa akhirnya mereka maju ke final.


“Wow.” Kata Elis yang terduduk lemas. “Aku nggak nyangka kita bakal lolos ke final.”


“YES! Yes!” Berbalik dengan Elis, Gina bersorak senang. “Lha, kok lemes, kita kan menang.”


“Jujur, aku lemes karena mikir terus.” Kata Harsa. “Dan aku nggak bisa kebayang kita masih harus berlomba satu kali lagi.” Harsa juga ikut duduk.


“Plus, di final untuk menang pasti lebih sulit lagi.”


Mereka diberi waktu Ishoma satu setengah jam untuk beristirahat. Para penonton pergi dari aula untuk mencari makan. Berbalik dari para penonton lain, Barasa datang ke depan mereka dan bertanya. “Wah, keren banget guys!”

__ADS_1


“Barasa!!” Elis berteriak senang dan langsung berdiri dengan semangat. “Aku pikir kamu nggak akan datang!”


“Hehe, datang, dong! Sorry aku juga telat datang karena harus bantu kakek dan mama dulu.”


“Iya, gapapa, kok. Lagipula lomba ini seharian banget.” Kata Harsa dengan senyuman lebar. “Makasih, loh, udah datang.”


“Hehe, jangan makasih dulu. Nih, sebagai gantinya aku bawa makanan.” Katanya sambil memberikan kotak boks berisi nasi dan ayam goreng. “Jadi kalian nggak perlu cari makan lagi.”


“Ya, ampun. Thank you, Sa! Pak Yono bahkan nggak memberi kita makanan.” Kata Gina sambil mengambil dan membagikan boks kotak itu. “Pas banget kita kelaperan.”


Setelah makan bersama, energi Elis, Harsa, dan Gina kembali. Lalu, lomba tanya jawab kembali dimulai. Kali ini,  Elis lebih senang melihat Barasa menonton perlombaan dengan Pak Yono di barisan depan. Di tengah-tengah perlombaan yang begitu serius, Barasa tidak bisa berteriak menyemangati tim sekolahnya. Sebaliknya, dia selalu tersenyum, dan memberikan dua jempol untuk mereka.


“Yuk, guys. Kita ambil dua belas juta itu.” Kata Gina menyemangati Harsa dan Elis.


“Hahaha, amin.” Balas Harsa.


Setelah penaya mulai berdiri di atas panggung aula, di tengah-tengah dua meja tim. Dia mulai memberikan pertanyaan. Setiap kali dia memberikan pertanyaan, dada Harsa rasanya akan meledak. Jantungnya berdetak begitu kencang, tapi Harsa tidak menyadarinya karena dia berusaha menjaga tingkat konsentrasinya yang sudah mulai menurun.


Seperti dugaan Elis, pertanyaan-pertanyaan yang diberikan semakin spesifik dan sulit dijawab. Dari awalnya, pertanyaan-pertanyaan tentang istilah dan nama-nama penemu di bidang biologi hingga sekarang pertanyaan-pertanyaan yang perlu direnungkan sebelum dijawab. Setelah beberapa pertanyaan, mereka mendapati jumlah poin tim mereka tertinggal tipis dari tim lawan. Tim lawan sudah mencapai dua ratus dua puluh lima poin. Sementara tim mereka mendapat dua ratus dua puluh poin. Setiap kali jawaban benar, mereka mendapat sepuluh poin. Jika mereka sampai salah menjawab pertanyaan, poin mereka akan dikurangi lima poin.


“Ayah dari Dino memiliki golongan darah A. Sementara itu, ibu Dino memiliki golongan darah AB. Tipe darah apa saja yang dapat dimilliki Dino?”


Teeett!! “A, AB, dan B!” Jawab tim lawan dengan cepat.


“Sepuluh poin untuk Tim satu!”


Elis menepuk bahu Harsa. “Nggap apa-apa. Kita masih bisa mengejar. Masih ada dua pertanyaan lagi.”


Harsa mengangguk. “Tapi artinya kita harus benar menjawab dua pertanyaan itu.”


“Pertanyaan kedua terakhir!” Sang moderator mulai membuka pertanyaan kedua. “Nama bakteri sehat yang terdapat dalam usus adalah…”


Teeett!! “Lactobacillus Casei!!” Teriak Gina tanpa pikir panjang.


“Benar!! Sepuluh poin untuk tim B!!”


“Yess!!” Mereka bertiga bersorak.


“Untung aku hafal mati.” Kata Gina sambil menepuk dadanya.


“Makasih, Gin!” Kata Harsa.


“Pertanyaan terakhir!!”

__ADS_1


“Satu buah ras anjing dapat memiliki warna hitam, hitam coklat, coklat, dan putih. Satu ekor anjing memiliki warna bulu hitam coklat memililki fenotip HhCc. Dia dikawinkan dengan anjing lain berwarna sama dan fenotip sama. Ada berapa kemungkinan anak anjing tersebut memiliki warna hitam saja?”


Baik kedua tim berpikir sejenak sebelum menjawab.


“Teeett!!” Elis menekan tombol jawab dengan keringat dingin di tangannya.


“Ya, silakan langsung dijawab tim dua.” Surung si moderator.


“Tiga?” Jawab Elis ragu.


“Jawaban tersebut adalah…..! Benar!! Tiga!! Sepuluh poin untuk tim dua! Dengan jawaban tadi selesai sudah perlombaan ini! Tim dua memenangkan perlombaan dengan tipis sekali!! Hanya perbedaan lima poin saja!”


Para penonton yang masih bertahan langsung bertepuk tangan untuk mereka.


Gina, Elis, dan Harsa terdiam dulu sebelum bersorak senang. “Yeayy!! Yeayy!!”


“Untung nggak aku hitung!!” Kata Elis senang.


“Ya, ampun jago banget Lis. Kamu  yakin beneran gak mau masuk kedokteran?!” Goda Harsa sambil tertawa.


Menghiraukan kata-kata Harsa, Gina berseru. “Kita harus ngerayain ini guys!! Main! Main!”


Ketika mereka berbalik dari panggung, Barasa sudah siap menyambut mereka dengan ucapan selamat. “Woah, mantap guys! Mantap banget!! Selamat ya ampun!”


Tanpa pikir panjang, Elis memeluk Barasa. “Makasih, Bar!! Makasih lohh!!”


Dengan canggung, Barasa memeluknya balik. “Hehe, kamu sudah kerja keras sih.” Tidak menyadari, untuk sesaat, tatapan Bahagia Harsa berubah menjadi terkejut.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2