Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Cemas (1)


__ADS_3

Hari itu berakhir dengan kekacauan. Darma dipanggil ke sekolah untuk menghadap guru dan wali murid dari kakak kelas Harsa. Masalah menjadi semakin besar karena salah satu kakak kelas mereka ada yang copot persendian bahunya karena Harsa melemparnya dengan terlalu keras. Untunglah Darma bisa langsung meminta rekan kerja sesama dokter sehingga biaya pengobatan senior itu tidak terlalu besar. Setelah mengobrol panjang lebar dan melontarkan berbagai permintaan maaf, Harsa dijatuhi hukuman skors hingga akhir minggu.


Darma pulang dari sekolah dengan wajah merah. Dia melangkah dengan tegap, dan dalam dadanya berkecamuk perasaan malu dan marah. Dia  baru saja keluar dari ruang kepala sekolah bersama dengan Harsa setelah percakapan panjang dengan guru dan wali murid. Dia berusaha untuk tetap tenang dalam kurun waktu dua jam, namun sampai di rumah, Darma tidak bisa menahan diri lagi.


“Sa! Astaga kamu di skors sampai akhir minggu ini!! Apa sih yang ada di pikiran kamu sampai niat berkelahi?!! Kenapa sih? Dulu waktu SMP kamu nggak pernah berkelahi!!” Teriak Darma dengan suara terkecil yang dia bisa.


“Maaf, Ma, tapi mereka yang mulai duluan.”


“Bukan begitu, cara mengatasinya! Masalah di masyarakat nggak bisa diselesaikan hanya dengan sekadar kekerasan! Sekarang, yang rugi kamu kan. Nggak peduli siapa yang mulai, kalau kamu menendang sampai perutnya biru seperti itu dan membanting badannya sampai sendinya copot, kamu yang akan kena masalah!” Cerocos Darma.


Dalam hati kecilnya, Harsa juga merasa bersalah. Jadi dia tidak membalas kata-kata Darma. Kalaupun dia masih kesal pada kakak-kakak kelasnya, Harsa juga tidak enak ketika melihat ringkihan kesakitan mereka. Dia juga merasa bersalah pada Darma karena Darma jadi harus pergi ke sekolah dan menghadapi guru serta orangtua murid kakak-kakak kelasnya.


“Iya, maaf, ma. Nggak akan kuulangi lagi.” Pinta Harsa tulus.


Darma menghela nafas, kemudian mengacak-ngacak rambut Harsa. “Aku percaya kamu, Sa. Lain kali, kalau kamu merasa tertekan atau apa, tolong percaya aku juga dan kasih tahu, aku ya.”


Erik menggeleng-gelengkan kepalanya ketika dia pulang dari kantor dan mendengar masalah ini dari Darma, namun dia memutuskan untuk tidak memarahi Harsa lagi melihatnya sudah meringkuk di kamar karena satu hari penuh terkena imbas kemarahan Darma. Erik hanya melihat kondisi putranya sebentar sebelum berkata pelan,


“Sa. Aku meminta Adi mengajari kamu sihir untuk melindungi dirimu sendiri dari formskitter, bukan untuk melawan manusia.” Setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa menunggu jawaban Harsa, Erik meninggalkan Harsa sendirian di kamarnya.


Malam itu, pikiran Harsa berkecamuk oleh seluruh nasihat dan kejadian perkelahian di sekolah. Konflik dengan teman berbeda dengan pertarungan melawan formskitter. Ketika melawan formskittter, Harsa tidak dihantui perasaan bersalah. Kejadian saat dia bertarung tidak terulang-ulang di kepalanya. Badannya lemas karena lelah, bukan karena merasa bersalah ataupun kesal. Namun, pada akhirnya, Harsa teringat alasan kenapa dia pergi ke tempat dimana kelas dua berada, yaitu untuk mencari Aster.


Harsa jadi teringat bagaimana Aster juga terkena skors di awal semester karena melindungi fakta bahwa dia bisa menyihir. Dengan rasa khawatir, Harsa mulai menelepon Aster. Namun, teleponnya tidak diangkat. Bahkan, setelah lima kali, telepon Harsa juga tidak diangkat. Apa Aster marah  padanya? Asumsi Harsa segera hilang ketika teleponnya bukan tidak diangkat tapi tidak nyambung. Pada akhirnya, dia meminta tolong pada Barasa melalui chat.


“Sa, hehe. Boleh minta tolong, gak?” tanya Harsa.


“Minta tolong apa dulu?” Jawab Barasa cepat.

__ADS_1


“Selama aku di skors, kalau ketemu Aster di sekolah, tolong sampaikan kalau aku ingin lanjut bicara soal yang kemarin.”


“Bicara apa, nih?” Barasa balik bertanya. “Kepo.”


“Adalah.” Jawab Harsa. “Boleh kan?’


“Iya, nanti kusampaikan.”


Akan tetapi, setelah tiga hari, Barasa berkunjung ke rumahnya dengan motornya yang biasa. Harsa sedang berlatih menyanyikan bahasa Kasarewang ketika Barasa datang di sore hari. Dia berhenti bernyanyi dan menyambut kedatangan Barasa dengan senyum lebar. Setelah tiga hari diam di rumah, dia merindukan bertemu dengan orang-orang.


“Barasa!!” Teriak Harsa sambil memeluknya.


“Urgh.” Keluh Barasa, namun dia tidak mendorong Harsa hingga anak laki-laki itu puas.


“Hehe, ada apa?”


“Makasih!! Tapi sebenarnya aku dapat banyak tugas dari wali kelas supaya aku belajar di rumah.” Harsa menghela nafas panjang. “Aku akan kopi tapi mungkin baru selesai besok-besok.”


“Iya, gapapa.” Tanggap Barasa santai. “Oh, iya. Soal Aster. Aku berhari-hari ini gak ketemu Aster. Jadi, tadi aku cari ke tempat kelas dua, tapi setelah aku tanya, katanya sudah tiga hari Aster nggak masuk sekolah.”


“Hah?! Kenapa, nggak masuk terus?! Dia sakit gitu?”


Barasa menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Teman-teman satu kelasnya nggak ada yang tahu. Tapi kenapa sih kamu peduli banget? Bukannya dia juga agak memaksamu untuk masuk klub sulap?”


Dahi Harsa berkerut. "Ya, memang di awal seperti itu. Cuma'kan pada akhirnya aku suka juga di klub sulap sampai ajak lu, Bar. Banyak juga hal yang aku pelajari dari klub sulap. Lagian, aku sudah menganggapnya sebagai teman sehingga kalau aku khawatir aku makin gak enak. Apalagi aku meninggalkannya sendirian malam-malam di sekolah waktu itu..." Dia lalu menceritakan bagaimana terakhir kali dia meninggalkan Aster di depan sekolah sendirian.


“Astaga, Harsa! Dia pulang sendiri jam sebelas malam-malam begitu?” Barasa berseru kaget. “Haahh. Tahu gitu aku diam di sekolah.”

__ADS_1


“Ya, tadinya aku mau minta maaf begitu.” Kata Harsa. “Duh, tapi aku berpikir dia akan dijemput oleh orangtuanya.”


“Yaaa. Bisa juga sih. Mungkin sakit sih.” Barasa mengangguk-angguk.


Tetap saja, perasaan Harsa tidak enak. “Duh, tapi gimana ya, aku jadi khawatir.”


Barasa menggaruk kepala. “Ya, aku juga jadi khawatir. Daripada cemas terus, lihat gitu ke rumahnya?”


“Kamu tahu dimana Aster tinggal?” Mata Harsa membelalak kaget.


“Tanya aja dari teleponnya.” Usul Barasa.


“Tapi dia tidak jawab teleponku sejak tiga hari yang lalu. Chat juga nggak dibales.”


Dahi Barasa berkerut semakin dalam. “Waduh kalau gitu makin khawatir dong. Aku rasa benar harus cek. Hmm, mungkin bisa tanya ke sekolah. Besok kamu kosong kan?”


“Kosong, kok.” Harsa mengangguk. Besok merupakan hari Jumat. Seharusnya, dia ada janji mengembangkan perfect pitchnya, namun janji itu bisa dengan mudah dibatalkan. “Sepulang kamu sekolah’kan?”


“Ya. Tapi bukannya kamu ada janji setiap Jumat dengan Elis?”


“Nanti dulu deh, hatiku nggak tenang tentang Aster. Oh, iya. Soal kita ke Aster, nggak perlu ajak Elis, ya.” Kata Harsa.


“Kenapa?”


Aku takut Aster benar-benar dalam bahaya, pikir Harsa.  “Eeee…”


“Kamu takut Elis salah sangka lagi?” Tembak Barasa.

__ADS_1


Harsa mengangguk, meski alasannya tidak benar. Lebih baik Barasa berpikir seperti itu daripada Elis akan berada dalam bahaya. Tentu saja, Harsa berharap agar kecemasannya tetap merupakan kecemasan berlebih.


__ADS_2