
Segera setelah matahari mengintip dari balik pagar sekolah, seluruh murid baru dikumpulkan di lapangan. Mereka berbaris sesuai dengan warna pita yang diberikan oleh para senior di gerbang sekolah. Dua ratus anak dibagi menjadi menjadi dua puluh kelompok kecil. Harsa masuk dalam kelompok oranye. Di depannya, berdiri seorang anak perempuan berambut coklat panjang hingga ke punggungnya. Namanya terpampang dengan jelas dari papan nama karton yang harus mereka pakai, Elis Samosir. Melihat seragamnya yang unik, Harsa tidak bisa menilai dia datang dari SMP mana. Tanpa ragu, dengan penuh percaya diri, tanpa pikir panjang, Harsa mengajaknya mengobrol.
“Hai? Kamu dari SMP mana?”
Elis berbalik, menyadari bahwa dirinyalah yang diajak berbicara. “Hai! Haha~ kamu nggak akan tahu, aku dari luar kota.”
Wajah Elis bulat manis. Kulitnya putih pucat, tapi senyumnya yang lebar menunjukkan bahwa dia sehat-sehat saja. Matanya di luar dugaan, mirip dengan Harsa, coklat muda. Dari cara bicaranya yang mengingatkan Harsa akan cara bicara Adi. “Kayaknya aku lebih bisa percaya kalau kamu bilang kamu dari luar negeri.”
Pipinya yang pucat memerah dengan cepat. “Hm? Kok kamu bisa tahu?”
Tanpa sadar pipi Harsa juga memerah dan dadanya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Dia cantik banget. Pikiran itu lewat dalam kepala Harsa begitu saja, “Terdengar dari logat bicaramu.” Jawab Harsa mengulurkan tangannya. Meskipun namanya terpampang jelas di name tag karton, Harsa kembali memperkenalkan dirinya. “Harsa. Aku dari SMP Swasta Nusa Bangsa. Mungkin aku satu-satunya dari SMP itu.”
Elis menyambut tangan Harsa dengan hangat. “Kayaknya aku juga. Aku Elis, salam kenal.”
“Salam kenal juga. Berarti benar kamu dari luar negeri?”
Elis mengangguk. “Aku sudah lima tahun tinggal di luar negeri, habis ibuku juga mengambil kuliah di luar negeri. Aku rasa aku juga satu-satunya dari SMPku, tapi semestinya aku kenal sese-, Ah!” kata-kata Elis terhenti kemudian melambai-lambaikan tangannya. “Barasa!”
“Yo, udah lama banget.” Seorang anak laki-laki seumurannya, berotot, berkulit sawo matang, dan berambut cepak datang ke arah mereka.
__ADS_1
“Harsa, ini temanku waktu SD. Namanya Barasa.” Elis memperkenalkan mereka berdua. “Ra, ini Harsa, tadi kita kenalan.”
Sebagai teman lama, Elis dan Barasa punya banyak untuk dibicarakan, namun untungnya mereka tidak menyingkirkan Harsa sendirian dari pembicaraan mereka. Ada bagusnya Harsa merupakan anak ekstrovert yang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Akan tetapi, tak lama obrolan mereka terhenti oleh pihak OSIS yang segera membuka acara MOS.
Setelah menyambut murid kelas satu, mereka membacakan peraturan MOS yang generik, kemudian membacakan jadwal MOS. Acara ini, akan dilangsung selama dua hari penuh. Mulai dari pengarahan dari guru, permainan yang bertujuan untuk saling berkenalan dan menghafal peta sekolah, kemudian terakhir waktu bagi setiap kegiatan ekstrakurikuler untuk menampilkan acara untuk anak-anak kelas satu. Kegiatan perkenalan berbagai macam klub sekolah akan berlangsung hingga hari kedua, kemudian ditutup oleh pembagian hadiah untuk kelompok yang memenangkan semua lomba-lomba di acara MOS ini. Setelah itu, di minggu depan, barulah mereka akan memulai kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya.
Dari berbagai macam acara itu, Harsa paling menunggu-nunggu acara kamping di lapangan sekolah. Harsa berpikir bahwa pengalaman seperti itu tidak akan didapatnya di tempat lain, karena menurut pengetahuannya, hanya sekolahnya yang menerapkan system MOS seperi ini. Mungkin inilah satu-satunya kesempatan bagi Harsa untuk mengalami kamping di sekolah.
Bagaimanapun juga, dia menemukan di acara ini, dia menemukan banyak teman. Apalagi pada saat pengenalan akan klub basket sekolah. Selama SMP, Harsa selalu jago bermain basket, terutama karena tubuhnya jauh lebih atletik dibanding dengan teman-teman sebayanya. Jadi, ketika ketua klub basket SMA mereka bertanya siapa yang ingin masuk ke lapangan untuk mencoba menembus pertahan mereka, dengan sukacita Harsa mengajukan diri.
Bagaimanapun juga atletiknya Harsa, dia tetap kesulitan berhadapan dengan anak kelas tiga dan kelas dua yang tingginya rata-rata satu kepala di atasnya. Apalagi mengingat mereka sudah berlatih satu tahun lebih lama daripada Harsa.
“Yes!!” Harsa bersorak kegirangan, namun suaranya tertutup oleh sorak para penonton yang gegap gempita.
“Wow, keren banget!” Harsa yang baru tersadar, menyadari pujian yang diberikan oleh anak-anak perempuan yang sedang duduk di pinggir lapangan. Sekarang, perhatian seluruh orang di sekitar lapangan tertuju padannya. Wajah Harsa yang sudah memerah karena Lelah semakin terbakar oleh rasa malu. Tepuk tangan masih meraung-raung dari segala penjuru.
Salah satu anggota klub basket mendatanginya. “Hebat. Aku menunggumu di klub basket. Awas ya, kalau nggak ikut. Kamu punya bakat yang perlu diasah.” Pujinya masih dengan nafas terengah-engah.
“Makasih, Kak.” Balas Harsa tersipu.
__ADS_1
Kembali ke kelompok oranye, Harsa disambut oleh pandangan kagum dari Elis dan Barasa.
“Wow, mantap, Sa.” Puji Barasa tulus. “Kamu atletik banget.”
“Hehe, makasih, makasih. Dulu di SMP aku ikut klub basket.”
“Iya, gerakanmu cepet banget.” Tambah Elis. “Sampai-sampai aku kira ada percikan api keluar dari bawah sepatumu.”
Deg. Pada saat itulah Harsa baru tersadar. Dia menutup mata, kembali melihat dalam dirinya.. Segelnya masih ada di tempatnya, namun tulisan-tulisan mantra yang terpatri dalam pita itu semakin memudar. Dari sela-sela segelnya, terasa banyak physis yang bocor. Luapan physis itu mengalir ke seluruh badannya, menguatkan otot-otot tubuhnya. Tanpa sadar, dia menggunakan physis untuk memenangkan permainan basket kecil-kecilan tadi.
Harsa menelan ludah, euforianya hilang sudah. Tangan Harsa secara otomatis memegang perutnya, tempat Kainya berada. Apakah tadi aku benar-benar mengeluarkan percikan api? Tanya Harsa pada dirinya sendiri. Tidak mungkin aku bertanya pada Elis bukan? Padahal baru pagi ini ayahnya memintanya untuk berhati-hati dengan sihirnya.
Di balik semua itu, yang paling terutama, rasa tidak enak memenuhi dadanya. Dia memandang anggota-anggota tim basket yang baru dikalahkannya. Mereka semua manusia biasa. Bukankah dia telah curang dengan menggunakan sihir?
“Harsa, kenapa? Kamu baik-baik aja?” tanya Elis menyadari wajah Harsa berubah murung.
“Nggak, nggak kenapa-kenapa.” Tepik Harsa langsung. “Yok, kita ikut yang lain pindah untuk lihat demonstrasi klub berkebun.” Ajak Harsa, mengikuti kelompok mereka ke taman depan sekolah.
Elis dan Barasa mengangguk setuju. Mereka kembali mengobrol santai seperti biasa. Tanpa Harsa sadari, jauh dari mereka, ada seseorang yang terus memperhatikan dirinya. Seseorang dari tim panitia dokumentasi, yang baru saja memotret demonstrasi klub bola basket, seseorang yang menyadari percikan api yang keluar dari kaki Harsa tadi.
__ADS_1