
Siap tak siap, ujian datang tanpa menunggu berapa banyak soal fisika yang Barasa selesai kerjakan ataupun berapa banyak rumus yang Barasa hafalkan. Anak laki-laki itu memijat-mijat dahinya terasa mengepul. “Aku menyesal masuk jurusan IPA.” Kata Barasa.
Harsa menepuk bahu Barasa. “Sudah, nggak akan seburuk itu. Kita udah belajar lama banget kemarin. Daripada khawatir, istirahat saja. Ingat besok kita main.” Hibur Harsa.
“Ya. Benar juga. Aku sudah nggak mau pikirin lagi sampai nilainya keluar.”
Harsa mengangguk. Dia juga tidak ingin memikirkan tentang pelajaran lagi setidaknya hingga akhir minggu ini. Pulang sekolah, dia berencana untuk langsung tidur untuk mereset pikirannya. Namun, rencana Harsa tergangggu ketika dia bertemu dengan Aster di gerbang sekolah.
“Sa!” Panggil Aster bersemangat. “Udah mau pulang?”
“Heeh.”
“Kamu udah belajar sampai mana untuk ujian standarisasi?” tanya Aster basa-basi.
“Uhh, kalau untuk sejarah kerajaan Kasarewang dan mahkluk sihir baru sampai bab satu.” Jawab Harsa. “Itupun aku belum selesai. Kamu sampai mana?”
“Hm. Aku sudah sampai bab dua sih untuk keduanya… tapi, yang jadi masalah buatku itu bahasa Kasarewang. Kayaknya untuk benar-benar bisa harus berlatih. Omong-omong besok latihan bareng, yuk!” Ajak Aster.
Dahi Harsa berkerut. “Ah, sorry. Besok aku mau main bareng teman-teman sekelas.”
“Yakin, Sa? Bahan belajarnya banyak loh!” Kata Aster.
“Yakin! Aku butuh waktu melepas stres sekarang!” Teriak Harsa agak keras. Mungkin dia benar-benar kurang tidur dan lelah untuk mengontrol emosinya. Jarsa langsung menyesal setelah nada seperti keluar dari mulutnya.
“Oh, oke.” Jawab Aster. “Aku duluan, ya.” Pinta Aster untuk kabur dari Harsa.
Hari Sabtu besok, kelas Harsa memutuskan untuk menonton salah satu film fantasi dimana tokoh utamanya mendapatkan kekuatan super untuk mengalahkan monster-monster jahat. Film itu sangat menyenangkan. Satu cerita yang dilengkapi oleh efek visual keren, bit-bit komedi lucu, dan cerita yang memuaskan, namun Harsa merasa film itu seperti parodi dari hidupnya. Harsa merasa aneh sendiri. Ketika teman-temannya sedang bersemangat membicarakan film itu dalam imajinasi mereka, dia bisa merasa terhubung dengan film itu seperti dunia nyata.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Pertanyaan Elis menghentikan lamunan Harsa.
“Oh, haha. Nggak. Film tadi sedang terbayang di kepalaku.”
Sekarang ini, anak-anak kelas mereka sedang duduk meja panjang restoran cepat saji. Jam sudah hampir menunjuk pukul lima sore, dan mereka sedang menunggu pesanan masing-masing datang sambil membicarakan film tadi. Elis duduk tepat di sebelah kanan Harsa.
“Hehe, iya, tadi seru banget. Kamu suka?” tanya Elis memulai percakapan.
“Ya, efek visualnya keren banget.”
“Wuusshhh. Iya seru banget waktu tokoh utamanya mengendalikan api supaya kebakaran gak nyebar. Keren.”
“Menurutmu kalau aku bisa gitu, keren nggak?” tanya Harsa main-main.
“Hahaha, bisa aja kamu.”
__ADS_1
“Beneran, keren gak?” Paksa Harsa.
“Iya, keren-keren.” Aku Elis sambil tertawa. “Kamu bakal oke banget buat jadi petugas pemadam kebakaran.”
Harsa ikut tertawa, tapi dalam hati kecilnya dia jadi bertanya-tanya apakah akan baik-baik saja jika dia memberi tahu Elis mengenai kemampuan sihirnya. Reaksi apakah yang akan ditunjukkan Elis? Apakah Elis akan percaya atau menertawakannya? Biarpun pikiran-pikiran seperti itu bersemilir di otak Harsa, pada akhirnya dia tidak berani mengatakan apa-apa. Dia terlalu menikamti percakapan fana dengan Elis. Menikmati memandang senyum manis di wajahnya cantik dan matanya yang seperti bersinar penuh semangat.
Jika saja, momen seperti ini bisa berlangsung lebih lama….
Seperti biasa, keinginan Harsa tampaknya tak terkabul. Tepat ketika Harsa berpikir seperti itu, pundaknya bergetar dan keringat dingin mulai membasahi tangannya. Kecemasan menendang perut Harsa selagi auranya mendeteksi sesuatu yang keji di empat ratus meter di tempatnya berdiri. Tentu saja, seperti biasa, ‘sesuatu’ itu adalah formskitter.
Tanpa sadar, Harsa berdiri dari tempat duduknya sangking terkejutnya.
“Kenapa, Sa?” tanya Elis khawatir. “Mukamu jadi pucat banget.”
“Sorry. Kayaknya aku harus pergi duluan.” Putus Harsa langsung. Dia tidak mungkin mengulangi kesalahan dimana dia sampai membiarkan formskitter datang ke Dunia Material lagi.
“Kenapa? Kalau sakit perut, kamu bisa ke WC dulu aja sana.”
Harsa menggeleng. “Nggak, kok. Aku duluan, ya.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Harsa mengumpulkan dompet dan handphonenya yang berserakkan di meja. Dari tas ransel kecilnya, dia menarik keluar sebuah cincin batu akik yang diberikan oleh Adi beberapa bulan lalu, ketika dia masih kelas satu. Dengan mantra dalam cincin itu, dia bisa membuka tudung transparan menuju Tepi Dunia Roh.
Harsa mengenakan cincin itu pada jari telunjuknya. Dia masih tidak terbiasa dengan warna dan bentuk cincin batu akik yang mencolok di jari-jarinya. Harsa pergi ke tempat yang sepi sebelum pergi ke Tepi Dunia Roh agar orang-orang tidak curiga dia menghilang.
Dalam Tepi Dunia Roh, dia masuk dalam hutan luas yang dikelilingi oleh gunung-gunung menjulang tinggi. Jarak pandang Harsa sempit karena hari sudah mulai gelap dan dedaunan pohon-pohon menghalangi sisa-sisa cahaya matahari. Harsa dapat merasakan aura formskitter itu yang mengerikan, tapi tidak matanya menyipit mencari-cari wujud nyata dari formskitter itu. Fakta bahwa mahkluk ini bisa bersembunyi dengan begitu baik semakin membuat jantung Harsa berdetak bagai dikejar harimau lapar.
Harsa menyelimuti semua tubuhya dengan physis sembari membuka Kainya lebar-lebar. Seperti biasa, penampilan Harsa berubah drastis. Warna rambutnya menjadi merah terang dan warna matanya menjadi kuning menyala. Dia melangkah pelan-pelan di tengah hutan itu.
Telunjut Harsa teracung. Di sana, dia mengubah sedikit physis menjadi api untuk meningkatkan jarak pandangnya. Saat itulah, dari depannya, meluncur cairan bening yang meluncur pesat menuju dada Harsa. Refleks Harsa yang cepat menyelamatkannya. Meskipun badannya telah terlindung oleh physis, cairan hampir transparan itu meluluhkan jaket dan baju Harsa. Cairan itu mendarat di salah satu batang pohon di belakang Harsa dan meninggalkan bolong yang cukup untuk menumbangkan pohon itu, tanpa suara sedikitpun.
Harsa melihatnya tak percaya dan dia menelan ludah sambil mencari sosok formskitter dari arah dimana cairan itu di tembakkan. Untuk sejenak, dia berhasil menangkap satu bola hitam yang menjadi inti dari formskitter sebelum cairan lainnya ditembakkan ke arahnya. Harsa meloncat ketakutan. Dia sedikit lega karena bisa melihat di mana inti formskitter itu dengan mudah, tapi di saat yang sama tangannya bergetar karena dia tidak bisa melihat tubuh formskitter itu. Bentuknya adalah slime. Kata Harsa pada dirinya sendiri.
Menyadari bahwa dirinya sudah terlihat, formskitter itu menyelinap pergi ke bayang-bayang pepohonan.
“Sial!” Bagaimana aku bisa menglancarkan serangan jitu jika aku tak bisa melihat dimana formskitter itu berada?
Selain tak terlihat, aura formskitter yang kental menyulitkannya menembak inti formskitter itu dengan serangan lasernya. Harsa menaruh konsentrasi penuh pada auranya untuk mendeteksi serangan yang hampir tak terlihat dan berusaha membalas dengan laser kecil yang dapat dihindari dengan mudah oleh formskitter itu.Tampaknya tak ada satupun serangannya yang mengenai formskitter itu karena Harsa kesulitan menentukan lokasi formskitter itu dengan tepat. Sementara itu, Harsa dipaksa untuk terus menghindari semburan-semburan cairan mematikan itu.
Mungkin aku bisa menlancarkan bola api besar untuk menghancurkan pohon-pohon yang menjadi tempatnya bersembunyi, tapi….. Kalau aku lakukan itu, aku pasti bisa menghancurkan ekosistem di sini. Apakah akan menimbulkan bencana pada Dunia Material? Harsa tidak tahu jawabannya, jadi dia tidak berani melancarkan serangan besar seperti itu.
Akan tetapi, semakin lama permainan tembak-tembakkan mereka semakin melelahkan. Harsa meloncat dari satu dahan ke dahan lain, menggunakan batang-batang pohon sebagai pijakannya untuk berakselerasi dalam menghindari tembakan cairan mematikan itu. Jumlah physisnya berkurang perlahan-lahan, dan mental Harsa semakin lelah membuka Kai terus menerus.
Bagaimana cara aku mengakhiri ini? Harsa merasa putus asa. Dia ingin kembali ke restoran cepat saji di mall untuk menikmati pesanan burgernya.
Tsing! Suara kecil terdengar dari tembakkan cairan mematikan yang melewati telinga kanannya. Jelas-jelas serangan itu diarahkan pada wajahnya. Harsa bersegera menyerang balik, tapi dengan mudahnya formskitter itu berpindah dengan suara plop.
__ADS_1
Suara…. Itu dia!!
Kalau saja, Harsa biasa mendengar setiap pergerakan suara formskitter itu, mungkin dia bisa mengenai inti dari formskitter itu dengan satu kali serang. Tapi Harsa jelas harus mengaku bahwa pendengarannya tidak tajam seperti anjing ataupun kucing. Seandainya saja, dia bisa mempertajam pendengarannya dengan physis….
Pikiran Harsa seperti baru digunjur air mandi eureka. Tanpa ditunggu lagi, Harsa mengalirkan physis dalam jumlah besar ke kedua telinganya. Seperti ketika dia membesarkan volume suara saat mendengarkan lagu melalui earphone, dia bisa menangkap suara-suara di sekitarnya dengan jelas. Sekarang, tanpa ragu, Harsa menembakkan laser pada formskitter itu. Serangannya kena telak, terbukti dari ledakan pecahan inti formskitter itu. Tubuh slimenya menguap dan menghilang.
Harsa menghela nafas panjang. Baru di saat itu, Harsa merasakan sakit dari goresan-goresan di seluruh tubuhnya. Tanpa dia sadar, bajunya telah compang-camping setelah menghindari sekian banyak semburan cairan mematikan. Tanpa pilihan lain, Harsa kembali ke Dunia Material dengan baju seperti itu.
Keluar ke jalan raya, Harsa bisa merasakan tatapan heran dari orang-orang di sekitarnya. Dia pasti terlihat seperti orang yang baru dirampok, atau anak remaja yang baru saja terlibat tawuran. Kalau saja gurunya melihat Harsa sekarang, dia pasti terlibat masalah di sekolah. Sekarang, Harsa tidak punya pilihan untuk kembali ke mall dan mengobrol dengan teman-temannya. Dengan desahan panjang, dia meminta agar ayahnya menjemputnya.
Mata Erik langsung melebar ketika melihat penampilan Harsa dan raut mukanya yang cemberut. “Woah. Sepertinya harimu tidak menyenangkan.”
“Aku sedang asik-asiknya mengobrol dengan Elis, dengan teman-teman, maksudku, ketika ada formskitter yang datang menyerang! Bayangin, Pa! Kenapa sih dia tidak menyerang besok saja?! Kenapa mesti pas aku lagi main sama temen-temen?!” Keluhan Harsa keluar tanpa bisa ditahan-tahan.
“Yah, dalam perang, lawan menyerang di waktu yang tak terduga.”
“Pa, ada nggak sih, cara supaya aku nggak diserang formskitter lagi selamanya?!”
“Ehm, sepertiku, yah bisa saja kamu menutup Kaimu selamanya dengan menghancurkan vasal, tapi cara itu sama seperti mengamputasi tanganmu sendiri, meski tanganmu tak bermasalah. Kamu suka sihir, bukan? Ya… atau kalau kamu mau hidup tenang, kamu bisa tinggal di Drestha.”
Kata ‘Drestha’ langsung mengingatkan Harsa tentang ujian standarisasi. “Aku tidak tahu apa aku bisa hidup di Drestha atau nggak. Aku harus dapat kewarganegaraan Kerajaan Kasarewang untuk tinggal di sana, bukan?”
“Ya. Tentu saja, tanpa cap itu kamu seperti imigran illegal nasibnya.”
“Aku nggak yakin bisa diterima di Drestha bahkan dengan cap legal itu. Jujur, pa, kenapa aku merasa banyak Kasarewang nggak suka manusia? Tapi… aku juga takut… Aku takut gak bisa tinggal di sini lagi seratus, dua ratus tahun ke depan. Orang-orang pasti bingung kenapa aku tidak mati.”
Erik menghela nafas panjang. “Karena formskitter, Kasarewang jarang keluar dari Kota Drestha. Aku juga, kalau bukan tugasku dulu untuk menjadi diplomat, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengan manusia seumur hidupku. Imej manusia juga memburuk karena pemberitaan besar-besaran mengenai beberapa kasus Kasarewang yang diculik oleh pihak manusia untuk diteliti.”
“Jadi, papa dan mama sebenarnya pasangan langka. Kebanyakan Kasarewang nggak begitu suka sama manusia, dan manusia mengganggap kalau Kasarewang dan sihir itu nggak nyata.” Simpul Harsa kesal.
“Biarpun begitu, ada baiknya kamu ikut ujian itu. Aku rasa, kalau kamu sudah diakui oleh Raja Kasarewang sendiri, keberadaan kamu di Drestha tidak akan diganggu-gugat.” Kata Erik. “Benar katamu, lebih sulit untuk berganti identitas terus menerus setelah kamu lewat usia yang wajar untuk manusia.”
Harsa tidak bisa tidak satu suara dengan ayahnya, namun maksud Harsa bukan hanya tentang penduduk Kasarewang yang tidak suka manusia. Harsa juga memikirkan kebiasaan-kebiasaan kecil seperti pergi ke mall, makan masakan padang, dan memakai ponsel cerdas. Apakah dia bisa hidup tanpa hal-hal itu?
Pada akhirnya, Harsa mendesah panjang. “Setelah mama tidak ada, apa rencana papa?”
Erik terperanjat mendengar pertanyaan itu. “Ya, aku akan kembali ke Drestha, kurasa, tapi itu masih lama.”
“Aku rasa aku nggak punya pilihan lain. Aku harus lulus ujian standarisasi itu.” Kata Harsa penuh tekad.
Erik melemparkan senyum bersimpati pada Harsa. “Aku kamu pasti bisa.”
Yahh… Kata Harsa dalam hati. Kalau saja, aku nggak perlu belajar untuk UTS dan UAS di saat yang bersamaan. Namun, Harsa menahan mulutnya. Dia tersenyum balik. “Aku akan berusaha sebaik mungkin.”
__ADS_1