Perang Abadi Kasarewang

Perang Abadi Kasarewang
Pembalasan Dendam (1)


__ADS_3

Kedua tangan dan kaki Adi mulai terasa berat. Setiap gerakan akrobatik yang biasa dia lakukan mulai tak karuan ketika dia menahan beban yang tak terlihat: keletihan. Berapa ratus tahun sudah sejak dia merasa tidak berdaya seperti ini? Rasa marahnya yang meledak-ledak tidak lagi dapat memberikannya kekuatan ekstra.


Adi menyelimuti dirinya dengan es dan angin agar physis dari formskitter itu tidak mengenai fisiknya sendiri. Namun kekuatannya habis terpakai untuk membuat perlindungan itu. Adi juga sangat berhati-hati karena jika satu kali saja dia terkena serangan formskitter itu, nasibnya habis sudah. Dia bahkan tidak punya waktu untuk khawatir dengan kondisi Harsa dan teman-temannya yang lain.


Formskitter itu berdiri tengah-tengah lapangan terbuka dan menggerakkan physisnya agar menemukan celah untuk menembus perlindungan Adi. Sementara itu, Adi melemparkan tombak es tajam ke formskitter itu ketika dia punya kesempatan. Sayang sekali semua serangan Adi dapat dihindari dengan mudah. Dalam belakang kepalanya, Adi bisa merasakan adanya bagian-bagian tubuh formskitter itu yang tersebar di sekelilingnya. Dia takkan kaget jika bagian tubuh itu adalah mata eksternal yang mengawasinya dari segala arah.


Adi mengumpulkan kekuatannya dia menciptakan awan-awan hitam gelap di langit. Dengan tangan kirinya, dia melemparkan elemen petir ke atas awan-awan hitam itu. Seketika hujan petir turun dan menyambar formskitter itu. Akan tetapi, sebelum petir raksasa Adi dapat mengenai intinya, formskitter itu membuat daging baru yang melindungi intinya. Setiap kali lapisan daging itu terbakar hangus, satu lapisan lagi terbentuk.


"Sial!!!" Teriak Adi terengah-engah.


Formskitter itu kembali mulai membentuk tubuhnya lagi. Adi terheran-heran. Sebenarnya seberapa banyak physis yang dimiliki oleh formskitter itu?


Rasa putus asa perlahan mulai menyelinap ke dalam hatinya. Adi menggeleng-gelengkan kepala. Aku tidak boleh menyerah! Tidak setelah ratusan tahun aku menunggu kesempatan balas dendam! Batin Adi di dalam hati. Dia mencoba memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri.


Meskipun begitu, Adi menyerah menghabisi formskitter itu dalam satu kali serangan. Sembari otaknya berpikir keras bagaimana dia dapat menyentuh inti dari formskitter itu, Adi menambahkan satu lapisan elemen petir di luar elemen esnya. Dia melemparkan dirinya sendiri ke dalam awan hitam di langit yang dia buat. Tubuh Adi jadi bergerak sama cepatnya seperti petir.


Dia pergi ke seluruh tempat letak mata-mata eksternal formskitter itu berada dan menghancurkannya sebelum formskitter itu bereaksi. Dia melakukan semua ini dengan kecepatan yang begitu tinggi hingga hampir bersamaan. Adi ingin menciptakan satu detik titik buta sebelum menyerang formskitter itu habis-habisan.


Peluang itu tercipta juga. Formskitter itu tidak sempat meregenerasi mata-matanya yang melayang-layang. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan ini, Adi melesat dengan pedangnya, lurus menuju formskitter itu. Bilah pedang tipis Adi membelah inti formskitter itu. Adi tidak bisa bernafas hingga dia melihat apakah formskitter itu sudah hilang sepenuhnya.


Dari auranya, dia bisa merasakan formskitter itu masih hidup. Menengok ke belakang, gigi Adi menggertak frustasi ketika inti formskitter itu masih belum juga hancur. Sayatannya pedang Adi hanya menggores inti formskitter itu. Inti dari formskitter itu bergetar seperti akan pecah, hingga tiba-tiba inti formskitter itu berhenti bergerak. Lalu, dari sana, tumbuh lagi daging-daging tubuh formskitter itu.


“SIAL!” Gertak Adi putus asa. Setiap inci dari ototnya terasa seperti mau putus. Dia tidak punya tenaga untuk melancarkan serangannya lagi. Adi harus pulih sebelum tubuh formskitter itu terbentuk kembali.

__ADS_1


Langit di atas mereka  masih berawan gelap. Petir-petir menyambar dengan tanpa ampun. Dia telah mengerahkan hampir seluruh kekuatannya untuk sihir-sihir yang mematikan itu. Sekarang, pergerakan cuaca di sekitarnya sudah berada di luar kendalinya. Tanpa sadar, dia telah menyihir cuaca di sekitarnya demikian rupa demi menghancurkan formskitter itu. Adi putus asa. Sudah dia gagal akan menghancurkan formskitter itu, dia juga tanpa sadar dapat merusakkan satu buah kota di Dunia Material.


Kaki Adi bergetar dan hatinya juga ketika dia merasakan physis formskitter itu mulai terbentuk kembali. Bahkan sebelum tubuhnya terbentuk kembali, formskitter itu meluncurkan serangan physisnya. Tanpa mata, dia melancarkan serangannya yang mematikan. Serangan physis itu begitu lebar dan kuat.


Mata Adi berkaca-kaca, inikah yang ibunya rasakan sesaat sebelum beliau tiada?


Pikiran Adi terputus ketika satu buah dinding tanah muncul di depannya. Dinding tanah itu menghalangi physis formskitter itu dari menyentuh Adi, dari menghancurkan Kai Adi dari dalam. Dari belakangnya, tangan Harsa meraih lengan Adi, menariknya untuk bergerak.


“Kak Adi!! Jangan bengong!” karsa dengan wajah khawatir.


Di belakang Adi, Harsa, Kriya, dan Adipati Aakil baru saja masuk dari Dunia Material. Kriyalah, yang menyelamatkan hidup Adi dengan menaikkan dinding tanah itu. Harsa menggendong Adi dan lari dari jangkauan formskitter itu. Mereka berkumpul di belakang. Mereka punya sedikit waktu untuk berembuk sebelum formskitter itu benar-benar pulih.


"Kalian semua… Bahkan Adipati juga…" Kata Adi lemas.


"Untunglah kita datang di saat yang tepat." Kata Harsa benar-benar lega.


"Kalaupun kamu mati?" Tanya Kriya sarkas.


"Kalaupun aku mati." Adi bersikeras.


"Yah, tapi benar-benar sedih kalau kamu benar mati." Kata Adipati berempati. "Ini. Kamu masih ingin bertarung kan?"  Tanyanya sambil mengulurkan tangan.


Adi mengangguk dan menyambut tangan Sang Adipati tanpa tahu apa yang dia tawarkan. Tiba-tiba, badan Adi merasa segar kembali. Keletihan otot-otot yang terlalu banyak dia perkerjakan hilang sudah. Kondisi Adi seperti baru selesai bangun tidur setelah istirahat panjang, tapi belum makan. Physis Adi mati masuk ke dalam tubuh Adi dan menyihir sesuatu dalam tubuhnya. Persis seperti yang formskitter bertudung hitam itu lakukan. Tentu saja, yang Sang Adipati lakukan tak menghancurkan. Malah, physis yang mengalir dari tangannya memberikan kelegaan di tubuh Adi.

__ADS_1


"Wow…." Kata Adi terkagum. “Apa yang baru kau lakukan?”


"Aku baru saja menghilangkan hormon di tubuhmu yang membuat kamu merasa lelah. Tapi ingat, tubuhmu tetap kelelahan. Kalau kamu memaksakan lebih jauh lagi, kamu akan cedera.” Jelas Adipati Aakil.


“Aku tak pernah membayangkan akan keluar dari pertarungan ini tanpa terluka.” Jawab Adi.


“Jadi, bagaimana situasinya sekarang?” tanya Kriya.


“Aku telah melukai inti formskitternya, tapi tak cukup untuk menghancurkannya.” Kata Adi sambil melihat formskitter itu sudah mulai terbentuk kembali. Baik topeng maupun jubah hitamnya telah hancur tak tersisa karena serangan Adi. Sekarang, ketika tubuhnya telah terbentuk, tak ada lagi tudung dan topeng yang menyembunyikan kengerian tubuh formskitter itu.


Otot-otot yang besarnya tak natural tertera menohok dari balik kulitnya yang belum terbentuk sempurna. Ada dua pasang mata di kepala itu yang menonjol keluar. Bola mata itu begitu menonjol sehingga bisa berputar-putar seratus delapan puluh derajat. Satu pasang di depan dan satu pasang di belakang. Mulutnya yang lebar seperti disobek dari satu telinga ke telinga lain.


Kedua lengannya tak natural karena otot-otot yang yang besar. Jari-jarinya lebih seperti cakar. Kukunya yang panjang dan tajam keras seperti terbuat dari tulang-belulang. Begitu juga dengan kedua kakinya. Cakar-cakarnya dapat mencengkram dan menyayat. Harsa menelan ludah melihat sosoknya yang mengerikan dan auranya yang menekan.


“Pemulihannya tidak cepat seperti sebelumnya.” Komentar Adi.


“Apa itu hanya pembelaanmu saja?” tanya Harsa tidak yakin.


Kriya mendecak. “Nggak, Sa. Kamu mundur saja kalau memang pengecut!” Ejeknya.


“Yah, silakan kalian menghadapi formskitter itu!” Teriak Adipati Aakil sambil berlari mundur.


“Apa?” Harsa semakin panik. “Apa kamu nggak akan membantu kita?!”

__ADS_1


“Aku bukan petarung!” Adipati Aakil membela dirinya. “Jangan khawatir, kalau kalian terluka, aku pasti akan menyembuhkan kalian!”


“Sebaliknya, awas! Kita nggak boleh membiarkan Adipati terluka!” Kata Adi sembari kembali menarik pedang pipihnya, siap untuk babak kedua.


__ADS_2